Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
The End of Jacob


__ADS_3

Setelah tiga hari berlalu, Adriano benar-benar mewujudkan janjinya kepada Miabella. Sebuah pesta mewah di taman belakang Casa de Luca pun dapat terlaksana. Pesta dengan dekorasi meriah yang dihiasi oleh balon-balon cantik dan lucu, serta didominasi warna cerah.


Semua hiasan dan pernak-pernik pun dirangkai sedemikian rupa, menempel pada sebuah bangunan buatan berbentuk kastil berwarna-warni. Benda berukuran besar itu dijadikan latar belakang panggung kecil, sebagai tempat kue ulang tahun setinggi lima tingkat sesuai usia Miabella. Kue dengan hiasan toping unicorn, yaitu kuda dengan cula berwarna merah muda.


Tampak pula Damiano yang berkali-kali mengusap air matanya karena merasa terharu. Pria tua itu tak menyangka sama sekali, bahwa Adriano akan sangat mengistimewakan putri dari mendiang Matteo tersebut. Adriano bersikap seolah-olah Miabella adalah darah dagingnya sendiri.


Di sebelah Damiano, berdirilah Coco yang terlihat lelah. Bagaimana tidak? Dialah yang sibuk melakukan semua persiapan, hingga pesta mewah Miabella dapat berlangsung seperti sekarang. Sedangkan Francesca sendiri tak begitu memedulikan sang suami ketika itu, karena dia sibuk menyambut teman-teman modelnya dulu yang ternyata turut dia undang.


Coco membiarkan saja, walaupun dia tahu alasan utama teman-teman seprofesi istrinya datang ke sana adalah Adriano. Gadis-gadis muda yang cantik jelita tadi, sangat mengidolakan kakak iparnya yang entah kenapa masih saja terlihat begitu memesona. Padahal saat itu wajah Adriano masih dihiasi plester kecil yang menutupi luka lecet di beberapa bagian.


Selain mengundang putra-putri dari kenalan Adriano dan juga Mia, pria rupawan itu juga mengundang seluruh anak-anak panti asuhan yang berada di bawah naungannya. Tampak dari kejauhan, Miranda si penanggung jawab panti datang bersama puluhan anak dari rentang usia balita hingga remaja. Semuanya terlihat begitu ceria dan merasa terhibur. Apalagi hari itu adalah pertama kalinya mereka memasuki bangunan mewah dan eksklusif seperti Casa de Luca.


“Tuan Adriano, terima kasih sudah mengundang kami. Anda bahkan menyewakan beberapa kendaraan untuk membawa kami kemari,” ucap Miranda tulus seraya memeluk suami dari Mia tersebut.


Setelah itu, satu per satu anak panti asuhan menyalami dan mengucapkan terima kasih pada Adriano serta Mia secara bergantian. Mulai dari yang paling kecil, hingga dewasa.


“Tak ada pria sebaik Anda, Tuan. Kudoakan agar Anda beserta keluarga selalu berbahagia,” ucap Miranda penuh haru.


“Terima kasih banyak. Doamu sangat berguna untukku. Lihatlah ini,” Adriano mengeluarkan kalung berbandul salib dari balik kemeja putihnya. Kalung itu adalah pemberian Miranda dulu. “Kalung inilah yang selalu melindungiku,” ujarnya dengan senyuman menawan.


“Aku sangat senang jika pemberianku bisa berguna untukmu, Tuan,” ucap Miranda dengan mata berkaca-kaca. Dia lalu beralih pada Mia yang setia berdiri di samping Adriano. “Nyonya, kenapa Anda selalu terlihat lebih cantik setiap kali kita bertemu?” sanjung Miranda.


“Jangan terlalu berlebihan, Miranda.” Mia membalas sikap hangat Miranda dengan pelukan erat. “Nikmatilah pesta ini,” imbuhnya.


“Oh, ya, hampir saja aku lupa,” ujar Miranda kemudian. Wanita itu lalu menoleh dan mengedarkan pandangan ke sekitar. Anak-anak asuhnya sudah menyebar ke setiap sudut lokasi pesta. “Carlo!” panggilnya ketika sosok yang dicari tak dia temukan.


