Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Poor Olivia


__ADS_3

Sementara itu, jauh di kota Birmingham pada sebuah rumah yang tidak terlalu mewah tapi terlihat sangat nyaman dan asri. Olivia mulai beradaptasi dan menjalani hari-hari di negara yang bukan merupakan kampung halamannya. Dia juga harus mulai membiasakan diri karena melihat wajah tampan Arsen hampir di setiap aktivitas.


Ya, Arsen hanya keluar saat dirinya pergi ke kawasan proyek. Semenjak menikah, pria itu mengurangi kegiatannya yang tidak terlalu berguna, termasuk mengunjungi club malam dan bersenang-senang dengan para wanita.


"Apa kau menyukai Inggris, Olive?" tanya pria berparas rupawan itu sambil menikmati makan malam yang telah Olivia siapkan untuknya.


"Ya," jawab Olivia singkat. Wanita muda yang telah melepas masa lajang dengan cara mendadak itu, hanya tertunduk pada piring di hadapannya.


"Setelah dari sini, aku akan membawamu ke Yunani. Negara itu sangat indah, kau pasti akan menyukainya," ujar Arsen yang seketika membuat Olivia mengangkat wajah dan menatapnya. Dia seakan ingin bertanya, tapi segera diurungkan niat tersebut. Olivia lebih memilih untuk kembali menundukkan wajah.


"Apa kita akan kembali ke Monaco?" tanyanya pelan.


"Ya, boleh. Namun, rumahku ada di Yunani. Kau juga harus berkenalan dengan orang tuaku," setelah berkata demikian, Arsen terdiam sejenak. Dia meletakkan peralatan makannya, kemudian menopang kening sesaat. "Astaga," keluh pria tiga puluh dua tahun itu, "orang tuaku pasti akan terkejut setengah mati, jika mengetahui bahwa aku sudah menikah dengan diam-diam," lanjutnya lagi.


"Aku tidak pernah memaksamu untuk menikahiku," ujar Olivia yang seakan menangkap maksud lain dari ucapan Arsen. Olivia menganggap bahwa kalimat bernada keluhan yang dilontarkan pria tersebut, merupakan sebuah penyesalan atas pernikahan yang memang tak seharusnya terjadi di antara mereka. "Kau bisa saja mengabaikanku, Tuan. Lagi pula, bukankah kau sudah terbiasa bermain dengan banyak wanita," celetuk Olivia dengan polosnya.

__ADS_1


"Ya, tapi bukan perawan sepertimu," bantah Arsen.


"Kenapa kau harus merasa bersalah karena aku masih perawan?" Olivia masih saja dengan pertanyaannya yang terkesan begitu lugu.


"Kau sudah tahu alasannya. Bukan hanya karena kau adalah seorang perawan, tapi karena ... karena kita melakukannya bukan atas dasar suka sama suka. Sedangkan aku ... aku tidak pernah seperti itu. Kau paham, Olive? Hal itu akan terasa jauh lebih indah, jika kita melakukannya atas dasar suka sama suka," jelas Arsen. Sepolos-polosnya Olivia, dia yakin bahwa wanita muda itu pasti sudah dapat memahami maksudnya.


"Kau sangat menjijikan!" umpat Olivia seraya beranjak dari duduknya. Dia meletakkan piring kotor bekas dirinya makan ke dalam bak cuci piring. Setelah itu, Olivia berlalu dengan begitu saja tanpa berkata apa-apa lagi. Sementara Arsen hanya berdecak tak percaya. Dia sendiri masih belum sepenuhnya yakin, bahwa kini dirinya telah menikah.


Suasana malam di sekitar komplek perumahan yang mereka tempati, terasa cukup sepi. Namun, Olivia menyukainya. Dia ingin menikmati angin malam sambil duduk di atas ayunan yang berada di halaman. Lamunan wanita muda itu mulai melayang jauh. Baru beberapa hari meninggalkan Monaco, tapi rasa rindunya kepada Miabella sudah kian terasa. Sepintas, bayangan paras tampan Adriano muncul dalam benaknya. Namun, dengan segera Olivia menyingkirkan wajah pria yang selama ini bahkan tak pernah menganggap dirinya ada, terlebih ketika dia teringat akan kebaikan Mia terhadapnya.


