
Saat makan malam berlangsung, Adriano memperkenalkan Mia dan Arsen kepada Patrizio. Sementara Olivia lebih memilih untuk menemani Miabella di kamar gadis kecil itu, hingga putri dari Matteo de Luca tersebut tertidur lelap. Setelah memastikan bahwa Miabella sudah benar-benar tertidur, barulah Olivia memutuskan untuk keluar dari sana. Akan tetapi, baru saja dia menutup pintu, Olivia harus merasakan keterkejutan yang luar biasa. Dia mendapati Arsen yang sudah berdiri sambil bersandar pada dinding dekat pintu kamar tersebut. "Tu-tuan ...." Olivia tergagap. Dia segera bergerak mundur dan mungkin saja akan melarikan diri, andai Arsen tak segera meraih tangannya.
"Olive, kenapa kau masih saja takut padaku?" Arsen memasang raut penuh keheranan. Akan tetapi, gadis manis berambut hitam itu tidak menjawab. Dia justru berusaha untuk menyembunyikan wajah dari pria yang kini telah resmi menjadi suaminya. "Dengarkan, Olive. Besok pagi aku akan berangkat ke Inggris. Aku ingin agar kau juga ikut ke sana. Karena itu, berkemaslah. Bawa pakaian seperlunya saja. Di sana kita bisa membeli yang baru," Arsen terdiam sejenak. Kembali terbayang olehnya ketika Olivia mengenakan gaun pendek, yang dia belikan untuk acara pernikahan. Olivia tak kalah cantik dan anggun dari Mia, atau wanita manapun yang selama ini pernah berkencan dengannya.
"Tolong jangan tolak ajakanku," pinta Arsen penuh harap. Menikah dan mengganti status lajang, sedikit banyak telah mengubah pria petualang cinta tersebut.
"Kenapa aku harus ikut?" Olivia bertanya dengan suaranya yang cukup bergetar. Dia juga masih tetap menjaga jarak.
"Kau adalah istriku sekarang. Itu artinya, kau harus ikut dan menemaniku, sama seperti yang dilakukan Mia dan Adriano. Anggap saja itu sebagai bulan madu sederhana kita," jelas Arsen sambil tersenyum kalem. "Karena itulah, sebaiknya kau segera berkemas. Ingat, kita akan berangkat besok," ucapnya kembali memberitahu Olivia.
Untuk sejenak, Olivia terdiam dan tampak berpikir. Tanpa banyak bicara, wanita muda itu berlalu begitu saja dari hadapan Arsen. Dia tak memedulikan pria yang sedari tadi menunggu jawaban darinya. Sedangkan Arsen hanya terpaku dengan raut tak percaya. Harga dirinya sebagai sang penakluk wanita runtuh seketika, setelah diabaikan oleh seorang wanita muda yang sederhana seperti Olivia. "Apa-apaan ini?" gumamnya seraya berdecak pelan. Dia pun segera menyusul sang istri yang tengah berjalan menuju kamarnya.
Sementara itu di sudut lain mansion. Adriano baru saja masuk kamar setelah mengantar Patrizio dan Benigno, yang langsung bertolak ke Italia setelah makan malam. Padahal Adriano telah menawarkan mereka untuk menginap. Akan tetapi, Patrizio menolak dengan alasan ada pekerjaan penting esok hari.
Di dalam sana, lagi-lagi Adriano tak menemukan keberadaan Mia. Namun, pada akhirnya dia tahu bahwa Mia tengah berada di kamar mandi. Pria bermata biru itu pun segera menuju kamar ganti. Sambil berdiri di depan cermin yang hampir setinggi dirinya, Adriano mulai melepas t-shirt yang dia kenakan. Tampaklah dengan jelas tubuh atletis berhiaskan tato dan masih berbalut perban. Adriano memandangi dirinya lewat pantulan cermin tersebut. Tak lama, seutas senyuman muncul di paras tampan pria itu, ketika dia merasakan sebuah sentuhan lembut pada leher bagian belakangnya.
Sambil berjinjit, Mia mendekap hangat tubuh sang suami lalu menciumi lehernya dari belakang. Adriano kemudian menoleh ke samping kanan, di mana Mia membenamkan wajahnya pada pundak pria tersebut. "Kenapa?" tanyanya dengan setengah berbisik.
