
Adriano membuka pesan yang berupa foto sebuah rumah. Dia segera memperlihatkannya kepada Mia. “Bagaimana menurutmu?” tanyanya seraya melirik sang istri yang tengah fokus mengamati foto rumah tersebut. “Kita akan mengetahui detailnya nanti setelah di sana,” ucap Adriano lagi.
“Kelihatannya itu rumah yang nyaman,” sahut Mia membalas lirikan sang suami.
“Kelihatannya? Jadi? Apa akan kita ambil tawaran Don Vargas?” Adriano meyakinkan Mia. Keputusan untuk hal seperti itu, dia serahkan kepada istrinya.
“Terima saja. Tidak sopan juga jika kita menolak sesuatu yang sudah disiapkan oleh mereka. Kau harus membangun hubungan yang baik dengan semua rekan bisnismu, Adriano,” ucap Mia seraya menyentuh paras tampan suaminya.
“Itu pasti, Mia,” sahut Adriano. “Aku harap bisa menghabiskan lebih banyak waktu denganmu,” Adriano tampak berpikir sejenak, meskipun tatapannya terus tertuju kepada wanita cantik berambut cokelat itu. “Apakah perasaanmu sudah benar-benar berubah padaku, Mia?” tanyanya.
Mia tersenyum lembut. Kembali disentuhnya wajah Adriano. “Sudah beberapa kali aku memimpikan Matteo. Dia ingin agar diriku bisa melanjutkan hidup demi Miabella. Aku sudah menyadari hal itu dengan baik ....” Mia tersenyum nanar. “Oh, iya. Boleh aku bertanya sesuatu padamu?” wanita itu menatap lekat kepada Adriano.
“Tentang apa?”
“Bagaimana karakter asli dari Arsen Moras?”
Adriano menautkan alisnya. Dia merasa heran karena tiba-tiba Mia bertanya tentang Arsen. “Kenapa tiba-tiba kau bertanya tentang dia?” pria itu balik bertanya.
“Tidak apa-apa. Aku hanya berharap semoga saja dia adalah pria yang baik,” jawab Mia kembali menimbulkan tanda tanya di hati Adriano. Namun, belum sempat dia menanggapi ucapan Mia, dari monitor tampak seseorang yang tiada lain adalah Pierre. Pria itu tak berani langsung masuk, karena dirinya tahu jika tadi Mia berada di ruang kerja sang majikan. Adriano kemudian berjalan menuju pintu dan membukanya dari dalam. “Ada apa, Pierre?” tanyanya dengan raut wajah biasa saja. Namun, Pierre tidak segera menjawab. Dia melihat ke dalam ruangan, memastikan apakah Mia masih ada di sana atau tidak.
“Mia masih ada di dalam,” ucap Adriano, seakan tahu maksud dari bahasa tubuh sang ajudan. “Tidak apa-apa, katakan saja,” lanjutnya.
“Nona Alegra sudah datang. Namun, kita belum mempersiapkan kamar untuknya. Sekarang dia menunggu di ruang tamu,” lapor Pierre.
“Bukankah tadi kau bilang dia akan datang besok, Pierre? Lagi pula, memangnya di mana rumah nona Alegra, sampai-sampai dia harus menginap dulu di sini?” terdengar suara Mia menyela obrolan mereka berdua. Sesaat kemudian, wanita berambut cokelat itu muncul. Dia melirik Adriano untuk sejenak, lalu mengalihkan tatapannya kepada Pierre.
“Mungkin nona Alegra memajukan jadwalnya, Nyonya,” Pierre menggaruk keningnya salah tingkah.
“Aku akan menyuruh pelayan agar menyiapkan kamar untuknya,” tanpa bicara apa-apa lagi, Mia segera beranjak meninggalkan kedua pria itu diiringi tatapan aneh Adriano beserta Pierre.
“Bukankah tadi nyonya tidak ada masalah jika nona Alegra berangkat bersama Anda, Tuan?” tanya Pierre setengah bergumam, seakan pada dirinya sendiri.
__ADS_1
“Begitulah wanita, Pierre,” jawab Adriano mengempaskan napas pelan seraya menutup pintu ruang kerjanya. Dia melangkah gagah menuju ruang tamu. Sedangkan Pierre mengikutinya dari belakang.
