
Adriano segera menyudahi obrolannya dengan Coco, ketika dia melihat Mia masuk sambil menggendong Miabella yang sudah tertidur lelap. Balita cantik itu sepertinya sangat kelelahan. Siang itu, mereka baru kembali dari acara jalan-jalan, sambil mengunjungi beberapa situs terkenal yang menjadi ikon negara Yunani.
“Kau belum berganti pakaian?” Mia menautkan alis. Setelah merebahkan putri kecilnya di atas ranjang, dia lalu berjalan ke hadapan Adriano yang masih berdiri di dekat jendela.
Dengan senyuman manis dan begitu lembut, Mia meraih bagian depan kemeja sang suami. Dia melepas kancing yang masih tertutup rapi, satu per satu. Sedangkan Adriano hanya terpaku memperhatikan wanita cantik di hadapannya. Sesekali, pandangan pria itu beralih pada jemari lentik dengan kuteks berwarna putih. Mia begitu cekatan saat membuka serta melepas kemeja yang Adriano kenakan.
“Apa kau tidak berniat untuk menambah tato lagi?” tanyanya sambil meraba dada bidang Adriano, membuat si pemiliknya sedikit bereaksi karena sentuhan lembut itu.
“Mungkin nanti,” jawab Adriano dengan suaranya yang terdengar begitu dalam. Sedangkan tatapannya tak teralihkan sama sekali. Sesaat kemudian, terdengar helaan napas berat pria itu, yang mengiringi pertautan bibirnya dengan Mia.
“Akan kuambilkan kau baju,” ucap Mia sambil mengusap lembut permukaan bibir sang suami. Akan tetapi, sebelum dia sempat beranjak dari hadapan Adriano, pria itu telah lebih dulu mencegahnya.
Adriano mencekal pergelangan tangan Mia, kemudian menariknya dengan cukup kencang. Gerakannya begitu cepat, membalikkan tubuh dan menyandarkan punggung sang istri pada dinding sebelah jendela yang terbuka lebar. Hembusan angin pun terasa begitu segar, mengiringi sepasang suami istri yang tengah memadu kasih di siang menuju sore itu.
Tawa manja Mia terdengar begitu renyah, ketika Adriano menggelitik beberapa bagian tubuhnya dengan nakal. Namun, tak lama kemudian tawa itu berubah menjadi sebuah lenguhan pelan. Mia tak berdaya, dengan tangan kiri di belakang leher Adriano. Lembut dan penuh perasaan, dia mere•mas rambut sang suami yang tersisir rapi. Sementara tangan kanannya berpegangan erat pada kusen jendela yang terbuka.
Angin dari pinggir pantai terus berembus masuk ke dalam kamar. Namun, ia tak mampu mendinginkan rasa panas yang tengah melanda dua sejoli itu. Sementara Miabella masih tertidur lelap. Balita cantik tersebut tak merasa terganggu sama sekali, oleh suara-suara menggugah yang tercipta dari kemesraan kedua orang tuanya.
Sesaat kemudian, Adriano mengangkat tubuh Mia dan membawanya duduk di atas sofa bed yang terletak di sudut kamar. Dia membiarkan wanita itu menari dengan indah di atas pangkuannya. Sesekali, pria bermata biru tadi tampak terengah dengan mulut yang sedikit terbuka. Tak jarang pula, Adriano menunjukkan seringai dan ringisan kecil, kala merasakan kehangatan Mia dalam dirinya.
Gemas, didekapnya tubuh ramping wanita yang masih berpakaian lengkap itu. Tangannya kemudian beralih menangkup wajah cantik sang istri, lalu menciumnya dengan mesra. Sementara Mia mengelus serta mere•mas pelan rambut sang suami yang kini mulai sedikit acak-acakan.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Adriano tampak menepuk pinggul Mia. Wanita berambut cokelat itu pun segera turun dari atas pangkuannya dan berpindah posisi. Dia berbaring dengan posisi menyamping, di depan Adriano yang telah menunggunya dengan posisi sama. Suara de•sahan pun kembali berbaur dengan helaan napas memburu Adriano, ketika Mia melingkarkan tangannya ke belakang. Dia lalu mengusap-usap tengkuk kepala sang suami, yang membalas perlakuannya itu dengan sebuah ciuman di sekitar leher dan pundak.
Tak berselang lama, terdengar helaan napas berat tertahan dari sang ketua Tigre Nero, ketika dirinya telah tiba di puncak gairah. Mia kembali tertawa manja sembari menoleh dan menyambut ciuman mesra dari pria tersebut.
“Kau makin nakal, tapi juga semakin pintar. Aku sangat menyukai itu,” bisik Adriano sambil memeluk Mia dari belakang. Saat itu, mereka belum melepaskan penyatuan di antara keduanya. Setelah beberapa saat, barulah Adriano melepaskan diri dari Mia.
“Akan berapa lama kita di sini?” tanya ibunda dari Miabella itu sambil berdiri dan merapikan dress yang dia kenakan. Mia juga menggulung rambut panjangnya ke atas dengan sebuah jepitan kecil.
