
Rencana untuk melakukan kunjungan sekitar tiga hari saja di Yunani, ternyata tak sesuai dengan kenyataan. Adriana terus merengek agar mereka memperpanjang waktu liburan, hingga beberapa hari lagi di negara itu.
Setelah menghabiskan waktu selama tiga hari menikmati keindahan serta segala fasilitas mewah nan memanjakan di resort, Adriano kemudian mengajak Mia beserta Adriana untuk mengunjungi rumah pribadinya yang telah lama tidak didatangi.
Sopir pribadi Adriano menghentikan mobil yang dia kendarai di jalan besar menuju rumah pribadi milik sang majikan. Tempat itu berada di wilayah Santorini. Dulu, rumah tersebut hanya menjadi persinggahan sesaat, tiap kali Adriano mengunjungi klub malam miliknya yang berjarak tak seberapa jauh dari sana.
Setelah sedan mewah tadi benar-benar berhenti, Adriana turun terlebih dulu dengan wajah ceria. Sesaat kemudian, Mia mengikutinya dari belakang. Barulah Adriano yang turun paling terakhir.
Adriana setengah berlari saat melewati jalan setapak yang terlihat sangat bersih. Jalanan tersebut tidak dapat dilalui mobil, karena ukurannya yang cukup sempit. Gadis remaja berusia tujuh belas tahun itu tampak sangat antusias, hingga mereka tiba di depan rumah milik Adriano. “Aku akan memeriksa keadaan di dalam, Bu. Biar kupastikan lebih dulu bahwa semuanya aman sebelum kalian masuk,” celoteh gadis bermata biru tersebut begitu meyakinkan. Dalam sekejap, tubuh rampingnya menghilang dari pandangan ketika sudah memasuki rumah dengan cat berwarna putih.
Mia hanya tertawa menyaksikan sikap unik putri keduanya tersebut. "Astaga, aku tidak tahu kenapa tingkah kedua putriku sangat aneh?" pikirnya heran.
Sedangkan Adriano lebih memilih untuk memperhatikan wajah istrinya dengan lekat. “Bagaimana perasaanmu setiap kembali ke tempat ini, Sayang?” tanya Adriano tiba-tiba. Dia belum juga ingin beranjak dari depan bangunan indah itu.
“Senang dan hangat,” jawab Mia yang sepertinya sudah tahu ke mana arah pertanyaan sang suami. Mia menatap pria tampan di dekatnya, kemudian tersenyum lembut.
Yunani merupakan negara bersejarah bagi mereka berdua, di mana Adriano dan Mia dipertemukan kembali oleh takdir. Di saat Mia ingin mengakhiri hidup, Adriano muncul dan menyelamatkan wanita itu. Padahal, Mia dengan tanpa sengaja telah hampir melenyapkan nyawa pria yang kini menjadi cinta terakhir dalam hidupnya.
“Apa yang kau pikirkan?” Napas Adriano berembus pelan, menyapu paras cantik Mia di usianya yang tak lagi muda. Hal itu membuat lamunan ibu dua anak tersebut menjadi buyar seketika.
“Semuanya tentang kita,” jawab Mia kembali tersenyum hangat. "Waktu terasa begitu cepat. Dulu, kita datang kemari bersama paman Damiano dan Miabella kecil. Kali ini, kita membawa Adriana yang sudah berusia lima belas tahun. Apa kita sudah setua itu, Sayang?" Mia mengernyitkan kening.
Sementara Adriano hanya tersenyum kalem menanggapi ucapan Mia. Bagaimanapun juga, waktu memang tak bisa dilawan atau dihentikan oleh siapa pun dengan kekuatan atau kekuasaan apapun. Semua akan berjalan seperti yang sudah seharusnya. Walau demikian, tapi keindahan fisik Adriano tak banyak berubah selain dari beberapa lembar rambut putih yang muncul di antara mahkota gelapnya. Adriano masih menjaga stamina serta bentuk badan hingga saat ini, sehingga dia masih tampak sangat bugar. Dia bahkan kerap berolahraga bersama Mia, demi menjaga intensitas kebersamaan di antara mereka berdua.
“Apa kau mau berjalan-jalan dulu di pinggir tebing, selagi Adriana masih sibuk menyisir setiap sudut rumah,” ajak Adriano seraya terkekeh geli membayangkan tingkah putri bungsunya.
__ADS_1
“Boleh.” Mia melingkarkan tangan pada lengan kekar sang suami. Mereka mulai berjalan pelan ke arah jurang berbatu, yang berada tak jauh dari rumah tinggal Adriano.
“Kau benar, Sayangku. Waktu berjalan dengan begitu cepat,” desah pria rupawan itu. Tatap matanya menerawang jauh pada lautan luas terbentang di hadapan mereka. Semilir angin pinggir pantai pun berembus lembut, menyapa mereka berdua yang tengah terhanyut dalam pikiran masing-masing.
Tak ada perbincangan yang berarti di antara Mia dengan Adriano. Namun, bahasa tubuh keduanya mewakili semua untaian kata. Adriano tak henti merengkuh pinggang Mia yang menyandarkan kepala di pundak sang ketua Tigre Nero. Nuansa indah itu terus berlangsug hingga terdengar suara dering ponsel milik Adriano. Pria dengan kemeja putih itu pun segera merogoh ke dalam saku kemejanya. Nama Arsen muncul sebagai pemanggil. "Parakalo," sapa Adriano.
