Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Black Shirt


__ADS_3

Keesokan harinya, rombongan dari Italia telah tiba di Monaco. Helikopter bertuliskan De Luca mendarat dengan mulus di heliped mansion milik Adriano. Dengan senyuman terkembang, pria bermata biru itu berdiri gagah menyambut tamu-tamu istimewanya. Di sebelah kiri dan kanan berdiri Pierre dan Arsen yang menemani. Sementara Mia sibuk menyiapkan makanan bersama Olivia dan beberapa pelayan lain.


“Apa kabar, Tuan D’Angelo,” sapa Marco seraya menyalami Adriano dengan akrab. Coco mengikutinya kemudian. Namun, pria itu bersikap biasa saja. Sedangkan Daniella dan Francesca berada di belakang kedua pria tersebut. Daniella sengaja membawa dua orang pengasuh untuk menjaga kedua buah hatinya yang luar biasa.


“Selamat datang di Monaco. Perkenalkan ini ajudan setiaku, Pierre Corbyn. Dia berasal dari Perancis tetapi fasih berbahasa Italia. Sedangkan ini adalah rekanku Arsen Moras. Dia asli dari Yunani dan kebetulan sedang berlibur di sini. Arsen cukup menguasai bahasa Italia,” Adriano melirik pria tampan dengan kaos hitam di sampingnya. Arsen mengangguk seraya tersenyum. “Kalian berdua, perkenalkan ini tuan Marco de Luca. Dia adalah ketua dari Klan de Luca dan merupakan saudara sepupu dari Matteo. Sementara yang di sebelahnya adalah tuan Ricci … ah aku tidak tahu nama lengkapmu,” ujar Adriano seraya mengernyitkan keningnya.


Melihat sikap Adriano, Coco hanya menanggapinya dengan tenang. Pria berambut ikal tersebut tertawa pelan. “Tak perlu merisaukan namaku, Tuan D’Angelo. Bagiku tak masalah jika tak dikenali oleh satu atau dua orang saja,” celotehnya yang segera berbalas sebuah sikutan dari Marco. “Coco memang selalu bercanda,” ucap Marco dengan segera.


“Di mana Mia?” sela Francesca dari belakang, yang langsung mendapat perhatian dari Arsen. Jiwa mata keranjang pria itu timbul setiap kali melihat gadis cantik. Pria asal Yunani tadi tersenyum sambil terus memperhatikan gadis bermata hazel tersebut. Sedangkan Coco yang menyadari hal itu, segera merengkuh pundak sang kekasih dengan mesra, membuat Arsen mengalihkan pandangannya ke arah lain seraya mengempaskan napas pendek.


“Mia ada di dalam. Kau tahu bukan jika dia senang memasak,” wajah tampan Adriano tampak berseri saat membahas sang istri. “Baiklah, sebaiknya kita segera masuk saja,” ajak pria itu lagi. Sebagai tuan rumah yang baik, Adriano harus membuat para tamunya merasa benar-benar nyaman. Rombongan dari Italia pun segera mengikuti sang pemilik mansion.


“Daddy Zio!” seru Miabella yang berlari menyambut Adriano. Dengan segera, pria itu menurunkan tubuh saat gadis kecil tersebut menghambur ke dalam pelukannya. Adriano lalu menggendong Miabella dan membawanya masuk. Putri dari Matteo itu memeluk ayah sambungnya sambil menghadap ke belakang. Saat itu dia menatap rombongan dari Italia. Namun, seketika matanya yang bulat terlihat kecewa. “Kakek Damiano tidak ikut kemari?” tanyanya entah ditujukan kepada siapa.


“Kakekmu sedang sibuk mengurus perkebunan, Sayang,” jawab Coco sambil terus berjalan mengekor Adriano.


“Kenapa Paman malah datang kemari dan tidak membantunya di sana?” celoteh Miabella dengan gaya bicaranya yang terdengar begitu menggemaskan. Sementara Coco tak tahu harus menjawab apa. Dia tidak pintar berbasa-basi dengan seorang anak kecil. Pria bermata cokelat tersebut hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum lebar, berharap agar Miabella terkesan. Namun, gadis kecil itu justru malah menjulurkan lidahnya, membuat Marco tak kuasa menahan tawa.


