Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Dua Sisi


__ADS_3

Juan Pablo menghentikan Mustang yang dia kendarai di bawah sebuah pohon rindang. Pohon itu tumbuh di seberang rumah bergaya khas Amerika, yang terbuat dari kayu dengan dominasi warna cokelat. Pria tiga puluh lima tahun tersebut sengaja tak turun dari mobil. Dia hanya mengawasi rumah dengan dua lantai tadi dari balik kaca mata hitamnya.


Beberapa saat Juan Pablo menunggu, hingga terlihat seorang wanita berambut cokelat keluar dari dalam rumah tersebut. Penampilannya tampak sangat sederhana. Wanita dengan rambut ikal sebahu itu mengenakan midi dress floral selutut, yang dipadukan dengan sepasang pantofel hitam. Dia mengambil selang, kemudian mulai menyiram tanaman bunga yang tumbuh di halaman depan rumahnya. Tak berselang lama, seorang anak laki-laki berusia sekitar empat tahun berlari keluar dari dalam rumah. Dia terlihat sangat ceria dan juga cekatan, berlagak hendak membantu pekerjaan sang ibu.


Sebuah pemandangan yang membuat Juan Pablo teringat pada dirinya dan juga sang ibu. Pria itu lalu melirik pergelangan tangan yang masih berada di atas kemudi. Dia menatap dengan lekat sebuah tato bertuliskan nama wanita yang sangat berharga dalam hidupnya. Juan Pablo pun mengempaskan napas dalam-dalam.


Kembali diperhatikannya keakraban antara ibu dan anak di seberang jalan sana, hingga mereka kembali masuk ke rumah yang terlihat asri tadi. Setelah memastikan keadaan aman, Juan Pablo kemudian turun dari mobil dengan membawa sesuatu. Adalah sebuah amplop yang segera dia masukan ke dalam kotak surat di halaman. Setelah itu, pria bermata cokelat madu tersebut bergegas kembali ke mobilnya. Dia harus segera berangkat ke bandara untuk menuju Monaco, karena dirinya belum menguburkan kepala Don Vargas.


Sepeninggal Juan Pablo, wanita berambut pendek tadi segera keluar dan berjalan cepat menuju kotak surat. Dia mengambil amplop yang tadi Juan Pablo simpan di sana. Wanita itu pun kembali masuk. Dia segera memeriksa isi amplop tadi, sambil duduk di atas kursi ruang tamu yang bermotif bunga-bunga.


Nancy, jangan menungguku pulang. Jagalah anak kita. Kutitipkan dia padamu.


Suamimu,


Melker


Seketika, air mata mengalir deras membasahi pipi wanita bernama Nancy tersebut. Kertas yang tengah dia genggam pun terlepas begitu saja dari tangannya. Nancy menangis tanpa suara sambil menangkup wajah, menyembunyikan air mata dari sang anak yang berlari menghampiri serta memeluknya. Namun, anak itu belum memahami apapun, sehingga dia tak bertanya macam-macam terhadap sang ibu.


Sementara itu, Juan Pablo sudah tiba di hanggar pesawat pribadi miliknya. Dia yang telah membuat janji dengan sang pilot, langsung saja keluar dari mobil sambil menenteng sebuah kotak kedap udara berisi kepala Don Vargas. Untuk orang biasa, itu pasti akan menjadi sesuatu yang mengerikan ketika harus membawa kepala manusia ke mana-mana. Akan tetapi, tidak bagi Juan Pablo sang Elang Rimba.


Juan Pablo sudah duduk dengan nyaman di dalam pesawat pribadi, yang akan membawanya terbang menuju Monaco. Dia akan kembali menempuh perjalanan panjang kali ini. Pria berusia tiga puluh lima tahun tersebut menyandarkan kepalanya seraya memejamkan mata dalam-dalam. Juan Pablo pun mencoba untuk mengatur napasnya dan melakukan relaksasi sekadar mengurangi rasa lelah yang menderanya.