Sesampainya di ruang tamu, Adriano melihat Bianca duduk dengan anggun seraya memainkan ponsel. Wanita cantik itu segera berdiri ketika dilihatnya sang pemilik mansion sudah ada di hadapannya. Saat itu Bianca memakai blazer putih sedikit ketat yang membalut rapi tubuh indahnya.
“Hei, Adriano. Kuharap kau tidak keberatan jika aku merepotkanmu beberapa hari ke depan,” ucap Bianca seraya menghampiri Adriano sambil mengecup pipi kiri dan kanannya dengan hangat.
“Apa kau juga akan mengikuti proyek Don Vargas?” tanya Adriano sembari mempersilakan Bianca duduk kembali.
“Dia memintaku agar mendampingimu, tapi entah untuk apa,” wanita cantik itu tertawa renyah dengan mata berbinar.
“Jadi, kau akan langsung menuju Birmingham?” tanya Adriano lagi.
“Awalnya aku hendak mengunjungi teman lama, tapi Don Vargas segera memintaku untuk langsung ke Birmingham,” jelas Bianca.
“Kalau begitu, nanti biar orang-orangku yang akan mengantarmu ke sana,” sahut Adriano, membuat Bianca mengernyitkan dahi.
“Bukankah kita akan berangkat bersama-sama?” tanyanya.
Akan tetapi, lain halnya Bianca yang menampakkan wajah tak suka. Dia sepertinya akan memprotes keputusan Adriano, tetapi Mia lebih dulu muncul di ruang tamu bersama seorang gadis muda berpakaian pelayan. Mia lalu duduk tepat di samping suaminya seraya menyilangkan kaki. “Kamar untuk nona Bianca sudah siap,” ujar Mia pada Adriano tanpa basa-basi. Istri dari ketua klan Tigre Nero itu memandang datar pada Bianca untuk beberapa saat lamanya.
“Mungkin nona Alegra berniat untuk istirahat lebih dulu setelah perjalanan jauh. Tidak mungkin ‘kan Anda terus berduaan dengan suamiku di sini,” sindir Mia.
Adriano menoleh kepada Mia dengan tatapan tak percaya. Akhir-akhir ini Mia selalu menunjukan kecemburuannya dengan sangat jelas. Tak terbayang betapa bahagia hati Adriano mengetahui hal itu.
“Aku tak pernah membahas sesuatu yang tak penting dengan suamimu, Nyonya D’Angelo. Semua perbincangan kami menghasilkan keputusan yang amat berharga bagi bisnis yang sedang kami jalankan bersama,” elak Bianca dengan gaya bicaranya yang sangat berkelas.
“Baiklah, Bianca. Kau dengar apa kata istriku. Dia sudah repot-repot menyiapkan kamar untukmu. Ada baiknya kau segera menuruti keinginannya,” Adriano mengedipkan sebelah mata sambil tersenyum lebar seraya menyentuh paha Mia. Adriano meletakan tangannya di sana untuk beberapa saat mere•masnya perlahan.
Bianca dapat melihat hal itu dengan jelas. Wanita cantik berwajah eksotis itu berusaha untuk bersikap biasa saja, meskipun dia merasa sedikit tidak nyaman. Namun, rasa kesal sudah mulai mengusik hatinya dan tak bisa dia terima begitu saja. “Astaga! Aku tidak bisa mempercayai ini,” Bianca mendengus kesal. Dia berdiri dan melipat kedua tangannya di dada. Terlihat jelas rautnya yang keberatan atas sikap Mia. “Tunjukkan padaku di mana kamarnya!” lanjutnya kemudian.
“Pelayanku akan mengantarmu,” Mia berdiri, lalu melenggang gemulai meninggalkan Adriano yang terpana akan sikapnya. Pria itu mengusap-usap dagunya untuk sesaat.
__ADS_1
“Istrimu benar-benar keterlaluan!” keluh Bianca pelan dengan setengah menggerutu kepada Adriano, yang saat itu hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman. Bianca pun tak mempunyai pilihan lain. Dia mengikuti Mia yang sudah berada beberapa langkah, serta seorang pelayan yang berjalan paling depan sambil menyeret koper mahal miliknya. Langkah wanita itu berhenti di depan sebuah kamar tamu yang paling luas di mansion tersebut.
