
Menjelang sore, Adriano kembali ke Casa de Luca. Kedatangannya disambut oleh suara dentingan piano yang tengah Miabella mainkan. Entah bagaimana awalnya, ketika gadis kecil itu tiba-tiba merengek dan meminta sebuah piano kepada sang kakek. Atas persetujuan Mia, Damiano pun mengabulkan permintaan cucunya tersebut, sekaligus mendatangkan seorang guru les untuknya.
Berdiri sambil bersandar pada dinding dengan kedua tangan di dalam saku celana, Adriano terus memperhatikan putri kecilnya yang tengah duduk ditemani Mia. Dia merasakan kehidupan yang teramat sempurna kali ini. Adriano yang selalu hidup sendiri dan lebih senang berpetualang ke banyak negara, kini seakan sudah mendapatkan tempat tinggal yang akan membuatnya selalu ingin segera pulang ke rumah. “Luar biasa, Principessa!” suara tepuk tangan Adriano mengejutkan Mia dan juga Miabella. Keduanya seketika menoleh dengan bersamaan.
“Daddy Zio ....” Miabella segera turun dari tempat duduknya dan berlari ke arah Adriano yang saat itu sudah menurunkan tubuh, dan bersiap menyambut pelukan darinya. “Kau darimana, Daddy Zio? Aku mencarimu sejak tadi,”
“Ada sedikit urusan yang harus kuselesaikan,” jawab Adriano dengan senyuman hangat. “Kau mencariku terus? Bukannya kau sedang bermain piano?” pria itu menautkan alisnya.
“Aku tadi mencarimu terus, tapi kau tidak ada di manapun. Jadi, ibu mengajakku untuk bermain piano. Jika nanti aku kembali ke rumahmu, aku ingin membawa piano itu. Boleh, kan?” Miabella masih melingkarkan tangannya di leher Adriano. Sementara Mia hanya tersenyum menyaksikan hal itu seraya berdiri di dekat mereka.
“Aku bisa membelikan yang baru untukmu,” ucap Adriano.
“Sungguh, Daddy Zio?” Miabella terlihat begitu senang. Tanpa sungkan dia mencium pipi ayah sambungnya, membuat Adriano merasa begitu berarti.
Bagi Adriano, meskipun Miabella bukanlah putri biologisnya tapi itu tidak menjadi masalah yang berarti. Suatu saat nanti, Adriano pasti ingin memiliki anak dari darah dagingnya sendiri. Namun, hal itu tak akan pernah mengubah perasaannya terhadap Miabella. "Apapun akan kuberikan untuk kebahagiaanmu dan juga ...." Adriano mengalihkan tatapannya kepada Mia. Sorot mata biru itu menyiratkan banyak makna yang harus Mia cerna sedikit demi sedikit. Mia hanya tersenyum lembut saat membalas tatapan itu.
"Daddy Zio, tadi saat di rumah ayah ... aku melihat ada orang yang memperhatikanku dan ibu. Apa menurutmu itu adalah ayahku yang sedang bersembunyi?" celoteh gadis kecil itu membuat Adriano seketika memasang raut wajah yang serius. Sekali lagi dia menatap kepada Mia. Kebetulan saat itu Damiano baru kembali dari perkebunan. Miabella pun segera berari ke arahnya.
Adriano menegakan tubuhnya. Dia lalu menghampiri Mia dan menatap lekat wanita itu. Adriano seakan ingin meminta sebuah penjelasan padanya.
“Katakan Mia, apa yang terjadi di sana?” tanya Adriano dengan sorot tajam kepada wanita cantik di hadapannya. Terdengar jelas dari nada bicaranya, jika dia merasa sangat khawatir. Sementara Mia terlihat serba salah. Namun, pada akhirnya dia mengangguk pelan. “Kalian tidak terluka, kan?” Adriano mengamati sekujur tubuh Mia, membuat ibu dari MIabella tersebut merasa risih.
“Kami tidak apa-apa. Kau tak perlu khawatir,” Mia memegangi kedua lengan Adriano. “Tadi … tadi Bella hanya mengatakan jika dirinya melihat seseorang yang bersembunyi dan mengawasi kami. Namun, setelah diperiksa oleh Zucca, dia tidak menemukan siapa pun di sana,” jelas Mia. “Aku rasa ... mungkin itu hanya khayalan putriku saja. Tadi dia bertanya macam-macam padaku saat sedang di makam Theo ….” Mia terlihat sedikit gelisah. Dia lalu menggigit kuku jari telunjuknya.