__ADS_1


Saat itu, bayangan paras cantik Gianna si rambut pirang bermata biru hadir dalam ingatan pria asal Meksiko tersebut. Juan Pablo sangat merindukan senyuman manis gadis dua puluh empat tahun itu. Semua kilas balik penuh kemesraan antara dirinya dengan adik tiri Adriano, kembali berputar sehingga membuatnya tersenyum kecil. Namun, seketika Juan Pablo membuka mata, ketika dirinya kembali teringat akan ucapan terakhir Lionel. Ya, entah apa yang akan terjadi, seandainya Adriano mengetahui kedekatan antara dia dengan Gianna. Namun, bagi seorang Juan Pablo tentu saja itu tak akan menjadi sebuah penghalang yang terlalu berarti.


Beberapa jam telah berlalu. Perjalanan panjang dari Amerika menuju Eropa yang sangat melelahkan, bagi Juan Pablo yang belum sempat beristirahat dengan maksimal. Setibanya di Monaco, dia segera mempersiapkan penguburan kepala Don Vargas. Dengan dibantu oleh beberapa anak buahnya, Juan Pablo menuju halaman belakang mansion. Di sana ada tanah kosong yang tidak terlalu luas. Tanah itu memang sengaja disediakan untuk tempat pemakaman khusus keluarga. Begitu juga dengan jasad tanpa kepala milik Don Vargas yang sama terkubur di sana.


Dengan tatapan nanar, pria bermata cokelat madu itu menyaksikan proses penguburan kepala pria yang sangat berarti bagi dirinya. Usai sudah tugasnya dalam memenuhi janji kepada Don Vargas. Kini, pria paruh baya tersebut sudah bisa beristirahat dengan tenang untuk selamanya.


“Melker sudah kuhabisi. Akan kulakukan hal yang sama, kepada siapa pun yang berani mengusik ketenangan Elang Rimba. Aku tak peduli seberapa kuat dan berpengaruhnya orang itu, karena Elang Rimba akan selalu terbang paling tinggi dan disegani,” ucap Juan Pablo menatap dingin dan tajam tanah merah di hadapannya. Dia terus berdiri di depan gundukan tanah sampai setetes air hujan membasahi bahunya. Juan Pablo menengadah dan melihat awan pekat di atas langit.


“Sebentar lagi hujan, Jefe (Bos). Apakah Anda tidak ingin masuk?” tanya salah seorang anak buah Juan Pablo.


“Ya,” jawabnya singkat, kemudian membalikkan badan dan berjalan memasuki mansion. Di sana, Juan Pablo lebih memilih untuk duduk pada sebuah bangku panjang yang tersedia di teras belakang. Sorot matanya yang tajam, menerawang rintik hujan yang mulai turun membasahi rumput dan segala macam tanaman yang tumbuh di taman. Suasana petang berubah menjadi gelap dalam waktu singkat.


“Bagaimana rencana ke depannya, Jefe?” tanya pria itu lagi.


“Nanti saja akan kupikirkan. Aku masih ingin menikmati hujan,” jawabnya datar. Pria itu pun kembali terdiam.


Beberapa saat lamanya Juan Pablo mengamati rintik hujan, sampai akhirnya dia memutuskan untuk masuk ke ruang kerja Don Vargas. Di sana dia kembali termenung, kemudian meraih ponselnya. Jemari pria dengan tato kalajengking tersebut sudah siap menekan nomor telepon Gianna, tapi segera dia urungkan. Juan Pablo malah mencari nomor kontak Adriano dan mencoba menghubunginya. Tak ada salahnya berbasa-basi dengan kakak tiri Gianna tersebut, pikirnya. Cukup lama dia menunggu sampai Adriano menjawab panggilan tersebut.


Saat itu, Adriano tengah bercengkerama bersama Mia dan juga Miabella di balkon kamarnya. Mereka telah tiba di Monaco hari kemarin. Pria rupawan tersebut hendak merengkuh tubuh ramping Mia, ketika sayup-sayup terdengar ponselnya berbunyi. Kebetulan, saat itu dia meletakkan benda pipih tersebut di atas laci samping ranjang.


