Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Disappear


__ADS_3

Setibanya di Monaco, Juan Pablo segera mencari keberadaan Don Vargas. Akan tetapi, dia tidak menemukan pria paruh baya itu di manapun. "Deborah!" panggil pria tiga puluh lima tahun tersebut dengan nyaring sambil berkacak pinggang.


Tak berselang lama, seorang wanita berusia sekitar tiga puluh tahun datang menghadap. Dengan sikap yang penuh hormat, wanita berambut ikal sebahu itu berdiri di hadapan Juan Pablo yang tampak begitu gagah dengan postur tegapnya.


"Ada yang bisa aku bantu, Tuan?" tanya Deborah. Dia tidak berani melawan tatapan tegas Juan Pablo yang diarahkan terhadapnya.


"Apa kau tahu ke mana Don Vargas?" tanya Juan Pablo.


"Tidak lama setelah Anda berangkat ke Italia, Don Vargas pun pergi. Hingga saat ini dia belum kembali, Tuan," jawab Deborah masih tetap dalam posisi menunduk.


"Pergi ke mana?" tanya Juan Pablo lagi.


"Entahlah, Tuan. Dia membawa sekitar lima orang pengawal bersamanya," jelas Deborah lagi dengan sopan.


Juan Pablo terdiam sejenak. "Pergilah," dia lalu mengibaskan tangannya, sebagai isyarat bahwa dirinya tidak membutuhkan informasi lagi dari sang pelayan. Setelah itu, pria berpostur hampir sama dengan Adriano itu melangkah ke bagian lain mansion. Tujuannya adalah ruangan khusus tempat biasa dirinya berbincang-bincang dengan Don Vargas.


Ruangan yang dia tuju, berukuran tidak terlalu luas. Di sana terdapat lemari berisi buku-buku. Selain itu, ada pula satu set sofa melingkar berwarna merah marun dengan meja kecil berlapis kaca. Sebelum duduk, Juan Pablo menuangkan minuman terlebih dahulu. Setelah itu, barulah dia menuju sofa dan mengempaskan tubuhnya di sana.


Helaan napas berat meluncur dari bibir pria asal Meksiko itu. Dia lalu meraih ponsel yang tadi diletakkannya di atas meja. Juan Pablo mencoba untuk menghubungi Don Vargas. Akan tetapi, sudah beberapa kali panggilan dia lakukan, ternyata nomor milik Don Vargas berada di luar jangkauan. Hal tersebut membuat Juan Pablo menautkan alisnya karena tak mengerti. Tak biasanya Don Vargas sulit untuk dihubungi seperti itu.


Juan Pablo segera menghabiskan sisa minuman di dalam gelas kristal yang dipegangnya. Dia lalu beranjak ke dekat sebuah bingkai besar, yang menghiasi foto Don Vargas dalam balutan setelan tuxedo mahal. Juan Pablo meraba bagian belakang bingkai itu hingga tangannya menyentuh sebuah tuas kecil. Dia lalu menggerakkan benda tersebut. Dengan tiba-tiba, lantai berlapis kayu yang berada di bawah bingkai tadi terbelah menjadi dua. Mereka saling menjauh dan memperlihatkan sebuah tangga menuju ke lantai bawah tanah.


Dengan langkah yang masih tetap terlihat tegap dan juga sangat tenang, Juan Pablo meniti satu per satu deretan anak tangga menuju ke lantai dasar. Tak lupa, sebelumnya dia menyalakan lampu sehingga ruangan rahasia tersebut menjadi jauh lebih terang dari sebelumnya. Cahaya berwarna kuning temaram itu tak menghalangi langkah Juan Pablo menuju sebuah brankas besi. Di dekat brankas besi tadi, terdapat senapan serbu laras panjang otomatis berjenis M16. Juan Pablo mengambil senjata api kesayangannya tersebut, lalu mengamati untuk beberapa saat. Sudah lama dia tidak menggunakan senapan itu lagi.


Juan Pablo memainkan senapan serbu itu dan membidikkannya ke tembok. Satu mata elangnya terpicing sambil memiringkan kepala. Setelah itu, dia tersenyum samar lalu


terdiam untuk sejenak. Entah apa yang ada dalam pikirannya.


Tatapan anak emas Don Vargas tersebut menerawang, menembus dinding ruang bawah tanah dengan angan yang melayang tak tentu arah. Kilasan-kilasan masa lalu sempat berkelebat di dalam ingatan, sampai akhirnya harus terhenti ketika terdengar dering ponsel yang demikian nyaring di ruangan senyap itu.


