
Beberapa saat telah berlalu. Mia yang tadi sempat tak sadarkan diri, kini telah membuka mata dengan perlahan. Dia menatap langit-langit ruangan yang terlihat asing bagi dirinya. Untuk sejenak, wanita cantik itu terdiam dan mengumpulkan segenap tenaga.
Saat itu, tubuhnya terasa lemas seakan tak bertulang. Dia mencoba untuk mengingat apa yang terjadi beberapa saat, sebelum dirinya bisa berada di tempat asing tersebut. “Di mana ini?” gumam Mia dengan suaranya yang agak parau, seraya bangkit dan duduk. Mia kemudian mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan. Dia lalu menarik selimut tebal yang menutupi tubuh hingga sebatas leher. Menggenggam erat pinggirannya.
Pertanyaan tadi segera terjawab, dengan hadirnya sosok seorang pria yang membuat sepasang mata cokelat Mia seketika terbelalak dengan sempurna. Pria tampan bertubuh tegap yang tengah tersenyum padanya. Sebuah senyuman yang beberapa tahun lalu sudah sangat akrab dan sering dia lihat.
“A-Adriano? Ka-kau di sini? Ka-kau benar-benar masih hidup?” Mia tergagap tak percaya, ketika pria berparas rupawan dengan raut wajah yang seksi dan menawan itu mendekat kepadanya.
Adriano duduk di tepian tempat tidur. Iris mata biru milik pria itu terlihat begitu tenang. Dia kembali tersenyum dengan sikapnya yang selalu terlihat kalem. “Ya, Mia. Ini aku. Adriano D’Angelo,” jawab pria berpostur 187 cm itu tanpa mengalihkan pandangannya. “Tuhan rupanya masih sangat menyayangiku, sehingga Dia tidak dengan begitu mudahnya membiarkanku mati di telan ombak,” ujar Adriano masih dengan raut dan nada bicara yang tenang. Dia mulai mengungkit peristiwa tragis yang menimpanya beberapa tahun silam di Pulau Elba.
Mendengar hal itu, Mia tidak menjawab. Wanita berambut cokelat tersebut tentu saja tak ingin mengingat kembali kisah kelam tersebut. Sesuatu yang sudah lama dia kubur dan lupakan dengan susah payah. “Aku ... aku harus pergi dari sini!” ucap Mia seraya menyibakkan selimut. Dia bermaksud untuk turun.
Akan tetapi, dengan segera Adriano mencegahnya. Pria itu menahan tubuh Mia, sehingga wanita tersebut kembali duduk seperti tadi. Namun, sekali lagi Mia memaksa untuk turun dari tempat tidur dengan mendorong tubuh Adriano hingga sedikit bergeser. Dia memanfaatkan celah kecil itu untuk segera berlari menuju pintu.
“Kau mau ke mana, Mia?” Adriano berdiri, kemudian melangkah ke arah Mia yang tengah berusaha memutar gagang pintu. Tanpa dia ketahui bahwa Adriano telah mengunci pintu kamar itu. “Kau butuh ini untuk bisa keluar." Adriano menunjukkan kunci yang baru dia keluarkan dari saku celana panjangnya.
__ADS_1
“Berikan padaku!” pinta Mia. Dia bermaksud untuk meraih dan merebut kunci tadi.
Akan tetapi, dengan sigap Adriano menyembunyikan kunci kecil tadi dalam genggaman tangannya.
“Ambilah jika kau bisa,” tantang pria itu dengan tenang, dan seakan ingin mengajak Mia bermain-main.
“Jangan bermain-main denganku, jika kau tak ingin ….” Mia tak melanjutkan kata-katanya. Dia bergerak mundur karena Adriano melangkah maju dan semakin mendekat. Mia terus mundur hingga punggungnya menyentuh dinding. Akhirnya, dia pun tak dapat ke mana-mana lagi.
“Apa, Mia? Tidak ada siapa pun di sini selain kita berdua. Kau dan aku di dalam kamar yang sama dengan pintu yang terkunci, dan akulah yang memegang kuncinya." Sorot mata Adriano tampak liar saat itu. Membuat Mia terlihat gelisah.
“Kupastikan kau tak akan berani melakukan apapun!” tegas Mia. Sepasang matanya menatap tajam Adriano. Diam-diam, mata wanita itu mencari sesuatu yang bisa dia gunakan sebagai alat untuk membela diri.
Adriano tampak tidak merasa risau sama sekali. Raut wajahnya masih terlihat berseri. Dia asyik memainkan kunci kamar pada jari telunjuknya. Sesaat kemudian, pria itu kembali memasukan kunci tadi ke dalam saku celana.
