
Carlo merogoh ponsel yang dia simpan di dalam saku jaket. Jaket kulit itu sendiri dia tenteng sejak tadi, dan belum sempat dikenakan dari setelah melakukan adu panco dengan Lucas. Pria dengan rambut gelap tersebut kemudian memeriksa alat komunikasi pintar miliknya. Nama Adriano tertera jelas di layar sebagai pemanggil.
"Pronto," sapa Carlo sopan.
"Di mana kalian? Aku pikir kau sudah membawa Miabella masuk." Adriano terdengar gusar saat itu.
"Belum, tuan. Aku dan nona Miabella ada di taman samping. Kami akan segera masuk," putus Carlo. Dia memberi isyarat kepada Miabella yang hendak protes padanya. Sesaat kemudian, Carlo pun mengakhiri perbincangan tadi. Dia memasukkan kembali ponsel itu ke dalam saku jaket yang tak juga dia kenakan. Pria bertato tersebut hanya menentengnya dengan tangan kiri, kemudian segera menuntun Miabella menggunakan tangan kanan.
"Aku tidak mau masuk, Carlo! Bawa aku ke tempat lain saja, tapi jangan ke hadapan daddy zio!" pinta Miabella yang terus menolak saat Carlo menuntunnya masuk. Gadis cantik itu berusaha melepaskan cengkeraman tangan sang pengawal pribadi dari pergelangannya. Akan tetapi, pegangan tangan Carlo terlalu kuat. Mau tak mau, Miabella pun akhirnya memilih untuk menurut saja.
"Kenapa kau melakukan ini, Carlo? Aku yakin kau tak akan berbuat apapun untuk membelaku, andai daddy zio melotot, membentak, serta memarahiku lagi seperti tadi." Miabella terus menggerutu sambil mengikuti langkah sang pengawal pribadi bertubuh tegap itu.
"Aku memang tak akan melakukan apapun, Nona," sahut Carlo dengan tenang.
"Ya itulah dirimu. Kau tak berkutik jika sudah berhadapan dengan tuan D'Angelo sang penguasa," cibir Miabella.
"Dia ayahmu, Nona. Kau sangat menyayangi dan mengaguminya. Bagi dirimu, tak ada satu pun pria di dunia ini yang lebih hebat dari tuan Adriano D'Angelo. Itu yang sering kau katakan padaku," tutur Carlo mengingatkan Miabella akan kata-kata kesukaannya.
"Daddy zio memang idola tak tergantikan, tapi itu sebelum dia melotot dan berkata dengan nada tinggi padaku," bantah Miabella tetap merasa dirinya tak bersalah sama sekali.
Carlo pun segera menghentikan langkahnya, saat mendengar ucapan gadis cantik bermata abu-abu yang masih dia tuntun. Pria dengan postur 185 cm tersebut menoleh, kemudian berdecak pelan. "Adalah hal yang wajar jika seorang ayah menegur anaknya dengan cara seperti itu. Saat masih berada di rumah singgah, Miranda kerap memberitahuku tentang perbedaan pola asuh antara seorang ayah dengan seorang ibu. Dari sana aku sedikit memahami, meskipun aku belum pernah merasakan seperti apa hidup dalam asuhan seorang ayah. Bagiku, semua terwakili dengan hadirnya tuan Adriano." Carlo menatap lekat Miabella yang saat itu hanya terpaku.
__ADS_1
"Aku tidak suka diperlakukan seperti itu oleh daddy zio." Miabella masih saja terlihat tak terima atas sikap keras Adriano tadi.
"Astaga, Nona." Carlo berdecak pelan seraya menggeleng tak mengerti. "Aku rasa tuan Adriano melakukan itu hanya agar kau berhenti bersikap di luar kendali. Lagi pula, menurutku apa yang dilakukannya tadi sangat wajar dan perlu untuk menghadapi anak gadis yang ...." Carlo tak melanjutkan kata-katanya.
"Apa? Kau ingin mengatakan sesuatu?" tanya Miabella. Gadis itu merasa ada sesuatu yang tak tak beres saat melihat gelagat aneh Carlo.
"Ya. Sikap tegas tuan Adriano sangat tepat untuk menghadapi seorang pemberontak sepertimu," jawab Carlo yang kemudian tertawa renyah atas ucapannya sendiri. Dia lalu membalikkan badan dan kembali menuntun Miabella menyusuri koridor panjang dari arah taman menuju ruang keluarga.
"Menyebalkan! Jadi, menurutmu aku ini seperti seorang pemberontak?" protes Miabella. Dia tak mencoba menolak lagi, meski merasa malas karena harus mengikuti langkah sang pengawal pribadi.
"Kau memang seorang pemberontak, Nona," sahut Carlo tanpa menoleh. "Andai nanti aku punya anak, maka aku juga akan mengikuti pola asuh seperti tuan Adriano. Ya, meskipun menurutku dia terlalu memanjakan dirimu," ujar pria itu lagi sambil terus melangkah lurus.
