Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Monte Carlo


__ADS_3

“Masalah apa yang begitu gawat, sehingga kau terlihat sangat khawatir seperti ini?” tanya Pierre penasaran. Pria lajang empat puluh tahun itu, segera mengeluarkan ponselnya. Dia bermaksud untuk menghubungi Adriano


“Aku ingin bicara langsung dengan bos. Apa dia ada di tempat?” desak Benigno. Namun, belum sempat Pierre menjawab, Adriano terlebih dulu muncul sambil menggendong Miabella. Dia tampak bercanda dengan gadis kecil itu. Miabella pun tertawa riang. Di belakangnya menyusul Mia yang sudah kembali merapikan penampilan. Sontak pemandangan tersebut membuat Benigno keheranan. “Apa dia wanita yang sama atau ....” Benigno tahu betul bahwa itu adalah Mia, janda dari Matteo de Luca.


“Ya, kau tidak salah lihat,” jawab Pierre sambil berbisik pula. Dengan segera, dia menyambut Adriano yang menuju ke arahnya. “Tuan, Benigno ingin bertemu dengan Anda. Dia mengatakan ada sesuatu yang gawat,” lapor sang ajudan. Iseng, tangannya bermaksud untuk menyentuh pipi Miabella. Akan tetapi, dengan segera gadis kecil bermata abu-abu itu memalingkan muka dan lebih memilih untuk memeluk Adriano. Pierre pun hanya tertawa pelan menanggapi sikap gadis kecil tersebut.


“Ada apa, Benigno?” tanya Adriano tanpa menurunkan Miabella dari gendongannya.


Benigno tak segera menjawab. Pria tinggi besar yang mengingatkan Mia kepada sosok Zucca itu terlihat kurang begitu nyaman. Sesekali, matanya melirik kepada Mia. Sebuah isyarat yang segera dapat dimengerti oleh Adriano. “Katakan saja. Mia adalah istriku sekarang,” ujarnya.


Mendengar hal itu, Benigno pun mengangguk. “Begini, Tuan. Semalam, orang yang ditugaskan untuk menjaga kediaman milik mendiang tuan Alessandro menghubungiku. Dia mengatakan bahwa tuan Emiliano datang ke sana,” lapor Benigno


“Untuk apa dia datang ke rumah paman Alessandro?” tanya Adriano dengan raut wajah yang tiba-tiba terlihat dingin.


“Tuan Emiliano meminta untuk bertemu langsung dengan Anda. Penjaga sudah mengatakan padanya bahwa Anda jarang sekali datang ke Italia. Namun, tuan Emiliano tetap bersikeras untuk bertemu. Sepertinya dia sedang dalam masalah besar. Tuan Emiliano berpesan agar Anda segera menemuinya di Milan. Ada beberapa hal penting yang ingin dia bicarakan dengan secara langsung,” terang Benigno lagi.


Adriano tidak segera menanggapi. Sorot mata pria itu seperti tengah memikirkan sesuatu. “Apa kau akan langsung kembali ke Italia?” Adriano malah menanyakan hal yang tak ada kaitannya dengan laporan dari Benigno. Pria berpostur tinggi besar itu segera mengangguk. “Baiklah. Kau kembali saja. Aku sedang sibuk. Putriku ingin membeli gaun Cinderella,” ucap Adriano kemudian seraya berlalu begitu saja. Mia yang yang sejak tadi menyimak perbincangan mereka, segera mengikuti sang suami.


Sementara itu, Pierre dan Benigno hanya saling pandang atas sikap dari Adriano. “Apa bos kita sudah berubah menjadi seorang ayah idaman,” celetuk Benigno seraya menautkan alisnya.


“Kapan kau akan menyusul?” Pierre menanggapi dengan sebuah pertanyaan.


“Setelah kau tentunya,” balas Benigno seraya mengulum senyum, terlebih ketika Pierre menanggapi ucapannya dengan sebuah keluhan panjang. Bagi Pierre yang sudah kepala empat, pernikahan ibarat sebuah alarm pengganggu yang hanya dapat mengganggu mimpi indahnya. Karena itu, pria asal Perancis tersebut masih betah dengan status lajang hingga saat ini.


Sementara itu di halaman depan mansion, Maserati Gran Cabrio Sport berwarna hitam mengkilap sudah menunggu. Mobil mewah tersebut, telah disiapkan sebelumnya untuk Adriano gunakan hari itu. “Wah, aku suka mobil ini, Daddy Zio!” seru Miabella melonjak kegirangan.

__ADS_1


“Kau duduk di belakang, Bella,” ucap Adriano seraya membukakan pintu untuk Miabella. Gadis kecil itu menurut saja, bahkan ketika Adriano menempatkan kursi pengaman khusus balita dan memasangkan sabuk pengaman untuknya. Senyum lebar pun masih terus menghiasi wajah polos itu.