“Kau ingin menembakku lagi, Mia? Silakan. Ayo lakukanlah,” tantang Adriano. “Jika kau menembakku lagi sekarang, maka siapa yang akan membantumu menyingkirkan jasadku? Matteo-mu tidak ada di sini." Adriano terdiam sejenak. "Itu juga yang ingin kutanyakan padamu. Di mana dia? Di mana suami tercintamu itu?” Adriano kembali berjalan mendekat kepada Mia.
Sementara, Mia masih terus mengarahkan pistol kepada pria yang sejak tadi tidak terlihat takut sama sekali. “Jangan mendekat atau aku akan benar-benar menembakmu!” tegas Mia dengan tangan yang gemetaran saat memegang senjata api tadi
“Lakukan!” tantang Adriano lagi. Dengan tangan kanan yang tersembunyi di dalam saku celana.
__ADS_1
Melihat sikap Adriano yang tak gentar dengan ancaman darinya, Mia segera memikirkan cara lain. Dia menarik pistol yang tertuju kepada Adriano, kemudian mengarahkan moncong senjata itu ke kepalanya sendiri. “Kau tidak takut jika aku menembakmu? Baiklah. Kalau begitu, aku akan menembak diri sendiri!” ancam Mia. Dia sudah bersiap menarik pelatuk senjata api yang dipegangnya.
Hal itu, berhasil membuat Adriano bereaksi. Sikap dan raut wajah tenangnya sirna seketika, berganti rona cemas. Dia tahu jika Mia bisa saja nekat dan tak berpikir panjang. “Tidak, Mia! Jangan lakukan hal itu,” cegah Adriano. “Baiklah. Katakan apa yang kau inginkan,” bujuk pria itu lagi.
Mia tak segera menjawab. Bahasa tubuhnya memperlihatkan bahwa wanita dengan dress hitam tersebut sedang merasa gelisah.
Adriano merasa khawatir. Dia tak ingin jika gangguan kecemasan yang Mia derita kambuh lagi seperti tempo hari, saat berada di mansionnya beberapa tahun lalu atau seperti tadi ketika di dekat pantai. Pria itu pun sigap menghadapi segala kemungkinan terburuk yang akan terjadi.
Adriano merogoh ke dalam saku celananya. Dia mengambil kunci pintu kamar. “Kau ingin ini, Mia? Ambilah.” Adriano mengulurkan tangannya. Dia menyodorkan kunci itu.
Sedangkan, Mia masih terdiam menatap Adriano dengan tajam. Sementara, moncong pistol masih menempel di dekat pelipisnya. Mata cokelat Mia kini beralih pada kunci yang Adriano sodorkan ke arahnya. Dalam hati wanita itu, dia ingin segera mengambil kunci yang Adriano sodorkan. Namun, wanita cantik tersebut masih mempertimbangkan kemungkinan lain. “Jangan bermain-main denganku, Adriano!” sergah Mia.
“Ambilah.” Adriano masih menyodorkan kunci itu kepada Mia. Dia mengangguk pelan sebagai isyarat bahwa dirinya tidak sedang bermain-main. Hal itu membuat pertahanan Mia menjadi sedikit goyah. Dia lalu mengulurkan tangannya hendak meraih kunci tadi.
Akan tetapi, secepat kilat tangan Adriano menarik tangan Mia yang terulur tadi, lalu memelintirnya ke belakang. Sedangkan, tangan kiri Adriano meraih pistol yang masih berada dalam genggaman Mia. Dia merebut pistol itu dengan banyak perhitungan, agar jangan sampai Mia menarik pelatuknya tanpa sengaja. Bagaimanapun juga, Adriano harus memastikan keamanan dan keselamatan dari wanita yang sangat dicintainya.
Tanpa ada perlawanan yang terlalu berarti dari Mia, Adriano berhasil merebut pistol tersebut dan melemparkan senjata api itu ke tempat yang kira-kira tidak dapat dijangkau oleh Mia. Dia juga terus mengunci tubuh wanita bertubuh kurus itu sehingga tak bisa bergerak dari dalam cengkeramannya, meskipun sesekali Mia melakukan perlawanan. Namun, tenaga Adriano terlalu kuat untuk dia tandingi. “Kau tidak bisa melakukan apapun sekarang, Mia. Aku akan melepaskanmu, hanya jika kau memintanya,” ucap Adriano dengan setengah berbisik.
Untuk sejenak, Adriano merasa begitu terbuai, ketika menghirup aroma rambut Mia yang wangi. Pria itu memejamkan mata. Adriano pun menempelkan hidungnya pada rambut belakang Mia yang saat itu tak lagi memberontak, atau berusaha melepaskan diri darinya.
__ADS_1
Sementara Mia masih dengan napasnya yang terengah-engah. Dia terlihat begitu lelah. “Bunuh saja aku sekarang juga. Bunuh aku! Dengan begitu, aku bisa kembali bersamanya,” ucap Mia dengan sangat pelan dan lirih. Suaranya hanya terdengar seperti sebuah hembusan angin semata bagi Adriano.