Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Carlo's Happiness


__ADS_3

Carlo yang saat itu masih berdiri di luar kamar Miabella, termenung untuk beberapa saat setelah mengakhiri panggilannya bersama gadis cantik tersebut. Apa yang Miabella katakan memang benar adanya. Tak lama lagi, Adriano pasti akan langsung memerintahkan dia untuk segera kembali ke Monaco.


Kenyataannya memang sesuai dengan yang Carlo pikirkan. Tak berselang lama, ponsel milik pria tampan tersebut bergetar. Adalah sebuah panggilan masuk dari sang ketua Tigre Nero. Adriano menyuruhnya agar segera menghadap. Tanpa banyak membantah, Carlo langsung saja menemui sang tuan yang saat itu berada di ruang kerja.


Carlo pernah tinggal di Casa de Luca. Walaupun tidak lama, tapi dia tahu dan dapat menghapal dengan baik tata letak ruangan di sana. Tanpa merasa kesulitan, pria tampan berambut gelap tadi sudah berada di depan pintu ruang kerja di mana Adriano menunggunya. "Tuan," sapa Carlo, setelah meminta izin untuk masuk.


Adriano yang saat itu tengah berdiri menatap ke luar jendela, segera menoleh. "Kau belum tidur sama sekali?" tanyanya.


"Belum sempat, Tuan," sahut Carlo. Dia berdiri tenang menunggu apa yang akan Adriano titahkan kepada dirinya.


"Jangan tidur dulu. Sebentar lagi kita akan sarapan. Kau harus mengisi perut dan menjaga kesehatanmu," ucap Adriano seraya menyunggingkan sebuah senyuman yang tidak terlalu lebar. Sedangkan Carlo hanya menggumam pelan sambil mengangguk sopan.


"Aku harus kembali ke Monaco. Kau tahu bahwa sesuai rencana, diriku dan Mia akan berangkat ke Yunani besok. Adriana juga sepertinya akan ikut pulang bersama kami," terang sang ketua Tigre Nero. Pria bermata biru itu masih terlihat tampan dan awet muda, di usianya yang hampir menyentuh setengah abad.


"Jadi, kapan aku harus kembali ke Monaco?" tanya Carlo. Dia tak harus berharap yang lain lagi, selain kembali ke negara para milyarder tersebut.


Adriano kembali tersenyum kalem. Dia lalu berjalan mendekat kepada pria tiga puluh empat tahun itu dan berdiri di hadapannya. "Seperti yang kukatakan tadi. Kau harus menjaga kesehatanmu, karena pasti akan memerlukan energi yang sangat banyak untuk menjadi pengawal putriku Miabella," jelas Adriano yang seketika membuat Carlo terpaku. Dia tak tahu harus berkata apa.


"Kenapa, Carlo? Apa kali ini kau merasa tidak sanggup?" tantang Adriano yang heran saat melihat sikap anak asuhnya tersebut. "Kau yang jauh lebih tahu betapa luar biasanya dia. Aku rasa, Miabella memang sengaja berulah agar diriku mengembalikan jabatanmu." Adriano tersenyum seraya menggumam pelan.


"Apakah Anda serius, Tuan?" tanya Carlo memastikan. Ada rasa tak percaya setelah mendengar ucapan Adriano tadi.


"Apa aku terlihat sedang bercanda?" Adriano mengernyitkan keningnya.


Akan tetapi, Carlo masih terlihat tak percaya. "Ya, Tuhan. Bolehkah aku memelukmu, Tuan?" Entah dengan cara apa bagi Carlo untuk dapat mengekspresikan rasa bahagia yang ada dalam hatinya. Tanpa menunggu persetujuan dari Adriano, pria itu lagsung saja merengkuh tubuh ayah sambung Miabella tersebut.


"Akan kusuruh orang untuk membawakan barang-barangmu kemari," ucap Adriano lagi setelah Carlo mengurai pelukan.

__ADS_1


"Terima kasih, Tuan. Aku senang sekali dengan keputusan Anda kali ini." Carlo tak henti-henti menyunggingkan senyuman manis di wajah tampannya.


"Jadi, kemarin-kemarin kau sebenarnya tidak menerima keputusanku dengan sepenuh hati?" pancing Adriano yang membuat senyum kebahagiaan Carlo seketika memudar. Pria itu tampak serba salah untuk menjawab. Untunglah karena ketukan di pintu berhasil menyelamatkan Carlo dari rasa bimbang tadi.


Tak berselang lama, wajah Coco muncul. "Amico?" sapanya. Coco dan keluarga kebetulan baru pulang dari Roma. Mereka harus mengurus persiapan pindah yang akan dilakukan minggu depan. Adegan penuh kehangatan antara Adriano dan Carlo pun harus berakhir, karena kehadiran Coco menjadi alasan bagi Carlo untuk pamit dari ruang kerja itu.


"Aku mendengar apa yang terjadi pada Bella dan Romeo," ucap Coco sambil menuangkan minuman. Dia lalu duduk dan meletakkan kotak rokoknya di atas meja.


