
Setengah berlari, Arsen mengikuti langkah cepat Olivia yang sedang menuju kamarnya. Saat wanita muda itu akan menutup pintu, tangan Arsen bergerak cepat mencengkeram ujung daun pintu tersebut. “Ayolah, Olive,” pintanya dengan nada memelas. “Kau sudah menjadi istriku sekarang. Suka atau tidak, tapi itu adalah kenyataannya,” sebuah seringai kecil muncul di wajah tampan pria asal Yunani tersebut.
“Aku menerimanya hanya karena terpaksa,” elak Olivia. Raut ketakutan dan tidak nyaman, masih terlihat jelas di wajah cantiknya.
“Apapun alasanmu, yang pasti pendeta sudah mengesahkan pernikahan kita berdua. Tolong bekerja samalah, karena banyak hal yang kukorbankan demi melepas masa lajangku yang mendadak ini,” balas Arsen. Dia mendorong pintu yang ditahan oleh Olivia dan merangsek masuk.
"Itu semua karena ulahmu sendiri, Tuan," tegas Olivia seraya bergerak mundur ketika Arsen telah berhasil masuk ke kamarnya.
Arsen mengempaskan napas panjang, kemudian berdecak tak percaya dengan hidupnya kini. “Dengar Olive. Aku tahu dan sudah menyadari kesalahan fatal itu, tapi semuanya telah terjadi. Aku tak harus mengeluhkan karena telah kehilangan kebebasan. Jadi, tolong beri aku kesempatan sekali saja. Akan kubuktikan padamu bahwa diriku serius dan benar-benar menyesal serta akan berusaha menjadi suami yang baik bagimu. Aku tidak ingin bermain-main dengan yang namanya pernikahan. Karena itulah, diriku hingga beberapa jam lalu tidak pernah memikirkan hal tersebut. Namun, lihat apa yang terjadi saat ini. Tiba-tiba statusku sudah berubah,” tegas dan dalam nada bicara Arsen, membuat dada Olivia berdesir lembut.
Satu sisi hati Olivia berdenyut pelan dan terbuai akan manis tutur kata Arsen. Wanita muda itu mengempaskan napas pelan. Diam-diam dia merutuki diri sendiri yang dengan mudahnya luluh oleh kata-kata si petualang cinta tersebut. “Baiklah," jawab Olivia pelan. "Sekarang, kembali ke kamarmu, Tuan. Aku akan segera berkemas,” ucap Olivia pada akhirnya, meskipun dirinya masih menyembunyikan wajah dari pria yang kini telah menjadi suaminya.
Tak terkira, betapa lega perasaan Arsen saat mendengar jawaban itu. “Terima kasih, Olive,” dia maju dan berniat hendak mencium kening wanita yang baru dinikahinya. Akan tetapi, Olivia memilih untuk mundur seraya membalikkan badan hingga membelakangi Arsen.
“Tidak, jangan! Tolong jangan dekati aku. Aku belum siap,” kilah Olivia lirih dengan napasnya yang terdengar tak beraturan.
“Baiklah, aku bisa memahaminya,” tampaklah sorot kecewa dari mata Arsen. Tak ada lagi yang dia lakukan, selain pergi dari kamar Olivia. Sementara, wanita muda itu hanya tercenung dan membeku sejenak. Sesaat kemudian, dirinya kembali tersadar dan mulai mengemasi barang-barangnya. Setelah itu, Olivia lalu merebahkan tubuh di atas kasur, hingga tanpa terasa pagi pun datang menjelang. Suasana mansion kembali sibuk dengan hiruk pikuk pelayan dengan aktivitas mereka masing-masing. Begitu juga dengan Miabella yang saat itu tampak antusias menggandeng Olivia hingga ke halaman depan mansion. Di sana, telah menunggu mobil yang akan mengantarkan Arsen dan Olivia ke bandara di kota Nice, Perancis dengan waktu tempuh sekitar dua puluh menit saja.
Sementara itu, beberapa pelayan tampak memasukkan barang-barang milik Arsen dan Olivia ke dalam bagasi. Dari kejauhan, terlihat Arsen berjalan gagah bersama Adriano sambil membahas tentang tugas apa saja yang harus dia laksanakan selama berada Inggris.
“Jangan ragu untuk menghubungiku jika kau mendapatkan kendala dalam bentuk apapun,” ujar Adriano seraya menepuk punggung Arsen.
“Tentu saja. Baru kali ini aku mewakili seorang pengusaha dalam sebuah proyek besar. Kuharap keuntungan yang diberikan untukku juga sama besarnya,” balas Arsen, yang terdengar seperti sebuah sindiran halus.
“Jangan khawatir. Kau tahu aku tak pernah pelit dalam hal itu,” balas Adriano. Senyum pria bermata biru itu terkembang, ketika ekor matanya melihat Miabella yang tengah berjalan sambil melompat-lompat kecil di dekat Olivia.