__ADS_1
"Aku ingin bicara denganmu, sebentar saja. Bisakah?" jawab Mia pelan sambil sesekali mengecup belakang pundak Adriano.
Sang ketua Tigre Nero tersenyum kalem. Dia lalu membalikkan badan sehingga kini menghadap kepada Mia. Ditatapnya sejenak paras menawan ibu dari Miabella tersebut. Malam itu, Mia tampak sangat segar, dengan rambut panjangnya yang menjuntai di atas pundak sebelah kiri. "Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Adriano. Dia mengajak Mia untuk duduk pada sebuah bangku panjang berlapis busa tebal. Namun, saat itu Mia tidak duduk di sana. Wanita dengan kimono satin berwarna hitam tersebut, lebih memilih paha sang suami sebagai alasnya. Hal itu membuat Adriano segera memamerkan senyum kalem yang menawan. Dilingkarkannya lengan kiri pada pinggul Mia, sementara tangan kanan mengelus lembut pipi wanita bermata cokelat tersebut. "Bicaralah," suruh Adriano.
"Ini tentang Arsen Moras," Mia mengawali apa yang akan menjadi topik pembahasannya bersama Adriano.
"Arsen? Ada apa dengannya? Jangan katakan jika dia berusaha untuk menggodamu," tukas Adriano.
"Oh, tentu saja bukan. Dia tidak akan pernah berani melakukan hal itu terhadap istri dari Adriano D'Angelo," bantah Mia dengan segera.
Mia tidak segera menjawab. Dia terdiam sejenak dan seakan tengah merangkaikan kata-kata yang akan disampaikan kepada sang suami. Sesaat kemudian, wanita cantik tersebut kembali berbicara, "Bukankah Arsen akan berangkat ke Inggris besok?"
"Ya, lalu?" Adriano masih belum mengerti.
"Begini, Adriano," Mia melingkarkan tangan kanannya di leher sang suami. "Arsen akan berada di Inggris untuk beberapa waktu ke depan. Dia sendirian di sana. Maksudku, kasihan sekali jika dirinya harus menyiapkan segala sesuatu seorang diri. Maka dari itu, aku menugaskan Olivia untuk ikut ke sana agar bisa membantu. Ya, setidaknya saat rekanmu itu bangun tidur, dia tidak harus repot-repot untuk menyeduh secangkir kopi sendiri," jelas Mia terlihat meyakinkan.
Akan tetapi, tidak dengan Adriano. Pria bermata biru itu memandang sang istri dengan tatapan penuh selidik. "Kenapa harus Olivia? Kenapa bukan pelayan lain. Kau tahu 'kan jika gadis itu bukanlah pelayan di sini," protes Adriano masih dengan sikap dan nada bicara yang sangat tenang.
__ADS_1
Mia menanggapi ucapan sang suami dengan sebuah senyuman lembut. Disentuhnya dagu berhiaskan janggut yang belum sempat Adriano rapikan, dari semenjak kepulangan ke Monaco. Mia mengangkat dagu itu dengan perlahan, kemudian mendekatkan wajahnya. "Justru karena Olivia bukan seorang pelayan, maka aku ingin agar dia pergi ke Inggris bersama Arsen. Anggap saja jika itu sebagai balas budi untuknya atas semua yang telah dilakukan padamu. Aku tahu jika gadis muda itu punya keinginan yang sama denganku, yaitu bisa melihat dunia luar selain Italia. Kita pernah mengajaknya ke Amerika, sekarang saat yang tepat bagi Olivia untuk melihat dan menikmati Inggris. Aku yakin jika Arsen bisa menjaganya dengan baik," tutur Mia yang diakhiri dengan sebuah sentuhan lembut pada permukaan bibir Adriano.
"Aku sangat mengenal seperti apa Arsen Moras, Mia. Rasa cemburumu terhadap Olivia sangat berlebihan, Sayang. Apa kau yakin jika Arsen dapat menjaga gadis itu dengan baik?" Adriano tampak ragu.