Sesaat kemudian, seorang remaja yang tampak tengah membungkuk menyalami Miabella, segera berdiri tegak dan mendekat kepada Miranda. Miabella sendiri tengah asyik bermain-main dengan Romeo dan Tobia. Sesekali, balita cantik si pemilik pesta itu menyalami anak-anak panti asuhan yang datang menghampiri.

__ADS_1


“Aku datang, Bibi,” sahut Carlo. Wajahnya terlihat begitu bersinar dan ceria. “Tuan, aku senang akhirnya bisa bertemu lagi dengan Anda. Akhir-akhir ini Anda menjadi jarang sekali mengunjungi panti,” ujar remaja bernama Carlo itu dengan akrab. Dia sama sekali tak terlihat sungkan terhadap Adriano. Bahasa tubuhnya bahkan menunjukkan bahwa remaja itu terlihat kuat dan penuh rasa percaya diri.


“Kau tahu bahwa aku sangat sibuk, Carlo. Bagaimana kabarmu?” tanya Adriano seraya menepuk lengan remaja itu.


“Tidak baik, Tuan. Aku sedang galau,” jawab Carlo dengan mimik lucu.


“Baiklah, kutinggalkan kalian mengobrol berdua. Mari, Miranda.” Mia mengajak wanita paruh baya itu untuk menikmati jamuan pesta, meninggalkan Adriano yang tampak tertarik mengamati tingkah laku Carlo.


“Apa yang membuatmu galau?” tanya Adriano lagi.


“Seperti yang Anda tahu, usiaku sekarang sudah tujuh belas tahun. Aku sudah terlalu tua untuk tinggal di panti asuhan, Tuan. Aku ingin bekerja supaya tidak menjadi beban,” jawab Carlo.


“Apa kau sudah menyelesaikan sekolahmu?” Adriano menaikkan satu alisnya sambil memasukkan kedua tangan ke saku celana.


“Aku lulus sekolah dua bulan lalu. Namun, aku tak mempunyai biaya untuk melanjutkan hingga ke perguruan tinggi,” tutur Carlo ragu.


“Tidak, bukan begitu. Rasanya tidak adil jika aku memakai dana itu untuk biaya kuliahku. Banyak sekali anak-anak panti yang masih jauh membutuhkannya daripada aku. Jadi, aku memutuskan untuk keluar dan bekerja saja. Mungkin Anda memiliki lowongan pekerjaan yang tepat untukku. Aku ingin bekerja saja, Tuan,” ujar Carlo penuh harap.


“Hm." Adriano mengusap dagunya sembari berpikir. “Sejujurnya, aku menyukai sikap dan posturmu. Apa kau mau bekerja untukku?” tawarnya.


“Dengan senang hati, Tuan! Aku bisa melakukan apa saja! Aku paham sedikit ilmu pertukangan. Aku bisa memperbaiki pipa ledeng. Aku juga bisa merapikan kebun dan taman,” sahut Carlo antusias.


“Itu bisa diatur. Aku bisa melatihmu untuk hal lain yang jauh lebih hebat dari hal-hal yang kau sebutkan tadi. Nanti, sepulang dari tempat ini, kemasilah barangmu dan datanglah kemari. Lusa, aku akan mengajakmu ke Monaco. Kau akan memulai magangmu di sana,” tutur Adriano tersenyum lebar sembari menepuk-nepuk pundak Carlo sedikit kencang.


“Sekarang, lakukan tugas pertamamu. Aku membutuhkan bahumu untuk membantuku berjalan.” Tanpa menunggu persetujuan Carlo, Adriano melingkarkan tangan di pundak remaja tampan itu dan berjalan tertatih menuju meja hidangan.


“Kau bahkan boleh menggunakan badanku untuk menjadi pijakan kakimu, Tuan,” ujar Carlo setengah berkelakar, membuat Adriano terbahak. “Aku serius, Tuan. Sebesar itulah utang budiku padamu,” tegasnya.