__ADS_1
“Syukurlah," sahut Arsen lega. "Saat ini aku membutuhkan lebih banyak uang dari sebelumnya,” ucap pria itu lagi, yang segera terdiam setelah menyadari kesalahannya dalam berbicara. Namun, tetap saja terlambat, karena Adriano sudah memandang curiga padanya.
“Untuk apa?” selidik pria bermata biru itu.
Akan tetapi, Arsen tak segera menjawab. Dia malah tertawa pelan seraya melangkah cepat meninggalkan Adriano. Pria asal Yunani itu bergegas mendekati Olivia dan mengajaknya masuk ke mobil yang akan dia kendarai sendiri.
“Principessa,” sapa Adriano. Dia menarik lembut tubuh mungil Miabella, ketika mobil yang berada di depannya, mulai melaju perlahan.
“Sampai jumpa, Zia,” seru Miabella dengan suara cadelnya. Dirinya kini sudah berada dalam gendongan Adriano. “Sebenarnya aku ingin ikut, Daddy Zio,” ucap Miabella lagi dengan manja, ketika Adriano membawanya masuk ke dalam mansion.
“Nanti kita susul bersama-sama dengan ibumu juga, ya,” Adriano mencium pipi gembul Miabella berkali-kali.
“Omong-omong, di mana ibumu?” tanya Adriano seraya mengedarkan pandangannya.
“Ibu sedang membuat kue yang istimewa untukmu, Daddy Zio,” jawab Miabella sembari melingkarkan tangan mungilnya di leher Adriano. Dia menatap ayah sambungnya tersebut, kemudian mencium pipi pria itu dengan lembut. Adriano tersenyum lebar, saat mendapat perlakuan seperti itu dari gadis kecil kesayangannya.
“Astaga! Dari mana saja kau?” tegur Adriano, yang merasa heran, pasalnya Valerie jarang sekali ada di mansion.
“Seperti biasanya, aku berkeliling Eropa. Kau tahu apa yang kutemukan selama perjalananku?” ujar Valerie dengan nada menggebu-gebu.
“Apa?” Adriano mengangkat salah satu alis, sedangkan Miabella menyembunyikan wajahnya di leher sang ayah sambung.
“Gerakan Tangan Setan sudah merambah ke Rusia,” Valerie menyeringai lebar, seolah bangga dengan berita yang baru saja disampaikan olehnya.
......................
__ADS_1
Sementara itu pada pagi yang sama di Italia, Coco sudah memulai aktivitasnya di sekitar perkebunan. Bersama Emiliano, dia menghitung hasil panen anggur yang dibawa oleh truk pengangkut menuju pabrik.
Setelah dari Inggris, Coco langsung bertolak ke Casa de Luca. Ada banyak tanggung jawab yang harus dia emban di tempat itu, apalagi ketika mendengar kabar bahwa Damiano sedang dalam kondisi yang kurang baik. Pria tua itu kelelahan akibat terlalu memforsir tenaganya di perkebunan. Akhirnya, mau tak mau Coco harus ikut turun tangan dalam mengurusi perkebunan.
“Ponselmu berbunyi, Nak," ucap Emiliano saat mendengar nada dering panggil yang jelas bukan miliknya.
Coco yang saat itu tengah serius mencatat perhitungannya, beralih pada benda pipih di saku celana. Dia segera menjawab panggilan telepon itu, saat melihat nama Marco tertera di layar ponsel.
“Ada apa?” tanya Coco tanpa basa-basi.
“Kita harus bertemu. Lusa, detektif Ranieri kembali dari Inggris dan akan langsung menuju Casa de Luca. Sebelum itu, aku akan datang terlebih dulu,” jawab Marco dari seberang sana.
“Memangnya kenapa? Nada bicaramu terdengar serius sekali,” ucap Coco dengan ekor mata yang sesekali melirik ke arah Emiliano.
“Kita akan membicarakan kejadian yang menimpa Adriano selama di Inggris dan juga ....” Marco menggantung kalimatnya.
“Dan juga apa?” tanya Coco tak sabar.
“Dan juga tentang Tangan Setan. Detektif itu mengatakan bahwa dia mulai menemukan titik terang,” lanjut Marco kemudian.
“Hm,” hanya itu yang Coco katakan sebelum menutup teleponnya. Dia tak ingin bicara lebih banyak lagi, mengingat ada Emiliano di dekatnya. Coco masih belum dapat memastikan seperti apa karakter pria yang merupakan ayah kandung Adriano tersebut. Namun, meskipun begitu dia belum dapat menilai baik buruknya pria yang sepertinya sebaya dengan Damiano. Dia tak dapat memutuskan apakah Emiliano dapat dipercaya atau tidak.
“Signore, kutinggal dulu sebentar. Aku akan melihat keadaan Damiano,” pamitnya.
Emiliano mengangguk. Pria paruh baya itu mempersilakannya. "Biar aku yang melanjutkan pekerjaanmu."
__ADS_1
Setelah mendengar jawaban dari Emiliano, Coco segera berlalu dari sana. Terlebih saat itu ada panggilan masuk dari Francesca.