“Terserah kalian. Apakah satu minggu cukup?” tawar Adriano. Sementara Mia hanya menanggapi tawaran itu dengan sebuah senyuman. Dia juga memainkan kedua bola matanya.
“Aku tidak bisa lebih lama dari itu, Sayang,” ujar Adriano sambil berdiri dan menaikkan resleting celana panjangnya.
“Ada sedikit urusan,” jawab Adriano, “urusan pekerjaan,” lanjutnya lagi mencoba terlihat meyakinkan.
“Oh,” Mia manggut-manggut pelan. “Apakah di Monaco?” tanyanya kemudian.
“Tidak, bukan,” bantah Adriano setelah selesai merapikan rambutnya. “Di Zlatibor,” jelas pria itu lagi.
“Zlatibor?” ulang Mia seraya menautkan alis. “Di mana itu?” tanyanya.
“Serbia,” jawab Adriano. “Namun, kali ini aku tidak bisa mengajakmu dan juga Miabella,” jelasnya. “Jangan bertanya kenapa,” cegah pria bermata biru itu setelah dia melihat Mia hendak mengatakan sesuatu padanya.
__ADS_1
Dengan terpaksa, Mia harus mengurungkan niat untuk kembali bertanya. Wanita cantik itu terdiam seketika. Wajahnya berubah pias. Tanpa banyak bicara, dia berjalan ke dekat lemari, lalu mengambil satu kaus berwarna putih. Dia segera menyerahkan kaus itu kepada Adriano.
“Mia, Sayang,” sorot mata biru Adriano tampak khawatir, ketika melihat wajah istrinya yang memucat. Mia juga mulai menggigiti ujung kukunya tanpa sadar.
“Mia,” ulang Adriano lagi. Dengan segera, dia meraih kedua tangan wanita itu, kemudian menggenggamnya erat. “Hei, apa yang kau pikirkan?” lembut jemari Adriano membelai pipi mulus sang istri.
“Sepertinya aku tahu, apa yang hendak kau lakukan,” jawab Mia lirih sembari memalingkan wajah ke arah jendela.
“Saat kau pulang dari pesta kemarin, aku melihat ada noda darah di kemejamu. Kupikir darah itu berasal dari luka yang mungkin ada di tubuhmu. Akan tetapi, saat kau tertidur, aku memeriksanya dengan teliti. Kau tidak terluka sedikit pun, Adriano. Aku yakin noda darah itu bukan berasal dari tubuhmu,” Mia kemudian berpindah ke dekat jendela sambil bersedekap.
“Mia ....” Adriano mengikuti dan berdiri di belakang sang istri. Dia pun melingkarkan lengan kekarnya pada pinggang wanita yang sangat dicintainya tersebut. “Sayangku, jangan berpikir terlalu berat dan macam-macam,” ucap Adriano lembut, seraya mengecup rambut Mia.
“Bagaimana bisa aku tidak berpikir terlalu berat dan macam-macam Adriano. Bisa saja kau kembali menghabisi nyawa seseorang di luar sana,” Mia menunduk seraya mere•mas dada. Napasnya kembali tersengal. Ingatannya begitu liar, kembali ke masa lalu yang penuh kekerasan dan gelimang darah.
“Hei, Mia. Tenanglah, Sayangku! Apa yang terjadi padamu?” Adriano berusaha menenangkan Mia dengan memeluk wanita itu erat. “Aku hanya bepergian untuk alasan bisnis, Sayang. Tidak lebih,” bujuknya sambil sesekali mengecup kening istri tercintanya.
“Aku begitu takut saat melihat noda darah itu. Akan tetapi, aku tidak berani mengungkapkannya padamu. Adriano, tak jarang diriku bermimpi buruk beberapa hari terakhir. Aku melihatmu bersimbah darah. Itu jelas membuatku tak sanggup,” Mia mulai meracau dengan tangan terkepal. Penyakit gangguan kecemasan yang sudah beberapa lama tak muncul, kini kembali kambuh.
“Mia, dengarkan aku. Mia,” Adriano terpaksa mencengkeram kedua lengan istrinya erat-erat. “Aku akan baik-baik saja. Ingat janjiku! Kau dan aku akan bersama-sama selamanya, sampai tua dan salah satu dari kita berdua mati. Kau mengatakan bahwa dirimu menginginkan anak dariku, bukan? Kau akan mendapatkannya, Mia. Dirimu akan melahirkan banyak anak dariku,” kalimatnya berakhir dengan sebuah ciuman hangat dan sedikit kasar di bibir Mia. Adriano kemudian memeluk Mia erat-erat.
“Aku mohon, hanya untuk beberapa hari saja, Mia. Aku berjanji akan kembali dan pasti segera pulang untuk menemanimu serta Miabella lagi,” bujuk Adriano lagi. Ditangkupnya wajah Mia dengan lembut. Perasaan cinta yang sangat besar, terpancar jelas dari sorot mata keduanya. Ketika tatapan mereka beradu, sebentuk kekuatan yang besar muncul di sana. "Seperti yang sudah kau ketahui, aku tak akan mati semudah itu."
__ADS_1