Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Adriana Rosaria D’Angelo


__ADS_3

Kaki kecil Miabella melangkah ragu dan berhenti di depan sebuah pintu yang setengah terbuka. Sambil dituntun oleh Carlo, gadis kecil itu memasuki kamar perawatan yang berukuran luas, bahkan bisa digunakan oleh gadis kecil tadi untuk berlari-lari di dalamnya.


“Principessa,” sapa Adriano. Dia yang awalnya duduk di tepian ranjang, segera mendekat dan menggendong putri sambungnya tersebut. Adriano kemudian membawa Miabella ke dekat boks bayi yang terletak di sisi lain ranjang. “Lihatlah itu adikmu, Sayang. Dia secantik dirimu,” tunjuknya.


Miabella terdiam sejenak. Mata abu-abunya memperhatikan setiap detail sosok bayi mungil di dalam sana. “Dia menguap terus, Daddy Zio,” celotehnya yang seketika membuat Mia tertawa.


“Dia masih mengantuk, Sayang. Nanti jika sudah sedikit besar, kalian akan bisa bermain bersama,” ujar Mia dari atas ranjang.


“Apa kau menyukainya, Principessa?” tanya Adriano lirih.


Miabella mengangguk, lalu melingkarkan tangan di leher Adriano. “Aku ingin membawanya pulang, Daddy Zio,” bisik gadis kecil itu lirih, "bolehkah jika kugendong? Dia mirip dengan boneka yang sering kumainkan," celoteh gadis kecil itu lagi.


Adriano pun tertawa renyah saat mendengar hal itu. “Besok kita akan membawanya pulang bersama-sama ya, Sayang. Nanti kau bisa menemaninya bermain. Untuk sementara, kita biarkan dulu dia beristirahat. Apa kau ingin tidur di sini nanti malam bersama ibumu?” tanya Adriano lagi. Namun, Miabella tak segera menjawab. Dia menoleh pada Carlo yang masih berdiri di ambang pintu. Remaja itu tampak serba salah, antara langsung masuk ataukah menunggu.


“Astaga, aku sampai melupakan Carlo. Masuklah, Nak.” Mia melambaikan tangan sebagai isyarat agar pria muda itu mendekat. “Apakah kau kerepotan menjaga putriku?” tanyanya.


“Tidak sama sekali, Nyonya. Nona Miabella sangatlah manis dan pintar,” jawab Carlo cepat. Senyuman khasnya pun terlukis dengan jelas saat itu.


“Syukurlah,” balas Adriano. Dia lalu menurunkan Miabella dan membiarkan balita cantik itu terus mengamati adik bayinya.


“Siapakah nama adikku, Daddy Zio?” Miabella bertanya tanpa mengalihkan pandangan sama sekali dari boks bayi tadi.


“Hm." Adriano menoleh pada Mia, seakan meminta jawaban untuk pertanyaan putrinya.


Sedangkan Mia sendiri hanya menggeleng seraya tersenyum. “Akan ibu umumkan nanti setelah kita tiba di mansion,” sahutnya.


“Baiklah.” Miabella tertunduk lesu dengan dua tangan memegang ujung boks dan menumpukan dagu di sana.

__ADS_1


“Bayi Anda juga terlihat sangat cantik dan sehat, Nyonya. Kulihat wajahnya sedikit banyak mirip dengan Tuan D’Angelo,” puji Carlo yang telah berdiri di samping Miabella. “Betul ‘kan, Nona?” tanyanya pada Miabella. “Nona?” panggil Carlo ketika balita cantik itu tak menghiraukan perkataannya. Pemuda itu sedikit heran saat melihat rona murung di wajah Miabella.


“Apa kau baik-baik saja, Sayang? Apa kau sakit?” Adriano menurunkan badannya agar sejajar dengan tinggi Miabella. Mata biru pria itu menatap lekat dan lembut pada sang putri.


Miabella menggeleng. Bibirnya melengkung, menandakan bahwa sebentar lagi dia akan menangis. “Hei. Kau kenapa, Principessa?” Adriano menangkup wajah lucu bak boneka hidup itu dengan kedua tangannya. Mia sendiri juga terlihat khawatir melihat buah hatinya yang mendadak murung.


“Aku takut, Daddy Zio,” ujar Miabella lirih.


“Apa yang kau takutkan, Sayangku?” Adriano mengangkat tubuh Miabella dan mendudukkannya di sebelah sang ibu.


“Aku takut jika kau tidak menyayangiku lagi karena dia.” Telunjuk Miabella mengarah lurus ke arah adik bayinya yang tengah tertidur pulas.


“Astaga.” Adriano tergelak, kemudian mencubit gemas pipi gembul Miabella. “Kau sangat lucu, Sayang. Mana bisa aku berhenti menyayangimu? Itu adalah hal yang sangat tidak mungkin,” jelasnya seraya kembali mencium pucuk kepala Miabella.


“Lihat aku, Principessa.” Adriano mengangkat dagu gadis kecil itu, kemudian menarik telapak tangan berjemari mungil sang putri. Dia lalu menempelkan tangan kecil itu di dada sebelah kirinya. “Hati ini sudah kau genggam sejak pertama kali kita bertemu lima tahun yang lalu. Meskipun setelah pertemuan pertama itu kita saling menjauh, ternyata hatiku dan hatimu saling bertaut, Bella. Buktinya, kau segera memelukku dengan hangat saat kita bertemu untuk kedua kalinya. Saat itu, kau seolah telah mengenalku sejak lama,” lanjutnya.


