Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
A Letter


__ADS_3

"Ada apa, Damiano?" tanya Adriano saat menjawab panggilan dari pria tua itu.


"Kapan kalian akan kembali, Nak? Maksudku kau dan Mia," ralat Damiano.


"Ada apa? Apakah Miabella rewel?" tanya Adriano lagi. Pikirannya langsung tertuju pada putri sambung kesayangannya.


"Tidak, bukan itu. Bella sedang bermain dengan kedua putra Marco. Aku hanya ingin memberitahukan bahwa ada kiriman untukmu. Aku takut jika itu sesuatu yang penting dan mendesak," terang Damiano.


"Oh, baiklah. Lagi pula, aku dan Mia memang berencana untuk pulang dulu. Kami belum mandi dan berganti pakaian," ujar Adriano. Setelah berbasa-basi sebentar, dia pun menutup sambungan teleponnya bersama Damiano. Pria bermata biru itu kemudian masuk kembali ke ruang perawatan.


Di dalam sana, tampak Francesca yang sedang duduk di sebelah tempat tidur. Dia dengan setia menemani Coco sejak masuk ke rumah sakit itu. Francesca masih terlihat murung. Dia begitu terenyuh melihat wajah damai sang calon suami yang tertidur pulas di atas ranjang kamar perawatan. Beberapa jam yang lalu, dokter sudah melakukan observasi menyeluruh terhadap Coco. Beruntungnya karena luka bekas operasi usus yang pernah dia jalani tak ikut terkoyak, sehingga Coco dapat dipindahkan ke ruang perawatan biasa.


“Apa kau ingin kubawakan sesuatu, Francy? Aku dan Adriano akan pulang dulu ke Casa de Luca,” tanya Mia lembut seraya menyentuh lembut bahu adik tirinya.


“Tolong bawakan saja pakaian ganti untukku, Mia,” jawab Francesca pelan dengan seutas senyuman yang terkesan dia paksakan.


“Baiklah. Kau tunggulah dulu di sini,” pesan Mia yang ditanggapi Francesca hanya dengan sebuah anggukan pelan. Dia menatap kakak tirinya itu sampai menghilang di balik pintu bersama Adriano, lalu berbalik dan kembali memperhatikan Coco dengan lekat.


“Francy ... Francy ....” Terdengar suara gumaman pria berambut ikal itu dengan terbata-bata. Sepertinya dia tengah mengigau. “Jangan menjauh dariku, Francy,” pintanya lemah dengan mata yang masih tetap terpejam.


“Aku di sini, Ricci,” ucap Francesca segera menyambut tangan Coco yang terangkat dan meraba udara. Digenggamnya telapak tangan yang terlihat besar dan terasa kasar itu. Otot-ototnya tampak menonjol di bawah kulit tangan Coco, ditambah beberapa luka lecet yang telah mengering. “Apa yang sebenarnya kau lakukan di luar sana, Ricci?” tanya Francesca dengan setengah. “Kenapa kau tak jujur padaku?” sesalnya dengan lirih.


“Francy,” sebut Coco lagi seraya membuka matanya perlahan. Mata coklat pria itu menatap sayu kepada calon istrinya. “Maafkan aku.”


“Kau bisa menceritakan semuanya kepadaku, tapi kau memilih untuk berbohong,” ujar Francesca. Setetes air mata jatuh di pipi mulusnya.


“Karena aku tahu kau tak akan mengizinkanku pergi,” kilah Coco.


“Lalu, kenapa kau tetap memaksa?” sesal Francesca.


“Demi Theo, Francy. Demi keadilan untuknya. Aku tak akan berhenti mencari pelaku yang telah merenggut kehidupan Theo,” tutur Coco lemah.


“Meskipun hal itu membahayakan nyawamu?” protes Francesca.

__ADS_1


“Ya, Francy. Karena bagiku rasanya tak adil jika aku melanjutkan hidup dalam tawa, sementara pelaku pembunuhan Theo masih berkeliaran dengan bebas,” sahut Coco lagi.