“Silakan, Nyonya D’Angelo,” Adriano juga mempersilakan Mia untuk masuk. Saat itu, dia masih terpaku memperhatikan keceriaan putrinya. Wajar saja, karena ini merupakan pertama kali mereka pergi keluar dari semenjak tinggal di Monaco. Sambil tersenyum lembut, Mia masuk dan duduk. “Apa perlu kupasangkan sabuk pengamanmu?” bisik Adriano seraya membungkukkan badan di sebelah luar mobil, dekat Mia yang sudah duduk dengan anggunnya.


“Tidak usah. Aku takut jika kau memasangkan tali jenis apapun padaku,” ujar Mia seraya melirik Adriano untuk sesaat, sebelum dia kembali melayangkan tatapannya ke depan.


Adriano tersenyum kalem seraya menegakkan tubuhnya. Dia lalu berjalan mengitari mobil, hingga akhirnya duduk di belakang kemudi. Tak lupa, pria itu juga mengenakan kacamata hitamnya. Setelah memasang sabuk pengaman, Adriano kemudian menoleh kepada Miabella yang sudah duduk manis dengan wajah berseri. “Kalian sudah siap?” tanyanya sambil melirik Mia yang saat itu tersenyum tanpa menoleh. Adriano menganggap itu sebagai sebuah jawaban. Tanpa banyak bicara lagi, dia pun melajukan mobil sport mewahnya keluar dari pintu gerbang yang membentengi mansion.


Rasanya sangat luar biasa bagi Mia dan juga


Miabella terlihat sangat bahagia, ketika mereka dapat menyusuri jalanan kota Monte Carlo dengan pemandangan laut birunya yang indah. Di dermaga terdapat deretan kapal pesiar yang berjejer rapi, membuat Miabella terlihat begitu antusias. Senyuman lebar tak juga sirna dari wajah manis gadis kecil itu. Dia sangat senang ketika dapat menikmati angin yang menerpa rambut panjangnya. “Aku ingin naik perahu itu, Daddy Zio!” tunjuk Miabella.


Adriano dan Mia seketika tertawa mendengarnya. “Itu bukan perahu, Sayang. Namanya adalah kapal pesiar. Kapan-kapan aku akan mengajak kalian berdua untuk berlayar,” ujar pria berkacamata hitam itu sambil terus mengemudi, menyusuri jalanan kota Monte Carlo yang cukup lengang.


Monaco merupakan negara yang dihuni oleh kaum jet set. Negara itu dikenal dengan taraf hidupnya yang sangat tinggi. Hampir tiga puluh dua persen dari warganya, merupakan seorang miliuner yang berinvestasi dalam bidang property. Namun, meskipun di sana biaya hidupnya tinggi, semuanya sepadan dengan apa yang bisa didapatkan. Monaco memang surganya bagi para pelancong berkantong tebal. Sedangkan Adriano merupakan salah satu dari miliuner yang menikmati setiap hembusan napasnya di negara kecil tersebut.


“Aku haus,” jawab Mia seraya menoleh kepada pria jangkung di sebelahnya.


“Baiklah,” balas Adriano. “Bella, apa kau ingin makan es krim?” tawar Adriano membuat gadis kecil berambut cokelat itu seketika menghentikan langkah dan menoleh. Dia segera berbalik menghampiri orang tuanya. Miabella berdiri di hadapan Adriano sambil mendongak. Dengan segera, pria itu menurunkan tubuh hingga menjadi sejajar dengannya. “Ada sesuatu yang ingin kau katakan, Sayang?” tanya pria dengan kemeja putih itu.


Miabella kemudian membisikan sesuatu di telinga ayah sambungnya. Sedangkan Adriano mendengarkan dengan raut yang begitu serius. Sesekali pria itu mengangguk-angguk. “Baiklah. Baiklah,” ucap Adriano menanggapi sesuatu yang putri kecilnya bisikkan. Sementara Mia hanya mengernyitkan kening melihat mereka berdua.


Sesaat kemudian, Adriano pun berdiri dan mendekat kepada sang istri. “Miabella menyuruhku untuk bertanya padamu, apakah dia boleh makan es krim banyak hari ini?” tanya Adriano.


“Tidak!” jawab Mia dengan segera. “Jangan berlebihan, itu tidak baik, Bella,” tegur Mia membuat gadis kecil itu seketika merengut.

__ADS_1


Dipeluknya paha Adriano yang hanya tersenyum kecil.


