Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Escapar


__ADS_3

"Sudahlah, jangan banyak bicara. Cepat serahkan flashdisk itu!" desak Jacob dengan wajah yang teramat serius.


"Harus kukatakan berapa kali padamu bahwa aku tidak mengambilnya!" tegas Juan Pablo jengkel.


"Ayolah, Herrera. Kau bisa membuat pertemuan kita menjadi jauh lebih cepat jika tidak bertele-tele seperti ini," Jacob kembali mendesak. "Aku berjanji tidak akan mengganggumu lagi setelah kau mengembalikan benda itu padaku."


"Aku tidak punya flashdisk yang kau maksud. Aku hanya punya ini!" Sekuat tenaga Juan Pablo menggerakkan tongkat besi yang dia arahkan kepada Jacob ke samping, pada tangan pria itu yang tengah menodongkan senjata. Jacob yang belum terlalu siaga pun cukup terkejut. Akibatnya, pistol yang dia todongkan langsung terlepas dari genggaman. Senjata api itu terjatuh di tengah-tengah. Jacob bermaksud untuk memungutnya lagi, tapi Juan Pablo lebih dulu menyerang pria berambut pirang tersebut dengan tongkat besi tadi.


Refleks, Jacob menahan tongkat besi yang diarahkan padanya menggunakan tangan kanan dengan kuat. Segera, dia menarik benda panjang itu memakai kedua tangan hingga Juan Pablo maju. Belum sempat sang Elang Rimba melakukan perlawanan, Jacob telah terlebih dulu menyarangkan tendangannya yang tepat mengenai dada pria asal Meksiko tersebut.


Juan Pablo kembali bergerak mundur. Hampir saja dia terjengkang, andai keseimbangan tubuhnya tak dapat dia kuasai dengan baik. Namun, tongkat besi yang tadi dia pegang kini telah berpindah tangan.


Jacob pun menyeringai seraya kembali menyerang Juan Pablo dengan tongkat yang telah berhasil dia rebut. Kali ini, Juan Pablo sigap menahannya. Dia memutar tubuh sambil memegangi tongkat besi yang juga masih dipegang oleh Jacob menggunakan dua tangan. Juan Pablo lalu mendorongnya mundur hingga tubuh Jacob bergerak ke belakang dan menyentuh dinding. Sang Elang Rimba pun menahannya di sana dengan sangat kuat.


Tongkat besi tadi melintang di dekat leher Jacob. Pria asal Swedia itu terus berusaha menahan agar dirinya tidak tercekik. Namun, Juan Pablo pun mengerahkan seluruh tenaganya. Dia ingin menghabisi salah satu pentolan Killer X tersebut, sama seperti yang dilakukannya terhadap Melker alias Lionel.


"Kenapa kita harus beradu kekuatan seperti ini? Semuanya akan jauh lebih mudah andai kau segera menyerahkan flashdisk itu padaku," ujar Jacob seraya meringis kecil. Kedua tangannya masih menahan tongkat besi agar tak mengenai leher.


"Selain pengacau ternyata kau juga tuli!" Juan Pablo semakin kuat menekan tongkat besi tadi.

__ADS_1


"Ada saatnya kau harus menurunkan keangkuhanmu, Juanito," ucap Jacob terkekeh pelan seolah dia tidak sedang menghadapi situsi sulit apapun, padahal tongkat itu sudah semakin menekan otot lehernya. Tanpa Juan Pablo sadari, kaki Jacob sudah dalam posisi siaga. Dalam gerakan yang teramat cepat, kaki kanan Jacob menendang pinggang Juan Pablo, hingga pria dingin itu kehilangan keseimbangan dan terhuyung ke samping.


Saat itulah, Jacob berhasil lepas dari cengkeraman tongkat besi pria asal Meksiko tersebut. Tongkat lancip itu terjatuh ke dekat kakinya.


Jacob buru-buru membungkuk dan meraih benda panjang tadi, lalu melemparkannya tepat ke arah Juan Pablo. Pria rupawan berwajah dingin itu berhasil mengelak, sehingga tongkat itu hanya menyerempet lengannya dan terus meluncur hingga mengenai patung ksatria berbaju zirah. Saking kerasnya, patung itu pun roboh.


Bunyi berisik tadi menyebabkan beberapa anak buah Juan Pablo yang tengah berjaga tak jauh dari lorong segera berlari ke sana. Tak kurang dari sembilan orang berjalan waspada mengerubunginya. Mereka membuat benteng untuk melindungi Juan Pablo, sang bos besar.


"Aku akan memberikan bonus jika kalian bisa medapatkan kepalanya untukku," ucap Juan dengan nada bicara yang terkesan begitu dingin dan datar.


"Apa kau kehilangan kekuatan untuk melawanku seorang diri, Juanito?" ejek Jacob sembari berjalan mundur secara perlahan. Sementara anak buah Juan pablo terus bergerak maju, mengikuti dirinya yang semakin mundur, lalu membalikkan badan. Dia melarikan diri dengan memasuki satu buah pintu menuju bagian lain mansion.


"Kau memilih kuburanmu sendiri, Penyusup," ujar salah seorang anak buah Juan Pablo.