Tak berselang lama, mereka pun tiba di ruang tamu bangunan megah itu. Mia sudah berdiri menyambut di sana. Senyum lebar dan tangis haru bercampur menjadi satu, ketika dirinya berpelukan dengan Daniella serta Francesca. Rasa rindu yang muncul terasa amat berbeda dengan dulu, padahal mereka sudah terbiasa tinggal berjauhan. Namun, kali ini rasanya begitu mengharukan. “Ayo, ikutlah denganku. Kita biarkan para pria di sini,” ajak Mia yang segera membawa kedua saudarinya berlalu dari ruang tamu tersebut. “Bella, ayo. Biarkan Daddy Zio dengan tamu-tamunya,” Mia juga mengajak serta Miabella. Gadis kecil itu menurut kepada sang ibu meskipun dengan sedikit terpaksa.


Kini, di ruang tamu luas tersebut hanya ada para pria. Setelah beberapa pelayan menghidangkan minuman dan juga cerutu untuk mereka, percakapan pun dimulai. “Kemarin adikku mengatakan sesuatu tentang Tangan Setan. Dia baru kembali dari Sicilia dan melihat anggota kelompok siluman itu beraksi di salah satu bar di sana. Aku jadi merasa tergelitik untuk berkunjung langsung ke tempat itu. Kau mungkin tahu di mana letak bar tersebut,” Adriano mengarahkan tatapannya kepada Marco. Lama bermukim di Palermo, seharusnya dia sudah menguasai wilayah Sicilia dengan baik.


“Memangnya apa nama bar yang kau maksud?” tanya Marco. Dia mengambil sebatang cerutu dan mulai menyulutnya.


“Palazzo Del Rosso,” jawab Adriano singkat. Dia yang sudah terlebih dahulu menyulut cerutu, mengisap dan mengepulkan asapnya perlahan.

__ADS_1


Sementara Marco masih terlihat berpikir. “Ya, sepertinya aku tahu tempat itu. Aku bisa menemanimu ke sana. Katakan saja kapan kau ingin pergi,” ujar Marco.


“Tempat tersebut sudah ditutup dan diberi garis polisi, setidaknya itu yang Valerie katakan. Pemilik bar tewas di tempat dalam penyerangan tersebut,” terang Adriano.


“Lalu, kenapa anggota Tangan Setan menyerang sebuah tempat hiburan? Setahuku kelompok itu hanya tertarik dengan senjata, bukan minuman ataupun wanita penghibur,” sela Arsen heran.


“Apa kau mengetahui sesuatu tentang Tangan Setan?” Adriano mengarahkan tatapannya pada sang rekan.


“Tidak,” bantah Arsen dengan segera. “Aku hanya mendengarnya sekilas dari Redomir. Dia pernah membahas kelompok itu dengan seseorang di telepon. Namun, aku juga tidak tahu siapa yang dia hubungi waktu itu. Mereka hanya berbicara masalah senjata,” jelas Arsen yang kemudian meneguk minumannya


“Kapan kau mendengar hal itu?” selidik Adriano terlihat semakin menarik.


“Sudah lama, Adriano," jawab Arsen tenang. “Kau ingat ketika dulu melihat tanah yang dilelang di Pulau Kreta? Redomir menghubungi seseorang sebelum kau tiba di sana. Mereka berbicara dengan menggunakan bahasa Inggris. Sepintas aku mendengar dia menyebut nama Tangan Setan saat itu. Namun, aku juga tak bertanya apa-apa padanya, karena kupikir itu hanya nama gemboong mafia biasa," tutur Arsen kembali meneguk minumannya.


Sementara Adriano terdiam dan berpikir dengan dalam. Dia mencoba untuk menarik benang merah dari semua informasi yang sudah masuk kepadanya.


“Dari hasil penyelidikanku di Amerika kemarin, ada sesorang yang mengatakan bahwa senjata hasil buatan Matteo dijual bebas pada sebuah situs gelap. Mereka juga menjualnya dengan harga yang lebih murah dari banderol harga sebenarnya,” terang Adriano lagi.


“Apa kau yakin jika senjata yang mereka jual murah itu benar-benar senjata dari de Luca dan bukan tiruannya?” Coco yang sejak tadi hanya menyimak kini ikut bersuara. Seketika perhatian Adriano dan yang lain tertuju kepadanya. “Bisa saja, kan? Apa yang tidak mungkin pada zaman modern seperti saat ini. Semua orang menghalalkan segala cara demi meraup keuntungan yang besar,” ujar Coco lagi mempertegas pendapatnya. Sementara Adriano dan Marco saling pandang untuk sejenak.


“Itu bisa saja,” Arsen menanggapi ucapan Coco.


“Bukankah dulu Sergei Redomir pernah memesan senjata kepada Matteo dalam jumlah yang cukup banyak? Seharusnya kau juga menyelidiki ke mana larinya senjata-senjata itu,” ujar Coco lagi dengan senyum sinis yang dia tujukan kepada Adriano. Akan tetapi, Adriano tak ingin menanggapi senyuman sinis pria itu. Dia menerima pendapat Coco dengan baik.


