
Sekembalinya dari tempat Marcus Bolt, Mia terlihat semakin murung. Selama dalam perjalanan pulang, wanita itu tak berbicara sedikit pun. Perasaannya kian kacau setelah mendengar penuturan dari pria yang ditemuinya tadi. Melihat sikap diam sang istri, Adriano pun dapat memahaminya dengan sangat baik. Dia harus mencari cara untuk dapat membuat suasana hati Mia kembali membaik. "Apa kau lelah?" tanya Adriano pelan.
Mia menoleh. Sorot matanya terlihat sayu. Beban berat itu terlihat dengan sangat jelas di sana. Tanpa banyak bicara, Adriano meraih kepala wanita itu dan menyandarkan di pundaknya. "Tidurlah. Kau butuh istirahat jauh lebih banyak dibandingkan diriku," ucapnya seraya menahan kepala Mia agar tak bergerak dan tetap berada di pundaknya. Mia pun terlalu malas untuk berdebat. Karena itu dia memilih untuk menurut saja.
Sementara Genaro yang berada di belakang kemudi, sesekali melihat ke jok belakang dari pantulan spion dalam. Dia sama sekali tak mengerti kenapa Adriano harus menikahi janda dari Matteo de Luca. Namun, dia berusaha untuk tetap fokus pada jalanan yang sedang dilaluinya hingga mereka kembali ke tempat tadi, yaitu kediaman Genaro. Mia segera turun setelah Adriano membukakan pintu. Tanpa banyak bicara, dia bergegas masuk meninggalkan Adriano yang masih terpaku menatapnya.
"Cinta memang buta," ujar Genaro seraya berdiri di dekat Adriano. "Entah alasan apa yang membuatmu memilih untuk menikahi janda dari musuh terbesar kita," pria paruh baya itu berdecak tak mengerti.
"Kau tak akan memahaminya, Genaro," jawab Adriano datar.
"Ya, itu merupakan sesuatu yang sangat klasik. Pria sekuat apapun, tetap jatuh dan bertekuk lutut di hadapan seorang wanita. Kedengarannya sedikit menyedihkan," ujar Genaro lagi. Dia seakan masih menyayangkan keputusan Adriano yang telah memperistri Mia.
Sementara Adriano menanggapinya dengan sebuah senyuman simpul. Dia melirik sesaat kepada Genaro. "Apakah karena itu pula kau memutuskan untuk melajang seumur hidupmu? Menurutku, keputusan seperti itu justru terasa jauh lebih menyedihkan, ketika tak ada seorang pun yang akan menangisi kematianmu. Tak ada siapa pun yang akan merasa kehilangan dan begitu merindukan kehadiranmu saat kau tiada. Lalu, dengan cara bagaimana kau merasa jika dirimu berarti bagi orang lain?" Adriano menepuk pelan pundak Genaro. Setelah itu, dia beranjak masuk dan bermaksud untuk menyusul Mia.
Saat hendak menaiki tangga, Adriano berpapasan dengan Olivia. Gadis berusia dua puluh empat tahun itu tersenyum manis padanya. Akan tetapi, Adriano hanya meliriknya sesaat sambil terus melangkah, meniti satu per satu deretan anak tangga hingga tiba di lantai dua. Di sana, dia segera menuju ke kamar yang ditempatinya bersama Mia. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Adriano langsung saja masuk ke kamar tersebut. Tampaklah Mia yang sedang duduk dengan wajah tertunduk di ujung tempat tidur.
Adriano segera menghampiri sang istri. Dia harus berusaha untuk mengesampingkan rasa cemburunya lagi, atas besarnya cinta yang Mia berikan untuk Matteo. Setelah pria itu tiada dalam jangka waktu yang terbilang lama, kenyataannya Mia masih belum dapat menggantikan rasa cintanya dengan cinta yang lain. Pria bermata biru itu kemudian duduk di sebelah Mia. "Kau merasa sakit, Mia?" tanyanya. Sementara Mia tidak menjawab. Dia masih terdiam dengan wajah tertunduk.
"Ya, seharusnya aku tak perlu bertanya seperti itu. Kedengarannya pasti sangat menyakitkan. Namun, itulah kenyataanya. Kau harus siap dengan kehidupan yang keras jika memutuskan untuk masuk dan bersentuhan dengan dunia mafia. Kematian adalah bayangan kedua yang selalu mengikuti kami. Ketika kau merasa jika dirimu aman, maka itu belum dapat menjadi patokan bahwa kau benar-benar aman," Adriano terdiam sejenak. Dia melirik kepada Mia untuk sesaat.
