
Adriano membawa Mia kembali ke kediamannya. Di sana menjadi tempat paling aman, bagi wanita yang sedang terlihat kacau seperti Mia. Setelah memarkirkan mobilnya di tepi jalan, Adriano kemudian mengajak janda dari Matteo de Luca itu untuk turun. Mereka berjalan beberapa meter melewati sebuah gang yang cukup lebar, hingga akhirnya tiba di depan bangunan bercat putih dengan pintu berwarna biru.
Dengan segera, pria bermantel hitam itu membuka pintu pagar berukuran sekitar delapan puluh hingga sembilan puluh sentimeter. Setelah menutup kembali pagar kayu tadi, mereka lalu menaiki deretan anak tangga yang berjumlah sekitar sembilan undakan. Sesaat kemudian, keduanya tiba di depan pintu masuk utama.
Adriano segera membuka kunci pintu tersebut. Dia mempersilakan Mia untuk masuk. Wanita itu kembali ke tempat yang tidak ingin dirinya datangi lagi. Namun, kejadian menakutkan tadi telah membuatnya berubah pikiran.
“Ayo kita makan dulu,” ajak Adriano sambil membuka bungkusan yang dia bawa.
Bungkusan itu berisi makanan yang dibelinya di kedai, bersamaan dengan Mia yang mencoba untuk melarikan diri secara diam-diam. Adriano sudah duduk di meja makan berukuran kecil yang terbuat dari rotan. Di sana, hanya ada tiga buah kursi. Sementara, Mia saat itu masih berdiri. Dia seakan tak tahu harus melakukan apa.
“Kemarilah, Mia,” ajak Adriano lagi seraya menatap wanita yang bahkan belum melepas mantelnya.
Mia menoleh dan membalas tatapan Adriano untuk sejenak. Dia akhirnya menurut, ketika Adriano memberi isyarat untuk kedua kalinya, agar wanita itu segera duduk di meja makan kecil tersebut.
Masih dengan raut datar dan aksi bungkam, Mia duduk di salah satu kursi meja makan yang berhadapan langsung dengan Adriano.
“Terima kasih,” ucapnya pelan, ketika Adriano menyodorkan makanan ke hadapannya. Dia baru membuka mulut dan mengeluarkan suara meskipun hanya sedikit.
“Makan dan habiskan. Aku tidak suka melihat tubuhmu yang tampak kurus seperti itu,” suruh Adriano tenang. Pria itu terlihat tanpa beban sama sekali saat mengatakan hal tersebut.
__ADS_1
“Kurus ataupun gemuk, tidak ada urusannya denganmu,” sahut Mia datar dan pelan, sampai-sampai Adriano harus menajamkan pendengarannya.
“Memang tidak ada. Akan tetapi, itu sangat mengganggu penglihatanku,” balas Adriano terdengar begitu enteng. Dia mulai memasukkan satu suapan ke dalam mulutnya.
Sementara, Mia belum juga menyentuh makanan itu. Melihat sikap Mia, Adriano pun menghentikan suapannya kemudian menghela napas panjang, lalu mengempaskan perlahan. Untunglah, dirinya memiliki tingkat kesabaran yang cukup tinggi, sehingga dia masih dapat terlihat tenang atas semua sikap aneh Mia yang dirasa cukup memusingkan.
“Makanlah selagi masih hangat, Mia. Kau seharusnya bersyukur, karena di luar sana ada jutaan orang yang kelaparan setiap harinya. Jadi, jangan pernah menyia-nyiakan apapun yang sudah Tuhan anugerahkan padamu. Termasuk makanan ini,” ujar Adriano, mengeluarkan petuah dengan agak jengkel. Dia seperti seorang ayah yang tengah menasihati putrinya.
“Aku tidak tahu jika kau adalah orang yang sangat bijak dan religius,” sindir Mia halus, masih dengan nada bicara yang sama.
Adriano hanya tertawa pelan mendengar ucapan Mia. Dia meneguk minumannya. “Ini bukan tentang seberapa bijak dan religiusnya diriku, Mia. Kau hanya belum dapat memahaminya untuk saat ini,” ucap pria bermata biru tersebut pelan, membuat Mia semakin terdiam. Hal itu kembali membuat Adriano merasa tak tahan untuk menegurnya. “Kenapa hanya diam? Ayo makan atau kau ingin kusuapi?”
“Kau ingin kusuapi, Cara mia?” Suara Matteo terdengar begitu jelas di telinga Mia. Wanita itu mengangguk pelan seraya membuka mulut. Dia mengunyah dengan perlahan, seakan ingin menikmati cita rasa dari makanan yang tengah disantapnya.