“Entahlah,” Francesca menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. “Aku sungguh tak sanggup melihatmu terluka. Aku hanya berharap bisa hidup tenang bersamamu. Itu saja,” ucapnya seraya menundukkan wajah. "Kau terus saja memikirkan Matteo yang tak akan kembali. Dia tak akan menangis dan terluka seandainya kau mati dengan sia-sia. Sementara diriku tidak kau pikirkan sama sekali," ucap Francesca saking kecewanya dengan sikap Coco.


“Oh, Francy.” Coco melepaskan jemarinya dari genggaman Francesca, lalu menyentuh dagu kekasih yang teramat dia cintai. “Aku berjanji, ini adalah yang terakhir kali,” ujar Coco seraya mengangkat wajah cantik calon istrinya.


“Lalu, bagaimana dengan pernikahan kita yang tinggal dua minggu lagi jika kondisimu masih begini?” keluh Francesca lagi.


“Jangan khawatir, Sayang. Ini bukanlah luka berat. Dalam beberapa hari, aku pasti sudah pulih dan bisa menggendongmu ke sana kemari,” gurau Coco.


“Ah, jangan bercanda. Aku masih marah padamu. Apalagi kalau aku membayangkan saat kau berciuman dengan si rambut merah itu,” gerutu Francesca pelan.


“Astaga, Sayang. Itu sama sekali tidak seperti yang kau pikirkan,” sanggah Coco. “Seandainya kau tahu situasi yang sebenarnya. Saat itu, Monique tengah meregang nyawa karena menyelamatkanku dari terjangan peluru. Di saat sekaratnya, dia ingin aku menciumnya sebagai balasan. Aku tak bisa menolak karena aku berutang nyawa terhadapnya,” jelas Coco lagi.


“Tetap saja kalian berciuman,” sungut Francesca seraya memalingkan muka.


“Kau memang sangat menggemaskan saat cemburu begini,” tanpa aba-aba, Coco menarik tangan Francesca hingga tubuh ramping itu mendekat padanya.


“Hei, Ricci! Apa yang kau lakukan. Ingat dengan luka-lukamu yang baru saja ....” Kalimat Francesca terhenti seiring dengan Coco yang mencium dan melu•mat bibirnya tanpa permisi. Sebuah ciuman panas yang penuh gairah dan mampu meluruhkan segala kekhawatiran serta ketakutan Francesca.


“Aku sedang tak ingin berbicara denganmu, Adriano,” dengus Mia kesal.


“Tolonglah, Sayang. Maafkan aku. Aku tahu bahwa diriku memang salah. Akan tetapi, aku keberatan jika kau menghukum dengan cara mendiamkanku seperti ini,” rayu Adriano lagi dengan tenang.


“Aku hanya tidak habis pikir dengan kalian. Di saat seperti ini, kalian masih saja menantang bahaya. Padahal dua minggu lagi kita akan mengadakan acara pernikahan Francy dan Ricci,” omel Mia jengkel.


“Semua akan berjalan lancar dan baik-baik saja, Sayang. Percayalah padaku,” ucap Adriano kembali menggoda istrinya dengan mengedipkan sebelah mata.


“Kau sangat menyebalkan, Adriano. Apakah di sana kau juga berciuman dengan wanita lain?” Sebuah pertanyaan yang sontak membuat Adriano terbahak.


“Aku tidak perlu menjawab pertanyaan yang sudah kau ketahui jawabannya,” ujar Adriano sambil mengusap lembut paha wanita di sebelahnya.


Rasanya ingin sekali Mia menolak sentuhan Adriano, tapi dia tak sanggup melakukan itu. Pria bermata biru tersebut selalu bisa membuatnya luluh, meski hanya lewat tatapan saja. Pada akhirnya, Mia tak lagi banyak bicara sampai jeep peninggalan Matteo itu tiba di depan halaman luas Casa de Luca.

