Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Party Invitation


__ADS_3


“Ba-bagaimana Anda bisa berada di sini, Nyonya de Luca?” Sergei tergagap. Dia spontan berdiri dan terlihat ketakutan sampai mundur beberapa langkah.


“Kenapa kau ini? Aneh sekali.” Adriano yang pada awalnya terlihat heran, kemudian tertawa. Dia merasa lucu dengan sikap aneh Sergei.


Sergei memaksakan senyumnya. Dia tak ingin Adriano sampai tahu, bahwa Matteo pernah menghajar serta mengancamnya. Seumur hidup, Sergei tak pernah merasa setakut itu.


“Ah, tidak. Tidak apa-apa. Aku hanya terkejut,” kilah Sergei. "Jika Nyonya de Luca ada di sini, apakah itu artinya Tuan de Luca pun ... oh, aku benar-benar terkejut dan ...." Sergei tak dapat melanjutkan kata-katanya.


“Untuk menambah rasa terkejutmu, biar kukenalkan kembali kau padanya. Sergei, ini adalah Florecita Mia ... D’Angelo.” Adriano tersenyum lebar saat mengucapkan hal itu.


Sontak, apa yang Adriano katakan membuat Sergei kian terbelalak. “Jangan bercanda, Adriano! Jika Matteo mendengarnya, kau ....”


“Matteo tak akan bisa mendengarnya,” potong Mia. “Karena dia sudah pergi,” jawab Mia lirih. Suaranya terdengar begitu memilukan.


“Apa?” Mata hijau Sergei lagi-lagi terbelalak sempurna. Dia mengalihkan tatapannya kepada Mia. “Apa Anda sedang bercanda, Nyonya?”


“Dari semenjak hari kematian Matteo, aku sudah hampir tak pernah bercanda lagi,” ujar Mia seraya tersenyum getir.


“Duduklah, Mia.” Adriano yang melihat gelagat tak wajar istrinya, segera menarik tangan wanita itu lembut dan menuntunnya agar duduk di samping dia. “Apakah dadamu mulai terasa sesak?” bisik Adriano. Dia khawatir jika gangguan kecemasan kembali menyerang Mia. Sementara, Miabella yang tadi bergelayut dalam dekapan ayah sambungnya, kini berpindah ke sebelah pria itu.


Mia menggeleng pelan. “Aku baik-baik saja. Mulai hari ini, aku akan belajar untuk menjadi pribadi yang lebih kuat demi Miabella,” jawabnya pelan.


Adriano menatap lekat wajah cantik Mia, kemudian tersenyum lembut. Dia mere•mas jemari lentik wanita itu, kemudian mengecupnya dengan mesra. Agak mengherankan bagi Adriano, karena Mia tak menolak perlakuannya.


Namun, adegan tersebut semakin membuat Sergei terlihat tak nyaman. “Ja-jadi, kalian sekarang ....” Pria itu mengarahkan telunjuknya secara bergantian pada Mia dan Adriano. “Wah, selamat!” ucapnya lagi. “Hubungan Klan de Luca dan Tigre Nero akan menjadi kian erat. Kalian semakin tak terkalahkan." Sergei tertawa canggung, lalu terdiam sejenak. Perasaan aneh yang sedari tadi hadir, membuatnya memutuskan untuk segera pulang.


“Oh, iya. Jangan lupa, Adriano. Pesta Don Vargas akan diadakan dua hari lagi dari sekarang. Aku akan mengurus semuanya. Kutunggu kau di sana,” pesan Sergei segera menyalami Adriano. Dia mengangguk kepada Mia sebelum berpamitan. Sergei juga sempat hendak menyentuh pipi Miabella. Akan tetapi, gadis kecil itu memilih untuk menghindar. Sergei hanya tersenyum. Pria itu melangkah dengan pikiran tak menentu. Raut wajahnya tampak aneh, saat memikirkan berita tentang kematian Matteo de Luca.


Sepeninggal Sergei, mereka bertiga masih belum beranjak dari bangku taman. Adriano duduk di tengah, antara Mia dan Miabella. Sesekali, dia melirik Mia yang menatap kosong ke arah rerumputan di bawah kakinya.

__ADS_1


“Aku tak suka orang tadi, Daddy Zio,” ucap Miabella tiba-tiba. Suaranya telah memecah kebisuan di antara mereka.


