Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Signora del Palazzo


__ADS_3

Keesokan harinya, Juan Pablo mengantarkan Gianna kembali ke mansion milik Adriano. Sebelum turun dari mobil, gadis itu sempat terdiam beberapa saat. Sikapnya telah membuat Juan Pablo menjadi heran sekaligus penasasaran. "Ada apa? Boleh kutahu apa yang kau pikirkan?" tanya pria bermata cokelat madu tersebut.


Gianna menatap pria yang baru selesai menciumnya dengan sorot mata aneh. Dia lalu menyentuh rahang kokoh itu menggunakan tangan kanan. "Boleh aku bertanya sesuatu, Juan?"


Juan Pablo membetulkan posisi duduknya. Dia setengah menghadap kepada Gianna, dengan tangan kanan yang masih berada di atas kemudi. "Apa yang ingin kau tanyakan?" Nada bicara dan sorot mata pria asal Meksiko tadi tampak sangat datar, seakan tanpa ada rasa apapun sama sekali.


Sementara Gianna tak segera menjawab. Gadis itu seperti tengah mempertimbangkan apa yang akan dia tanyakan kepada pria yang kini mulai menjadi pengisi hatinya. Ragu, bibir tipis berpoleskan lipstik berwarna merah muda itu tampak bergerak, tapi tak mengeluarkan sepatah kata pun.


"Katakan saja," ucap Juan Pablo lagi saat melihat ada rona keraguan dalam paras cantik gadis pujaannya.


Gianna memaksakan untuk tersenyum. "Kapan terakhir kau bertemu dengan ayah kandungmu? Apa kau tidak merindukannya?"


Tampak seutas senyuman di sudut bibir Juan Pablo. Dia melihat ada kecemasan dalam raut wajah dan bahasa tubuh Gianna saat itu. Gadis berambut pirang tersebut seperti sangat peduli terhadap dirinya. "Aku selalu menemui ayahku tiap kali datang ke Italia. Dalam beberapa tahun terakhir, aku kerap bicara padanya. Dia tidak mengetahui seperti apa kehidupan masa kecilku, bagaimana saat ibu membesarkanku seorang diri sebelum dia menikah dengan pria yang kau lihat fotonya kemarin." Juan Pablo menghadapkan tubuhnya ke depan. Sementara kedua tangan masih berada di atas kemudi. Seperti ada beban berat yang menghimpit hati dan perasaannya saat itu.


"Ibumu wanita yang sangat luar biasa," sanjung Gianna. Dibelainya tengkuk kepala Juan Pablo dengan lembut, membuat pria itu seketika menoleh.


"Aku tidak pernah berbicara tentang kehidupanku pada siapa pun, Bice. Entah kenapa, terhadapmu rasanya aku ingin membagi seglanya," ucap Juan Pablo lagi tanpa mengalihkan pandangannya.

__ADS_1


"Aku merasa senang jika kau bisa memercayai diriku. Aku tahu kau pria yang baik, Juan. Karena itulah aku jatuh cinta padamu," ucap Gianna dengan lirih. Setitik air mata menetes di sudut bibirnya.


Juan Pablo tersenyum kecil melihat ketulusan gadis itu. Dia lalu mengusap sudut bibir Gianna menggunakan ujung ibu jarinya. "Aku yang telah jatuh cinta padamu. Kuharap kau bisa tinggal lebih lama di Monaco, sebelum ibuku kembali lagi ke Meksiko."


"Entahlah," Gianna tertawa renyah. "Aku datang kemari dengan gratis. Carina yang menanggung semua biaya perjalanan. Aku memang memiliki sedikit tabungan, tapi rencananya akan kugunakan untuk hal lain," jelas gadis itu tampak sangat lugu.


"Astaga ...." Juan Pablo menggeleng pelan. Dia pun tersenyum seraya meraih paras cantik Gianna. Perbincangan dalam mobil di antara keduanya pun ditutup dengan sebuah ciuman hangat nan mesra. Setelah itu, Juan Pablo membukakan pintu untuk sang kekasih. Namun, dia tak mengantar Gianna hingga masuk. Pria itu hanya memperhatikan gadis tersebut dari luar, hingga Gianna menghilang di balik megahnya bangunan mansion milik Adriano.


Sementara Carina, tengah asyik berenang dengan bikini seksinya yang sangat minim. Dia yang masih sibuk bermain air, segera memutuskan untuk naik setelah melihat Adriano di sana. Sang pemilik mansion juga rupanya hendak berenang.


"Apa kau sudah selesai, Carina?" tanya Adriano saat melihat sahabat lamanya itu naik dan berdiri di tepian kolam. Tubuh dan rambutnya terlihat basah.


"Sudah lama aku tidak melihatmu berenang. Semasa sekolah dulu, kau adalah juaranya," sanjung Carina kemudian.


