Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
A Beam of Memories


__ADS_3

Seberkas cahaya rembulan muncul di langit malam kota Brescia. Sinar teduhnya menemani suasana sunyi yang menyelimuti Casa de Luca. Bangunan megah itu kini terlihat semakin lengang, sebab hanya Damiano dan Coco yang menempatinya, bersama beberapa orang pelayan. Suasana sepi kian terasa, karena Miabella pun sudah dibawa pindah ke Monaco. Tak terdengar lagi suara tawa ceria gadis kecil yang biasa berlarian di sekeliling ruangan, dan membuat para pelayan sedikit kewalahan.


Damiano pun lebih banyak menghabiskan waktunya di perkebunan saat siang hari, dan langsung masuk kamar ketika malam tiba.


Begitu pula dengan Coco. Pria berambut ikal tersebut selalu menyibukan dirinya di bengkel. Namun, dia selalu memastikan untuk pulang tepat waktu. Coco sangat mengkhawatirkan keadaan Damiano yang sudah berusia lanjut. Dia tak pernah meninggalkan pria itu, meskipun mereka tidak terlalu sering bercengkerama. Karenanya, jika dia merindukan sang kekasih, maka Francesca lah yang akan datang berkunjung ke Brescia.


Malam itu, Coco berdiri sendiri dan termenung di dekat bukaan ruang tamu bangunan Casa de Luca. Tatapannya menerawang jauh, menembus beberapa tahun silam. Terbang melayang menembus langit dan membelah samudera, hingga tibalah dirinya pada sebuah kenangan bersama sahabat yang sudah dia anggap seperti saudara kandung, yaitu Matteo de Luca.


Ada banyak moment yang mereka berdua lewati bersama, bahkan mungkin terlalu banyak sehingga Coco merasa bingung dan tak tahu hal apa yang tak dia lewati dengan sahabat kentalnya tersebut.


Masih terbayang dalam ingatannya, ketika mereka tengah sama-sama menempuh jalur pendidikan di salah satu universitas ternama kota New York.


“Kau hendak ke mana lagi?” tanya Matteo dengan celana jeans sobek-sobeknya. Dia duduk pada salah satu sofa ruang tamu apartemen yang mereka berdua tempati. Pria bermata abu-abu itu rupanya sudah merasa nyaman dengan rambut gondrong sejak berusia remaja, hingga beranjak dewasa.


“Hari ini aku tidak ada jadwal balapan. Jadi, aku akan menonton salah seorang rekanku dari pinggir sirkuit. Apa kau tidak ingin ikut, Amico?” tawar Coco yang sudah tampil rapi dengan gaya andalannya.


“Tidak,” tolak Matteo dengan segera. “Kau yakin akan pergi?” tanyanya lagi meyakinkan Coco. Saat itu, Matteo tengah asyik bermain play station sambil menikmati sebungkus camilan yang dia letakan di atas meja.


“Ya. Itu jauh lebih baik daripada berduaan dengan seorang pria di dalam apartemen yang sama,” celoteh Coco sekenanya. “Lagi pula, tak lama setelah ini kita akan segera lulus dan kembali ke Italia. Rasanya berat sekali meninggalkan negara ini,” Coco yang tadinya hendak pergi, memilih untuk duduk sejenak pada salah satu sofa yang tak jauh dari Matteo.


Pria itu tampak serius pada layar televisi. Kedua tangannya terlihat cekatan dan begitu luwes menekan tombol-tombol yang ada pada stik PS dalam genggamannya.


“Gadis-gadis Italia tak kalah cantik. Kau tak akan kesepian di sana,” ujar Matteo tanpa menoleh kepada Coco.


“Ah, tidak. Ini bukan tentang gadis-gadis, Amico,” bantah Coco tampak risau. Dia lalu beringsut mendekat pada sahabatnya tersebut. Dilihatnya camilan yang sedang Matteo nikmati. Tanpa permisi, dia merogoh ke dalam bungkus makanan tersebut dan ikut menikmatinya. Sementara Matteo antara sadar dan tidak dengan tingkah Coco saat itu, karena dirinya terlalu fokus pada permainan yang sedang dia mainkan di layar televisi.

