Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Sollievo


__ADS_3

"Pesta? Di mana?" tanya Adriano yang baru selesai bersiap-siap. Rencananya, dia akan mengajak Mia serta Miabella untuk pergi ke kota Milan.


"Kita akan mengadakan acara gunting pita untuk pembukaan kasino, jadi sekalian saja pestanya dilangsungkan di Birmingham," jawab Juan Pablo.


"Oh, kapan itu?" tanya Adriano lagi. Meskipun dia tengah berbicara dengan Juan Pablo, tapi pandangannya tak lepas dari Mia yang baru keluar dari bagian lain kamar sambil menjinjing sepatu. Ibunda Miabella tersebut kemudian duduk di sebuah kursi yang berada tak jauh dari tempat tidur. Dia hendak mengenakan sepatunya. Cone heels warna hitam itu pun kini telah mempercantik penampilan istri dari sang ketua Tigre Nero.


"Rencananya aku akan mengadakan pesta akhir pekan ini," jawab Juan Pablo lagi, "tapi, itu juga jika kau ada waktu luang. Tentunya aku harus menyesuaikan dengan jadwalmu," lanjutnya.


"Tak ada masalah. Namun, dalam minggu-minggu ini adik iparku akan melangsungkan pesta pernikahan. Bagaimana jika pesta peresmian kita lakukan setelahnya saja?" cetus Adriano. "Oh iya. Aku mengundangmu secara pribadi untuk hadir dalam pesta pernikahan adik iparku. Kuharap kau bisa datang."


"Akan kuusahakan. Bolehkah jika aku mengajak Gianna?" Juan Pablo menggumam pelan setelah bertanya demikian.


"Astaga, bukankah dia pernah menginap di mansionmu?" goda Adriano yang seketika membuat Juan Pablo terdengar mengempaskan napas pelan. "Sejujurnya bahwa aku tidak memliki kewenangan untuk mengatur-atur hidup Gianna. Selama dia merasa nyaman, aku sama sekali tak ada masalah dengan apapun keputusan yang dia ambil," ujar Adriano seraya berjalan ke dekat Mia. Dia berdiri di hadapan sang istri sambil memandang lekat wanita cantik dengan rambut panjang itu.


"Aku tidak pandai membahas hal seperti ini," sahut Juan Pablo. "Baikah, aku menghubungimu hanya untuk memberitahukan hal itu. Selamat siang, Adriano." Juan Pablo mengakhiri perbincangannya dengan Adriano yang masih berdiri di hadapan Mia. Pria tampan bermata biru tersebut menyunggingkan senyuman yang penuh pesona.


"Ada apa, Sayang?" tanya Mia heran. Dia menerima uluran tangan dari sang suami saat membantunya berdiri.


"Kenapa kau selalu terlihat cantik?" sanjung Adriano seraya merangkul pinggang Mia. Tanpa banyak bicara, pria berparas rupawan itu menyentuh bibir istrinya dengan lembut hingga beberapa saat. Adegan manis tadi baru berhenti ketika Miabella tiba-tiba masuk ke sana.


"Daddy Zio! Aku sudah menuggu di ruang tamu sejak tadi! Kenapa kalian lama sekali!" Miabella terlihat kesal. Gadis kecil itu bicara sambil melipat kedua tangannya di dada. Wajahnya pun tampak cemberut.


Adriano dan Mia sontak tertawa geli sambil menoleh kepada putri semata wayang mereka. "Lihat akibat dari kenakalanmu, Adriano," bisik Mia. Dia berjalan menghampiri Miabella. "Kita akan berangkat sekarang, Sayang. Kemarilah, akan kurapikan lagi ikat rambutmu." Mia menurunkan tubuhnya hingga sejajar dengan tinggi Miabella. Dengan telaten, wanita yang mengenakan chiffon dress lengan panjang itu merapikan pita cantik yang menghiasi rambut cokelat Miabella.


"Dulu, bibi berambut hitam yang selalu mengikat rambutku. Dia sangat pandai melakukannya," ucap Miabella yang mengenang kebersamaan antara dirinya dengan Olivia.


"Apa kau merindukannya, Sayang?" tanya Mia.


"Ya, Ibu. Kapan kita akan menemui bibi berambut hitam lagi?" rengek gadis kecil bermata abu-abu itu. Sedangkan Mia tak langsung menjawab. Dia menoleh kepada Adriano yang hanya menanggapinya dengan sebuah isyarat kecil. Mia pun tersenyum lembut seraya kembali mengarahkan pandangan kepada Miabella.


"Baiklah. Sekarang, kita akan berjalan-jalan dulu ke Milan. Aku ingin membeli beberapa barang, karena bibi Francesca baru akan kembali dari rumah sakit hari ini." Mia mengecup pipi putrinya.


