
Mobil yang ditumpangi Juan Pablo beserta Bianca, berhenti di halaman sebuah bangunan berlantai dua dengan dinding bata ekspose berwarna terakota. Pada bangunan itu, terdapat empat buah jendela kaca yang cukup lebar serta pintu utama berwarna hijau tua. Juan Pablo terlebih dahulu turun dari mobil, seraya merapikan blazer yang melapisi kaos panjang turtleneck di dalamnya. Raut wajah pria itu tak pernah berubah, masih dingin dan begitu datar.
Dibukakannya pintu untuk Bianca. Wanita muda tersebut mengeluarkan kaki jenjangnya yang indah, lalu berdiri di hadapan Juan Pablo yang masih memegangi pintu mobil. "Arsitek Don Vargas tinggal di tempat seperti ini?" Bianca mengernyitkan kening seraya berdecak tak percaya. "Apa istimewanya dia?" celoteh Bianca lagi menghindari tatapan tajam dan dingin Juan Pablo. Dia tahu jika pria itu tidak terlalu suka berbasa-basi. Bianca pun menjauh dari pintu, sehingga Juan Pablo dapat segera menutupnya.
Tanpa banyak bicara, pria bertubuh tegap dengan rambut cepak itu melangkah gagah menuju pintu. Dibukanya pintu tersebut. Dia pun melenggang dengan tenang ke arah tangga berbentuk melengkung. Bianca hanya mengikutinya tanpa banyak bicara, hingga mereka tiba di depan sebuah pintu lain dengan nomor tiga belas. Juan Pablo mengetuk pintu itu sebanyak dua kali. Tak harus menunggu lama, seseorang dari dalam segera membukanya.
Tampaklah seorang pria bertubuh tegap dengan kulit berwarna cokelat. Janggut lebat menghiasi sebagian wajahnya yang tampak sangar. Sepasang alis yang tebal turut menambah kesan garang pada pria tersebut. Sementara di dekat pundak sebelah kanan, terdapat tato yang merupakan sebuah tulisan. Namun, Bianca tak terlalu memperhatikan tulisan apa itu. Pandangannya justru tertuju pada suasana di tempat tersebut.
"Tuan Herrera. Aku pikir Anda akan datang sendiri," sambut pria itu dengan senyuman ramah khas seorang pria saat menyapa pria lainnya.
"Ini rekanku nona Bianca Alegra. Dia baru datang dari Monaco," Juan Pablo memperkenalkan Bianca pada pria tadi. Dengan segera, Bianca memasang sikap terbaiknya. Wanita muda itu tersenyum anggun dan tak melepaskan kesan elegant dalam dirinya. "Bianca, ini adalah Timothy Dixon. Arsitek pilihan Don Vargas yang akan memegang kendali penuh dalam pembangunan proyek kali ini," kini giliran pria itu yang diperkenalkan kepada Bianca.
Tanpa rasa canggung, Bianca menyodorkan tangan kanannya kepada Timothy, yang segera menyambut dan mencium punggung tangan berjemari lentik itu. "Selamat datang di Birmingham, Nona Alegra. Apa Anda bisa berbahasa Inggris atau ...."
__ADS_1
"Aku menguasai empat bahasa. Ayahku berasal dari Argentina, sedangkan ibuku dari Perancis. Namun, aku juga menguasai bahasa Perancis dan Inggris tentunya. Anda pilih saja ingin mengajakku bicara dengan menggunakan bahasa apa," terang Bianca penuh percaya diri.
"Wow, menakjubkan. Cantik dan juga sangat pintar," sanjung Timothy. "Silakan masuk. Maaf tempat ini memang berantakan. Aku belum sempat merapikannya," Timothy mempersilakan kedua tamunya untuk duduk. Setelah itu, dia meraih kaos putih yang tergantung begitu saja pada lengan salah satu kursi di dalam ruangan tersebut. Timothy pun segera mengenakannya. "Ingin minum sesuatu?" tawarnya.
"Tidak usah. Lagi pula, kami tidak akan lama," tolak Juan Pablo dengan segera. Dia tahu jika Bianca tidak nyaman berada lama-lama di tempat yang terasa sumpek seperti itu.
