Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Deep Scars


__ADS_3

Mia terdiam. Dia tak berniat untuk menanggapi jawaban dari Adriano. Wanita itu hanya menunduk dan memainkan cincin yang melingkar di jari manisnya. Setelah satu tahun menjanda, Mia masih tetap memakai cincin kawin dari Matteo.


Sementara, Adriano melanjutkan santap malamnya hingga habis. Setelah itu, dia duduk tenang dan kembali melayangkan tatapan kepada Mia. “Di rumah ini ada empat kamar. Satu kamar milikku, satu ditempati oleh Orlin. Sementara, dua lagi merupakan kamar tamu. Kau boleh tidur di kamarku, karena di sana suasana dan fasilitasnya jauh lebih nyaman,” ucap Adriano datar. Pria itu kemudian beranjak dari duduknya. Sedangkan, Mia masih terdiam. “Apa kau tidak mendengarku Mia?” tanya Adriano seraya melirik wanita itu. Dia harus benar-benar menjaga kesabarannya.


Adriano mengembuskan napas pelan seraya mendekat kepada Mia. Dia berdiri tepat di sebelah wanita cantik tersebut. “Ini sudah malam, Mia. Kau harus segera beristirahat. Lagi pula, besok aku harus ke resort untuk menghadiri acara peresmian sebelum kembali ke Monaco,” ucap Adriano lagi dengan segenap kesabaran dalam dirinya.


Mendengar ucapan Adriano barusan, Mia pun akhirnya bersedia untuk mengangkat wajah dan menoleh. Tanpa banyak bicara, wanita berambut cokelat tersebut berlalu begitu saja di depan Adriano menuju arah kamar yang tadi. “Tidak ada ucapan selamat malam untukku?” seru Adriano dengan cukup nyaring, berhubung Mia telah menghilang di balik pintu kamar. “Oh, ya tentu saja. Makin lama kau semakin terlihat bodoh di depan wanita itu, Adriano.” Pria bermata biru itu merutuki dirinya. Seharusnya dia sudah tahu bahwa Mia tak akan pernah memedulikannya sama sekali.


Adriano kembali duduk di salah satu kursi meja makan. Pikirannya kini terpusat pada cerita Mia tentang kematian Matteo. Bagi Adriano, Matteo terlalu tangguh untuk dikalahkan dengan mudah dalam duel langsung. Mungkin karena itulah, lawannya mengambil jalan curang dengan menyerang dari belakang dan saat Matteo tak merasa siap. Lalu, siapakah yang berani menghabisi mantan ketua Klan de Luca tersebut? Sebuah pertanyaan besar yang membuat Adriano merasa begitu penasaran.


Sesekali pria berparas rupawan itu memijit pangkal hidungnya yang mancung. Seberapa keras pun dirinya berpikir dan mencoba untuk menerka, tetapi dia tak mendapat gambaran sama sekali. Adriano terus duduk termenung hingga tanpa terasa malam telah semakin larut. Rasa penasaran mulai menggoda pria itu, menyuruhnya untuk melangkah ke arah kamar yang ditempati Mia. Adriano tak kuasa melawan kata hatinya. Dia membiarkan kedua kaki berbalut sepatu pantofel membawanya menuju kamar tersebut.


Setibanya di depan pintu, pria bertubuh tegap tersebut hanya terpaku. Baru saja Adriano akan mengetuk, tiba-tiba wajah cantik Mia muncul dari baliknya. Mereka berdua pun sama-sama terkejut. “Maaf,” ucap Adriano pelan. Mia menanggapi permintaan maaf Adriano dengan sebuah anggukan pelan. “Kau mau ke mana?” tanya Adriano terlihat salah tingkah.


“Um … aku ….” Mia terlihat kebingungan.


“Apa kau membutuhkan sesuatu?” tanya Adriano lagi yang kini sudah dapat mengendalikan rasa kikuknya.