"Kita berangkat sekarang, Sayang," ajak Adriano yang sudah berdiri di sebelah Mia. Tanpa membuang waktu, mereka bertiga pun segera menuju ke halaman depan di mana telah terparkir mobil Ferrari Portofino milik Adriano. Ketiganya segera masuk dan bersiap untuk berangkat. Tak berselang lama, kendaraan mewah itu pun melaju dengan anggun keluar dari halaman Casa de Luca. Sekitar satu jam kemudian, mobil mewah milik Adriano berhenti di depan kediaman Emiliano Moriarty.


"Kenapa kita kemari, Daddy Zio? Aku tidak suka rumah ini." Miabella kembali merengut. Dia pikir mereka akan langsung berbelanja sambil berjalan-jalan.


"Sebentar saja, Sayang," bujuk Adriano sambil melepas sabuk pengamannya. Dia lalu keluar dan membukakan pintu bagi Mia. Setelah itu, barulah dirinya membantu Miabella untuk turun. Ketiganya lalu berjalan menyusuri deretan paving block, hingga tiba di depan pintu.

__ADS_1


Setelah mengetuknya beberapa kali, pintu itu pun terbuka. Wajah Agustine menyambut kedatangan mereka bertiga. Kakak kedua Gianna tersebut seketika memasang raut tegang saat melihat sosok Adriano.


"Siapa yang datang, Agustine?" seru Claudia dari dalam. Seperti biasa, wanita itu selalu saja berteriak.


"A-Ad-Adriano, Bu!" balas Agustine dengan berseru pula, meskipun terlihat gugup.


"Kau kenapa?" tanya Adriano heran saat melihat sikap saudara tirinya yang aneh.


"Ti-tidak apa-apa. Masuklah, Adriano," sahutnya seraya mempersilakan Adriano dan keluarganya, setelah dia membuka pintu dengan cukup lebar.


"Siapa yang datang, Agustine?" Suara Emiliano terdengar di sana. Pria itu tertegun saat melihat kehadiran Adriano beserta keluarga kecilnya. Sementara Miabella seperti biasa, dia bersembunyi dibalik tubuh tegap sang ayah. "Adriano. Apa kabar, Nak?" sapa pria paruh baya tersebut seraya menghampiri putra yang sangat dia harapkan kedatangannya.


"Kabarku sangat baik," jawab Adriano. "Aku dengar kau sakit, karena itulah aku mampir kemari."


"Ya, beberapa hari yang lalu kesehatanku sempat menurun. Dokter menyarankan agar aku lebih banyak beristirahat," terang Emiliano. "Ayo, kenapa kalian hanya berdiri? Mari kita ...."


"Adriano?" sapa Claudia dengan sinis, membuat mereka yang hendak menuju ruang tamu seketika tertegun dan menoleh. "Rupanya kau masih ingat dengan ayahmu," sindir wanita itu dengan tatapan penuh kebencian, termasuk saat dia menatap ke arah Mia. Tak ada kehangatan yang menjadi ciri khas seorang ibu dalam sorot matanya.


"Claudia, tolongah. Jangan membuat putraku merasa tak nyaman," pinta Emiliano masih dengan intonasi yang tenang dan pelan.


"Kemarilah, Sayang," ajak Mia lembut. Dia merengkuh tubuh mungil putrinya, lalu menggendong anak itu. Mia juga mengusap-usap punggung gadis kecil bermata abu-abu tersebut.


"Jangan hiraukan dia, Nak. Mari." Emiliano mempersilakan Adriano menuju ke ruang tamu. Sementara Claudia serta Agustine memilih untuk berlalu ke bagian lain rumah itu. Mereka tak ingin bergabung dalam percakapan antara Adriano dengan Emiliano.


"Silakan duduk, Nak." Emiliano tampak begitu bahagia atas kedatangan putranya ke sana.


"Bagaimana kabar Anda sekarang?" tanya Mia tanpa menurunkan Miabella dari pangkuannya. Gadis kecil itu masih memeluk sang ibu dengan erat.


"Aku sudah jauh lebih, Mia. Rasanya tak enak terhadap tuan Baresi, karena aku tidak datang ke perkebunan dalam beberapa hari ini," sesal Emiliano.


"Paman Damiano orang yang sangat baik. Dia pasti mengerti akan kondisi Anda," balas Mia sopan dan lembut.


"Tetap saja aku merasa tidak enak, Mia. Terlebih, tak lama lagi kita akan menghadapi musim dingin," ucap Emiliano. Dia lalu mengarahkan pandangannya kepada Miabella yang tak bersuara sedikit pun. "Apa kau tidur, Bella?" tanyanya. Sedangkan Miabella yang masih memeluk Mia dengan erat, segera menggelengkan kepalanya. Tingkah anak itu membuat Emiliano tersenyum.


