
Olivia menatap nanar dari kejauhan, pria yang tengah berbincang santai di dekat helikopter. Sebentar lagi, Arsen akan kembali ke Yunani. Akan tetapi, raut wajah pria itu tampak biasa saja. Dia seakan tidak pernah melakukan apapun yang membuat Olivia merasa aneh. Ya, mungkin seperti itulah pria-pria dari kalangan atas. Mereka melakukan segala hal yang disukai, layaknya Adriano dan Arsen. Mereka datang dan pergi dengan seenaknya sendiri.
Gadis berambut hitam itu segera membalikkan badan dan melangkah masuk, bersamaan dengan Arsen yang menoleh ke arahnya. Pria itu memperhatikan gadis yang kini sudah menghilang dari pandangan, lenyap di balik dinding kokoh mansion mewah Adriano. Arsen kemudian mengempaskan napas pendek. Dia lalu bergegas masuk ke dalam helikopter yang sudah siap mengantarkannya kembali ke kota Athena.
Sementara Olivia terus berjalan menyusuri koridor menuju kamar Miabella. Baginya sangat menyenangkan ketika dapat menemani gadis kecil itu bermain. Olivia masuk kamar dengan begitu saja, tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Dia tidak mengira bahwa Mia tengah berada di dalam kamar tersebut dan baru selesai menidurkan putrinya. “Ah, Nyonya. Maaf, aku pikir Bella hanya sendirian,” ucap Olivia kemudian menundukkan wajahnya. Dia merasa tak enak karena telah bersikap tidak sopan terhadap Mia.
Namun, Mia menanggapi permintaan maaf gadis itu dengan senyuman. “Tidak apa-apa. Lagi pula, sebentar lagi aku akan menyiapkan makan malam,” jawab Mia. Dia memperhatikan Olivia dengan bahasa tubuhnya yang tampak sedikit aneh saat itu. “Apa kau sakit, Olivia?” tanya Mia penasaran.
“Tidak, Nyonya. Aku hanya ....” Olivia tidak melanjutkan kata-katanya. Gadis yang sedari tadi tertunduk lesu, tiba-tiba mengangkat wajahnya dan menatap pada istri sang majikan, “Nyonya, boleh aku bertanya sesuatu yang sedikit pribadi?” tanyanya kemudian.
“Tentang apa?” Mia tampak membetulkan posisi duduknya.
“Um ... apa Anda merasakan sesuatu yang aneh saat mendapatkan ciuman pertama?” Olivia kembali tertunduk seraya mengulum bibirnya. Malu rasanya menanyakan hal seperti itu kepada Mia. Akan tetapi, dia tidak tahu harus bertanya pada siapa lagi.
Pertanyaan yang membuat Mia tersenyum kecil. Bayangan wanita cantik tersebut, seketika tertuju pada malam itu di gang sempit dekat rumah yang dia tinggali di kota Venice. Angan Mia melayang pada beberapa tahun silam, ketika Matteo tiba-tiba mencuri ciuman pertamanya. Tanpa sadar, Mia menyentuh bibirnya sendiri. Untung saja karena Olivia saat itu sedang menatap ke arah lain. Mia mendehem pelan, membuat Olivia kembali menghadap padanya “Aku rasa, semua hal yang sifatnya pertama pasti akan selalu berkesan,” ucap Mia lembut.
“Lalu, bagaimana jika pria itu bukanlah kekasih kita?” Olivia kembali bertanya dengan polosnya.
Mia kembali tersenyum. “Kekasih hanya merupakan sebuah istilah bagiku. Jalinan perasaan itu jauh lebih penting. Aku juga tidak pernah menyangka jika pria itu akan menjadi seseorang yang sangat berarti, padahal aku tidak terlalu mengenal dia. Asal-usul, rumah, bahkan dia merahasiakan nama belakangnya. Lalu, pria itu pergi setelah mencuri ciuman pertamaku,” Mia tersenyum getir.
“Apakah dia kembali?” tanya Olivia penasaran. Gadis itu seakan tertarik dengan cerita dari Mia.
“Ya. Dia kembali ....” Mia mengalihkan perhatiannya pada Miabella yang sedang tertidur pulas. Lembut, tangannya mengelus kepala gadis kecil itu, “tetapi dia pergi lagi ... untuk selamanya,” Mia berusaha tetap menguasai diri agar tidak terbawa suasana. Dia pun kembali menatap Olivia yang sedang memperhatikannya. “Berapa usiamu, Olivia?” tanya Mia mengalihkan topik pembicaraan.