"Ya. Untung saja karena kami bergerak cepat. Namun, ini sama artinya dengan sebuah teror. Kita tetap harus waspada, karena mereka menyasar Klan de Luca secara terang-terangan." Adriano kemudian ikut duduk.


"Lalu apa yang akan kau dan Marco lakukan setelah ini?" tanya Coco lagi. "Terus terang saja bahwa aku sudah memutuskan untuk hidup dengan normal. Francesca tidak lagi mengizinkanku terlibat dalam urusan-urusan seperti itu," tutur pria berambut ikal tersebut.


"Ya, istrimu sama saja dengan istriku. Masih untung karena Mia tak meminta agar aku membubarkan Tigre Nero," ujar Adriano menanggapi. Dia mengambil sebatang rokok yang Coco suguhkan tadi. "Aku akan kembali ke Monaco nanti sore," ucap Adriano lagi setelah menyulut dan mengisap sebentar rokoknya.


"Kenapa buru-buru sekali?" tanya Coco.


"Apa Marco juga akan kembali ke Palermo?" tanya suami dari Francesca itu lagi. Dia meletakkan gelasnya kemudian mengambil sebatang rokok. "Miabella benar-benar sulit dikendalikan. Tak terbayang jika aku memiliki anak seperti itu." Coco menggeleng pelan sambil menyulut rokoknya. Dia memang terlihat stres saat melihat kelakuan Miabella, Romeo, ataupun Tobia. Tentu saja pria itu akan merasa pusing setengah mati, karena ketiga anaknya merupakan tipe anak-anak yang penurut.


"Aku belum tahu dengan rencana dari Marco. Kau tanya saja sendiri padanya." Adriano mengempaskan napas pelan. Dia lalu mematikan rokok yang masih tersisa setengah lagi. Adriano pun beranjak dari duduknya. "Kenapa Mia belum memanggil untuk sarapan? Padahal aku sudah lapar," pikir ayah dua anak tersebut.


"Kulihat dia tadi sedang asyik berbincang bersama Francy. Kau tahu bukan bagaimana wanita jika sudah melakukan hal seperti itu?" Coco ikut berdiri, kemudian dengan akrabnya merengkuh pundak Adriano. Kedua pria rupawan itu pun keluar dari ruang kerja.


Setibanya di ruang makan, ternyata seluruh anggota keluarga sudah siap menunggu. "Kenapa kau lama sekali, Sayang?" tanya Mia dengan sorot aneh.


"Daddy mungkin tak tahu bahwa kita sudah kelaparan menunggu sejak tadi," timpal Adriana yang kemudian dilirik oleh Romeo.


"Dasar pria memang seperti itu, Mia. Mereka suka lupa waktu kalau sudah berbincang sambil merokok dan minum bersama." Francesca ikut bersuara.

__ADS_1


Sementara Adriano dan Coco hanya saling pandang. Mereka berdua menjadi terdakwa di hadapan seluruh anggota keluarga. "Apa kau tak ingin ikut menghakimi kami, Dani?" sindir Coco seraya melirik kepada Daniella.


"Suamiku ada di sini, untuk apa harus mengomentari kalian berdua," sahut Daniella dengan sikap serta nada bicaranya yang terdengar ketus.


Sedangkan Adriano dan Coco sama-sama mendelik ke arah Marco yang masih terlihat tenang. Keduanya pun memutuskan untuk duduk di kursi yang sudah disediakan bagi mereka. "Baiklah, kita mulai saja karena aku sudah lapar," ucap Adriano.


"Kakak belum datang." Adriana mengingatkan mereka semua bahwa Miabella dan Carlo ternyata memang belum bergabung di meja makan.


"Ah ...." keluh mereka secara serempak.


Sementara itu, Miabella baru keluar dari kamarnya. Niat gadis itu ialah hendak menuju ruang makan. Miabella tampak sudah segar setelah tidur selama kurang lebih satu jam, kemudian membersihkan dirinya.


"Nona," sapa Carlo yang terlihat sangat bersemangat saat melihat Miabella. Gadis itu pun tertegun dan menoleh. Dia tak menyadari keberadaan pria dengan lengan penuh tato tersebut.


"Kau? Sejak kapan kau ada di sini?" tanya Miabella dengan tatapan heran.


"Sejak tiga puluh menit yang lalu," jawab Carlo. Dia lalu menegakkan tubuh, setelah awalnya berdiri sambil bersandar pada dinding. Namun, Miabella tampak biasa saja saat itu. Gadis cantik tersebut bahkan cenderung terlihat malas berhadapan dengan dirinya. "Apa kau baik-baik saja, Nona?" tanya Carlo khawatir.


"Tidak," jawab Miabella dengan segera.


"Kenapa? Apa kau merasa trauma atas peristiwa semalam?" tanya Carlo lagi semakin mendekat.


"Tidak juga," sahut Miabella ketus.


"Lalu?"


"Aku tahu kau menemuiku pasti untuk berpamitan."

__ADS_1


Mendengar hal itu, Carlo segera tersenyum. Senyuman yang memberikan tanda tanya bagi Miabella.


__ADS_2