Akan tetapi, Adriano lagi-lagi hanya tersenyum kecil. Tak berselang lama, senyuman itu berubah menjadi semakin lebar ketika terdengar suara berisik Miabella yang telah bersiap dengan pelampung di kedua lengannya.


"Daddy Zio! Aku sudah siap terbang!" seru gadis kecil itu sambil tertawa riang.

__ADS_1


"Bella, hati-hati," tegur Mia yang mengikuti gadis kecil dengan pakaian renang lucu itu dari belakang. Wanita cantik tadi tertegun sejenak, saat melihat Carina tengah berdiri sambil memamerkan tubuh indahnya di hadapan Adriano. Namun, Mia berusaha untuk tidak terpancing sama sekali. Dia mengela napas dalam-dalam, sebelum mendekat kepada mereka berdua.


"Kau sudah siap, Sayang?" tanyanya yang tentu saja ditujukan kepada Adriano.


Pria itu menoleh lalu tersenyum. Sepasang mata biru Adriano kemudian melirik putri sambungnya yang tampak sudah tak sabar untuk melanjutkan pelajaran renang yang sempat tertunda beberapa hari yang lalu. "Kau sudah siap, Principessa?" tanya Adriano pada Miabella yang terus bergerak lincah di sekitaran kolam.


"Ayo, Daddy Zio. Aku sudah tidak sabar," ajak anak itu penuh antusias.


Adriano pun segera melepas handuk yang melilit di pinggangnya, lalu dia berikan kepada Mia. Tentu saja itu memberikan sebuah pemandangan yang luar biasa bagi Carina. Aktris sekaligus penyanyi cantik tersebut, terus memperhatikan dan mengagumi betapa gagahnya suami dari Mia yang kini sudah berada di dalam kolam bersama Miabella.


Melihat gelagat kurang nyaman yang ditunjukkan oleh Carina, Mia pun segera mendekat padanya. Sambil memegangi handuk yang tadi dikenakan oleh Adriano, dia berdiri di samping sahabat dekat Gianna tersebut. "Apa yang kau lihat, Nona De Rossi?" tanya Mia tenang tapi terdengar ketus.


"Menurutmu apa? Aku sama sekali tidak tertarik untuk memperhatikan putrimu," jawab Carina dengan nada mencibir.


"Wanita sepertimu mana mungkin tertarik dengan anak kecil," balas Mia dengan nada yang sama. "Dengarkan aku, Nona De Rossi," Mia menoleh kepada wanita yang tengah asyik memperhatikan Adriano di dalam kolam. "Jika bukan karena Gianna, maka aku tak akan pernah menerimamu untuk menginap di sini. Jangankan untuk berenang dan mempertontonkan tubuh indahmu di hadapan suamiku. Aku bahkan tak akan membiarkan kau menginjakkan kaki di gerbang depan mansion. Terlebih setelah sikap kurang ajarmu padaku dulu saat di cafè. Kau pikir aku akan merasa terkesan bisa menampung artis murahan sepertimu?" Tenang tapi terdengar sangat pedas ucapan yang dilontarkan Mia terhadap Carina.


"Oh, astaga. Kau sombong sekali, Mia. Siapa kau sampai berani-beraninya bicara seperti itu padaku? Sadarlah akan satu hal, Mia. Walaupun kau berhasil menjadi istri Adriano, tapi itu tak menjadi jaminan bahwa dia akan berada di dekatmu selamanya. Pria seperti Adriano tak akan betah berlama-lama hanya berada dekat dengan satu wanita. Saat itu terjadi, maka akulah yang akan menjadi orang pertama dan paling depan dalam menertawakanmu," Carina pun menanggapi ucapan pedas Mia dengan tenang. Dia bahkan masih sempat tertawa renyah karenanya.

__ADS_1


"Ya, Tuhan. Kau masih bertanya siapa aku?" Mia menautkan alisnya seraya berdecak pelan. "Aku adalah Florecita Mia D'Angelo, nyonya besar di mansion ini. Aku penguasanya, Sayang. Sedangkan kau hanya tamu di sini. Dengan mengatakan kebodohan itu padaku, maka jelas sudah bahwa kau tak mengenal sosok Adriano yang sesungguhnya. Lalu, apa yang kau banggakan dengan terus mengatakan bahwa dirimu adalah sahabat dekat Adriano? Omong kosong," cibir Mia lagi semakin puas menyudutkan Carina.


"Dengan sekali jentikan jari saja, aku bisa menendangmu keluar tanpa ampun, bahkan saat ini juga bisa kulakukan hal itu tanpa menunggu kau berpakaian terlebih dahulu," ancam Mia tanpa gentar sama sekali. "Silakan saja jika kau berani melawanku di sini, maka aku bisa berbuat lebih dari apa yang kau bayangkan. Kau tahu? Theo dulu pernah mengajariku menembak dari jarak lima ratus meter, dan aku belum lupa akan hal itu," cibir Mia lagi diiringi tawa puas, membuat Carina seketika terdiam.


__ADS_2