Dengan segera, Adriano menyingkirkan tangan Mia dari bibir wanita itu. “Jangan seperti ini. Tak apa, ada aku yang akan selalu menjaga kalian,” Adriano meraih kepala Mia dan menempelkannya di dada. Dia lalu mengecup pucuk kepala sang istri dengan lembut, berharap agar Mia merasa jauh lebih tenang. Apa yang dilakukannya memang membuat Mia merasa begitu damai. Wanita itu memejamkan mata, saat menghirup aroma parfume sang suami yang begitu menyegarkan.
“Daddy Zio, kenapa kau hanya memeluk ibu tapi tidak memelukku?” protes Miabella yang kembali menghampiri kedua orang tuanya.
__ADS_1
“Bella ….” panggil Damiano lembut dengan senyumannya yang begitu khas.
“Tidak apa-apa, Damiano,” Adriano melepaskan pelukannya dari Mia. Pria itu tersenyum lebar seraya menggendong putri kecilnya. “Bagaimana dengan perkebunan?” Adtiano mengalihkan perhatian kepada Damiano yang baru saja melepas topinya.
“Aku bersyukur karena selama ini produksi kami tidak pernah terhambat. Pada awal kepergian Matteo, aku memang merasa cukup kesulitan karena harus mengurus segala sesuatunya sendiri. Aku rasa makin lama aku semakin terbiasa. Namun, tak dapat dipungkiri jika diriku juga bertambah tua. Tenagaku tidak sekuat dulu,” tutur Damiano dengan tatapan yang tiba-tiba menerawang.
“Apa kau ingin kucarikan seorang asisten agar bisa membantumu?” tawar Adriano.
“Oh, Adriano. Itu akan sangat merepotkanmu,” tolak Damiano dengan halus.
“Tidak apa-apa, Paman. Kau juga harus memperhatikan kesehatanmu. Kau adalah pengganti ayahku, kakek dari Miabella. Kami ingin kau selalu sehat dan tentu saja selalu ada sebagai penasihat yang bijak. Aku akan kehilangan arah jika tidak mendengarkan semua petuahmu,” penuh rasa haru, Mia memeluk pria tua berambut putih itu. Sedangkan Miabella melingkarkan tangannya pada leher Adriano.
Dalam suasana haru tersebut, Coco dan Francesca muncul. Gadis itu sudah bersiap untuk kembali ke Roma. “Apa aku ketinggalan sesuatu?” tanya Coco dengan santainya.
“Kau akan pulang sekarang, Francy?” tanya Mia.
“Apa Ricci akan mengantarmu hingga ke Roma?” tanya Mia lagi. Dia terlihat khawatir.
“Tentu saja, Mia. Memangnya hanya Adriano satu-satunya pria sok keren dan romantis di daratan Eropa ini?" celetuk Coco dengan nada mencibir. "Kau punya saingan, Sobat,” ledeknya sambil melirik tajam kepada Adriano yang masih menggendong Miabella.
“Aku sama sekali tidak ada minat untuk bersaing denganmu, Ricci. Lagi pula aku sudah menikah,” Adriano tersenyum kalem kepada Coco yang menanggapi kata-kata pria itu dengan sebuah keluhan pendek.
"Ayo, Francy. Ini sudah terlalu sore," ajak Coco. Sedangkan Francesca sedang berusaha membujuk Miabella agar mau digendong olehnya. Akan tetapi, Miabella justru semakin mempererat pelukannya pada Adriano. Gadis kecil itu membuat Francesca akhirnya menyerah. Dia lalu berpamitan kepada semuanya.
......................
Mia sudah menidurkan Miabella di kamar lamanya. Dia melangkah cepat dengan kepala tertunduk, saat akan melewati kamarnya bersama Matteo. Namun, tepat di depan pintu kamar itu, Mia tertegun. Dia memberanikan diri menoleh ke sana. Ditatapnya gagang pintu yang terkunci. Rasa hati ingin masuk dan melihat keadaan di dalam, sekadar mengurangi rasa rindu tapi sekuat tenaga Mia menahan diri. Wanita itu segera melanjutkan langkah menuju kamar tamu yang dia tempati bersama Adriano.