Pelayan tadi segera membuka pintu kamar tersebut dan mempersilakan Bianca masuk. “Selamat beristirahat, Nona,” ucapnya sopan. Bianca sempat menoleh kepada Mia sebelum memasuki kamar dan menutup pintunya rapat-rapat.
Mia tersenyum lega sebelum kembali ke kamarnya. “Terima kasih, Louisa,” ucap wanita bermata cokelat itu pada pelayan tersebut. Baru saja beberapa langkah Mia berjalan, tampaklah Valerie yang setengah berlari ke arahnya. “Hai,” sapa gadis tomboy itu.
“Ada apa, Val?” tanya Mia ramah.
“Apa kau ada waktu? Aku ingin berbicara sebentar,” pinta Valerie.
“Tentu saja, kau ingin kita berbicara di mana?” tawar Mia.
“Di taman saja, bagaimana?” ajak Valerie.
“Tentu,” Mia melingkarkan tangan di lengan Valerie dan menggandengnya menuju taman.
“Kapan kalian akan berangkat ke Inggris?” Valerie memulai percakapannya.
“Besok,” jawab Mia. Dia mengarahkan Valerie ke salah satu bangku besi penuh dengan ukiran berwarna emas di sandarannya. “Kenapa?” Mia balik bertanya.
Valerie tak segera menjawab. Dia malah mengembuskan napas pelan. “Adriano ... musuhnya bertambah berkali lipat sejak dia ikut terlibat dalam penyelidikan terhadap kasus pembunuhan Matteo,” jelasnya. Keresahan tergambar jelas dalam sorot mata gadis bertato itu.
“Ya, aku tahu itu. Aku juga merasa sangat khawatir sekaligus bersalah. Seandainya dari awal aku ....” Mia tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Wanita itu malah mencondongkan badan dan menumpu siku, lalu menangkup wajahnya dengan kedua tangan.
“Sudahlah, Mia. Tidak apa-apa. Aku memberitahumu supaya kau bisa lebih waspada. Itu saja. Tidak ada maksud lain,” Valerie menepuk pelan punggung Mia.
“Sejak pertama kali aku bertemu dengan Adriano, aku selalu menyusahkannya. Aku bahkan sampai tega melukainya hingga membuat dia hampir mati. Aku terus berusaha untuk menebus semua rasa bersalah itu, meskipun tidak semudah yang kukira,” desah Mia penuh sesal.
“Kita semua tahu, kau tak bermaksud melakukan itu, Mia. Terkadang seseorang dihadapkan pada pilihan sulit yang membuatnya merasa terdesak, sehingga harus mengambil keputusan gila yang tak pernah dia pikirkan sebelumnya. Semua orang memiliki insting untuk membela diri demi mempertahankan sesuatu yang mereka cintai,” hibur Valerie. “Lupakan semua masa lalu pahit itu, Mia. Sudah saatnya kau melangkah ke depan. Lagi pula, kulihat Adriano menjadi seseorang yang jauh berbeda semenjak menikah denganmu. Dia menjadi lebih hidup dan jauh lebih bahagia. Dia menyimpan rahasia itu sendiri, bahkan Pierre pun tak mengetahuinya. Pria itu selalu mendesakku agar memberitahunya tentang siapa yang telah menembak dan membuat Adriano hampir mati. Namun, aku sudah bersumpah kepada kakakku. Apalagi, dia berhasil mendapatkanmu. Itu harapan terbesarnya sejak dulu, dan aku senang melihatnya,” tutur Valerie menenangkan Mia.
“Terima kasih banyak, Val. Aku merasa lebih baik sekarang,” Mia memeluk tubuh Valerie begitu saja, sampai gadis itu terkejut dan membeku. Geraknya kaku, tak tahu harus berbuat apa. Pada akhirnya, Valerie hanya mengusap pelan bahu Mia.
__ADS_1
Tanpa mereka berdua sadari, ada sepasang telinga lain yang ikut menguping pembicaraan mereka. Adalah Olivia yang tampak terkejut sambil menutup mulutnya yang terbuka. Tubuh ramping gadis berambut hitam itu bersembunyi di sudut salah satu lampu taman raksasa yang tegak berdiri tak jauh dari bangku tempat Mia dan Valerie berada. Olivia tak pernah menyangka bahwa Mia yang telah membuat Adriano berada di ambang kematian.