Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Avvertenze


__ADS_3

Dengan mengenakan atasan berbahan sewater panjang, Pierre datang ke sebuah apartemen mewah. Setelah memarkirkan mobil klasiknya, dia lalu menuju ruangan yang dimaksud. Sambil menaikkan lengan sweaternya hingga tiga per empat, pria itu menunggu di depan pintu sampai sang pemilik ruang apartemen membuka dan mempersilakannya masuk.


Wajah ketus Bianca menyambut kehadiran pria asal Perancis tersebut. Tatap mata wanita muda itu begitu tajam dan penuh kemarahan. Tak ada senyum sedikit pun, apalagi keramahan yang menghangatkan hati. Namun, Pierre masih terlihat tenang. Dia bahkan tersenyum kalem kepada mantan rekan bisnis Adriano tersebut.


"Nona Alegra," sapa Pierre seraya mengangguk sopan.


"Mau apa kau datang kemari sepagi ini?" tanya Bianca ketus sambil melipat kedua tangannya di dada. Dia masih berdiri di ambang pintu, tak juga mempersilakan Pierre untuk masuk.


"Aku kemari untuk sedikit urusan," jawab Pierre tenang. Sepasang mata hijaunya yang bercahaya, tak lepas dari sosok seorang wanita cantik yang berdiri angkuh di hadapannya.


"Aku tak memiliki urusan apapun denganmu Pierre Corbyn. Sebaiknya kau pergi saja!" usir Bianca dengan nada bicara yang terdengar tidak bersahabat sama sekali.


"Izinkan aku masuk sebentar saja. Lima belas menit," pinta pria berambut pirang itu tetap terlihat tenang.


"Aku tidak memiliki waktu sebanyak itu," tolak Bianca lagi.


"Sepuluh menit," tawar Pierre tak putus asa.


"Kau sama menyebalkannya dengan majikanmu, Pierre!" gerutu Bianca seraya berbalik masuk. Pierre pun segera mengikutinya. Dia berdiri dengan tetap memberi jarak antara dirinya dengan sang tuan rumah yang masih menunjukkan raut tak bersahabat. "Sebenarnya aku tak ingin lagi melihat wajahmu setelah hal tidak sopan yang kau lakukan padaku," ucap Bianca dingin.


"Aku kemari untuk meminta maaf," ucap Pierre langsung pada inti dari kedatangannya ke sana. "Kau tahu jika aku melakukan hal itu tanpa rencana sama sekali," kilahnya.


"Tanpa rencana atau tidak, yang pasti permintaan maaf tak akan dapat mengembalikan harga diriku yang jatuh karena sikap kurang ajarmu padaku," ucap Bianca menanggapi permintaan maaf yang dilayangkan oleh Pierre padanya.

__ADS_1


"Astaga," decak Pierre tersenyum sinis.


"Siapa kau berani-beraninya berbuat kurang ajar padaku? Kau pria tidak tahu diri dan tak sadar dengan kedudukanmu. Kau pikir aku akan terkesan dan mengatakan bahwa kau adalah pencium yang hebat? Silakan bermimpi!" cerca Bianca masih dengan sikap dan nada bicara yang belum berubah. Wanita bermata abu-abu itu memalingkan wajah. Dia merasa jijik sekali karena harus bertatapan dengan seorang pria seperti Pierre. Sementara Pierre tak langsung menanggapi semua hinaan yang dialamatkan padanya. Pria bermata hijau itu masih berusaha untuk tetap menahan diri serta meredam segala emosi yang muncul akibat segala ucapan kasar Bianca.


"Pergilah dari sini dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku!" usir Bianca seraya mengibaskan tangannya. "Meskipun kau bersujud di kakiku, itu semua tak akan cukup untuk mengobati harga diriku yang terluka," ujarnya lagi seraya menatap sesaat kepada Pierre, lalu kembali memalingkan wajah dengan sikap mencibir.


Merasa jika sikap dan kata-kata Bianca sudah sangat keterlaluan, Pierre kemudian maju dan berdiri tepat di hadapan wanita itu. Dia yang biasa terlihat tenang dan kalem, saat itu berubah menjadi tampak sangat serius. "Seberapa mahal harga dirimu, Bianca Alegra? Akan kubayar sekarang juga jika kau mau," ucapnya penuh dengan penekanan, membuat Bianca seketika menoleh padanya.


"Seberapa tinggi kesombonganmu, sehingga merasa tak ada seorang pun yang mampu untuk menggapainya?" Nada bicara Pierre masih terdengar sama.


"Satu yang pasti, bukan untuk pria-pria rendahan seperti dirimu!" jawab Bianca sinis.


"Baiklah. Aku ingin bertanya sesuatu padamu. Apakah kau mengenal Alexandre D'aureville?" tanya Pierre lagi seraya menyunggingkan senyuman kecil, terlebih ketika melihat Bianca menautkan alisnya. "Mustahil jika kau tidak mengetahui perusahaan raksasa Martin D'aureville Construction," ucap Pierre lagi.


"Baguslah jika kau mengetahuinya. Namun, apakah kau juga tahu bahwa Alexandre sang pemilik perusahaan itu memiliki seorang putra?" tanya Pierre lagi.