__ADS_1
"Matteo de Luca adalah sosok yang begitu tangguh. Keberaniannya, kecerdikannya, segala sesuatu tentang pria itu memang sungguh luar biasa. Secara pribadi aku pun mengakui hal tersebut dan tak mengingkarinya sama sekali. Mendiang suamimu, memang layak untuk menjadi seorang ketua klan," Adriano kembali terdiam.
"Apa yang sebenarnya ingin kau katakan, Adriano? Kau sedang berusaha untuk menghiburku dengan memberikan sanjungan setinggi langit bagi Matteo? Kau pikir aku adalah bocah tiga tahun yang akan langsung berhenti menangis setelah kau berikan iming-iming sebuah es krim?" deru napas Mia terdengar mulai tak beraturan. Kedua tangannya mencengkeram erat bed cover yang melapisi kasur berukuran besar itu. Dia mulai terlihat gelisah.
"Kalau begitu apa yang harus kulakukan agar dapat membuatmu tenang?" Adriano berpindah ke hadapan Mia. Dengan setengah berlutut, dia memberanikan diri menggenggam jemari lentik berkulit kuning langsat itu. "Aku ingin kau segera terbebas dari gangguan kecemasan yang selama ini selalu mengusikmu. Aku ingin kau bisa hidup dengan normal lagi, Mia. Hidup nyaman dan lepas, tanpa merasa takut ataupun terbebani oleh apapun," Adriano menggenggam jemari Mia dengan semakin erat.
"Tetaplah berada di sampingku, dan aku pasti akan membantumu. Aku akan melakukan apapun untuk bisa membuatmu bahagia, memberikanmu kehidupan kedua yang terasa jauh lebih baik dari sebelumnya," Adriano mengecup jemari Mia dengan dalam.
"Kenapa, Adriano? Kenapa kau selalu bersikap baik padaku?" tanya Mia lirih.
"Kau sudah mengetahui jawabannya, Mia. Kenapa kau masih harus bertanya tentang hal itu?"
"Apakah bukan karena sebuah rasa penasaran?" tukas Mia.
"Kau tahu jika ini akan terasa sulit. Aku yakin kau pasti mampu untuk menemukan dalang dari kematian Matteo, tapi ini mungkin akan sangat membuang waktumu. Siapa yang harus kau cari, di mana, dan dengan cara seperti apa? Sementara kau juga harus memikirkan keselamatanmu," ujar Mia terdengar pesimis.
Namun, sikap pesimis Mia justru membuat Adriano tersenyum. "Apakah itu artinya kau mulai mengkhawatirkanku, Mia?" pancingnya.
Mia tak segera menjawab. Dia memilih untuk beranjak dan melangkah ke dekat jendela. "Kau pikir, dirimu memiliki berapa nyawa? Jangan hanya karena kau mempunyai tato bergambar macan hitam di punggungmu, itu tak lantas membuat dirimu akan kebal dari kematian," ucap Mia tanpa menoleh. Pandangannya saat itu tertuju ke luar jendela.
__ADS_1
"Lalu apa yang kau inginkan, Mia? Kau berharap aku mundur sehingga dirimu memiliki alasan untuk menghindariku? Sebegitu besarnya rasa cintamu terhadap Matteo de Luca, sehingga kau menutup pintu hati untuk cinta yang lain," Adriano tersenyum getir. "Kau benar-benar harus menjernihkan pikiranmu, Mia!" tegasnya. "Kau membutuhkan penyegaran. Bersiaplah. Kita akan berangkat besok pagi," selesai berkata demikian, Adriano berlalu menuju pintu.
"Memangnya kita akan ke mana?" tanya Mia setengah berseru, karena Adriano saat itu sudah berada di luar kamar.
Mendengar pertanyaan Mia, pria itu tertegun dan menoleh. Dengan tenang dan diiringi senyuman menawan khas dirinya, pria dengan postur 187 cm tersebut menjawab, "Berbulan madu." Setelah itu, dia melanjutkan langkahnya dan meninggalkan Mia sendirian di dalam kamar. Adriano menuruni setiap undakan anak tangga dengan tenang. Saat itu, dirinya berpapasan dengan Pierre.
"Aku pikir Anda belum pulang, Tuan," sapanya.
"Apa kau akan ikut denganku besok?" tanya Adriano.
"Ke mana?" Pierre balik bertanya.
"Berlibur," jawab pria bermata biru itu seraya duduk di sofa. "Aku akan mengajak Mia ke Malibu."
🍒
🍒
🍒
__ADS_1
Sebelum berlibur ke Malibu, sebaiknya kita mampir dulu yuk ke novel keren di bawah ini.