
"Juan? Kenapa kau memakai ponsel Mia?" Gianna yang saat itu masih berada di tempat tidur, seketika tampak gusar. Dia masih ingat dengan jelas, pada waktu ketika dirinya menemukan potongan foto Mia yang disimpan oleh Juan Pablo. Terlebih setelah pengakuan mengejutkan dari pria yang kini telah menjadi suaminya tersebut.
"Ponselku rusak," jawab Juan Pablo dari seberang sana.
"Kau bisa pulang ke Roma, bukannya malah meminjam ponsel milik Mia. Lagi pula, apa yang kau lakukan di sana hingga berhari-hari?" Resah perasaan Gianna saat itu, meski dia terus menolak berpikir negatif tentang Mia. Gianna pun mencoba untuk percaya sepenuhnya kepada Juan Pablo.
"Tidak apa-apa, Bice. Aku baik-baik saja ...." Juan Pablo terdiam sejenak. Dia sudah dapat menebak arah pikiran Gianna saat itu. "Jangan berpikir macam-macam. Aku ... aku akan segera pulang ke Roma," ucapnya lagi.
Gianna terdiam beberapa saat. Wanita muda berambut pirang itu hanya menggigit bibir bawahnya. Dia lalu tertunduk menatap perut yang kini berisi satu nyawa lagi di dalamnya. “Ya, sudah. Kutunggu kau di Roma,” sahutnya kemudian mengakhiri panggilan sebelum
Juan Pablo sempat menjawab.
Pria rupawan itu dapat memahami dengan jelas, bahwa Gianna sedang memendam perasaan tak nyaman. Dia lalu menoleh kepada Mia yang tengah memperhatikannya dengan raut bertanya-tanya. “Bagaimana? Apa kata Gianna?” tanya istri dari Adriano itu penasaran.
Juan Pablo membuka sedikit mulutnya. Dia seakan ragu untuk mengucapkan sesuatu. “Bolehkah aku meminta tolong padamu, Mia?” tanyanya beberapa saat kemudian.
“Katakan saja. Aku akan berusaha membantumu,” jawab Mia dengan segera.
“Bisakah kau jelaskan pada Gianna tentang keadaanku saat ini? Maksudku … sepertinya dia salah paham tentang kita,” ujar Juan Pablo dengan suara yang begitu lemah.
“Itu tidak mungkin. Gianna sangat mengetahui siapa diriku. Mana mungkin dia salah paham terhadap kakak iparnya sendiri,” protes Mia dengan yakin.
“Itu … um, itu karena .…” Juan Pablo terbata. Sangat tidak mungkin jika dia harus menceritakan pada Mia, bahwa dulu dirinya gemar menguntit dan mengambil foto wanita cantik itu secara diam-diam. “Katakan saja padanya jika aku berada di rumah sakit dan minta dia agar tidak panik. Jika memungkinkan, aku ingin dipindahkan ke rumah sakit Roma secepatnya, agar aku bisa lebih dekat dengan istriku,” tutur Juan Pablo.
“Baiklah,” sahut Mia. Jemari lentiknya kembali menekan kontak Gianna. Cukup lama sampai adik tiri Adriano itu mengangkatnya.
“Ada apa lagi, Juan? Apakah ada sesuatu yang belum kau ceritakan padaku?” Suara ketus Gianna langsung menyambar, tanpa dirinya tahu jika yang menghubunginya adalah Mia.
“Ini aku, Gianna. Tuan Herrera hanya ingin meminta tolong padaku untuk menyampaikan padamu bahwa dirinya kini sedang berada di rumah sakit. Letak kamarnya dekat dengan kamar Adriano, jadi … aku sekalian menjenguknya,” jelas Mia.
“Apa? Di rumah sakit? Kenapa, Mia?” tanya Gianna panik.
“Tidak apa-apa, Gianna. Tenanglah. Dia hanya mengalami luka kecil. Suamimu dan suamiku terlibat sedikit perselisihan. Namun, mereka sekarang sudah berdamai,” terang Mia dengan suara yang lemah lembut.
Akan tetapi, Gianna sudah terlanjur kalut. Apalagi ketika Mia menyebut Juan sebagai suaminya. “Ka-kau sudah tahu?” desisnya.
“Apa?” Mia mengernyitkan kening karena tak mengerti. Sekilas dia memandang ke arah Juan Pablo yang begitu serius memperhatikannya.
“Kau tahu kalau … aku … dan Juan ….”
__ADS_1
“Iya, aku sudah tahu. Tuan Herrera yang menceritakan semuanya,” potong Mia sembari tersenyum simpul.
