
Adriano terdiam mendengar penuturan dari Arsen. Tak pernah dia duga bahwa ternyata pria yang dikenalnya sebagai Lionel, bukanlah orang sembarangan. "Jadi begitu rupanya?" gumam pria berambut gelap tersebut. "Pantas saja jika Lionel terlihat berbeda. Dia tampak sangat licik dan juga cerdik. Tak seperti Nenad yang bodoh dan pengecut," lanjutnya.
"Melker sudah lama menjadi tangan kanan Nenad. Sejauh ini, dialah yang menjadi pelindung dari semua bisnis ilegal yang dijalankan bandar senjata itu. Nenad bukan apa-apa tanpa seorang Melker. Itulah mengapa Melker juga sangat terobsesi kepada Elang Rimba," jelas Arsen lagi.
"Seperti yang sudah kita ketahui, Elang Rimba menjadi pelindung bagi para pebisnis besar yang tak ingin terusik bahkan oleh angin sekalipun. Ya, meskipun hingga saat ini keberadaannya masih sangat misterius."
"Ricci pernah menyelidiki tentangnya di internet. Elang Rimba adalah julukan yang diberikan kepada seorang perwira angkatan darat dari Meksiko bernama Sebastian Naldo Quentiero. Dia merupakan sahabat dari Don Vargas. Coba telaah itu baik-baik," tutur Adriano seraya menyunggingkan senyuman samar di bibirnya.
Arsen menatap sang rekan dengan lekat. Dia terdiam, tapi entah tengah memikirkan apa. Namun, tak lama kemudian pria asal Yunani itu mengangguk pelan. "Aku ingin memikirkan hal itu. Kau tahu bukan sejak dulu aku suka teka-teki. Akan tetapi, sayangnya kali ini pikiranku sedang tidak fokus," suami dari Olivia itu menggaruk keningnya.
"Ada masalah apa?" tanya Adriano yang sudah terlihat jauh lebih rileks.
"Kau masih ingat dengan mertuaku di Piacenza?"
"Ya. Bukannya mereka akan datang ke Casa de Luca?"
"Itulah masalahnya, Adriano," Arsen mengempaskan keluhan pendek. "Mertuaku tidak bisa pergi ke manapun. Mereka terikat pada tuan tanah yang menjadi majikannya," jelas pria itu lagi.
__ADS_1
"Kenapa bisa begitu? Apakah mereka terlilit utang-piutang?" terka Adriano seraya memicingkan matanya.
"Tepat sekali!" sahut Arsen dengan segera. "Mertuaku sudah melunasi pinjaman pokoknya. Namun, mereka belum bisa mencicil bunga dari pinjaman itu. Pada akhirnya, orang tua Olivia terus terikat di sana. Rencananya aku akan pergi ke Italia setelah dari sini. Olivia terlihat sangat resah, dan itu berpengaruh pada pelayanannya di ranjang," ujar Arsen dengan diakhiri tawa.
"Oh, astaga. Kau memang luar biasa. Kuharap Olivia bisa mengimbangimu," balas Adriano yang juga ikut tertawa. Namun, kedua pria tadi segera terdiam, ketika pada layar monitor kamera pengawas terlihat sosok Mia yang berdiri di depan pintu masuk otomatis menuju ruang kerja itu. Adriano pun mengela napas dalam-dalam. "Lihatlah. Padahal aku tidak ke mana-mana, tapi Mia masih terlihat sangat mencemaskanku," ucap Adriano bangga. Dia lalu beranjak dari duduknya.
"Mia patut mencemaskan pria sepertimu, Adriano. Lihat saja jika dia tahu rahasia kecilmu bersama para wanita ...." Arsen tak sempat melanjutkan ocehannya, karena pintu telah lebih dulu terbuka. Paras cantik Mia muncul di sana dengan membawa sebuah senyuman lembut. Entah dia mendengar celotehan pria asal Yunani itu atau tidak, yang pasti Adriano berusaha untuk mengalihkan hal tersebut.
"Ada apa, Sayang," tanya pria bermata biru itu dengan segera. Dia berdiri tepat di hadapan Mia, kemudian menyentuh paras cantik istrinya dengan lembut.
