
Carlo dan Miabella segera menghentikan adegan nakal mereka. Dengan segera, pria itu memungut jaket yang tergeletak di atas lantai. Dia menuntun Miabella dengan langkah cepat hingga ke ujung koridor, kemudian berbelok ke balik dinding. Carlo lalu mengintip dari sana. Pengawal tampan tersebut melihat sosok semampai yang tiada lain adalah Francesca.
Francesca berdiri dengan heran. "Aneh sekali. Aku yakin tadi ada orang di sini," pikirnya tak mengerti. Dia yang merasa kebingungan, akhirnya memutuskan untuk kembali ke ujung koridor tempat pertama kali dirinya muncul.
Setelah wanita itu pergi, Carlo tertawa pelan. Dia menggelengkan kepala karena merasa tak percaya dengan kelakuannya sendiri. "Astaga. Kau membuatku kembali menjadi anak remaja," ujarnya.
"Apa bibi Francy sudah pergi?" tanya Miabella. Carlo menanggapinya dengan sebuah anggukan. "Kenapa dia bangun malam-malam begini?" pikir Miabella yang merasa terganggu.
"Aku rasa, mungkin karena dia mencium adanya bau kenakalan di sini," sahut Carlo kembali menatap Miabella.
"Kau yang nakal," ujar gadis cantik bermata abu-abu itu seraya mencubit pinggang Carlo. Sang pengawal sendiri menempelkan lengan kanan yang tertekuk di atas kepala Miabella. Sedangkan tangan kiri menelusup ke belakang leher putri dari sang majikan. Carlo mere•masnya perlahan. Dia kembali mencium Miabella saat kakak dari Andriana tersebut mendongak padanya.
Malam itu, entah sudah berapa kali mereka berciuman dengan mesra. Carlo seakan ingin meluapkan segala kerinduan dan hasratnya yang selama ini hanya dia simpan sendiri. Sedangkan Miabella pun seperti telah menemukan jawaban dari segala rasa gundah, yang kemarin-kemarin belum dapat ditafsirkan dengan jelas.
"Sebaiknya kau segera masuk ke kamar. Aku yakin besok akan menjadi hari yang sibuk untukmu," saran Carlo setelah merasa puas mencium Miabella.
"Kau tidak ingin mengantarku ke dalam?" tanya Miabella yang terdengar seperti sebuah tawaran.
Sementara Carlo tak segera menjawab. Pria mana yang tak tertarik dengan pancingan demikian dari gadis secantik Miabella. Akan tetapi, tubuhnya terasa begitu lelah. Selain itu, Carlo pun belum berani untuk melakukan hal yang lebih. "Ayolah, Nona. Jangan membuatku menjadi bimbang," ucapnya kemudian.
"Baiklah. Aku bisa memahaminya," balas Miabella yang masih menatap lekat kepada Carlo, "tapi, sebelum aku pergi ke kamar ... cium aku sekali lagi," pinta Miabella nakal. Sesuatu yang tentu saja tak akan mungkin Carlo tolak. Dengan senang hati, pria tampan berpostur menjulang itu kembali melu•mat bibir si gadis.
......................
Waktu baru menunjukkan pukul delapan pagi, ketika Coco tiba di Casa de Luca. Hari itu dia akan menjemput Francesca. Dua buah koper berukuran sedang telah siap menyambut kedatangan pria berambut ikal yang kini kembali menekuni dunia otomotif.
Setelah beristirahat beberapa saat, Coco memutuskan untuk kembali ke Roma. Sebelumnya, dia sempat memberikan penjelasan panjang lebar kepada Miabella tentang segala hal yang berkaitan dengan perkebunan. Miabella pun menyimak serius semua yang Coco sampaikan padanya. Sesekali, gadis itu mengajukan pertanyaan. Coco pun memberikan jawaban dengan sangat lugas. Itu merupakan pemandangan yang jarang sekali terjadi, ketika mereka bisa berbincang serius tanpa ada percekcokan konyol seperti biasanya.
Setelah perbincangan hampir satu jam lebih, Coco dan Francesca akhirnya memutuskan untuk segera berangkat. "Ingat semua yang tadi sudah kujelaskan padamu. Aku yakin nanti juga kau pasti akan terbiasa. Namun, jika saat prosesnya nanti kau menghadapi kendala yang berarti, maka jangan sungkan untuk menghubungiku," pesan Coco setelah memasukkan semua barang ke dalam bagasi.