Dengan segera, Juan Pablo merogoh saku dan menyentuh ikon di layar untuk menerima panggilan. Akan tetapi, belum sempat dia bersuara, panggilan itu langsung berhenti. Heran, dia menjauhkan benda pipih tersebut dari telinga dan mengamatinya lekat-lekat. Anak buah Don Vargaslah yang telah menghubunginya beberapa detik lalu.

__ADS_1


Juan Pablo sudah hendak menelepon kembali ketika sebuah pesan masuk mengganggu gerak ibu jarinya dalam menekan tombol panggil. Sambil mengernyitkan kening, dia membuka pesan tersebut dan semakin merasa heran. Anak buah Don Vargas tadi mengirimkan sebuah lokasi padanya. “Zlatibor?” gumam Juan Pablo.


Tanpa berlama-lama, pria itu berlari menaiki tangga dan menutup ruang bawah tanah. Dia bergegas menuju ruang kerja di mana dirinya dan Don Vargas seringkali menghabiskan waktu. Setelah membuka pintunya, Juan Pablo segera memutari meja kerja dan menyalakan komputer milik sang pemilik mansion mewah itu. Jemarinya lincah mengetikkan kata sandi, lalu menunggu.


Sesaat kemudian, monitor layar datar itu menyala. Juan Pablo pun memasukkan titik lokasi yang telah dibagikan oleh anak buah Don Vargas. Dia semakin kebingungan ketika layar komputernya menunjukkan peta negara Serbia. “Zlatibor itu di Serbia? Untuk apa el tio pergi ke sana?” gumamnya seraya menautkan alis.


Tubuh Juan Pablo yang awalnya membungkuk dengan tangan yang bertumpu pada meja, kini berubah posisi. Juan Pablo duduk di kursi kebesaran Don Vargas sambil sedikit menggerakkan kursi itu menggunakan tubuhnya. Sementara satu tangannya mengusap dagu. “Zlatibor,” ulangnya lagi.


Merasa buntu, pria asal Meksiko tadi meraih ponsel dan mencoba menghubungi Don Vargas lagi untuk yang kesekian kalinya. Akan tetapi, sama seperti sebelumnya. Nomor ponsel Don Vargas sama sekali tak dapat dihubungi. “El Tio, kau membuatku khawatir saja,” geramnya dengan nada kesal.


Dia pun berdiri sambil memasukkan ponsel, lalu bergegas meninggalkan ruang kerja Don Vargas dan terus berjalan keluar dari mansion.


Entah kenapa yang terbersit dalam benaknya saat itu hanyalah Adriano. Tanpa pikir panjang, Juan Pablo segera menuju mobilnya terparkir, kemudian melajukan kendaraan tersebut menuju kediaman Adriano.


Tak berselang lama, mobil mewah yang dikendarai pria latin itu telah memasuki halaman luas mansion Adriano. Kendaraan tersebut berhenti di dekat air mancur yang terletak di tengah bundaran. Saat itu, terlihat Adriano yang tengah asyik mengajari putri sambungnya Miabella, menaiki sepeda beroda dua yang baru saja dia belikan untuk gadis kecil kesayangannya tersebut.


Adriano segera menghentikan aktivitasnya saat melihat Juan Pablo turun dari kendaraan dengan gagah. “Tuan Herrera?” sapanya sedikit heran.


“Selamat siang, Tuan D’Angelo,” Juan Pablo melangkah mendekati Adriano seraya mengulurkan tangan. “Apakah kedatanganku mengganggu?” tanyanya sopan.


“Ah, ya. Aku ingin menanyakan sesuatu kepada Anda,” jawabnya. “Aku ….” kata-kata Juan Pablo terjeda ketika sayup-sayup terdengat suara seruan Mia dari dalam mansion. Wanita itu memanggil nama sang suami. Tak berselang lama, wajah cantiknya pun muncul. Mia berjalan anggun menghampiri Adriano. Wanita itu selalu terlihat memesona meskipun dalam balutan dress sederhana.


Sekilas, Adriano melirik pada Juan Pablo. Dia merasa sedikit heran ketika dilihatnya pria Meksiko itu tak begitu menaruh perhatian terhadap Mia. Tak seperti sebelumnya, ketika ajudan Don Vargas itu selalu memandang Mia dengab intens. Sementara saat itu, Juan Pablo hanya menatap Mia dengan biasa saja, lalu mengangguk sopan. “Nyonya,” sapanya.


