
Dengan langkah tenang, Emiliano memasuki kamar perawatan Juan Pablo yang berada lebih depan dari ruangan Adriano. Setelah mengetuk pintu, pria paruh baya itu pun kemudian masuk. Dia mendapati sang menantu yang terbaring tak berdaya, sendirian. "Bagaimana keadaanmu sekarang, Nak?" sapanya sambil berjalan mendekat pada ranjang.
"Tuan Moriarty? Anda datang kemari?" Juan Pablo tak menyangka bahwa ayahanda Gianna akan menjenguknya hari itu.
Emiliano tersenyum. Dia lalu menarik sebuah kursi, kemudian meletakkannya di dekat ranjang. "Gianna menghubungiku. Dia mengatakan bahwa kau dan Adriano ada di sini. Maaf karena aku baru bisa kemari. Istriku pun sedang tidak sehat," jelasnya.
"Tidak apa-apa, Tuan Moriarty. Aku sedang menunggu untuk dipindahkan ke rumah sakit kota Roma," sahut Juan Pablo. Raut wajah pria itu tak sedingin biasanya.
"Itu akan jauh lebih baik. Lagi pula, bukankah istrimu juga sedang mengandung?" Emiliano menatap lekat pria tampan yang juga tengah memandang ke arahnya.
Juan Pablo tampak terkejut mendengar ucapan tadi. Dia pun seakan tak tahu harus berkata apa. Pria asal Meksiko tersebut hanya menggumam pelan. Namun, tak ada gunanya lagi untuk menutupi hal itu dari kedua orang tua Gianna. Lagi pula, Adriano juga sudah mengetahui statusnya kini. "Aku senang jika Anda sudah mendengar berita pernikahan kami, karena ibuku juga sama sekali belum mengetahuinya," ucap Juan Pablo dengan sedikit gerakan di bibir.
"Aku hanya tak mengerti, Nak. Kenapa kalian harus menikah secara diam-diam," ujar Emiliano.
Juan Pablo lagi-lagi tak segera memberikan jawaban, untuk alasan yang dipertanyakan oleh pria yang kini telah menjadi ayah mertuanya. Tak pernah dirinya berada dalam sebuah kebimbangan dalam menentukan sebuah keputusan. Namun, kini dia merasa bahwa keberaniannya sebagai seorang Elang Rimba yang disegani, telah memudar karena rasa takut kehilangan wanita yang amat dirinya cintai. "Tuan, aku sangat mencintai putri Anda," ucap pria asal Meksiko itu berat dan dalam.
"Karena itulah kau menikahinya, Nak," balas Emiliano menyentuh lengan Juan Pablo.
"Ya. Dia sedang mengandung calon bayi kami. Aku tidak bisa untuk tidak menikahi Gianna, karena diriku tak ingin lagi ada anak-anak yang harus terlahir tanpa merasakan kasih sayang ayahnya," sahut Juan Pablo tanpa bermaksud menyinggung perasaan Emiliano.
__ADS_1
"Kau benar. Kau sangat benar dalam hal ini." Sorot mata Emiliano tampak sayu, dengan raut wajah yang terlihat menyembunyikan beban besar dalam dirinya.
"Aku sangat mengetahui hal itu. Seperti apa rasanya berada dalam posisi tersebut. Namun, ada satu hal yang membuatku ... terus terang saja ... um ...." Juan Pablo menggumam pelan. Dia tampaknya sedang memikirkan kata-kata yang paling tepat. Untuk beberapa saat, pria tampan itu menatap Emiliano dengan mata cokelat madunya yang teduh tapi penuh misteri.
"Katakan saja, Nak. Jangan merasa sungkan terhadapku. Saat ini, aku sudah menjadi ayahmu," ucap Emiliano. Dia berusaha untuk mengembalikan ketenangan serta wibawa dalam dirinya.
"Tuan ...." Ucapan Juan Pablo kembali terjeda. Rasa ragu itu lagi-lagi menghentikan dia untuk mengungkapkan apa yang menjadi bebannya selama ini.
"Panggil aku ayah, Nak," protes Emiliano seraya menyunggingkan sebuah senyuman.
Juan Pablo tersenyum getir. Dia lalu tertunduk. "Terakhir aku menyebutkan kata itu adalah ketika berumur sebelas tahun, sebelum ayah tiriku tiada," ucapnya seraya kembali mengangkat wajah dan menatap Emiliano.
"Kalau begitu, sering-seringlah menyebutku dengan kata itu. Aku bahagia karena putraku bertambah satu. Ilario, Agustine, Adriano, dan kau, Juan." Senyuman simpul kembali terlukis di wajah tua Emiliano. Pria itu mungkin merasa bahagia kini.
