
"Hai, Carlo. Masuklah, Nak," sambut Mia tak kalah hangat. Wanita itu berdiri, lalu turun dari ranjang saat pemuda tujuh belas tahun tadi melangkah ke dalam kamar. Carlo pun berdiri di dekat ujung ranjang Miabella sambil memperhatikan balita cantik bermata abu-abu itu.
"Bagaimana keadaan nona kecil?" tanya pria muda bertubuh jangkung tersebut.
"Dokter baru selesai memeriksanya. Dia mengatakan bahwa Miabella tidak apa-apa. Puji Tuhan karena kau datang tepat waktu untuk menolong putriku." Mia tersenyum lembut. Dia begitu tulus berterima kasih kepada remaja dari rumah singgah milik Adriano itu.
"Semuanya hanya kebetulan, Nyonya," sahut Carlo merendah. "Aku senang jika nona kecil baik-baik saja," ucapnya kemudian. Dia kembali mengarahkan pandangan kepada Miabella dan menatapnya beberapa saat.
"Ucapkan terima kasih kepada Carlo, Sayang," suruh Mia dengan lembut. Dia melirik Miabella yang menoleh padanya. Akan tetapi, gadis kecil itu hanya terdiam. Miabella menatap Carlo dengan sorot aneh. Dia tak mengenal pemuda asing tadi.
Mia pun tertawa renyah. Wanita itu duduk di dekat Miabella, kemudian merengkuh tubuh mungilnya. Setelah mengecup pucuk kepala gadis kecil tersebut, dia lalu mengarahkan pandangan kepada Carlo. "Inilah putriku, Carlo. Dia tidak pandai bergaul. Miabella hanya dekat dengan orang-orang tertentu yang dia kehendaki. Bisa dibilang putriku memang pilih-pilih dalam menentukan teman bermain," jelas Mia tanpa melepas senyum hangatnya.
"Tidak apa-apa, Nyonya. Aku sama sekali tidak masalah dengan hal itu," sahut Carlo menanggapi. "Omong-omong, di mana tuan Adriano?" tanyanya.
"Ada apa menanyakanku?" Suara Adriano terdengar di sana. Dia baru kembali dari depan, setelah mengantar dokter Meazza.
"Tidak apa-apa, Tuan. Aku hanya ingin bicara sedikit dengan Anda," jawab Carlo mengalihkan perhatian kepada Adriano yang saat itu telah berdiri di sebelahnya.
"Bagaimana jika kalian lanjutkan perbincangan sambil makan siang saja," tawar Mia. "Akan kubawakan makan siangmu kemari, Sayang," ucapnya kemudian pada Miabella yang masih terlihat aneh.
......................
Helikopter yang akan membawa Adriano beserta kekuarga kecilnya ke Monaco, telah tiba dan mendarat di landasan Casa de Luca beberapa saat yang lalu. Adriano pun berpamitan kepada Damiano, Coco, dan juga Francesca. Dia juga telah berpamitan kepada Emiliano lewat sambungan telepon.
"Jangan nakal di sana, Bella. Ingat jika ibumu sedang hamil. Jangan buat dia kerepotan. Satu lagi, jangan bermain sendiri di dekat kolam," pesan Damiano. Dia berkali-kali mengulang kata 'jangan' kepada cucu kesayangannya tersebut.
__ADS_1
"Iya, Kakek. Cerewet," balas Miabella. Entah dia paham atau tidak dengan apa yang dikatakannya
"Bella!" tegur Mia dengan segera.
"Romeo sering mengatakan itu jika bibi Dani bicara padanya," ujar Miabella seraya memeluk paha Adriano saat melihat Mia yang melotot terhadap dirinya.
"Aku akan menegur Marco," gumam Adriano.
"Semua barang bawaan sudah masuk, Tuan." Carlo yang baru memasukkan koper milik Mia dan Adriano, datang menghadap. Sedangkan dia hanya membawa ransel butut yang sudah sobek di beberapa bagian.
"Bagus. Terima kasih, Carlo," sahut Adriano. Dia lalu berpamitan pada semua yang ada di sana.
Begitu juga dengan Mia yang merasa terharu saat memeluk Francesca. "Kau punya tanggung jawab baru, Francy. Rawat dan jangan biarkan suamimu kelaparan," pesan Mia diiringi sebuah senyuman.
"Tenang saja, Mia. Ricci tak akan menyesal karena telah menikahiku." Francesca tersenyum lebar seraya melirik suaminya yang tengah berbincang dengan Adriano, sebelum sang ketua Tigre Nero mengajak Mia untuk segera masuk ke helikopter.
Carlo tersenyum ceria. Seurmur hidup, ini adalah pertama kalinya dia naik helikopter. Selama ini, dia selalu pergi ke manapun dengan angkutan umum atau berjalan kaki. Ibarat mimpi yang menjadi kenyataan, kini pemuda tujuh belas tahun itu tahu rasanya berada jauh dari tanah yang selalu dia pijak dengan sepatunya yang hampir jebol.
"Apa kau menikmati perjalananmu?" tanya Adriano yang merasa senang saat melihat raut wajah Carlo.