Bagi Arsen, Olivia memang terlihat sangat manis, meskipun sebenarnya dia lebih menyukai wanita yang sudah berpenglaman. Arsen bukan tipe seorang penyabar. Dia biasa melakukan segala sesuatu secara to the point. Namun, kini dirinya harus dihadapkan pada seseorang yang polos dan begitu lugu. Pria asal Yunani itu tersenyum kecil. Akan tetapi, senyumnya seketika memudar ketika tiba-tiba Olivia menoleh ke arahnya. Dengan cepat Arsen mengalihkan pandangan ke arah lain, sambil mengisap rokoknya dalam-dalam.


Merasa sedang diawasi, Olivia pun beranjak dari sana dan bergegas masuk ke rumah. Dia langsung menuju ke kamarnya dan memilih untuk tidur lebih awal. Sementara Arsen, kembali mengalihkan pandanganya ke halaman. Namun, saat itu dia tak lagi menemukan sosok Olivia di sana.


Keesokan harinya, Arsen kembali ke lokasi proyek. Setiap hari, dia memberikan laporannya kepada Adriano untuk segala perkembangan dari pembangunan kasino yang sedang berlangsung. Biasanya, Arsen bisa berada di lokasi proyek hingga lewat tengah hari. Karena itu, dia menempatkan sekitar dua orang pengawal untuk menjaga Olivia yang sendirian di rumah.

__ADS_1


Seperti halnya hari itu, wanita muda dua puluh empat tahun tersebut baru selesai menyiapkan menu makan siang, karena dia tahu jika Arsen akan segera pulang. Ketika dirinya tengah berkutat dengan segala aktivitas di dapur, seorang pengawal masuk dan menghampiri. Dia duduk pada salah satu kursi di meja makan. "Hey, Olivia! Buatkan aku kopi!" suruh pria bertubuh tinggi besar itu dengan seenaknya. Tak biasanya pengawal berani masuk ke rumah, karena mereka sudah memiliki bangunan khusus semacam gudang di sana.


Olivia terkejut. Namun, dia berusaha untuk tetap tenang. "I-iya, sebentar. Aku sedang mencuci wajan. Lagi pula, kenapa kau kemari? Bukankah kalian sudah disediakan tempat khusus oleh tuan Moras?" gugup, Olivia seakan protes terhadap pengawal tadi. Dari semenjak kejadian yang menimpanya tempo hari, Olivia menjadi sering merasa ketakutan sendiri jika berhadapan dengan seorang pria yang membuatnya merasa tak nyaman.


"Simpan dulu pekerjaanmu dan buatkan aku kopi sekarang juga!" pinta pengawal itu lagi dengan nada yang meninggi. "Sebaiknya kau tutup mulut. Kau bukan nyonya di rumah ini. Lihat saja jika sampai kau mengadu kepada tuan Moras!" ancamnya.


"I-iya, baiklah," Olivia menyeduh secangkir kopi untuk pria itu. Sementara si pengawal asyik memperhatikannya dari belakang dengan nakal. Padahal, penampilan Olivia tidak buka-bukaan dan terlihat sangat sederhana. Punggungnya pun selalu tertutup oleh rambut panjang berwarna hitam yang lurus dan juga tebal.


Pengawal tadi terus memperhatikannya dengan lekat. Sesaat kemudian, tampaklah sebuah seringai menakutkan dari wajah beringas pria itu. Dia beranjak dari duduknya, kemudian menyentuh pinggul Olivia dengan tanpa permisi, membuat Olivia yang sedang mengaduk kopi seketika terkejut. Dia pun berbalik. "Apa yang kau lakukan? Jangan macam-macam!" Olivia segera meraih penggorengan yang mengantung dan menjadikannya sebagai senjata, untuk menggertak pria tersebut agar tak lanjut berbuat lebih padanya.


Si pengawal terkekeh geli menanggapi gertakan dari wanita muda itu. Dia yang telah terbiasa memegang senjata, tentu saja tak akan takut saat menghadapi sebuah penggorengan. Secepat kilat, pria tadi merebut penggorengan yang Olivia pegang, sehingga wanita muda tersebut ikut tertarik olehnya. Olivia pun masuk ke dalam pelukan pengawal yang hendak berbuat mesum.


"Tidak! Lepaskan aku!" Olivia terus berontak. Dia berusaha meraih apapun yang dapat dijadikannya sebagai senjata untuk mempertahankan diri. Namun, tenaga pengawal itu sangatlah kuat. Dia menahan segala gerakan Olivia yang terus melawan.


"Lepaskan aku!" pekik Olivia. Entah ke mana pengawal lain yang seharusnya berjaga di teras, sehingga saat itu tak ada seorang pun yang mendengar teriakan Olivia.

__ADS_1


__ADS_2