"Aku yakin kau akan belajar dengan cepat, Bella," timpal Francesca. "Maaf karena kami tidak bisa menemanimu di sini."
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Bibi. Aku akan belajar untuk mandiri dan bertanggung jawab. Lagi pula, ini sudah menjadi tugasku sebagai penerus dari keluarga de Luca," sahut Miabella dengan yakin. Gadis itu tersenyum lembut saat menyambut pelukan hangat dari Francesca.
"Kau tidak perlu khawatir. Kami akan berkunjung kemari jika ada waktu senggang," ucap Francesca lagi. Dia lalu mengalihkan pandangan kepada Carlo yang baru muncul di sana. "Kau juga memiliki pengawal setangguh Carlo. Jadi, tidak ada satu hal pun yang perlu dirimu cemaskan," lanjut ibu tiga anak itu seraya tersenyum lembut. Lain halnya dengan Miabella, yang justru menoleh serta menatap Carlo dengan sebuah kerlingan nakal. Gadis itu tersenyum ketika sang pengawal berdiri di sebelahnya.
"Anda akan berangkat sekarang, Nyonya?" tanya Carlo berbasa-basi.
"Ya, Carlo," jawab Francesca. Dia menoleh kepada sang suami yang saat itu terlihat sedang menerima telepon entah dari siapa.
Setelah selesai dengan perbincangannya tadi, Coco segera menghampiri Francesca. "Apa kalian tahu di mana Romeo?" tanyanya.
Sementara Miabella dan Carlo saling pandang. Keduanya lalu sama-sama mengalihkan perhatian kepada Coco sambil memasang raut tak mengerti. "Marco baru saja menghubungiku. Dia heran karena Romeo tak kunjung kembali ke Palermo, padahal dia berjanji akan pulang dengan segera. Selain itu, Romeo juga tidak menjawab panggilan dari ayahnya. Oh, astaga ... ck!" Coco berdecak pelan seraya mengempaskan napas kasar.
Pria berambut ikal itu kemudian menoleh kepada Carlo. Dia baru menyadari adanya luka lebam di dekat bibir pengawal Miabella tersebut. Coco pun mulai memikirkan sesuatu. "Apa yang terjadi selama aku berada di Roma, Carlo?" tanyanya dengan nada serta raut wajah penuh selidik.
"Tidak ada, Tuan," jawab Carlo berusaha untuk terlihat meyakinkan.
"Lalu, kenapa wajahmu lebam begitu?" selidik Coco lagi.
"Um ... ini ... ini hanya ...." Carlo belum memikirkan alasan yang tepat.
"Semalam? Oh, berarti aku memang tidak salah jika melihat ada banyangan di koridor. Namun, saat kuperiksa tak ada siapa pun di sana," ujar Francesca menatap secara bergantian kepada Miabella dan juga Carlo.
"Oh itu ... ya ... itu memang kami. Aku dan Carlo baru pulang. Dia mengantarku dan memastikan agar diriku langsung masuk kamar ...." Miabella terdiam. Dia berpikir untuk tak memberikan penjelasan secara mendetail. "Kau tahu ke mana Romeo?" Gadis itu mengalihkan pembicaraan. Dia melirik kepada Carlo yang segera menggeleng.
"Aku belum bertemu lagi dengan tuan muda," jawab sang pengawal seraya mengusap-usap tengkuk kepalanya.
Sementara orang yang sedang diperbincangkan, saat itu tengah duduk tenang di dalam mobilnya sambil menyeruput kopi panas di dalam reusable cup yang baru dia pesan. Pandangan pemuda dua puluh tahun tersebut, tertuju pada sebuah bangunan dua tingkat yang merupakan sebuah penginapan sederhana.
Tanpa melepas topi baseball hitam yang dia kenakan, Romeo terus menikmati setiap tegukan dari kopinya. Namun, dia harus menghentikan kegiatan menyenangkan di pagi hari tersebut, setelah melihat sosok gadis berambut pirang yang muncul. Romeo menyimpan gelas kopi yang sedang dia genggam, kemudian bergegas keluar dari mobil. Pemuda itu segera menghampiri gadis tadi.