__ADS_1


“Kau tahu bukan jika karierku sedang bagus-bagusnya sekarang dalam dunia balap. Satu tahap lagi, aku bisa menembus kelas profesional. Apa menurutmu aku harus kembali ke Italia dalam waktu dekat?” Coco terdengar ragu. Sekali lagi dia merogoh ke dalam bungkus camilan yang ada di atas meja. Pria itu menikmatinya lagi dan lagi.


“Ya, lalu ayahku akan terus bertanya tentang dirimu. Luar biasa, hidupmu hanya untuk menyusahkanku saja!” dengus Matteo menoleh kepada Coco untuk sesaat.


Mendengar ucapan Matteo, bukannya tersinggung tapi Coco justru malah tergelak. Dia merasa senang jika sudah membuat sahabatnya itu menjadi kesal. Namun, tak berselang lama, Coco kemudian berdiri dan merapikan jaketnya. “Ya, sudah. Aku pergi dulu. Jika ada yang mencariku, katakan saja aku sedang tak enak badan dan tidak bisa diganggu,” pesannya sambil melenggang ke pintu. Dengan terburu-buru Coco meninggalkan Matteo yang saat itu tampak memasang raut jengkel, setelah menyadari bahwa camilannya telah habis.


“Kau benar-benar sialan!” seru Matteo kesal.


Sedangkan Coco hanya tertawa geli dari balik pintu. Tawa geli Coco saat itu, kini berubah menjadi sebuah senyuman penuh kegetiran. Tanpa terasa, setetes air mata jatuh di sudut bibirnya. Satu tahun telah berlalu semenjak kepergian Matteo. Akan tetapi, rasa sedih itu belum juga terobati.


“Kau belum tidur, Nak?” suara Damiano menyadarkan Coco dari semua lamunannya. Dengan segera, pria itu mengusap pipi dan sudut bibirnya, hingga tak terlihat lagi sisa-sisa kepedihan yang selama ini berusaha untuk dia tutup-tutupi.


Coco kemudian menoleh kepada Damiano yang saat itu sudah berdiri di sebelahnya.


“Kau juga belum tidur, Damiano?” dia balik bertanya.


“Mia belum menghubungimu lagi?" tanya Coco. Damiano menanggapinya dengan sebuah gelengan pelan. "Semoga D’Angelo selamanya bersikap baik terhadap Mia dan Miabella. Marco mengatakan padaku bahwa D'Angelo datang ke Istana de Luca di Palermo. Apa menurutmu dia serius untuk membantu Mia dalam mengungkap kasus kematian Theo?” Coco masih menatap pria yang telah menjadi sosok seorang ayah baginya.


Damiano mengempaskan napas pelan. “Aku memang tidak mengenal dekat Adriano D’Angelo. Akan tetapi, dalam pandangan mata tuaku ini ... sepertinya dia memiliki hati yang tulus. Semoga saja aku tidak salah mengira. Aku menyayangi Mia dan juga Miabella. Tentunya aku mengharapkan sesuatu yang terbaik untuk mereka. Mia masih muda. Dia berhak untuk melanjutkan hidup, meskipun kita tahu seberapa besar perasaannya terhadap Matteo,” Damiano menundukkan wajahnya sesaat. Keduanya pun saling terdiam, dengan tatapan menerawang pada cahaya rembulan yang sama.


Setelah beberapa saat terdiam, pada akhirnya terdengar suara helaan napas panjang Coco. “Aku sangat merindukannya, Damiano. Aku benar-benar merindukan Matteo ....” Coco memalingkan wajahnya dari Damiano. Dia tak ingin pria tua itu melihat air mata yang kembali menetes di pipinya. “Terakhir kali aku menangis adalah ketika orang tuaku tiada. Saat itu Matteo datang dan membawaku dalam kehidupan yang baru. Lalu, saat ini justru dia yang meninggalkanku,” lama-kelamaan isakan Coco terdengar juga dan tak dapat dia tahan lagi.