"Percayalah padaku, Arsen tak akan berani berbuat macam-macam," balas Mia meyakinkan Adriano. "Jika menurutmu ini karena sebuah kecemburuan, maka anggap saja begitu. Aku tidak ingin kehilangan suami lagi untuk yang ketiga kalinya," ucap wanita bermata cokelat itu dengan lebih meyakinkan.
"Oh, Mia ...."
Adriano tidak sempat melanjutkan kata-katanya, karena saat itu Mia telah lebih dulu membungkam mulut pria tersebut dengan sebuah ciuman mesra. "Aku tidak suka jika kau membantah keinginanku," ucap Mia manja.
"Mana mungkin aku bisa membantahmu," bisik Adriano dengan dalam, seraya meraih wajah cantik di hadapannya dan kembali melanjutkan adegan ciuman mereka yang sempat terjeda. Mia bahkan kini mengubah posisi duduknya jadi menghadap kepada sang suami, sehingga bagian bawah kimono yang dia kenakan semakin tersingkap. Paha mulus kuning langsat itu pun tak luput dari sentuhan nakal tangan Adriano, yang terus bergerak dengan lembut hingga berakhir pada pinggul Mia
"Kapan terakhir kali kita bercinta?" bisik Adriano menghangat di telinga sebelah kiri Mia. Wanita itu tertawa manja karena merasa geli, ketika bulu-bulu halus yang mulai menebal dari sebagian wajah pria berparas rupawan itu mulai menelusuri leher serta pundak, yang mulai tersingkap dari balutan pakaian tidurnya. Tanpa diminta, janda dari Matteo de Luca tersebut segera melepas tali kimono, kemudian melepaskannya. Dia membiarkan luaran berbahan satin halus tadi terjatuh begitu saja di lantai, tepat dekat kaki Adriano. Kini, tubuh rampingnya hanya berbalut lingerie two piece dengan tali-tali kecil yang melintang dan menambah kesan seksi. "Aku lupa pernah membelikan ini untukmu," ucap Adriano lagi dengan tatapan menggoda, sambil menyentuh cup berbahan lace yang hanya menutupi setengah dari dada Mia. Sementara sebagian besarnya lagi terekspos dengan jelas.
Mia kembali tersenyum. Jemari lentiknya menangkup rahang kokoh Adriano. "Aku ingin selalu membuatmu bahagia dan merasa puas hanya denganku saja," bisiknya lembut, membuat gairah dalam diri pria bermata biru itu kian memuncak. Tanpa banyak bicara, Adiano menurunkan Mia dari pangkuan dan membaringkannya di atas bangku berlapis busa tebal yang tadi dia duduki. Ditelusurinya setiap lekuk indah tubuh sang istri. Mulai dari kaki jenjang hingga berakhir pada pangkal paha wanita itu, membuat Mia menjadi tak menentu ketika Adriano menciumi pahanya dengan lembut. Desa•han demi desa•han mulai mengisi ruangan itu, terlebih ketika Adriano sudah melepas segitiga pengaman yang menutupi bagian terindah dan paling dia sukai. Dengan posisi berlutut di sebelah bangku tadi, Adriano membenamkan wajahnya di antara pangkal paha Mia yang telah terbuka lebar. Wangi aroma khas bercampur permbersih yang menyegarkan, menyeruak ke dalam hidung, membuat hasrat kelelakiannya semakin muncul dan ingin segera dilampiaskan.
Namun, begitulah Adriano. Entah dalam hal bertarung saat melawan musuh, atau ketika berada di atas ranjang. Pria itu merasa senang dan amat menikmati, ketika yang menjadi lawannya dalam keadaan tersiksa secara perlahan-lahan. Seperti itu pula yang dia lakukan terhadap Mia. Entah sudah berapa kali wanita itu mencapai puncak kenikmatan dengan tubuh merinding dan seakan tergelitik. Akan tetapi, Adriano tak juga menghentikan sesi pemanasannya. Padahal, saat itu Mia sudah berkali-kali menarik lengan kekar sang suami, agar segera memberikan apa yang menjadi haknya. Namun, Adriano seakan ingin membuat wanita itu hingga tak berdaya, barulah akan dia habisi dengan sempurna.
__ADS_1