"Kau memang selalu menggangguku, Mia," sahut Adriano dengan senyum penuh godaan. Sebuah jawaban yang diartikan lain oleh wanita dua puluh sembilan tahun itu. Mia pun menunduk seraya tersipu malu. Sekian lama kebersamaannya dengan Adriano, ternyata dia masih saja terhanyut dan tak berdaya, dengan rayuan penuh kharisma dari sang ketua Tigre Nero. "Ada masalah apa, Sayang?" tanya Adriano lagi.
Mia tidak segera menjawab. Wanita cantik bermata cokelat itu menenangkan diri untuk sejenak. Alasannya, karena hanya dengan mendengar sebutan 'sayang' dari Adriano saja, angan wanita itu sudah melayang entah ke mana. Namun, ibunda dari Miabella tersebut segera tersadar dari khayalannya yang tak menentu. "Begini, Adriano," Mia memulai bicara. "Tadi Francy menghubungiku. Dia mengatakan bahwa Ricci telah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Saat ini mereka pasti sudah tiba di Casa de Luca," tutur Mia.
"Itu berita yang sangat baik, Mia. Bagaimana jika kita menjenguknya. Lagi pula, Arsen dan Olivia pun katanya akan pergi ke Italia. Benarkan, Arsen?" seru Adriano pelan sambil menoleh pada rekannya yang kini asyik memainkan ponsel.
"Ah, ya kenapa?" Arsen tampak terkejut menanggapi seruan dari Adriano.
__ADS_1
"Aku akan ke Italia untuk melihat keadaan Ricci. Apa kau akan bergabung dengan kami?" tawar Adriano.
"Oh, boleh. Ikut denganmu bisa menghemat pengeluaranku," celetuk Arsen diiringi tawa renyah.
"Itulah maksudku," balas Adriano ikut tertawa. "Kita akan berangkat besok. Jadi, hari ini kalian bisa bersiap-siap terlebih dulu," putus pria bermata biru itu yang segera ditanggapi dengan sebuah anggukan setuju dari Arsen dan juga Mia.
......................
Keesokan harinya, mereka yang akan berangkat ke Italia sudah bersiap di landasan helikopter. Miabella dan Olivia tampak paling bersemangat dalam perjalanan kali ini. Mia pun sengaja tak membawa terlalu banyak barang, karena mereka tidak berencana tinggal lama di sana.
"Kau bisa tinggal untuk satu atau dua hari di Casa de Luca, sebelum melanjutkan perjalanan ke Piacenza," saran Adriano sambil berjalan menuju helikopter. Dia dan Arsen menjadi dua penumpang yang datang paling terlambat pagi itu.
"Hey, gadis-gadis. Kalian bersemangat sekali," goda Arsen seraya melirik Olivia yang makin hari terlihat semakin cantik. Wanita muda itu hanya tersenyum manis. Sementara Miabella seperti biasa. Walaupun dia sudah kerap bertemu dengan Arsen, tapi bocah tersebut belum bersedia mengakrabkan diri dengan suami dari wanita yang selalu dia panggil dengan nama bibi berambut hitam.
Semua penumpang telah masuk ke dalam helikopter. Tak berselang lama, alat transportasi udara itu pun lepas landas dan terbang membelah langit Monaco yang cerah. Semuanya tampak sangat menikmati perjalanan tersebut. Ada banyak perbincangan dan canda tawa yang membuat jarak antara Monaco-Italia menjadi terasa semakin singkat. Tak berselang lama, helikopter berwarna hitam dengan gambar seekor black panther itu telah mendarat mulus di atas landasan Casa de Luca.
"Hore! Kita sudah tiba, Bibi," seru Miabella kegirangan saat mereka telah turun dari helikopter tadi. "Ayo! Aku akan mengajakmu melihat kebun anggur milik ayahku," gadis kecil itu tampak sangat bersemangat. Dia menarik tangan Oivia agar segera mengikutinya. Sementara yang lain berjalan tenang di belakang. Berbeda dengan Adriano. Dia tertegun setelah menerima sebuah pesan masuk ke ponselnya.
__ADS_1