Mia tak segera menjawab. Dia menatap Adriano untuk sejenak. Sesaat kemudian, wanita itu memberi isyarat bahwa dia ingin berganti pakaian. “Aku memakai baju ini selama seharian, dan rasanya sangat tidak nyaman,” keluh Mia pelan. Dia mengalihkan pandangannya ke segala arah, karena saat itu Adriano menatapnya dengan sorot mata yang terlihat sangat berbeda.


Adriano tersenyum kalem seraya berlalu dari hadapan Mia tanpa berkata apapun. Sementara, Mia tampak kebingungan dengan sikap pria itu. Dia berdiri di pintu dan melihat ke sekeliling ruangan di sana.


Tak berselang lama, Adriano muncul dengan membawa sebuah T-Shirt round neck berwarna hitam. Dia lalu menyodorkan kaos polos itu kepada Mia. “Pakailah ini,” ucapnya.

__ADS_1


Namun, Mia tak langsung menerima baju tersebut. Dia terdiam dan seakan ragu. “Tak apa. Daripada kau merasa tak nyaman,” ucap Adriano lagi, membuat Mia akhirnya mengulurkan tangan dan menerimanya.


Mereka berdua terdiam untuk sejenak. Adriano ataupun Mia sepertinya sama-sama merasa bingung harus bagaimana dan berkata apa. “Selamat malam, Mia,” ucap Adriano pada akhirnya. Dia pun berlalu meninggalkan wanita yang masih berdiri di ambang pintu, sambil memegangi T-Shirt yang Adriano pinjamkan untuk dirinya pakai.


Keesokan harinya. Seperti biasa, Adriano selalu bangun pagi-pagi sekali dan melakukan kegiatan olah fisik. Namun, karena di rumah itu tidak ada peralatan yang menunjang, tak seperti di tempat tinggalnya di Nafplio, maka dia hanya melakukan olahraga ringan di balkon yang langsung menghadap ke pantai. Hingga matahari mulai bersinar terang, pria itu baru selesai dengan aktivitas rutinnya tersebut.


Adriano segera masuk dan menuju dapur dengan tubuh penuh keringat. Namun, seketika dia tertegun saat mendapati Mia yang tengah sibuk menyiapkan sarapan di sana. Wanita itu menyiapkan sarapan hanya mengenakan T-Shirt hitam dengan ukuran terlalu longgar untuk tubuhnya yang kini terlihat kurus.


Adriano berdiri dengan menyandarkan lengannya pada lawang pintu. Dia memperhatikan wanita yang tengah sibuk dan tak menyadari kehadiran dirinya di sana, hingga Orlin datang dan menyapa sang tuan yang tengah asyik memandangi Mia dengan sorot mata penuh arti.


“Tuan,” sapa wanita bertubuh agak gemuk itu pelan. “Aku sudah melarangnya untuk ke dapur, tapi dia tetap ….” Orlin tak sempat melanjutkan kata-katanya, karena Adriano segera memberi isyarat bahwa dirinya tidak ada masalah dengan apa yang Mia lakukan.


Sementara, Mia mulai menyadari bahwa ada orang lain di dapur itu selain dirinya. Wanita berambut panjang tersebut akhirnya menoleh. Dia menatap Adriano yang saat itu bertelanjang dada dengan tubuh penuh keringat. Perhatian Mia pun sempat tertuju pada tiga buah bekas luka di perut pria tampan tersebut. Sesuatu yang mengusik dan membangkitkan rasa bersalah dalam dirinya.


“Selamat pagi, Mia,” sapa Adriano sambil berjalan mendekat. Tatapannya tak juga teralihkan dari wajah polos wanita cantik di hadapannya.


“Selamat pagi,” balas Mia tanpa ekspresi. “Aku sudah menyiapkan sarapan. Wanita yang tadi berbicara padamu, memberiku bahan-bahan ini ….” Mia tak melanjutkan kata-katanya. Mungkin dia merasa ragu dengan menu yang dibuatnya pagi itu.