“Kau tak perlu takut, Bella. Setiap kali kau bersedih, ingat bahwa dirimulah yang lebih dulu mendapatkan curahan kasih sayang dari kami,” sambung Mia seraya merentangkan tangannya. Miabella pun menyambut sikap hangat sang ibu dengan segera menghambur ke pelukan wanita cantik itu.


“Aku juga akan menyayangi adikku, meskipun aku belum tahu siapa namanya,” celoteh Miabella yang sontak membuat semua orang di ruangan itu tertawa.


“Aku berjanji akan mengumumkan namanya saat kita pulang ke rumah nanti," ucap Mia.


Janji ibu dua anak itu terbukti ketika dirinya pulang dari rumah sakit dua hari kemudian.


Tak disangka, Daniella rupanya telah membuat pesta kejutan untuk menyambut kehadiran bayi mungil, putri pertama Adriano D’Angelo. Ketika mobil Adriano tiba di halaman mansion, tampak Francesca yang ikut menyambut, kemudian mengarahkan pasangan suami istri itu ke kamar yang terletak di dekat ruang tamu.


Kamar tersebut sudah disulap menjadi ruangan indah khusus bayi dengan segala pernak-perniknya. Di sana juga ada boks bayi yang terlihat manis dan terlihat sangat unik. Hati-hati, Mia meletakkan bayinya di dalam boks tersebut.

__ADS_1


“Biarkan tamu-tamu khusus saja yang bisa melihat bayi cantik ini secara langsung. Untuk tamu lainnya, mereka dapat melihat melalui monitor.” Telunjuk Francesca mengarah pada kamera CCTV yang langsung tersambung dengan layar monitor di ruang tamu.


“Ya, ampun. Siapa yang sudah bersusah payah mendesain ini semua?” Mia berdecak kagum seraya mengedarkan pandangan ke setia sudut kamar.


“Untuk hal-hal teknis, kuserahkan semuanya pada Ricci. Kau tahu ‘kan jika dia sangat berbakat dalam hal teknologi,” ujar Francesca dengan bangga. “Sedangkan untuk dekorasi dan semuanya, aku beserta Dani yang banyak berperan,” lanjutnya.


“Luar biasa. Aku sangat menyukainya. Lalu, di mana semua orang?” tanya Adriano.


“Sebentar lagi mereka akan masuk kemari satu per satu. Kalian tahu sendiri bukan bahwa bayi baru lahir harus tetap higienis dan tidak boleh bertemu dengan banyak orang sekaligus?” jelas Francesca. Adik tiri Mia itu lalu berjalan ke arah pintu dan membukanya.


“Kupersilakan bagi tamu pertama yang menjenguk putri dari tuan D’Angelo,” ujar Francesca setengah bercanda. Dia memberikan jalan bagi suaminya sendiri, yaitu Coco, untuk masuk pertama kali.


Setelah itu, giliran Damiano yang menjenguk. Pria tua itu tampak sangat terharu atas kelahiran bayi tersebut. Berkali-kali dia mengusap air mata. Damiano berada di dalam ruangan itu cukup lama, sebelum keluar dan digantikan oleh Daniella beserta Marco yang membawa kedua putra mereka. Namun, suami istri itu tak bisa berlama-lama di dalam ruangan kamar, sebab Tobia sudah memberontak untuk turun. Bocah kecil itu berniat hendak menggoyang-goyangkan boks bayi.


Orang terakhir yang masuk ke dalam ruangan itu adalah Pierre. Pria berambut pirang tersebut juga tampak sangat berbahagia. Berkali-kali dia menepuk punggung sang mantan majikan.


Akhirnya, Adriano mengajak Mia dan Pierre untuk menyambut semua orang di ruang tamu mansion yang sangat luas itu.


Sesuai janjinya, mereka berdua akan mengumumkan nama bayi mereka yang baru berusia beberapa hari. Sembari menggendong Miabella, Adriano berdiri di tengah-tengah ruangan, sementara satu tangannya merengkuh pinggang Mia.


Adriano menatap satu per satu orang-orang yang hadir di sana. Kebahagiaan terpancar jelas dari sorot matanya. Rasa damai begitu menyelimuti hati sang ketua Tigre Nero.


“Terima kasih atas pesta kejutan dari kalian. Aku sungguh menyukai dan sangat menghargainya.” Pria rupawan itu mulai membuka suara di hadapan semua yang ada di sana.


“Tentu kalian sudah penasaran dengan nama anggota keluarga baru di mansion ini. Begitu pula aku dan Mia yang tak sabar untuk memperkenalkan putri kedua kami pada kalian. Mulai saat ini, bayi mungil itu akan menjadi penghuni baru mansion D’Angelo. Gadis kecil yang akan menjadi kebanggaan dan simbol kebahagiaan untuk semua, dan akan menjadi teman berbagi bagi ratu kecilku Miabella Conchetta." Adriano menoleh pada gadis kecil bermata abu-abu dalam gendongannya.


"Baiklah, kuperkenalkan kepada semuanya, Adriana Rosaria D’Angelo,” seru Adriano, diiringi oleh tepuk tangan yang menggema, mengiringi senyuman lebar pria tampan tersebut.

__ADS_1


__ADS_2