“Tidak apa-apa, Principessa. Dia tidak akan berani menyentuhmu. Jika sampai dia berani melakukan itu, maka aku yang akan menghajarnya,” ucap Adriano dengan raut serius. Membuat Mia mengalihkan perhatian pada Adriano.


Mia yang tengah merengut, langsung mencubit lengan sang suami. “Jangan mengajari Miabella berkata-kata kasar, Adriano,” bisik Mia sembari menggeleng pelan.


“Ah, ya. Maafkan aku.” Adriano meringis seraya menggaruk tengkuknya. “Aku ....” belum sempat dia membela diri, sapaan lembut dari seorang gadis yang tak lain adalah Olivia lebih dulu menyelanya.


“Maafkan aku karena telah mengganggu Anda, Tuan dan Nyonya. Akan tetapi, sarapan sudah siap. Aku juga sudah memasak menu khusus untuk nona kecil.” Sepasang mata Olivia, berbinar saat memandang Adriano.


Sebagai sesama wanita, Mia jelas dapat memahami arti tatapan seperti itu. Namun, dia belum mengenal gadis cantik di hadapannya. Bagi Mia adalah hal yang wajar jika Adriano mendapatkan tatapan seperti tadi dari para wanita.


"Terima kasih, Olivia." Adriano menanggapi dengan biasa saja. Sementara, Miabella tersenyum manis pada gadis berusia dua puluh empat tahun tersebut. "Kau ingin sarapan sekarang, Mia?" tanya Adriano seraya melirik wanita yang sedari tadi memperhatikan Olivia dengan lekat.


Mia sedikit terkejut. Dia segera menoleh kepada Adriano, kemudian menggeleng pelan. "Aku belum lapar. Mungkin sebentar lagi," jawabnya.


"Akan kutemani jika kau ingin duduk dulu di sini," ucap Adriano tanpa mengalihkan tatapannya dari paras cantik Mia. Wanita itu mengangguk, saat menanggapi ucapan sang suami.


Adriano tersenyum simpul seraya merentangkan tangan lurus di belakang punggung Mia. Sementara, Miabella meloncat turun dari bangku. Dia menghampiri Olivia. "Aku sudah lapar, Bibi Rambut Hitam," ucap gadis kecil itu membuat Mia mengernyitkan kening.


Miabella sempat menoleh dan tersenyum. Adriano membalasnya dengan sebuah senyuman kecil, seraya melambaikan tangan hingga gadis kecil itu berlalu.


"Siapa dia?" tanya Mia penasaran.


"Namanya Olivia Bellamy. Aku membawanya dari Pulau Corsica. Dia adalah gadis yang telah menemukanku, ketika terdampar di bibir pantai," terang Adriano dengan tatapan menerawang. Raut bersahabat dan senyum ramah yang tadi dia tunjukan kepada Miabella, kini berubah datar.


Mendengar jawaban dari Adriano, Mia hanya dapat mengembuskan napas bernada keluhan pendek. Rasa bersalah kembali menghantui dirinya, jika Adriano sudah menyinggung peristiwa malam itu. Meskipun, hal tersebut bukan sesuatu yang disengaja oleh Adriano.


"Rasa bersalahku tak pernah habis, jika sudah teringat pada kejadian itu. Kau tidak tahu seberapa besar beban yang kurasakan, saat mengingat bahwa aku telah menghilangkan nyawa seseorang. Aku takut dan seperti dihantui oleh bayanganmu. Namun, Theo selalu menguatkan dan berusaha untuk menenangkanku, sehingga aku bisa melewatinya hingga saat ini."


"Aku senang, karena ternyata kau masih hidup. Itu artinya, aku bukan seorang pembunuh. Ucapan Mia begitu lirih penuh arti.

__ADS_1


"Aku tak akan mati semudah itu. Kau tahu kenapa?" Adriano kembali melirik Mia yang masih menatap lurus ke depan.


"Kenapa?" tanya Mia tanpa menoleh.


"Karena, masih ada banyak hal yang belum kuselesaikan. Aku tidak tahu kenapa Tuhan harus memberikan kesempatan kedua padaku. Aku sudah mencoba menghindarimu dengan tak lagi menginjakkan kaki di Italia. Namun, kita justru bertemu di Yunani. Tempat yang tak pernah kubayangkan akan kau kunjungi. Pernahkah kau memikirkan hal itu, Mia?" Adriano mengikuti arah tatapan Mia. Sorot mata birunya lurus tertuju ke depan. Entah apa yang menjadi fokus mereka saat itu.