"Di sini adalah tempat bos kami menghabisi para pengkhianat dan memasukkan mayatnya ke dalam patung-patung itu," sahut anak buah yang lain seraya mengarahkan telunjuknya pada patung-patung yang bentuknya memang terlihat aneh.


"Bisa jadi ini justru kuburan untuk kalian?" Jacob menyeringai penuh arti. Dengan gerakan secepat angin, dia meraih satu patung yang paling kecil dan melemparkannya pada anak buah Juan Pablo yang berdiri paling depan. Patung itu tepat mengenai kening salah satu dari mereka hingga roboh. Tubuh pria itu kemudian dilewati begitu saja oleh dua rekannya yang fokus hendak menghajar Jacob. Sebuah keuntungan bagi pria asal Swedia tadi, karena lorong itu terlalu sempit dan hanya bisa dilalui oleh dua orang saja. Hal itu memudahkan Jacob dalam menghabisi mereka satu per satu.


Seperti yang tengah dia lakukan saat ini, ketika anak buah Juan Pablo menyerangnya menggunakan belati. Jacob dapat menangkis lalu memelintir dan mematahkan tangan lawannya hingga pria itu memekik kencang, kemudian membungkukkan badan menahan sakit. Jacob menambah rasa sakitnya dengan menyarangkan lutut tepat ke ulu hati pria tersebut sampai roboh.

__ADS_1


Sementara satu teman lainnya yang tak terima, berteriak nyaring sembari menerjang dengan tangan kosong. Mulutnya belum juga tertutup, ketika tangan Jacob sudah lebih dulu menendang wajahnya dengan kaki kanan. Pria itu terpelanting dan terjerembab ke belakang, menabrak rekan-rekannya.


Suasana semakin panas, ketika pria yang terpelanting tadi merosot di bawah kaki teman-temannya. Bukannya membantu, rekan-rekannya malah menginjak tubuh tak berdaya itu demi mendekat dan menghajar Jacob. Lagi-lagi, Jacob menunjukkan bahwa kemampuannya jauh lebih hebat dari segerembolan orang-orang itu. Dia memakai dinding sebagai tumpuan dengan cara memanjatnya dengan satu kaki, sementara kaki lainnya dia arahkan pada dua orang yang berlari menghampirinya. Dua orang itu roboh secara bersamaan dengan leher patah.


Kini tersisa, empat orang lagi yang berniat memasuki lorong secara bersama-sama. Akan tetapi, tentu saja tempat itu tak muat jika dilewati oleh mereka sekaligus, sehingga dua orang di lainnya memilih mundur. Sedangkan yang dua lagi mengeluarkan pistol dan mulai memberondong Jacob dengan peluru.


Pentolan Killer X itu bersembunyi di balik patung yang berukuran paling besar sambil mendorongnya maju. Dirasa sudah lebih dekat dengan orang yang menembakinya, Jacob merobohkan patung itu tepat ke hadapan kedua orang yang tengah menembakinya. Dua pistol itu terlempar menjauh. Salah satunya berhasil Jacob raih dengan tangan kanan. Peluru yang masih tersisa di dalam senjata itu, Jacob muntahkan pada dua orang yang masih tersisa.


Setelah kedua orang tersebut tewas, Jacob mengalihkan perhatiannya pada dua orang yang tertindih patung. Mereka masih hidup dan mengerang kesakitan, sehingga Jacob harus menembak kepala mereka. "Beristirahatlah dalam damai, Teman-teman," ucapnya seraya terekkeh.


Namun, tawanya seketika berhenti ketika ternyata Juan Pablo juga tengah menghampirinya. Saat itu, pria tampan tersebut sudah berdiri gagah seraya mengacungkan senapan laras panjang. Puluhan anak buahnya juga mengikuti apa yang Juan Pablo lakukan. Mereka semua berdiri di belakang kekasih Gianna itu. "Menyerahlah, Jacob," desis Juan Pablo seraya menarik pelatuk senapan.


"Tidak akan," sahut Jacob. Beberapa saat tadi, matanya melirik ke tembok di samping kirinya. Di bagian bawah tembok itu, terdapat ventilasi udara yang ditutup oleh anyaman besi. Jacob kembali mengarahkan perhatian pada Juan Pablo. Tangan kanannya meraih patung-patung berukuran kecil yang terpajang di pilar setinggi pinggang. Sedangkan tangan kiri tak berhenti menembak menggunakan peluru yang tersisa dalam pistol yang dia pegang.


Juan Pablo juga balas menembak, meskipun peluru itu hanya mengenai patung-patung yang melayang ke arahnya. Dia menghentikan tembakan sembari mengangkat tangan ke atas, sebagai isyarat agar anak buahnya juga berhenti menembak.


Sisa asap mesiu masih memenuhi lorong sempit, ketika Juan Pablo melangkah maju penuh waspada. Mata elangnya mencari-cari sosok Jacob di sana. Namun, pria itu tak terlihat di manapun.


"Sialan!" maki Juan Pablo ketika melihat ventilasi udara yag terletak di tembok bagian bawah sudah berlubang. Besar kemungkinan jika Jacob melarikan diri melalui lubang tersebut.

__ADS_1


__ADS_2