“Sebentar,” Adriano berdiri dan melangkah masuk ke dalam kamar, kemudian berjalan mendekati ranjang. Sementara Mia terus memperhatikan gerak-gerik sang suami yang tampak mengernyitkan kening saat meraih ponselnya, lalu menerima panggilan. “Pronto,” ucap Adriano seraya berlalu keluar kamar.

__ADS_1


Mia yang merasa curiga segera membawa Miabella masuk ke dalam kamar, kemudian menutup pintu balkon. “Tunggu sebentar di sini, Sayang,” pesannya seraya mendudukkan Miabella dengan nyaman di atas ranjang. Mia juga meraih dua buah boneka yang terpanjang di rak kamar untuk putrinya.


Setelah itu, dia mengendap mendekati pintu kamar dan membukanya perlahan. Dia melihat Adriano tengah bersandar pada dinding lorong mansion yang sedang serius bercakap-cakap dengan seseorang. Adriano sendiri tak menyadari, tatkala sepasang mata indah Mia terus mengawasi gerak-geriknya. Dia cukup terkejut ketika saat itu Juan Pablo menghubungi dan mengajak dirinya berbincang tentang hal-hal yang menurut dia tak penting sama sekali.


“Apakah aku mengganggu waktumu, tuan D’Angelo?” tanya Juan Pablo setelah cukup lama mereka berbincang.


“Sejujurnya aku cukup terkejut saat kau menelepon. Kupikir kau akan mengirimkan foto-foto mengerikan lagi, sehingga aku harus menyembunyikan panggilanmu dari Mia,” tutur Adriano seraya terkekeh.


“Ah, tidak, tuan. Foto itu hanya sebagai bukti saja bahwa aku sudah berhasil menghabisi Lionel dan membalas dendam padanya,” balas Juan Pablo. “Jadi, apakah anda memiliki rencana untuk malam ini?”


“Aku berencana untuk berangkat tidur. Mia sudah menungguku di kamar,” jawab Adriano.


“Oh, baiklah kalau begitu. Selamat beristirahat, tuan ....” Juan Pablo tiba-tiba menjeda kalimatnya. “Bolehkah aku memanggilmu Adriano saja? Aku ingin kita bisa jauh lebih akrab,” pintanya dengan nada bicara yang terdengar aneh di telinga pria bermata biru itu. Setelah itu, Juan Pablo terdengar mengempaskan napas pelan. Dia merasa begitu konyol di mata Adriano.


“Kenapa tiba-tiba kau ingin akrab denganku?” Adriano balik bertanya. Dia merasa sangat heran dengan sikap Juan Pablo yang tak seperti biasanya.


“Tidak apa-apa. Kurasa aku akan menetap di Monaco, dan hanya kau yang cukup akrab denganku selama di sini. Selain Sergei Redomir tentunya. Namun, kau tahu bukan hingga kini dia menghilang entah ke mana,” jawab Juan Pablo datar.


“Ya, kurasa tak masalah. Selama apapun yang kau lakukan tak merugikan diriku,” tegas Adriano. Dia tak ingin menanggapi tentang kasus menghilangnya pria asal Rusia tersebut. Adriano pun kembali berbasa-basi untuk beberapa saat, hingga dia mengakhiri panggilannya. Adriano bermaksud untuk kembali ke kamar. Akan tetapi, dia begitu terkejut ketika Mia sudah berdiri di ambang pintu sambil berkacak pinggang dan menatapnya dengan tajam.


Sementara Juan Pablo segera beranjak dari duduknya. Dia merasakan tubuh yang begitu lelah. Pria bermata cokelat madu itu pun menuju ke kamar untuk merebahkan diri di sana. Akan tetapi, bayangan paras cantik dan senyuman indah Gianna kembali mengusik pikirannya. "Kau benar-benar pengganggu, Bice," gumam Juan Pablo seraya mencoba memejamkan mata. Namun, selang beberapa saat dia kembali terjaga. "Baiklah. Aku akan kembali ke Italia. Kau membuatku merasa konyol," racau Juan Pablo seraya tersenyum kecil. Pria itu tak menyangka, bahwa dia akan mengalami sesuatu seperti yang tengah menderanya saat ini. Hal yang membuat dia merasa bodoh tetapi sangat menyenangkan.

__ADS_1


__ADS_2