"Tunggu!" Romeo mencekal pergelangan tangan gadis yang tiada lain adalah Oxana.
__ADS_1
Oxana terkejut setengah mati. Dia menoleh dengan raut ketakutan, meskipun tak mengurangi kecantikan khas gadis Rusia yang melekat pada dirinya. Sepasang mata biru yang indah itu menatap penuh rasa khawatir, saat Romeo tak juga melepaskan genggaman dari pergelangannya. "Kau ...." Resah, itulah yang yang terlukis jelas dari dalam diri Oxana.
"Ikut denganku!" tegas Romeo. "Jangan sampai terlihat mencurigakan!" Dia lalu menuntun gadis dengan ikat rambut ekor kuda tadi menuju mobil. Sedangkan Oxana pun menurut saja. Dia segera masuk ke mobil setelah Romeo membukakan pintu untuknya.
Oxana duduk dengan ekspresi yang masih terlihat khawatir, ketika Romeo sudah bersiap di belakang kemudi. Tanpa banyak bicara, pemuda itu segera menyalakan mesin mobil kemudian melajukannya. "Kau mau membawaku ke mana?" tanya Oxana masih terlihat resah.
"Nanti juga kau akan tahu," jawab Romeo tanpa menoleh.
"Kumohon. Aku harus pergi bekerja." Oxana tampak memelas padanya.
"Bukan urusanku," sahut putra sulung Marco tersebut dengan sikapnya yang tak acuh.
"Memang bukan urusanmu, karena ini masalah pribadiku. Jika aku mati kelaparan pun tak ada yang akan peduli," ujar gadis cantik itu memalingkan wajah dari Romeo.
"Aku memang tidak peduli, karena kau adalah sumber masalah," balas Romeo. Dia terus melajukan kendaraan, hingga tiba di tempat semalam dirinya dan Carlo melakukan pengintaian. Romeo memarkirkan mobil sedan hitam yang dia kendarai cukup jauh dari bangunan tempat di mana dirinya hampir mati.
"Untuk apa kita kemari?" tanya Oxana penasaran. Dia kembali menoleh kepada putra sang ketua Klan de Luca.
Romeo membalas tatapan Oxana, gadis yang dia kenal lewat media sosial beberapa minggu lalu. Dia menatap lekat gadis cantik itu. Bagaimanapun juga, pernah ada komunikasi yang cukup intens di antara mereka berdua. Namun, ternyata gadis itu hanya berniat untuk menjebaknya. Romeo pun mendengus kesal.
"Maafkan aku," pinta Oxana lirih. Gadis cantik yang tampilannya mirip dengan boneka barbie tersebut menundukkan wajah. Tampak jelas sebuah penyesalan besar dari bahasa tubuh yang dia tunjukkan.
Romeo tak hendak menanggapi permintaan maaf gadis tersebut. Dia mengalihkan pandangan pada bangunan satu lantai dengan jarak beberapa meter di hadapannya. "Kau tahu bangunan itu?" tanya Romeo menunjuk pada bangunan tadi.
"Tidak," jawab Oxana dengan segera.
"Jangan berbohong padaku!" sergah Romeo lagi.
"Untuk apa aku berbohong padamu," tegas Oxana tak terima dengan nada bicara Romeo yang terdengar cukup kasar.
"Kau bertanya untuk apa?" Romeo tersenyum sinis sambil mengarahkan pandangan kepada gadis cantik bermata biru di sebelahnya. "Aku melihat para pria yang mendatangimu saat di klub semalam. Pria-pria itu kemudian berkumpul di sana. Siapa mereka?" tanya Romeo penuh selidik.
__ADS_1
"Aku tidak tahu," jawab Oxana kembali memalingkan wajah.
"Jangan berbohong atau kau akan menerima akibatnya!" ancam Romeo. "Katakan padaku!" desak pemuda tampan itu lagi. Dia menatap tajam kepada gadis berambut pirang tadi. Setelah berpikir untuk beberapa saat, Romeo pun tersenyum simpul. "Baiklah jika kau tak ingin jujur. Setidaknya, beritahu aku apa yang mereka perbincangkan." Dia mengeluarkan ponsel, kemudian memperlihatkan rekaman yang dirinya dapat semalam.