“Apakah Adriano juga tahu? Lalu, bagaimana tanggapannya?” tanya Gianna was-was.
“Dia sangat senang dengan berita kehamilanmu. Bila nanti kondisi suamiku sudah pulih, maka aku akan mengajaknya menjengukmu,” jawab Mia sedikit berbohong.
“Benarkah? Syukurlah.” Gianna mende•sah lega seraya memejamkan mata. “Tinggal memberitahukannya pada ayah dan ibuku saja, tapi .…” gadis itu tak melanjutkan kata-katanya untuk sesaat. “Bisakah aku berbicara dengan suamiku?” pintanya kemudian.
“Tentu.” Tanpa ragu, Mia meletakkan ponselnya di samping kepala Juan Pablo, lalu menekan tombol loud speaker. “Akan kutinggal kalian untuk mengobrol berdua. Aku akan mencari makan siang dulu,” pamit Mia seraya berlalu dari kamar perawatan.
Kebaikan dan ketulusan Mia begitu menyentuh hati Juan Pablo. Makin bertambahlah rasa sesalnya karena pernah menghancurkan cinta dan kebahagiaan wanita itu, meskipun pada akhirnya Mia dapat kembali melanjutkan hidup bersama Adriano.
“Juan?” Panggilan Gianna menyadarkan pria itu dari lamunan.
“Bice.” Juan Pablo tersenyum lebar. Suara merdu Gianna telah menjadi obat mujarab bagi dirinya. Hanya dengan mengobrol dan bercanda melalui telepon saja sudah membuat pria tampan itu merasa jauh lebih baik. Juan dan Gianna saling bertukar cerita untuk beberapa saat lamanya sampai terdengar ketukan pelan di pintu.
“Bice, tolong akhiri dulu percakapan kita. Sepertinya ada perawat yang ingin memeriksa keadaanku,” pinta Juan Pablo, sebab dirinya masih belum bisa mengoperasikan tangannya yang berada dalam balutan gips. Gianna pun menurut dan mengakhiri panggilan tadi.
“Masuk,” seru Juan Pablo pelan dan lemah. Dia belum bisa berbicara nyaring akibat luka-luka yang dia derita di dadanya.
Sebenarnya saat itu dia merasa aneh, karena para perawat atau petugas medis lainnya tak pernah mengetuk pintu terlebih dulu sebelum masuk. Namun, pikirannya berpindah kepada Mia. Mungkin saja wanita itu mengurungkan niat untuk makan siang dan hendak kembali mengambil ponsel. “Mia?” panggilnya pelan. Juan Pablo semakin dapat merasakan keanehan itu ketika pintu ruang perawatannya tak kunjung terbuka.
“Hai, Juanito. Aku datang menjengukmu.” Jacob tersenyum lebar, kemudian masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya. Dia lalu berjalan tertatih, menghampiri ranjang Juan Pablo dengan menggunakan tongkat. “Aku sama sekali tak mengira jika kalian semuanya selamat. Kupikir Adriano D’Angelo akan mati di tanganmu.” Jacob terkekeh, lalu berdiri di sisi kiri ranjang.
“Apa maumu?” Tajam sort mata Juan Pablo dia arahkan kepada Jacob yang memiliki beberapa luka parut dan lebam di wajah, akibat perkelahian dengan dirinya beberapa waktu lalu.
“Seperti biasa. Aku ingin flashdisk itu. Aku perlu cetak birunya untuk membangun ulang organisasi,” jawab Jacob.
“Berapa kali harus kukatakan jika benda sialan itu tak ada padaku,” sahut Juan Pablo dengan suara yang masih terdengar lemah.
“Ck!” Jacob berdecak kesal. Rautnya yang selalu terlihat tenang, tak tampak saat itu. “Jangan menyusahkanku, Juanito! Kau tak perlu menunjukkan sikap bermusuhan seperti ini. Ingat! Seburuk-buruknya Killer X, tempat itu pernah membesarkan nama dan mengasah kemampuanmu hingga kau bisa sehebat sekarang!” tegasnya.
“Aku bosan menjelaskannya. Sekali lagi, kukatakan padamu. Aku tidak menyimpan ataupun membawa flashdisk yang kau maksud!” balas Juan Pablo tak kalah tegas.
“Keras kepala sekali kau!” gerutu Jacob sambil berbalik meninggalkan Juan Pablo yang tak berdaya di atas ranjang menuju pintu. Sebelum menghilang di balik pintu, Jacob kembali menoleh padanya sambil berkata, “Baiklah jika kau tak mau mengatakannya. Aku akan bertanya pada Gianna saja.”