__ADS_1


Di teras rumah, tampak Miabella yang tengah asyik bermain dengan Romeo dan Tobia. Gadis kecil itu segera menghentikan kegiatannya ketika melihat Adriano turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Mia. “Daddy Zio!” seru balita cantik itu yang segera menghambur ke dalam pelukan Adriano. Pria itu sudah siap dalam posisi setengah berjongkok menyambut putri sambungnya. “Kami baru saja selesai memancing,” celotehnya dengan kedua tangan melingkar di leher Adriano. “Ibu, aku mendapatkan ikan besar. Aku mau ibu memasaknya untuk makan siang kami,” Miabella mengalihkan perhatiannya pada Mia yang berjalan di samping Adriano.


“Memangnya ikan apa yang kau dapatkan, Sayang?” Mia tersenyum geli mendengar celotehan putrinya itu.


“Nanti biar kakek yang menunjukkan. Sekarang aku ingin membantu ibu memasak,” celoteh Miabella lagi dengan nada bicara yang lucu dan menggemaskan.


“Turunkan aku, Daddy Zio,” pintanya.


Adriano pun segera menuruti permintaan putri sambungnya itu. “Kita tidak bisa lama-lama, Sayang. Setelah makan siang, kau dan aku harus kembali ke rumah sakit,” ujarnya mengingatkan Mia.


“Baiklah. Aku akan memasak sebentar untuk Bella,” pamit Mia. Pasangan suami istri itu berpisah arah. Mia menuju ke dapur, sedangkan Adriano menyapa Damiano yang kebetulan melintas di sana. Pria paruh baya itu langsung berhenti ketika melihat sosok Adriano yang berjalan ke arahnya.


“Ah, kebetulan sekali, Nak. Tadi pagi Gianna dan Juan Pablo berkunjung kemari,” ujar Damiano seraya berjalan menghampiri.


“Gianna? Tumben sekali dia datang kemari? Ada apa?” tanya Adriano.


"Apa kau tahu bahwa tuan Moriarty sedang sakit? Gianna ingin agar kau menjenguknya sebentar saja," jelas Damiano. "Sebentar, Nak," pesan pria itu lagi seraya menepuk pundak Adriano. Dia lalu berjalan ke perapian yang menempel menjadi satu dengan dinding ruang tengah. Di atas perapian tersebut terdapat rak yang terbuat dari batuan pualam. Rak itu tersusun sedemikian rupa sehingga tampak sangat artistik. Di atas rak itulah Damiano meletakkan amplop coklat yang dikirimkan oleh seseorang. “Kau mendapat kiriman surat,” ujar Damiano sambil meraih amplop tersebut, lalu memberikannya kepada Adriano.


“Surat? Dari siapa?” Adriano menerima amplop itu sembari mengernyitkan kening.


“Aku juga tidak tahu. Penjaga gerbang yang tadi membawa surat ini kemari. Bukalah, siapa tahu isinya penting," saran Damiano.


Sepertinya di sana ada nama pengirimnya,” ucap pria itu lagi.


“Baiklah,” Adriano lalu berjalan ke sofa ruang tengah, kemudian duduk di sana. Dengan cekatan, dia menyobek bagian samping amplop berukuran sedang itu, kemudian mengeluarkan isinya yang berupa selembar kertas bertuliskan tangan.


Hai, apa kabarmu, teman baikku? Kuharap kau tak menolak jika aku memintamu untuk bertemu denganku di Hotel Trevi, Monte Carlo. Besok malam pukul delapan tepat. Salam, Jacob.


“Hotel Trevi?” gumam Adriano.


“Ada apa, Nak?” tanya Damiano yang sedari tadi masih berdiri memperhatikan.


“Ah, tidak apa-apa, Damiano. Ini hanya undangan dari seorang teman lama,” jawab Adriano sambil berpikir dalam-dalam dan berusaha terlihat biasa saja.

__ADS_1



__ADS_2