“Dua puluh empat tahun, Nyonya,” jawab Olivia pelan.
“Apa ada seseorang yang sudah membuatmu jatuh cinta atau ....” Mia tidak melanjutkan kata-katanya. Dia lalu berdiri dan menghampiri gadis berambut hitam itu. “Jika dia memiliki perasaan yang istimewa, maka dia pasti akan kembali untuk mencarimu,” ucap Mia lagi.
“Aku tidak yakin, Nyonya,” sanggah Olivia dengan nada kecewa.
__ADS_1
“Kenapa?” tanya Mia.
“Lihatlah diriku yang seperti ini,” jawab gadis itu lagi seraya tersenyum getir. Olivia seakan tengah menertawakan dirinya sendiri.
“Kau tidak tahu seberapa besar kesan yang dirimu tinggalkan untuknya. Setiap pria pasti menyukai wanita dengan penampilan luar yang indah. Akan tetapi, kesan manis dalam hati akan mengaburkan pandangan mereka dengan segera. Aku yakinkan itu padamu. Tetaplah menjadi gadis lembut yang baik hati, Olivia. Putriku selalu bercerita banyak tentangmu,” Mia menyentuh lengan gadis berambut hitam tersebut dengan penuh keakraban. Setelah itu, dia beranjak ke pintu dan keluar dari kamar Miabella, meninggalkan Olivia yang masih terpaku sendiri.
Sementara Mia berjalan menyusuri koridor menuju kamarnya. Dia harus berkemas sebelum keberangkatan dirinya dan Adriano ke Inggris. Sesuai rencana, mereka akan pergi lusa. Ini akan menjadi petualangan baru lagi bagi Mia. Adriano benar-benar membuktikan ucapannya yang mengatakan bahwa dia akan membawa Mia dan Miabella keliling dunia. Sebuah rencana yang tertunda dari mendiang Matteo.
Tanpa sadar, langkah Mia membawanya ke depan ruang kerja Adriano, bukannya ke kamar. Mia tertegun. Itulah yang terjadi saat dirinya kehilangan konsentrasi. Dengan ragu dia membuka akses masuk menggunakan sidik jari. Perlahan, pintu itu pun terbuka. Tampaklah Adriano yang sedang asyik menulis sesuatu di mejanya.
“Mia?” Adriano sedikit terkejut mendapati sang istri yang tiba-tiba sudah berdiri di depannya. “Apa yang kau lakukan di sini? Kupikir kau sedang bersama Miabella,” wajah tampan itu begitu berseri. Dia segera berdiri dan menghampiri Mia yang terlihat kebingungan.
“A-aku tadi berjalan sambil sedikit melamun. Entah kenapa tiba-tiba aku berada di sini,” kilah Mia seraya memamerkan senyumnya yang teramat manis.
“Sepertinya kau tengah memikirkanku,” Adriano semakin mendekatkan dirinya pada Mia sehingga tak ada jarak yang tersisa. Entah untuk keberapa kalinya, pria rupawan itu kembali menikmati bibir Mia. Wanita cantik yang kini telah menjadi istrinya itu benar-benar menjadi candu yang sangat memabukan baginya. Mia lebih dari sekadar anggur mahal yang biasa dia nikmati untuk menghilangkan kepenatan di dalam hati.
Dengan tatapan penuh rasa bersalah, Pierre menyapa Mia. “Maafkan aku, Nyonya. Aku tak mengira jika Anda berada di sini,” ucapnya sedikit kikuk.
“Tidak apa-apa, lagi pula aku sudah hendak memasak makan malam,” Mia menggeleng pelan, lalu beranjak pergi.
Akan tetapi, sebelum hal itu terjadi dengan seegra Adriano mencegahnya. Pria itu mencekal lengan ramping Mia. “Tetaplah di sini, Sayang. Aku masih belum selesai,” mata biru pria itu mengerling nakal.
Sedangkan Pierre hanya tertawa pelan melihat hal tersebut. “Aku hanya ingin mengabarkan bahwa besok nona Alegra akan datang dan berniat untuk berangkat ke Inggris bersama dengan Anda. Apakah Anda mengizinkan?” tanyanya.