“Jangan sampai kau menyentuhnya seujung rambut pun!” sentak Juan Pablo. Dengan sekuat tenaga, dia bangkit dan berusaha untuk turun dari ranjang. Tak dihraukannya rasa nyeri yang menusuk seluruh tubuh. Dia bahkan tak peduli ketika selang infus di tangan sempat tertarik, hingga tiangnya jatuh ke lantai dan menimbulkan bunyi nyaring.
Suara berisik itu terdengar sampai ke luar ruangan, di mana seorang perawat kebetulan sedang melintas. Perawat itu buru-buru masuk dan melihat keadaan Juan Pablo. “Tuan! Apa yang Anda lakukan!” seru perawat itu. Dia buru-buru mencegah Juan Pablo yang satu kakinya sudah menapaki lantai.
__ADS_1
“Lepaskan aku! Aku harus menghentikan bajingan itu!” geram Juan Pablo.
“Menghentikan siapa? Tak ada seorang pun di luar sana selain aku yang melewati ruanganmu!” sahut perawat tadi sambil terus memegangi Juan Pablo agar tidak turun dari ranjang. “Bekerja samalah, Tuan! Luka bekas operasimu belum mengering. Hal itu dapat berbahaya,” tegurnya.
“Aku harus memberitahu Adriano.” Juan Pablo tak memedulikan ucapan perawat tadi. “Adriano! Adriano!” Dia berteriak sekuat tenaga. Tindakan yang bodoh, tetapi dia tak memikirkan cara lain untuk memanggil seseorang yang telah menjadi kakak iparnya tersebut.
Teriakan Juan Pablo begitu menggema, tepat pada saat Mia yang baru saja datang dari kantin dan bermaksud hendak mengambil ponselnya. “Astaga!” Mia terperanjat. Kedua matanya terbelalak melihat Juan Pablo yang memaksa turun dan hendak melawan seorang perawat yang kesusahan memeganginya. “Kau kenapa, Tuan Herrera?” Mia segera mendekat dan membantu perawat itu untuk kembali merebahkan Juan Pablo.
“Bice dalam bahaya. Jacob akan mendatanginya di Roma. Aku membutuhkan bantuan suamimu. Kumohon,” pinta Juan Pablo serius.
“Bagaimana bisa? Suamiku juga sama-sama terluka. Kondisinya tak jauh berbeda denganmu,” tolak Mia.
“Katakan saja padanya untuk menghubungi anak buahku,” pinta Juan Pablo tak putus asa.
“Baiklah. Tunggu sebentar.” Mia sempat meraih ponselnya di atas bantal, lalu bergegas keluar dari ruang perawatan Juan Pablo untuk menuju ruangan Adriano. Saat itu dilihatnya sang suami dalam keadaan terbangun dan tengah mengusap hidungnya yang tertutup perban. “Adriano,” panggilnya seraya menghampiri ranjang. “Tuan Herrera menyampaikan pesan. Dia ingin meminta bantuanmu,” ucap Mia.
“Sayangku, beri aku ciuman. Jangan pedulikan dia,” sahut Adriano sembari berusaha merengkuh tubuh Mia dengan satu tangan.
“Tidak, Sayang. Dengarkan aku. Tuan Herrera memintamu untuk menghubungi anak buahnya,” sela Mia.
“Untuk apa? Menyusahkan sekali,” gerutu Adriano. Beberapa saat kemudian dia meringis ketika tangannya yang susah payah ingin menyentuh tubuh istrinya, bergerak terlalu kencang.
“Gianna berada dalam bahaya, karena Jacob hendak mendatangimu adikmu ke Roma. Tolong hubungi anak buahnya.” Mia mendekatkan ponselnya kepada Adriano sambil bersiap menekan angka.
“Astaga! Bajingan itu masih belum mati juga!” sungut Adriano. Kekhawatiran kembali menghampirinya saat mengetahui bahwa Gianna berada dalam bahaya.
“Sebutkan berapa nomornya,” suruh Mia yang telah siap dengan ponselnya.
Adriano terkesiap. Saat itu dia baru menyadari satu hal. “Um, Sayang. Pertama, aku tak tahu bagaimana caranya menghubungi anak buah Juan. Kedua .…” Adriano terlihat ragu.
“Kedua?” ulang Mia.
“Kedua … aku sudah memerintahkan Benigno dan anggota klan de Luca untuk menghabisi seluruh anak buahnya,” jawab Adriano sambil meringis.
🍒 🍒 🍒
Hai, ceuceu persembahkan lagi satu rekomendasi novel. Jangan lupa dicek 😉
__ADS_1