__ADS_1


“Kau tidak perlu merasa berutang budi atau apapun padaku. Sudah menjadi kewajiban bagiku untuk bisa membantu orang-orang yang membutuhkan,” sahut Adriano kalem, membuat Carlo tersenyum lebar.


Namun, teryata tak hanya Carlo yang kagum akan aura dan pesona pria bermata biru itu. Teman-teman Francesca yang sedari tadi mengawasi sosok Adriano pun seperti tak berkedip, saat memperhatikan suami dari Mia yang kini tengah asyik mengobrol sambil menikmati kudapan yang tersaji.


“Jaga mata kalian, Nona-nona,” tegur Coco. “Jika sampai Mia memergoki kalian mencuri-curi pandang pada suaminya. Jika sampai Mia mengetahui hal itu, maka aku tak yakin kalian bisa keluar dari tempat ini dalam keadaan selamat. Catat kata-kataku, Mia bisa menembak dari jarak lima ratus meter. Sahabatku dulu yang telah melatihnya dengan baik," ujar Coco menakut-nakuti. Pria itu menyeringai, kemudian berlalu dari hadapan gadis-gadis tersebut begitu saja.


Setelah beberapa langkah agak jauh dari gadis-gadis tadi, Coco tertawa geli. Dia lalu berniat hendak mencari Francesca yang tak terlihat di manapun. Semenjak dirinya sah menjadi suami wanita bermata hazel tersebut, Coco seperti tak bisa berpisah dalam waktu yang lama dengan sang istri.


Coco hendak kembali melanjutkan pencariannya, ketika dirinya sadar bahwa kini dia berdiri di bawah balkon kamar mendiang Matteo. Dia mendongak dan menatap nanar ke arah ruangan tadi. Pria tampan berambut ikal itu tersenyum samar, kemudian menggeleng pelan.


Sementara itu, di bawah langit yang sama, di sudut kota Roma, seorang pria tengah mengembalikan kunci kamar pada penjaga losmen kecil. Pria yang berjalan pincang sambil memegangi tongkat. Dia mengucapkan terima kasih, lalu berjalan menuju pintu keluar. Saat pria tadi hendak membuka pintu, dia merasa bahunya dipegang oleh seseorang. Pria itu segera berbalik dan menatap keheranan. “Apa aku mengenalmu?” tanyanya.


“Kau mungkin tak mengenalku, tapi aku sangat mengenalmu,” jawab seseorang yang masih meletakkan tangannya di bahu si pria.


“Itu tidak mungkin,” bantah pria pincang tadi.


“Apa yang tidak mungkin bagi seorang detektif sepertiku, Tuan Jacob Karlsberg Pemilik organisasi Killer X? Kau penggerak organisasi Tangan Setan? Oh ya, satu lagi, pembunuh ayahku,” papar seseorang yang tak lain adalah detektif Ignazio Ranieri.


“Kurasa Anda salah orang,” sanggah pria yang ternyata adalah Jacob.


“Aku tidak pernah salah, Tuan. Aku sudah mengantongi semua informasi tentangmu.” Detektif Ignazio tertawa lebar. Dengan santainya, dia mengeluarkan borgol dan mengikat kedua tangan Jacob. “Jangan berpikiran untuk melarikan diri dari tempat ini, Tuan, karena si penjaga losmen itu juga merupakan salah satu dari anggotaku.”


Mendengar penuturan detektif Ignazio, Jacob sontak menoleh pada si penjaga losmen. Pria botak bertubuh tambun yang baru saja menerima kunci darinya itu segera melambaikan tangan dan tersenyum ke arah dirinya.


“Kau percaya sekarang?” bisik sang detektif.


“Anda tidak mempunyai bukti apapun.” Jacob mencoba menghindar.

__ADS_1


“Begitukah menurutmu?” Detektif Ignazio memicingkan mata, lalu semakin mendekat ke arah Jacob. “Kita lihat apa tanggapan interpol nanti,” sambungnya diiringi senyuman puas.


__ADS_2