"Baiklah. Jadi, bagaimana?" Timothy duduk di salah satu kursi. Tatapannya tertuju kepada Juan Pablo yang juga tengah menatapnya.
"Aku kemari hanya ingin memberitahukan kepada Anda, bahwa rekan bisnis Don Vargas yang bernama Adriano D'Angelo telah tiba di Inggris. Namun, sekarang dia sedang menikmati liburan terlebih dahulu bersama keluarga kecilnya di London. Sesuai rencana, lusa tuan D'Angelo baru akan tiba di Birmingham. Jadi, aku sarankan agar Anda segera mempersiapkan diri, untuk menunjukan seberapa kehebatan Anda di hadapannya. Tuan D'Angelo bukanlah orang sembarangan. Karena itulah, perlu persiapan yang sangat matang untuk ...."
"Ya, Anda benar sekali. Dua hari lagi," setelah berkata demikian, Juan Pablo kemudian berdiri dan segera diikuti oleh Timothy. Dia mengerti jika tamunya akan segera pergi. Bianca pun ikut berdiri. Berkali-kali wanita itu menepuk-nepuk bagian belakang pakaiannya. "Baiklah, hanya itu yang ingin kusampaikan. Selamat bertugas, Tuan Dixon," Juan Pablo menyalami pria itu dengan jabat tangan yang terlihat sangat tegas.
"Nona Alegra," Timothy mengalihkan perhatiannya kepada Bianca. Dengan segera wanita itu tersenyum seraya kembali menyodorkan punggung tangannya. "Encantado de conocerte (Senang bertemu denganmu)," ucapnya dengan diiringi sebuah senyuman ramah. Sikap yang ditunjukan Timothy sangat berbanding terbalik dengan tampilannya yang cukup sangar.
__ADS_1
"Gracias, Señor Dixon (Terima kasih, Tuan Dixon)," balas Bianca dengan sebuah senyuman kecil. Dia mendahului Juan Pablo keluar dari ruangan tersebut.
"Kau yakin jika dia seorang arsitek yang andal?" Bianca berkata dengan nada penuh keraguan, setelah mereka berdua kembali ke dekat mobil yang terparkir di halaman depan bangunan dua lantai itu.
"Kenapa memangnya?" Juan Pablo balik bertanya seraya membukakan pintu untuk Bianca. Wanita itu segera masuk dan duduk dengan anggun.
"Bagiku, pria tadi sama sekali tidak tampak seperti seorang arsitek," Bianca memijit keningnya seraya mengeluh pelan.
Sementara Juan Pablo hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman datar. Awalnya dia tidak ingin menanggapi ucapan Bianca yang meragukan Timothy Dixon. Namun, pada akhirnya pria itu kembali berkata, "Ada banyak orang yang menyembunyikan identitas asli mereka, dalam sebuah penampilan yang bukan sebenarnya. Menurutku itu bukan sesuatu yang aneh," ujarnya datar.
"Oh, tentu saja. Kau tahu apa yang paling aneh pada hari ini?" Bianca menatap pria di sebelahnya dengan seutas senyuman. Sedangkan Juan Pablo tidak menjawab. Pria itu hanya melirik wanita muda di sampingnya dengan tajam. "Sesuatu yang paling aneh untuk hari ini adalah ketika seorang Juan Pablo Herrera menjadi pria yang banyak bicara. Bisa kupastikan jika kau sudah mengatakan lebih dari dua puluh kata," Bianca tertawa renyah. "Apa kau sedang merasa bahagia, Juan?" selidik Bianca dengan nada setengah menggoda.
"Apa maksudmu?" Juan Pablo membetulkan posisi duduknya. Dia menopang wajah dengan tangan kanan yang ditekuk, pada pembatas tempat duduk yang memisahkannya dengan Bianca.
__ADS_1
Bianca kembali tertawa renyah menanggapi pertanyaan Juan Pablo. Baginya, pria itu hanya sedang berpura-pura tak mengerti. "Ayolah, Juan. Jujur saja jika kau merasa senang setelah bertemu dengan Mia," godanya lagi.