__ADS_1
Di dalam kamar, Adriano tampak sedang duduk bersandar di atas tempat tidur dengan kaki berselonjor. Jari telunjuknya tengah sibuk pada layar ponsel. Entah apa yang membuat pria itu terlihat begitu serius. Namun, dia segera meletakan ponselnya ketika melihat Mia sudah berada di dalam kamar, dengan raut wajah yang tampak gelisah. "Kemarilah," ajaknya.
Tanpa banyak bicara, Mia segera naik ke tempat tidur. Dia juga langsung masuk ke dalam dekapan Adriano, ketika pria itu merentangkan tangan, dan menyambut tubuh ramping yang kini sudah bergelayut manja padanya. Mia kemudian mengusap-usap dada sang suami, saat pria tersebut mengecup keningnya dengan mesra. "Kau memiliki tato yang sangat besar di punggungmu. Apakah tidak sakit saat membuatnya?" tanya Mia pelan.
"Sedikit," jawab Adriano. "Ada beberapa bagian tubuh yang tidak terasa sakit saat ditato. Kenapa memangnya? Jangan katakan jika kau ingin melakukannya juga," Adriano melirik Mia yang saat itu menyandarkan kepala dengan nyaman di dadanya.
Mia kemudian mengalihkan sentuhannya pada tato seekor elang di pundak Adriano. "Dulu, aku pernah ada niat untuk membuat tato. Namun, aku belum sempat melakukannya," tutur Mia pelan. "Apa kau akan memberikan izin jika aku ingin ...."
"Di bagian mana kau ingin membuatnya?" potong Adriano. "Aku menyukai tubuhmu yang mulus," ujarnya lagi seraya kembali mengecup kening Mia, "tapi jika memang kau ingin membuatnya, maka aku juga tak akan menghalangimu."
"Sungguh?" Mia meyakinkan pria yang tengah mendekapnya dengan mesra.
"Kenapa tidak? Aku bisa mengantramu," jawab Adriano. Sesaat dia terdiam ketika diliriknya Mia yang juga mulai membisu. "Apa yang kau pikirkan?" tanyanya. Sedangkan Mia tidak segera menjawab. Raut wajahnya tampak resah. Wanita itu hanya mengempaskan napas pelan. "Apa kau sudah mengantuk?" tanya Adriano lagi. "Kalau begitu tidurlah."
Mia melepaskan dirinya dari dekapan hangat Adriano. Dia tidur dengan posisi menyamping dan menghadap kepada pria itu. "Apakah menurutmu hidupku juga tengah menjadi incaran seseorang?" pertanyaan yang tiba-tiba terlontar begitu saja dari Mia.
"Apa maksudmu?" Adriano ikut merebahkan tubuhnya dengan posisi menyamping dan menghadap kepada Mia. Ditatapnya wajah cantik sang istri, dengan sepasang matanya yang memancarkan aura kegelisahan.
"Aku takut apa yang Miabella lihat adalah memang benar adanya. Ada seseorang yang mengawasiku," resah Mia. Dia terlihat begitu gundah.
"Hey, ada aku di dekatmu. Aku dipertemukan lagi denganmu memang untuk mengemban tugas ini, dan diriku tidak akan menyia-nyiakannya," Adriano menggenggam jemari tangan Mia yang tersimpan di atas bantal. "Aku akan pergi ke Inggris. Namun, hal ini telah membuatku merasa khawatir untuk meninggalkanmu dan Miabella jauh dari pengawasanku," Adriano terdiam sejenak, begitu juga dengan Mia. Beberapa saat kemudian, pria itu kembali berkata, "Bagaimana jika kalian ikut denganku ke sana?" tawarnya.
Mia tak segera menjawab. Dia tampak belum mendapatkan jawban dari tawaran yang tiba-tiba dari sang suami. "Ke Inggris?" ulangnya.
"Ya. Proyek kerja sama antara aku dan Vargas sudah dimulai. Dia ingin agar aku juga ikut memantau pembangunan di sana, setidaknya untuk beberapa hari. Selain itu, aku juga harus mencari Thomas Bolton," jelas Adriano.
"Thomas Bolton? Siapa dia?" tanya Mia.
__ADS_1
"Penyewa eksekutor Matteo," jawab Adriano dengan segera.