"Apakah Anda masih ingat dengan orang-orang yang telah melakukan penculikan terhadapmu dulu?" tanya Juan Pablo pada akhirnya.
Emiliano sempat mengernyitkan kening saat mendengar pertanyaan itu. Dia merasa heran karena Juan Pablo dapat mengetahui hal tersebut. "Bagaimana kau bisa mengetahui kejadian itu? Apakah Gianna yang memberitahumu?" tanyanya.
"Ya. Dia menceritakan semuanya padaku. Mereka yang telah menculikmu adalah anggota dari Artiglio Di Corvo, sebuah kelompok mafia yang berada di bawah kekuasaanku," jelas Juan Pablo yang seketika membuat Emiliano terperanjat kaget. "Aku benar-benar minta maaf atas hal itu. Aku juga sangat menyesalkan tindakan anak buahku yang telah menghabisi putra sulungmu, Ilario."
__ADS_1
Emiliano sontak berdiri dari duduknya. Tatapan lembut penuh kasih yang tadi dia layangkan kepada sang menantu, kini berubah drastis. Pria tua tersebut kemudian beranjak ke dekat jendela ruang perawatan itu. Emiliano tak dapat mengatakan apapun. Tatapannya menerawang jauh pada hamparan kota Milan dengan segala hiruk-pikuk di sana.
"Seperti yang sudah kujelaskan kepada Gianna, bahwa aku sama sekali tak tahu-menahu tentang hal itu. Aku lebih banyak menghabiskan waktu di Monaco dan melimpahkan segala urusan pada perwakilanku di sini. Aku sama sekali tak bermaksud untuk mencuci tangan dan melepaskan diri dari tanggung jawab, karena Artiglio Di Corvo adalah milikku. Namun, bukan diriku yang telah memerintahkan untuk menculikamu yang disertai pembunuhan terhadap Ilario." Tak biasanya Juan Pablo banyak bicara dengan orang yang belum terlalu dekat dengannya. Akan tetapi, dia merasa berkewajiban untuk memberikan penjelasan kepada Emiliano.
"Ilario," sebut Emiliano dengan lirih. Entah apa yang harus dia katakan kepada Claudia, yang hingga saat ini masih menunggu kepulangan putra kesayangannya.
"Aku turut berduka," ucap Juan Pablo lagi, membuat Emiliano segera berbalik padanya. Pria paruh baya tersebut masih dengan tatapan tajam yang dia arahkan kepada sang menantu.
"Bagaimana bisa Gianna menerima semua ini dan bahkan menikahimu?" desisnya sambil mengepalkan tangan, menahan amarah yang bergemuruh dalam dada.
Juan Pablo dapat melihat sekaligus merasakan kemarahan pria di hadapannya tersebut. Namun, dia tak ingin terpancing dan tetap memperlihatkan sikap tenang. Lagi pula, apa yang bisa dirinya lakukan saat ini selain berbaring merasakan sakit dari luka-luka yang dialami. "Gianna menikahiku, karena dia mencintai dan juga percaya sepenuhnya padaku. Tak ada alasan lain yang membuat kami bersama. Aku menyayangi putrimu dan akan selalu mempertahankannya agar tetap berada di dekatku," jelas Juan Pablo dengan yakin.
"Tak sesederhana itu, Juan. Tidak!" protes Emiliano dengan tegas. "Ilario tiada dengan cara yang tidak wajar, dan kau seakan memintaku untuk menerimanya begitu saja?" sorot mata Emiliano kian tajam.
Akan tetapi, Juan Pablo masih dengan raut wajahnya yang tenang dan datar. Dia juga tak gentar menghadapi tatapan tajam sang ayah mertua. Namun, Juan Pablo tak berniat untuk melawan pria paruh baya tersebut dengan hal yang sama. "Aku tidak akan memintamu untuk itu, Ayah mertua. Aku tahu dan dapat merasakan dengan jelas seperti apa kepedihan saat orang yang kita kasihi tiada. Namun, semua orang hidup dengan takdirnya masing-masing. Tak terkecuali diriku. Bisa saja suatu saat nanti aku mati di tangan seseorang, yang tak pernah dikira akan menjadi malaikat maut bagiku."
"Ck!" Emiliano berdecak kesal. Tanpa berkata apa-apa lagi, dia berlalu keluar dari sana.
🍒 🍒 🍒
__ADS_1
Rekomendasi novel keren untuk hari ini. Don't miss it 😉