Terbayang olehnya ketika hari nahas itu. Dia yang langsung menuju rumah sakit, langsung disuguhi jasad sahabat tercintanya yang telah membeku dengan wajah pucat. Coco mengesampingkan segala rasa malu di hadapan semua orang. Dia hanya ingin memeluk sahabatnya tersebut lebih lama, meskipun Matteo tak lagi mampu untuk membalas pelukannya. Tak seperti dulu, ketika mereka sama-sama mendapat kebahagiaan dan merayakannya dengan sebuah tawa lebar dan pelukan hangat khas persahabatan.


Damiano menepuk punggung Coco pelan. Dia berusaha untuk memberi kekuatan pada pria iti, meskipun di dalam hatinya Damiano juga sama merasa hancur. “Roberto, Gabriela dan Matteo. Mereka adalah keluarga yang sempurna. Tidak di dunia, tidak juga di surga. Sekarang, mereka telah kembali bersama-sama, kembali berkumpul seperti dulu. Bagiku yang sudah tua ini, kematian terasa jauh lebih mudah daripada menjalani hidup seperti ini,” ujarnya dengan mata menerawang.

__ADS_1


“Apa yang harus kita lakukan, Damiano? Aku merasa seperti kehilangan arah,” tangis Coco terdengar semakin kencang. Pada akhirnya, Coco berbalik dan menyembunyikan wajahnya pada pundak Damiano.


Dengan penuh kasih, pria tua yang selalu bersikap bijaksana itu meraih kepala Coco dan mengusap-usap rambut ikalnya.


“Jangan, Nak. Bertahanlah. Tuhan masih memberikan kita nyawa sampai detik ini. Itu artinya, ada tugas yang harus kita emban dan selesaikan. Aku percaya, ada maksud di balik semua ini. Jangan jadikan kematian Theo menjadi sia-sia,” tutur Damiano seraya menahan tangisnya. Damiano segera mengusap setitik air mata sebelum terjatuh ke pipinya, meskipun ternyata tak mampu untuk dia hentikan.


Kesedihan itu harus terjeda saat ponsel Damiano berdering dengan cukup nyaring. Setengah bingung, dia menghapus air mata lalu menjawab panggilan telepon itu. Jarang sekali Damiano mendapat panggilan di tengah malam, jika bukan sesuatu yang teramat genting. Kebetulan juga, karena dia keluar kamar dengan mengantongi ponselnya di dalam saku celana.


Dada pria paruh baya itu seketika berdegup dengan cukup kencang, ketika melihat nama Marco tertera di layar. Rasa penasaran, membuatnya segera menyapa putra dari Antonio de Luca tersebut.


“Ada apa, Marco? Kenapa kau menghubungiku malam-malam begini? Apakah ada sesuatu yang terjadi?” tanya Damiano yang tak dapat menyembunyikan rasa khawatirnya. Akan tetapi, pria dengan rambut yang mulai memutih itu berusaha untuk tetap.terlihat tenang. Sementara Coco tengah sibuk menghapus air matanya. Dia juga harus segera dapat menguasai dirinya. Coco tak ingin jika Marco sampai mengetahui bahwa dia baru selesai menangisi kematian Matteo.


“Damiano, apakah Coco ada di sana? Aku ingin bicara dengannya. Ini tentang kasus Matteo,” terdengar suara Marco dari seberang sana.


Dengan segera, Damiano menyerahkan ponselnya kepada Coco. Pria itu pun menerimanya, meskipun sesekali dia terlihat sibuk mengusap air mata yang masih saja meleleh di pipi. “Ada apa, Marco? Apa kau juga menghubungi nomorku? Aku menaruh ponsel di kamar,” jelasnya tanpa diminta. Sesekali dia menarik napas cepat untuk sekadar menenangkan dirinya.


“Adriano tadi menghubungiku. Dia mengatakan agar kau segera bersiap-siap. Adriano D'Angelo, mengajak kita untuk bertemu. Secepatnya! Kau dan aku, kita akan pergi ke Monaco besok pagi!” jelas Marco tanpa jeda sama sekali.


🍒


🍒


🍒


Hai, readers. Satu lagi rekomendasi novel keren dari ceuceu. Jangan lupa untuk diintip juga ya.

__ADS_1



__ADS_2