Adriano sempat menatap sang istri sebelum menjawab, sementara Mia hanya mengembuskan napas panjang saat membayangkan sosok Bianca Alegra. Dari sorot mata Bianca yang berbinar tatkala memandang sang suami, Mia tahu jika wanita itu juga merupakan salah satu penggemar suaminya. “Terserah kau saja, Adriano,” ujar Mia kemudian dengan malas.
“Aku tidak akan mengizinkan jika kau merasa keberatan,” ujar Adriano tenang.
“Kenapa aku keberatan?” Mia segera memalingkan muka, untuk menyembunyikan pipinya yang merona.
__ADS_1
“Kau dengar sendiri ‘kan, Pierre? Istriku tak merasa keberatan,” Adriano mengangkat alisnya. Dia memang sengaja menggoda Mia.
“Sudahlah, Adriano,” pinta Mia memelas.
“Sebaiknya aku pergi dari sini. Sepertinya Anda membutuhkan waktu untuk berdua,” Pierre tersenyum lebar sebelum meninggalkan ruang kerja tersebut.
Sepeninggal Pierre, Adriano dan Mia kembali berdua saja. Pria itu langsung merengkuh tubuh indah Mia dan memeluknya. “Aku sangat bahagia,” bisiknya pelan.
“Aku tidak,” balas Mia, yang membuat Adriano segera mengurai pelukannya dan memandang kecewa pada Mia. Pria itu mengernyitkan kening.
“Kenapa?” tanya Adriano, singkat dan datar.
Mia tak segera menjawab. Dia malah menunduk, menghindari tatapan tajam sang suami. Tak puas, Adriano menyentuh dagu Mia dan mengangkatnya sehingga pandangan keduanya saling beradu. “Katakan,” desak Adriano.
“Aku ... kau ... sejak kau memutuskan untuk pergi ke Inggris, hatiku menjadi tak tenang. Perasaanku sangat tidak enak,” jawab Mia pelan. Ada keresahan yang besar dalam tatap matanya.
Adriano mengela napas lega. Wajah tegangnya berubah kembali menjadi raut hangat dan ceria, “Kupikir kau tidak bahagia karenaku, ternyata hanya perasaan khawatirmu yang terlalu berlebihan.”
“Entahlah, Adriano. Kadang aku ingin kau menghentikan semuanya dan kita mulai lagi dari awal. Berkenalan, berpacaran dan saling jatuh cinta. Tidak perlu lagi perjalanan jauh yang berbahaya dan mengancam jiwa demi mengungkap kasus yang mungkin tak akan bisa terpecahkan. Aku sudah merelakan Theo, Adriano,” tutur Mia pelan.
“Merelakannya bukan berarti aku harus mengingkari janjiku,” sahut Adriano.
Mia menggeleng cepat. “Kucabut kembali semuanya. Kau tidak perlu memenuhi perjanjian kita. Aku sudah membatalkannya sejak detik ini,” tegas Mia.
“Tidak seperti itu caranya, Sayangku,” Adriano yang gemas, langsung melu•mat bibir Mia. Mereka berdua menikmati pertautan itu beberapa saat, sampai Adriano melepaskannya dan kembali berbicara, “Meskipun kau membatalkan perjanjian kita, aku tetap akan berangkat ke Inggris. Aku harus meninjau secara langsung lokasi proyek yang ada di sana. Lagi pula, aku sudah terlanjur terjun ke dalam kasus ini. Aku tak bisa berhenti di tengah jalan, Mia. Itu bukanlah diriku," jelas Adriano.
“Adriano ...” Mia bermaksud untuk protes.
“Sssh,” desis Adriano sambil menempelkan telunjuknya di bibir Mia. “Ada Tuhan dan dirimu yang akan selalu melindungi dan juga mendoakan keselamatanku. Jadi, tak ada yang perlu kau takutkan," mata Adriano berkilat karena terlalu senang. Jelas sudah bahwa Mia sangat mengkhawatirkan keadaan dirinya. Tak ada yang lebih membahagiakan daripada hal tersebut. Untuk selanjutnya di ruang kerja itu, Adriano ingin melakukan sesuatu yang lebih dari sekadar berciuman dengan Mia.
__ADS_1