"Mengapa kau selalu berpikir bahwa hanya dirimu yang mengalami kehilangan, kepedihan, sengsara, dan kesepian dalam hidup?" Adriano tersenyum nanar. "Tidak, Mia. Bukalah matamu dan lihat ke sekeliling. Kau adalah wanita berhati lembut dan penuh rasa peduli terhadap orang lain. Aku yakin, tak akan terasa sulit bagimu untuk dapat meresapi maksud dari ucapanku." Adriano mengakhiri kata-katanya dengan sebuah keluhan pelan. Setelah itu, dia beranjak dari duduknya. "Aku ingin mandi dulu. Sebaiknya kita masuk. Lagi pula, matahari sudah terlalu terang," ajak pria itu.


Sementara, Mia masih terduduk dengan tatapan aneh yang dilayangkannya kepada Adriano. Pria itu masih mengulurkan tangan padanya. "Kenapa kau diam saja? Apa kau penasaran seberapa kuat aku mampu menggendongmu? Baiklah. Jika itu yang kau inginkan." Adriano mendekat dan sudah bersiap dalam posisi hendak menggendong Mia.


Namun, dengan segera Mia tersadar. Dia langsung berdiri. "Aku masih kuat berjalan," ujarnya seraya berlalu mendahului Adriano yang saat itu hanya tersenyum kecil.


...................


Selesai sarapan, Adriano memilih untuk berdiam diri di ruang kerja. Pikirannya hanya tertuju pada kasus Matteo de Luca. Dia ingin mengungkap pelaku pembunuhan secepatnya. Namun, keinginan yang besar harus mengalami kendala, saat semua informasi berhenti di organisasi misterius yang bernama Tangan Setan.


Adriano mengembuskan napas pelan, seraya terus mengamati layar laptop dengan serius. Jemarinya tak berhenti mengarahkan kursor ke berbagai macam artikel yang muncul di internet.


Pada awalnya, Adriano hanya asal mencari pengetahuan tentang senjata-senjata militer. Namun, lama-kelamaan pencariannya tadi mengantarkan dia pada sebuah laman internet tak dikenal. Laman itu menjelaskan dengan detail tentang segala macam jenis senjata. Salah satu senjata yang ikut dikupas di dalamnya, adalah senapan rakitan yang terlihat tak asing di mata Adriano.


Pria bermata biru itu menajamkan penglihatannya. Dia memperbesar gambar tadi. Seketika, pria itu terperangah. “Ini milik Matteo,” desisnya. Adriano sangat yakin akan hal itu, karena senjata rakitan Matteo mempunyai desain yang khas. Tak ada duanya. Selain itu, dia pernah memegang secara langsung.


Adriano bergerak cepat. Dia mencari tahu siapa pengelola laman itu dengan menelusuri domainnya. Butuh beberapa menit, hingga dia bisa mendapatkan alamat domain tersebut. “Marcus Bolt? Florida?” gumamnya seraya menaikan sebelah alis. Sebuah ide cemerlang tiba-tiba muncul di benaknya.


Adriano menjentikkan jari seraya bangkit. Setengah berlari, dia beranjak keluar dari ruang kerja. Pria itu terus melewati koridor yang menuju kamar Miabella. Adriano pikir jika pada jam seperti itu, Mia sedang menidurkan putrinya.


Apa yang dia kira ternyata benar. Adriano melihat Mia hampir terlelap di sisi Miabella. Pria itu segera menghampiri Mia dan menyentuh lembut bahunya. “Mia,” panggil Adriano pelan.


Mia segera terjaga dan menoleh pada Adriano. Setengah terkejut, dia mengernyitkan kening. “Ada apa?” tanyanya pelan.


“Persiapkan dirimu dan Miabella. Kita akan pergi berjalan-jalan ke Amerika untuk beberapa hari ke depan,” ujar Adriano dengan yakin.

__ADS_1


"Amerika?" Mia yang tadinya setengah mengantuk, segera membuka mata lebar-lebar. Dia berdiri tepat di hadapan Adriano. "Kenapa mendadak sekali?" tanya Mia.


Adriano terdiam sejenak. Sesaat kemudian, pria itu menyunggingkan senyuman kecil seraya mengelus lembut pipi Mia dengan punggung tangan. "Aku menemukan petunjuk baru," ucapnya.


__ADS_2