"Kau punya anak? Lagi pula, siapa yang akan mau menikah denganmu?" cibir Miabella, membuat Carlo kembali menghentikan langkahnya lalu menoleh. Dia kembali menatap lekat putri dari pria yang juga merupakan idola baginya.
Sementara Miabella tak kuasa menahan tawa. Gadis itu kembali mengikuti langkah tegap pria bertato tadi hingga tiba di depan pintu ruang keluarga. "Kuberitahukan sesuatu padamu," ucap Miabella sebelum memutuskan untuk melewati lawang pintu dengan pinggir-pinggirnya yang berukir indah.
"Jika kau ingin menarik perhatian seorang gadis, maka pakailah minyak wangi yang banyak dengan aroma sedikit berkelas," ejek gadis cantik bermata abu-abu itu. Dia melepaskan genggaman tangannya dari Carlo. Miabella pun masuk, meninggalkan pria yang masih terpaku. Sesaat kemudian, Carlo pun berinisiatif mengendus ketiaknya sendiri.
Sementara itu di dalam ruang keluarga yang sangat nyaman, tampaklah Mia dengan Adriano yang sedang duduk berdua di atas sebuah sofa mewah dan terlihat empuk. Sepasang suami istri tadi segera menoleh saat Miabella hadir dan berdiri di hadapan keduanya. Jarak mereka hanya dibatasi oleh sebuah meja berlapis kaca, yang di atasnya terdapat hiasan bola-bola kecil dari kristal.
"Bella," sapa Mia. Dia berdiri dan mengajak putrinya untuk duduk. "Ayo, Sayang. Kemarilah. Kita berbincang santai di sini."
__ADS_1
Akan tetapi, Miabella menolaknya dengan segera. "Aku berdiri saja, Ibu. Kakiku akan kesemutan jika dibawa duduk saat ini. Aku takut menendang meja dan kursi lagi," ujar gadis berambut panjang tadi dengan ekspresi yang tampak sangat dibuat-buat. Bagaimanapun juga, dia tak bisa bersikap kurang ajar atau tak sopan di hadapan kedua orang tuanya.
"Ow, tapi aku yakin kau tak akan berani melakukannya," ucap Adriano menanggapi dengan santai.
"Kenapa tidak? Bagi pemberontak sepertiku, apapun bisa saja terjadi," sahut Miabella dengan seenaknya.
Sementara Mia dan Adriano hanya mengempaskan napas pelan. Mereka sebenarnya ingin tertawa atas sikap dan kata-kata putri sulungnya itu. Namun, keduanya tak ingin membuat Miabella menjadi semakin kesal.
"Baiklah." Adriano kemudian beranjak dari duduknya. Dia lalu melangkah ke dekat Miabella berdiri. "Kau masih merasa kesal padaku, Principessa?" tanyanya dengan nada setengah merayu.
Namun, Miabella tak ingin terbuai. Gadis itu segera memalingkan muka sambil melipat kedua tangan di dada. "Jangan panggil aku dengan sebutan itu. Aku bukan putri kecil yang menggemaskan lagi bagimu, Daddy Zio," protesnya. Dia ingin menunjukkan sikap marah terhadap Adriano. Akan tetapi, Miabella tak pandai melakukan itu, sehingga sikapnya justru terlihat lucu di hadapan Adriano dan juga Mia.
"Kau masih dan akan selalu menjadi putri yang menggemaskan bagiku, Sayang. Lihatlah dirimu saat ini. Kau sudah berusia dua puluh dua tahun, tapi sikapmu sama seperti ...."
"Anak tiga belas tahun?" sela Miabella dengan segera. "Astaga. Kau sama saja dengan Lucas, Daddy Zio," protesnya semakin kesal.
"Ah, tidak. Bukan itu maksudku," bantah Adriano. "Begini, Sayang. Aku hanya tidak suka jika kau memperlihatkan sikapmu yang terlalu frontal di hadapan semua orang. Kau terlalu cantik dan manis untuk melakukan hal itu. Aku tidak tahu dari mana kau mendapatkan gaya meninju seperti tadi. Apakah Carlo yang mengajarimu?" selidik Adriano dengan tutur katanya yang terdengar sangat lembut dan tenang.
"Carlo mengatakan bahwa aku perlu menguasai sedikit ilmu beladiri, agar tak mudah dilecehkan oleh pria," jelas Miabella seraya menoleh dan tersenyum kepada ayah sambungnya. Sebuah senyuman yang sangat dibuat-buat, karena dalam hati dia masih merasa kesal dan tak terima.
"Oh, kalau begitu aku akan menegur Carlo karena dia tidak mengajarimu dengan teknik yang sebenarnya," ujar Adriano mencoba untuk menarik perhatian Miabella.
__ADS_1
Namun, gadis itu hanya tertawa pelan saat mendengar ucapan sang ayah. "Sudahlah, Daddy Zio. Jangan sok akrab. Aku tetap marah padamu. Karena itu aku akan pergi dari sini."