“Menurutku sebaiknya kita telusuri kasus ini satu per satu. Jika memang semuanya saling terkait, maka pada akhirnya petunjuk pasti akan merujuk pada satu orang, tidak bercabang seperti saat ini. Dalam setiap kasus pembunuhan, semua orang bisa menjadi terduga,” Pierre mengemukakan pendapatnya. “Jika menurut Anda Tangan Setan ada di balik semua ini, maka sebaiknya kita dahulukan untuk mengungkap kelompok siluman itu,” saran pria asal Perancis tersebut.

__ADS_1


“Sudah kukatakan dulu bahwa itu merupakan hal yang sangat sulit,” bantah Marco.


“Sulit tapi mereka ada dan nyata. Di Sicilia,” Adriano menanggapi. “Sudah kuputuskan kita akan pergi ke sana besok. Marco dan Ricci temani aku. Arsen, kau sudah kuberikan tugas kemarin. Sementara Pierre tetaplah di sini. Kami akan meninggalkan para wanita untuk beberapa hari. Siapkan keamanan berlapis,” putus Adriano dengan penuh wibawa. Marco segera menyetujui hal itu. Sedangkan Coco hanya mengusap-usap keningnya. Arsen dan Pierre pun mengangguk tanda mengerti dengan tugas mereka.


Keesokan harinya, seusai sarapan Adriano mulai bersiap-siap. Dia segera menuju ke kamar ganti dan mengambil salah satu kemeja hitamnya. Adriano selalu tampil rapi setiap kali hendak keluar. Dia merupakan kebalikan dari Matteo yang lebih nyaman dengan tampilan kasual. Berdiri di depan cermin, pria itu mulai berganti pakaian. Fokus, dia menatap ke cermin di mana terdapat bayangan dirinya. Namun, kini tampak sosok cantik dalam pantulan cermin tersebut. Mia sudah berdiri di sebelahnya. Adriano menoleh, kemudian membalikkan badan jadi menghadap kepada sang istri. Tanpa diminta, Mia mengancingkan kemeja yang masih terbuka itu. “Sisakan dua di atas,” ucap Adriano pelan.


“Kau akan berangkat sekarang?” tanya Mia seraya mengancingkan kemeja yang Adriano kenakan, satu per satu. Sesuai intruksi, dia menyisakan dua kancing bagian atas dan membiarkannya tetap terbuka. “Terima kasih untuk semua yang sudah kau lakukan. Aku yakin Matteo pun akan mengucapkan hal yang sama padamu,” ucap wanita berambut cokelat itu pelan.


“Aku melakukan semuanya untukmu,” balas Adriano menatap lekat paras cantik di hadapannya. Sedangkan Mia tertunduk untuk sejenak. Helaan napas pendek meluncur dari bibirnya. “Apapun akan kulakukan untuk bisa membuatmu merasa tenang,” ucap pria bermata biru itu lagi seraya mengusap lembut pipi Mia menggunakan punggung tangannya.


Mia kemudian mengangkat wajah perlahan dan menatap paras tampan sang suami. Sebuah senyuman kecil muncul di bibirnya yang kini sudah menjadi milik Adriano. Sama seperti saat ini, dia membiarkan pria itu menciumnya lagi. Mia bahkan membalasnya. “Berhati-hatilah. Semoga dari sana kau bisa menemukan banyak petunjuk,” harap Mia sesaat setelah mereka berhenti berciuman.


“Teima kasih atas perhatianmu, Mia. itu sangat berarti bagiku. Jaga dirimu di sini. Aku sudah memerintahkan kepada Pierre untuk melakukan pengamanan berlapis. Kau tidak perlu khawatir, karena mansionku adalah tempat teraman untukmu dan juga Miabella,” pesan Adriano sesaat sebelum dirinya keluar dari kamar dan berlalu menuju landasan helikopter yang akan membawanya terbang menuju ke Sicilia.


Sementara itu, Mia hanya terpaku menatap kepergian sang suami, hingga langkah gagah Adriano benar-benar menghilang dari pandangnnya. Perasaan ibu dari Miabella tersebut begitu aneh. Entah apakah dirinya sudah dapat menafsirkannya dengan baik atau tidak.


🍒


🍒


🍒


Hi, readers. Ini ceuceu bawakan rekomendasi novel seru untuk dibaca. Jangan lupa, tengok ya. Grazie.


__ADS_1


__ADS_2