“Bagaimana, Mia? Apa kau menyukainya? Makanan ini bernama Moussaka.” Suara Adriano seketika menyadarkan lamunan Mia, yang tanpa sadar telah menerima suapan pria itu. Mia menerima perlakuan Adriano, karena dirinya tengah sibuk memikirkan Matteo.
Adriano kembali menyodorkan satu suapan lagi ke dekat mulut Mia. Untuk kali ini, dengan segera wanita berwajah pucat itu mengambil sendoknya. “Aku bisa makan sendiri,” tolak Mia pelan.
Sementara, Adriano hanya tersenyum kecil. Dia menatap sejenak kepada Mia, kemudian beralih pada sendok yang baru dipakainya untuk menyuapi wanita cantik itu. Adriano kembali menyunggingkan sebuah senyuman tipis. Dia lalu menempelkan sendok tadi pada bibirnya.
__ADS_1
Baru saja Adriano akan melanjutkan santap malam yang belum selesai, dering ponsel telah terlebih dulu berbunyi. Tak ingin mengganggu Mia yang sedang makan, Adriano segera menjawab panggilan yang merupakan dari salah satu staf kepercayaan di resort miliknya.
“Lanjutkan makanmu, Mia. Aku harus menjawab panggilan ini sebentar." Setelah berkata demikian, Adriano berlalu dan sedikit menjauh dari Mia.
Sayup-sayup, terdengar pria itu berbicara dalam Bahasa Yunani yang sama sekali tidak Mia pahami. Entah apa yang tengah diperbincangkannya di telepon, karena Mia pun sebenarnya tak peduli. Dia terus melanjutkan santap malamnya hingga habis. Tak disangka, Mia menyukai makanan khas negara itu.
Beberapa saat kemudian, Adriano kembali ke meja makan. Senyumnya kembali merekah, tatkala melihat Mia yang telah menghabiskan makanannya. Pria berambut hitam tersebut, kemudian duduk dan menatap wanita yang selama beberapa tahun terakhir selalu mengisi hati dan pikirannya dengan penuh arti. Dia lalu meletakkan ponsel di atas meja.
“Besok aku akan menghadiri acara peresmian resort, karena lusa aku akan kembali ke Monaco. Akhirnya, setelah sekian lama pembangunan, tempat itu pun selesai juga. Apa kau bersedia untuk ikut? Kau pasti akan menyukainya,” tawar pria berparas rupawan tersebut dengan sedikit berharap.
“Kenapa aku harus ikut denganmu?” Mia balik bertanya tanpa memandang ke arah Adriano.
“Karena aku ingin membuatmu terkesan,” jawab Adriano dengan tenang. “Bagaimana dengan ajakanku sebelumnya? Jika kau belum berniat untuk kembali ke Italia, maka ikutlah denganku ke Monaco. Banyak hal yang bisa kau lakukan di sana. Kita bisa pergi ke Perancis dan menikmati keindahan Menara Eiffel, atau mungkin kau ingin naik kapal pesiar dan merasakan sensasi yang berbeda. Menonton pacuan kuda, atau ....” Adriano tak melanjutkan kata-katanya. Dia hanya menatap Mia dengan lekat, “atau sebaiknya kuantar kau ke Casa de Luca dan menata kembali hidupmu demi Miabella,” lanjutnya pelan, dalam, dan penuh arti.
Mia tidak menjawab ataupun menanggapi semua ucapan Adriano, meski hanya dengan sebuah gerak tubuh. Wanita itu lagi-lagi membisu dan seakan kebingungan menentukan keputusannya. Beberapa saat kemudian, Mia mengarahkan pandangan ke arah lain, pada jendela kayu berwarna biru. Setelah itu, tatapan Mia lalu kembali pada paras tampan pria di hadapannya. “Apa kau sering kemari dan tinggal lama di sini?” tanyanya.
“Aku pergi ke manapun yang kuinginkan, karena aku belum merasa terikat pada satu tempat yang membuatku harus menetap lama di sana dan mungkin tak ingin meninggalkan tempat itu,” jawaban yang terdengar sedikit janggal bagi Mia, membuat wanita itu menautkan kedua alisnya.
“Kenapa bisa begitu? Kau sudah memiliki hunian yang lebih dari sekadar nyaman di Monaco,” tanyanya penasaran.
__ADS_1
“Karena tidak ada siapa pun yang menungguku untuk pulang,” jawab Adriano datar, tapi terdengar cukup menyakitkan.