“Apa kabar, Tuan Herrera?” balas Mia ramah. “Kenapa kalian tidak masuk saja? Udara siang ini sangat panas, tidak baik untuk kesehatan,” saran Mia. Perhatiannya kemudian beralih pada Miabella yang masih bersembunyi di belakang Adriano. “Ayo, Sayang. Kita bersepeda di dalam saja,” ajaknya. Miabella pun menuruti perkataan sang ibu tanpa banyak membantah. Gadis kecil itu mengayuh sepedanya pelan di samping Mia.


“Anda dengar apa kata istriku? Mari kita masuk,” ajak Adriano seraya tersenyum. Dia mempersilakan Juan Pablo untuk ikut dengannya menuju ruang tengah. “Silakan duduk,” ucap Adriano sambil mengulurkan tangan ke arah sofa. “Apakah ada yang bisa kubantu, Tuan Herrera?”


“Terima kasih,” Juan Pablo memposisikan dirinya, duduk di atas sofa mewah berwarna putih dan berhadapan dengan Adriano. “Ini tentang Don Vargas, Tuan D’Angelo,” lanjutnya.


“Don Vargas?” Adriano menautkan alis. “Ada apa dengannya?”

__ADS_1


“Beberapa hari ke belakang, aku bepergian ke Italia. Namun, setelah kembali ke Monaco, aku tidak bisa menemukan Don Vargas di manapun. Nomor teleponnya bahkan tak dapat dihubungi hingga detik ini,” jelas Juan Pablo.


“Lalu?” raut wajah Adriano berubah serius. Dia juga memajukan badannya dan memandang tajam kepada Juan Pablo.


“Aku hanya ingin tahu, apakah Anda bertemu dengan Don Vargas akhir-akhir ini?” tanya Juan Pablo hati-hati.


“Tidak. Aku belum bertemu dengannya lagi secara langsung. Aku hanya menghubunginya melalui sambungan telepon untuk membahas masalah bisnis,” jelas Adriano tanpa ragu.


“Apakah dia sempat mengatakan sesuatu pada Anda?” tanya Juan Pablo lagi. “Sesuatu yang spesifik, mungkin?”


Adriano berpikir sejenak sambil mengusap dagu. “Tidak ada. Kami hanya membahas seputar kasino. Apakah Anda sudah menghubungi anak buah di Birmingham?” Adriano balik bertanya.


“Sudah. Namun, Don Vargas tidak berada di sana, tapi ….” Juan Pablo menghentikan kalimatnya. “Aku baru saja mendapat pesan dari salah satu anak buah kesayangan dia. Pesan itu berisi sebuah lokasi suatu tempat,” sambungnya kemudian dengan nada suara yang terdengar tak yakin.


“Di mana?” Adriano masih dengan gaya bicara yang tenang dan kalem.


“Zlatibor. Apakah Anda pernah mendengarnya, Tuan?” sahut Juan Pablo.


“Zlaltibor? Hmm,” Adriano kembali memainkan bulu-bulu halus di dagu, lalu terdiam. “Mungkin Don Vargas sedang mendatangi koleganya di sana.”


“Dia tidak mempunyai kolega yang berasal dari Serbia,” bantah Juan Pablo dengan yakin.


“Aku rasa, sebaiknya Anda menyelidiki secara langsung ke lokasi tersebut. Siapa tahu Anda akan menemukan keberadaan Don Vargas di sana,” saran Adriano.


“Begitukah?” Juan Pablo tampak menimbang-nimbang masukan dari ketua klan Tigre Nero itu.


“Ya, tidak ada salahnya mencoba. Daripada merasa penasaran,” saran Adriano sembari memamerkan senyum.


“Seandainya Anda bisa ikut menemaniku .…” pikir Juan Pablo.


“Maafkan aku, Tuan Herrera. Bukannya aku menolak, tapi aku sudah berjanji kepada Mia untuk tidak pergi ke mana-mana dalam waktu yang tidak bisa ditentukan,” Adriano tergelak setelah berucap demikian. “Akan tetapi, aku mempunyai satu saran untuk Anda,” imbuhnya.

__ADS_1


“Apa itu?” Juan Pablo yang merasa tertarik, seger mencondongkan tubuhnya ke arah Adriano.


“Cobalah untuk mencari daerah yang bernama Menara Hitam di sekitar Zlatibor. Aku sempat mendapatkan informasi dari salah satu anak buahku, bahwa di sana terdapat pabrik senjata dan narkoba milik Nenad Ljudevit,” jawab Adriano.


__ADS_2