“Namanya Orlin. Dia yang mengurus tempat ini. Lagi pula, kenapa kau harus merepotkan dirimu?” Adriano menanggapi ucapan Mia dengan senyuman kecil. Sesekali, pria itu menyugar rambut hitamnya yang agak basah ke belakang.


Sementara, Mia memilih untuk tidak menjawab. Dia membalikkan badan dan kembali pada makanan yang telah dirinya siapkan.


Adriano sendiri mengambil segelas air putih dan meneguknya hingga habis. Setelah itu, dia kembali mengalihkan perhatian kepada Mia. “Hari ini, akan ada seseorang yang datang kemari. Setelah sarapan, sebaiknya kau segera mandi, karena kita akan pergi ke Pulau Kreta,” ucap Adriano tenang dan segera mencicipi makanan yang Mia buat.

__ADS_1


“Ke mana?” tanya Mia seraya menautkan kedua alisnya.


“Hari ini aku harus menghadiri peresmian resort yang baru selesai dibangun. Aku ingin kau ikut bersamaku, Mia." Tatap mata dan nada bicara Adriano tampak penuh harap.


“Tidak. Untuk apa aku ikut denganmu? Aku sama sekali tidak memiliki urusan dengan hal itu,” tolak Mia dengan segera.


“Sayangnya, aku ingin agar kau ikut,” paksa Adriano kembali menegaskan. Sorot matanya menyiratkan bahwa dia tak ingin menerima penolakan.


“Aku tidak mau!” tolak Mia tegas. “Lagi pula, semua pakaianku ada di penginapan. Kau ingin aku ….”


“Aku sudah menyiapkan segala hal yang kau butuhkan, Mia. Cepatlah mandi. Sebentar lagi akan ada seseorang yang membantumu untuk bersiap-siap,” pungkas Adriano seraya menyudahi sarapannya. “Aku juga ingin mandi dulu,” lanjut pria itu seraya beranjak dari duduknya dan berlalu meninggalkan Mia.


Tampaklah dengan sangat jelas sebuah tato bergambar macan hitam yang memenuhi punggung tegap pria itu. Inilah pertama kalinya bagi Mia, melihat tato yang merupakan lambang dari organisasi bernama Tigre Nero.


Namun, ada sesuatu yang mengusik Mia ketika dia juga melihat parut di punggung bawah Adriano. Pria rupawan itu memiliki banyak bekas luka yang diakibatkan oleh dirinya. “Katakan, Adriano!” seru Mia tanpa sadar, kepada pria yang kini sudah berada di ambang pintu dapur.


Adriano segera menoleh dan mengernyitkan kening. “Ada apa?” Si pemilik tubuh yang bertelanjang dada itu memutuskan untuk kembali dan mendekati Mia. Tampak jelas dada bidang serta otot perut yang terpahat sempurna. Harus Mia akui, bahwa secara fisik Adriano benar-benar sempurna.


“Ka-kau, bagaimana kau bisa selamat dengan luka separah itu? Kulihat sepertinya tembakanku dulu berhasil menembus punggung hingga perutmu,” tanya Mia dengan nada sedikit ragu.


Adriano tersenyum samar menanggapinya. “Mungkin Tuhan masih menginginkanku hidup, atau mungkin Dia memiliki rencana lain yang sudah disiapkan untukku,” jawabnya diplomatis.


“Kau tidak dendam padaku?” tanya Mia lagi. Suaranya terdengar semakin lirih.

__ADS_1


Adriano semakin mendekat. Dia menatap Mia dengan lekat. “Entah kenapa kau selalu menjadi pengecualian, Mia. Tak peduli berapa kali kau menyakitiku, aku tak pernah berniat untuk membalasnya. Melihatmu tersenyum dan bahagia, itu sudah cukup bagiku.” Tatapan Adriano pada Mia begitu sendu, seakan ada ribuan keresahan dan kesedihan bergelayut di sana.


“Sudahlah. Aku mandi dulu,” tutup Adriano. Dia langsung membalikkan badan dan meninggalkan Mia tanpa menoleh lagi.


__ADS_2