"Ya, Tuan. Ini sangat luar biasa," jawab Carlo. Dia menoleh sesaat kepada Adriano, sebelum kembali melihat ke luar jendela. "Aku terbang, ibu," gumam pemuda berambut hitam tersebut dengan bangga.
Tak membutuhkan waktu yang lama, hingga helikopter itu tiba dan mendarat di atas landasan mansion megah Adriano. Lagi-lagi, Carlo dibuat tercengang saat melihat bangunan dengan dominasi warna putih yang berukuran sangat luas itu. Rasa kagumnya terhadap Adriano kian menjadi, dan membuatnya semakin termotivasi untuk bisa mengikuti jejak pria tiga puluh dua tahun tersebut.
Sesaat setelah Adriano menapakkan kakinya di atas lantai landasan, senyum hangat seorang pria berambut pirang telah langsung menyambut dirinya. Sang ajudan setia Pierre Corbyn sudah menunggu di depan bangunan mansion.
__ADS_1
"Tuan," sapa Pierre seraya memeluk hangat Adriano. Sekian lama dia tak bertemu dengan sang ketua Tigre Nero. Perasaan rindunya kian mendera. "Bagaimana keadaan Anda saat ini?" tanyanya.
"Aku sudah jauh lebih baik," jawab Adriano. "Sekali lagi aku turut berduka cita," ucapnya kemudian dengan raut penuh sesal.
"Terima kasih, Tuan. Semuanya berlangsung dengan begitu cepat, meskipun aku tahu bahwa hal ini lambat-laun pasti akan terjadi. Aku sudah merelakannya. Lagi pula, itu jauh lebih baik karena kondisi ayahku sudah sangat memprihatinkan," tutur Pierre memaksakan untuk tersenyum. Dia menyertai Adriano dalam langkahnya menuju ke bagian dalam mansion. Sementara Mia, Miabella, dan juga Carlo mengiringi beberapa langkah di belakang.
"Apa kau akan kembali lagi ke Perancis, Pierre?" tanya Mia yang tiba-tiba merasakan ada hal lain.
Pierre segera menghentikan langkahnya saat mendengar pertanyaan Mia. Lajang empat puluh tahun itu kemudian menoleh. Namun, Pierre tak segera menjawab. Dia hanya tersenyum simpul. "Itulah yang akan kubicarakan dengan tuan D'Angelo sekarang," ucapnya setelah beberapa saat.
Adriano pun sudah dapat menebak hal itu sejak awal. "Mari kita bicara di ruang kerjaku," ajaknya seraya kembali melanjutkan langkah. Kedua pria itu pun berlalu cepat meninggalkan Mia, Miabella, dan juga Carlo.
"Siapa pria tadi, Nyonya?" tanya Carlo.
"Dia adalah ajudan setia suamiku. Loyalitasnya begitu tinggi, karena itu kami sudah menganggapnya seperti keluarga sendiri," jawab Mia. "Mari, Carlo. Akan kutunjukkan kamar untukmu," ajak Mia. Dia menuntun Miabella yang tak bicara apapun. Gadis kecil tersebut masih merasa canggung dengan kehadiran Carlo di antara mereka.
Sementara itu, Adriano dan Pierre sudah tiba di ruang kerja. Untuk beberapa saat, Pierre terpaku menatap sang majikan yang tengah menuangkan anggur untuk mereka berdua. Pandangan pria empat puluh tahun tadi kemudian beralih pada sesuatu yang lain, yaitu suasana ruang kerja dengan nuansa merah yang kerap dia datangi. Di dalam ruangan itu pula, dirinya menemani Adriano untuk merumuskan segala hal.
Sekian waktu berlalu tanpa terasa. Pengabdian dan kecintaannya pada sang ketua Tigre Nero, telah berhasil membangun mental seorang Pierre Martin D'aurville alias Pierre Corbyn. Dia belajar banyak hal dari pria yang berusia lebih muda darinya tersebut. Sementara Adriano pun lebih bisa meredam emosi, berkat ketenangan yang selalu dicontohkan oleh pewaris dari salah satu perusahaan konstruksi terbesar di Perancis itu.
"Jadi, kau sudah membuat keputusan besar dalam hidupmu, Pierre?" tanya Adriano sambil menyodorkan gelas berisi minuman kepada sang ajudan setia.
"Iya, Tuan. Bagaimanpun juga, ada tanggung jawab yang sangat besar setelah ayahku tiada. Aku tidak bisa lepas tangan begitu saja dan membiarkan kedua kakak perempuanku yang harus bekerja keras," jawab Pierre menjelaskan.
"Aku bisa memahami hal itu. Dari kemarin pun aku sudah memikirkannya baik-baik." Adriano meneguk minuman dari gelas yang dia genggam. "Aku tidak akan bersikap egois, meskipun sebenarnya kehadiranmu teramat kubutuhkan di sini," ucap pria bermata biru itu lagi.
__ADS_1
"Kita masih bisa melanjutkan komunikasi," ujar Pierre.
"Ya, tentu saja. Monaco dan Perancis adalah tetangga dekat. Kita akan selalu menjalin komunikasi." Adriano tersenyum simpul.