Adriano lalu memberikan kantong belanjaan kepada Mia. Setelah itu, dirinya segera menggendong Miabella dan membawanya meninggalkan toko. “Kau terlalu memanjakannya, Adriano,” protes Mia pelan sambil terus mengiringi langkah tegap sang suami. Mereka berjalan menyusuri pinggiran jalan raya, dengan bangunan-bangunan yang megah dan tinggi menjulang.


“Jangan iri, karena aku juga akan melakukan hal yang sama padamu,” ujar Adriano sambil melenggang tenang mendahului Mia. Mereka terus berjalan, hingga akhirnya tiba di depan sebuah restoran dengan pemandangan laut lepas yang indah. “Kita makan siang dulu. Sudah lama aku tidak mengunjungi tempat ini,” ucap pria dengan rambut yang selalu tersisir rapi ke belakang itu. Dia mengajak Mia untuk masuk dan memilih meja yang dirasa paling nyaman. Setelah itu, mereka mulai memesan menu makan siang andalan dari restoran tersebut.


Sambil menunggu, Adriano mengajak ibu dan anak itu berbincang-bincang. “Kau suka dengan semua yang kita beli tadi, Bella?” tanya pria bermata biru tersebut. Miabella yang sejak tadi terlihat begitu takjub dengan tempat itu, segera tersenyum dan mengangguk.


“Ucapkan terima kasih pada daddy zio, Sayang,” ucap Mia lembut.


“Terima kasih, Daddy Zio,” ucap Miabella dengan gaya bicaranya yang lucu.


Sedangkan Adriano hanya tersenyum sambil mengusap lembut pucuk kepala putri sambungnya. “Tidak berterima kasih pun tak masalah, karena bisa memiliki kalian berdua dalam hidupku adalah sesuatu yang jauh lebih tak ternilai,” ucap pria itu dalam. "Aku ingin selalu membahagiakanmu dan juga Miabella,” lanjut Adriano seraya melirik ke arah Mia yang saat itu tengah menatapnya.


“Seandainya kita bertemu sejak awal, mungkin aku juga akan mencintaimu dengan dalam,” Mia menanggapi ucapan Adriano dengan pelan.


“Tak apa meskipun terlambat, tapi belajarlah untuk hal itu,” balas Adriano. Dia terdiam sejenak ketika seorang pelayan datang dan menyajikan semua pesanan mereka di atas meja. Miabella lagi-lagi terlihat antusias melihat menu makanan yang membuat dirinya penasaran.


“Kau belum bercerita padaku tentang yang kalian lakukan di Kroasia,” Mia kembali membuka pembicaraan setelah beberapa saat terdiam dan asyik menikmati santap siang mereka.


“Aku sudah mengatakan hal itu kemarin,” Adriano mengalihkan perhatiannya kepada Mia. “Kami pergi ke bar yang Valerie maksud, setelah itu memeriksa link yang diberikan oleh Marcus Bolt. Dari sana, aku dan Ricci langsung bertolak ke Kroasia. Kami mendatangi seseorang bernama Andreja Biroslav dan mendapat sambutan panas di sana,” Adriano mengempaskan napas pendek. “Pria itu menyebutkan satu nama. Dia menyuruhku pergi ke Inggris untuk menemuinya. Namun, aku tak yakin jika kedatanganku akan diterima baik oleh pria itu,” tutur Adriano.


“Kau akan pergi ke sana?” tanya Mia dengan sorot mata yang terlihat aneh. Rasa serba salah tampak jelas dalam tatapan sepasang warna cokelat madu itu.


“Harus,” jawab Adriano dengan yakin, membuat Mia mengela napas dan mengempaskannya perlahan. “Aku harus memenuhi janjiku padamu. Kau tidak perlu khawatir, karena aku tak akan berhenti begitu saja hingga yang aku cari benar-benar ditemukan. Saat itu tiba, aku berjanji akan mempersembahkannya secara langsung padamu, dan kau bisa berdoa untuk ketenangan jiwa Matteo,” ucap Adriano lagi dengan raut wajah dan penekanan suara yang terdengar serius.

__ADS_1


Mia segera menundukkan wajahnya. Di satu sisi, dia memang menginginkan agar para pembunuh Matteo segera ditemukan. Namun, di sisi lain kenyataannya dia mulai mengkhawatirkan keselamatan dari sang suami. “Aku harap kau selalu berhati-hati dan tidak lengah. Keselamatanmu juga sangat penting,” ucapnya pelan.


Adriano tertawa pelan mendengar ucapan Mia. “Aku tidak akan mati dengan semudah itu, Mia. Kau tahu kenapa? Karena aku memiliki sosok superhero yang selalu menjagaku,” jawab pria itu dengan entengnya seraya kembali melanjutkan santap siang. “Habiskan makananmu,” ucapnya kemudian, membuat Mia kembali tersenyum.


__ADS_2