"Hai, Adriano. Apa kau masih di Yunani?" tanya suami dari Olivia tersebut.
"Masih. Aku sedang berkunjung ke rumah di Santorini. Apa kau akan mampir?" tanya Adriano. "Bagaimana jika kita makan malam bersama?" tawarnya.
"Boleh. Sudah lama kita tidak bertemu dan berbincang. Jika kau mau, mampirlah ke cafè. Aku dan Olive selalu di tempat itu sepanjang hari," sahut Arsen.
"Bukan ide buruk. Aku akan mampir ke sana setelah ini," balas Adriano.
Adriano kemudian mengajak Mia masuk untuk bersiap-siap. Setelah berada di dalam, keduanya begitu terkejut mendapati Adriana yang tertidur pulas di atas sofa. "Inikah yang katanya akan memeriksa keadaan rumah?" Adriano menautkan alisnya. Sedangkan Mia hanya tertawa renyah seraya menggeleng.
Tak berselang lama, seorang wanita yang merupakan pelayan di sana datang menghampiri. Dia mengangguk sopan kepada sang majikan. "Apa kabar, Tuan? Apa kabar, Nyonya?" sapanya. "Nona muda langsung tidur sejak dia masuk tadi," lapor wanita paruh baya itu.
"Kabar baik, Helena," balas Adriano.
"Apa Anda berdua akan makan siang di sini?" tanya wanita bernama Helena tersebut.
"Tidak. Kami akan keluar. Nanti saja setelah putriku bangun," sahut Adriano. Dia menoleh kepada Adriana yang tidur dengan posisi tak beraturan di atas sofa. "Astaga. Lihat putrimu, Sayang." Adriano tertawa pelan.
"Biarkan dia tidur di sana," balas Mia ikut tertawa. Sementara Helena kembali ke belakang.
__ADS_1
Adriano pun mengajak Mia untuk ke kamar. Sesampainya di sana, dia segera melepas kemeja dan berganti dengan t-shirt putih. Begitu juga dengan Mia yang melepas blazer dan hanya menyisakan crop top putih lengan pendek. "Sayang, kenapa kau terlihat makin cantik saja?" Adriano memeluk Mia dari belakang, melingkarkan tangannya pada perut yang tidak tertutupi. "Kau semakin seksi," rayu Adriano lagi seraya menciumi leher sang istri.
"Aku takut kau berpaling jika diriku terlihat tua dan membosankan untukmu," sahut Mia seraya membalikkan badan. Dia melingkarkan tangan pada leher Adriano, kemudian menciumnya mesra. Usia lanjut ternyata memang tak berpengaruh sama sekali bagi mereka berdua. Kehangatan masih dan akan selalu ada, dalam hubungan yang telah terjalin setelah sekian lama.
Menjelang waktu makan siang, Adriana sudah terbangun dari tidurnya. Gadis cantik berambut gelap tersebut begitu bersemangat, ketika Adriano mengajak dia pergi ke cafè milik Arsen.
Tempat itu telah banyak mengalami renovasi di beberapa bagian. Arsen rupanya mengubah cafè warisan kedua orang tuanya sehingga menjadi lebih kekinian dan menarik. Sang mantan cassanova itu juga rupanya belum banyak berubah. Arsen bahkan masih memiliki rambut hitam. Entah dia menutupi ubannya dengan cat atau tidak, tapi yang pasti suami Olivia tersebut tetap terlihat tampan. Begitu juga dengan Olivia yang selalu setia dengan rambut panjangnya.
"Astaga, kau sangat cantik," sanjung Olivia ketika bertemu dengan Adriana. Dia memeluk gadis itu. Sesaat kemudian, Olivia mengalihkan perhatian kepada Mia. "Bagaimana kabar nona kecil?" tanyanya. Dia masih saja memanggil Miabella dengan sebutan seperti itu.
"Bella tinggal di Italia. Dia di sana untuk mengambil alih perkebunan. Setelah paman Damiano tiada, Ricci juga memutuskan untuk pindah ke Roma. Otomatis tidak ada yang mengurus perkebunan de Luca," terang Mia.
"Kami turut berduka cita. Maaf karena tidak bisa datang ke sana," ucap Olivia penuh sesal.
"Tidak apa-apa. Aku bisa memahami kesibukanmu, Olivia," balas Mia dengan senyum lembutnya.
"Aku mengenal tuan Damiano Baresi. Dia pria yang luar biasa. Rasanya tidak percaya saat mendengar berita itu." Arsen yang tadinya berbincang dengan Adriano, ikut menimpali obrolan para wanita.
"Ya. Begitu juga dengan kami. Miabella sangat kehilangan. Selama ini dia begitu dekat dengan Damiano," sahut Adriano. Dia lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling tempat itu. "Ini terlihat jauh lebih luar biasa," sanjungnya berdecak kagum.
"Sentuhan anak muda," balas Arsen, membuat Adriano mengernyitkan kening. "Ah, aku tahu kau akan protes," ujar pria dengan banyak wanita pada masa lalunya itu. Arsen tergelak. "Ini semua atas ide putraku. Dia berbakat dalam bidang desain interior. Ide-ide yang diberikan padaku tak pernah gagal," tuturnya.
"Oh ya? Itu bagus. Aku rasa dia pasti mewarisi bakatmu juga," ujar Mia.
Tak berselang lama, obrolan mereka terhenti sesaat, ketika muncul seorang pemuda tampan yang datang menghampiri.
__ADS_1