"Setahuku dia hanya memiliki dua orang putri kembar," bantah Bianca dengan yakin.


"Kau salah. Alexandre D'aureville memiliki putra bungsu yang lebih memilih untuk pergi dari Perancis dan menetap di Monaco," jelas Pierre.


Mendengar penjelasan pria itu, Bianca langsung saja tertawa dengan nada mengejek. Wanita cantik bermata abu-abu tersebut berdecak tak percaya seraya menggeleng pelan. "Oh, astaga. Sadarlah, Pierre Corbyn," sindirnya dengan terus diiringi tawa renyah.


"Kenapa?" tanya Pierre. Dia lalu merogoh saku belakang celana jeans yang dikenakanya. Pierre mengambil dompet kulit dari sana . Dia juga mengeluarkan kartu identitas, kemudian menyodorkannya kepada Bianca.

__ADS_1


Pada awalnya Bianca tampak enggan untuk menerima kartu yang disodorkan oleh Pierre. Akan tetapi, rasa penasaran telah membuatnya menerima kartu itu. Bianca lalu membaca nama yang tertera di sana. Pierre Martin D'aureville. Seketika mata indah wanita itu terbelalak. Dia mendongak dan memindai setiap senti dari wajah kharismatik Pierre, lalu kembali beralih pada kartu identitas di tangannya. “Ka-kau … putra yang hilang itu?” tanyanya tergagap.


Pierre tak segera menjawab. Dia hanya tersenyum sinis sambil memandang Bianca lekat-lekat. “Sekarang kau tahu bukan, siapa sebenarnya aku?” ucapnya pelan, tapi penuh penekanan.


“Ta-tapi … kenapa?” Bianca menggeleng tak percaya. “Kenapa kau merendahkan dirimu, memilih untuk bekerja menjadi ajudan Adriano? Padahal kau sudah menguasai dunia dalam genggamanmu?” tanyanya.


“Nona Alegra, sepertinya aku harus mengajarimu tentang banyak hal,” tegur Pierre. “Pertama, tidak ada profesi yang rendah di mataku, bahkan menjadi seorang mafia seperti Adriano D’Angelo sekalipun,” tegasnya.


“Sembilan tahun yang lalu, perusahaan ayahku hampir saja kolaps. Banyaknya persaingan bisnis yang tidak sehat dan tumbuhnya perusahaan baru, sangat kuat menghantam perusahaan ayahku yang terbilang cukup lama berdiri. Saat itulah aku mengenal tuan Adriano. Dia membantu kami dalam mengatasi musuh-musuh bisnis sekaligus pengkhianat yang berada di dalam perusahaan kami sendiri. Dia juga menawarkan perlindungan dan keamanan tak terbatas bagi nama besar D'aureville hingga detik ini."


"Karena itulah Martin D'aureville Construction tetap berdiri semakin kuat sampai sekarang, dan bahkan semakin menggurita. Sebagai gantinya, dengan suka rela aku memberikan diriku untuk mengabdi sepenuhnya pada Adriano D’Angelo, agar perusahaan ayahku tetap mendapatkan keistimewaan perlindungan darinya. Kau tahu, Nona? D’aureville dan Tigre Nero adalah satu kesatuan,” terang Pierre dengan gayanya yang tetap kalem, sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.


“Atas bantuan ayahku pula sehingga mendiang ayahmu bisa sukses berbisnis dan menjadi sekaya ini,” lanjut Pierre. Dia maju selangkah dan mendekatkan wajahnya pada wajah Bianca.


“Pelajaran kedua untukmu hari ini, Nona Alegra. Jangan merasa terlalu sombong dan menganggap dirimu jauh lebih tinggi dibanding semua orang, karena apa yang dilihat oleh mata bisa saja menipu. Kau menilai setiap orang berdasarkan kedudukan, kekayaan, dan jabatan. Namun, kau sendiri sejatinya tak sadar, bahwa dirimu ini tak jauh lebih baik dari orang yang kau hina atau mungkin lebih rendah,” seringai Pierre.


“Ka-kau!” Bianca mengacungkan telunjuknya ke muka Pierre.


“Aku hanya berkata yang sebenarnya, Nona. Kekayaan yang kau dan ayahmu dapat selama ini adalah atas bantuan Alexandre D’aureville. Bukan tidak mungkin, aku akan menghasut ayahku untuk menarik seluruh dukungan finansialnya pada perusahaanmu. Sangat mudah bagiku, semudah menjentikkan jari dan kau akan terlunta-lunta di jalanan,” Pierre tertawa puas melihat wajah Bianca yang tiba-tiba memucat.


“Mungkin kau perlu merasakan dulu bagaimana menjadi ‘orang rendahan’, agar kau bisa lebih menghargai orang di sekitarmu?” Kalimat bernada ancaman yang dilontarkan oleh Pierre cukup telak menampar seorang Bianca Alegra.


Wanita itu terpaku atas kenyataan yang disampaikan oleh Pierre. Dia hanya terpaku saat Pierre mundur perlahan dan pergi dari apartemennya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

__ADS_1


__ADS_2