"Kemarin Gianna pun datang kemari bersama seorang pria bernama Juan Pablo Herrera. Kelihatannya dia pria yang baik," tutur Emiliano lagi. Dia terus mencari topik pembicaraan agar rasa canggung dalam dirinya segera memudar.


"Aku juga mengenalnya," sahut Adriano datar.

__ADS_1


"Maksudmu ... Juan Pablo yang itu?" Mia menoleh kepada Adriano seraya menautkan alisnya.


"Ya, Sayang. Sepertinya mereka telah cukup lama saling mengenal," terang Adriano.


"Oh, aku sama sekali tidak tahu. Gianna tak mengatakan apapun padaku," ujar Mia, sebelum akhirnya mereka saling terdiam beberapa saat. Suasana canggung kembali terasa, membuat rasa tidak nyaman seketika muncul. Namun, Mia tak ingin larut dalam keadaan seperti itu. Ibunda Miabella tersebut kembali bersuara. "Adikku akan menikah sebentar lagi. Kami berencana untuk menggelar pestanya di Casa de Luca. Kuharap Anda sekeluarga bisa hadir," ucapnya.


"Oh, ya? Jadi Coco akan segera menikah? Syukurlah." Emiliano menanggapi dengan sebuah senyuman yang terlihat sangat tulus. "Aku menyukai pria muda itu. Dia seorang pekerja keras dan juga sangat mandiri. Andai kedua putraku bisa melakukan hal yang sama. Namun, Ilario malah hingga kini belum kembali," ujar Emiliano seraya mengempaskan napas penuh sesal.


"Sejak kapan?" tanya Adriano yang sejak tadi memilih untuk menyimak saja.


"Sejak waktu itu. Ilario tidak juga pulang. Entah pergi ke mana dia? Claudia sudah putus asa mencarinya, karena itu istriku menjadi semakin sensitif," tutur Emiliano lagi.


"Itu sudah lama sekali, Padre," ucap Adriano kembali menanggapi.


"Karena itulah, Nak. Aku tidak tahu harus mencarinya ke mana. Pergerakan kami sangat terbatas," jelas pria paruh baya itu lagi, membuat Adriano terdiam setelah mendengar penuturan sang ayah. Namun, dia memilih tak menanggapi masalah tentang Ilario, hingga dirinya dan Mia berpamitan dari sana.


"Padre, kirimkan nomor rekeningmu padaku," ucap Adriano sebelum dia benar-benar pergi.


"Untuk apa, Nak?" Emiliano terlihat tak enak hati.


"Jangan bicara seperti itu," balas Adriano yang kemudian terdiam sejenak.


"Daddy Zio, cepatlah!" seru Miabella dari dalam mobil. Adriano menoleh sambil mengangguk serta tersenyum.


"Aku harus pergi dulu," pamit Adriano. Ada perasaan tak menentu yang menggelayutinya saat itu. Dia menjadi salah tingkah dan seakan tak tahu harus melakukan atau berkata apa lagi kepada sang ayah. Pada akhirnya, Adriano memilih untuk memeluk Emiliano. "Jaga kesehatanmu, Padre," ucapnya lirih.


Emiliano terkejut atas perlakuan dari putranya tersebut. Namun, tentu saja dia merasa sangat bahagia. Pria paruh baya itu pun balas memeluknya. "Terima kasih, Nak," ucapnya. "Bisakah kau menjaga Gianna untukku?" pintanya kemudian.


"Tentu. Gianna adalah adikku juga. Kau tidak perlu khawatir," sahut Adriano seraya merenggangkan pelukannya. Dia juga tampak memasukkan sesuatu ke dalam saku belakang celana yang dikenakan oleh sang ayah. "Jangan lupa untuk datang ke pesta pernikahan adik iparku. Juan Pablo pun akan hadir. Kalian bisa berkenalan dengan lebih jauh di sana," pesan Adriano.


"Pasti, Nak. Aku pasti akan datang." Emiliano mengangguk yakin. Sepanjang usianya hingga saat ini, belum pernah dia merasakan sebuah kelegaan yang luar biasa. Satu pelukan dari Adriano, seakan menjadi sebuah obat yang sangat mujarab untuk segala penyakit yang mulai menggerogoti kesehatannya. Sementara Mia memperhatikan adegan itu dengan penuh senyuman haru.


🍒🍒🍒


Hai, readers. Ceuceu kembali hadir membawa novel keren untuk semua.


__ADS_1


__ADS_2