Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Menantu Hebat


__ADS_3

Tak sulit bagi Arsen, untuk menaklukkan dua penjaga yang berdiri di sisi kanan dan kiri pintu masuk dengan kata-kata manisnya. Dua pria yang baru dia kenal itu langsung saja dapat mengobrol ringan dan bebrbasa-basi dengannya. “Tunggulah sebentar lagi, Tuan Moras. Ini adalah jam makan siang tuan Varoni. Jika alarm telah berbunyi, itu tandanya dia sudah selesai makan,” jelas salah seorang penjaga sambil tertawa renyah.


Arsen mengernyitkan kening karena tak paham akan maksud dari perkataan pria itu, tapi dia tetap tersenyum dan bersikap seolah mengerti. “Pascal!” beberapa saat kemudian, sebuah teriakan nyaring berasal dari speaker yang tertempel di sudut atas dinding teras, pada akhirnya membuat Arsen paham atas makna alarm yang disebutkan oleh salah satu penjaga tadi.


“Oh, jadi dia telah selesai makan siang?” tanya Arsen dengan santainya.


“Ya, dan dia juga memanggilku. Ayo, kita masuk bersama-sama,” pria bernama Pascal itu melingkarkan tangannya ke pundak Arsen. Sikapnya seakan-akan telah mengenal pria Yunani tersebut selama bertahun-tahun. “Aku tinggal sebentar, Paolo,” pamit pria itu pada rekan penjaga yang tetap berdiri di tempatnya.


“Bawakan aku buah anggur dari meja,” pinta Paolo, ketika Pascal dan Arsen sudah berada di ambang pintu masuk.


“Tentu,” Pascal mengangguk lalu mengarahkan Arsen untuk terus berjalan ke bagian dalam bangunan. Sementara Arsen kembali mengamati ruangan di sekelilingnya. Interior bergaya romawi, lengkap dengan patung dewa-dewi dan pilar-pilar yang tegak menyatu pada dinding, semakin menambah kesan mewah pada bangunan berlantai marmer itu. Arsen menghentikan langkahnya, ketika Pascal terdiam dan berdiri tegak. Dia lalu mengetuk salah satu dari sekian banyak pintu yang terdapat di sana. Tak berapa lama, pintu itu pun terbuka. Kepala seorang pria berkulit hitam serta berkepala botak, menyembul dari sana. “Tuan Varoni menunggumu,” pria botak itu terdiam, seraya mengalihkan pandangannya kepada Arsen. “Hei, siapa yang kau bawa ini?” tanyanya.


“Oh, namanya tuan Arsen Moras. Dia berasal dari Yunani. Kurasa dia ingin mengajukan kerja sama dengan tuan kita,” jawab Pascal begitu yakin.


Pria berkepala plontos itu tampak berpikir sejenak, sebelum akhirnya mempersilakan Arsen untuk masuk. Di dalam ruangan yang tata letaknya mirip dengan ruang keluarga itu, duduklah seorang pria bertubuh tambun di atas sofa. Dia menarik serbet yang awalnya terpasang di dada, lalu menggunakan serbet itu untuk mengusap mulutnya. “Pascal!” serunya lagi. Kali ini tanpa alat pengeras suara. “Bawakan aku air mineral dan jus anggur dari dapur,” titahnya tanpa menoleh. Sementara dia asyik mencomot buah pir dari dalam keranjang khusus di atas meja, kemudian memakannya dengan rakus.


Melihat hal itu, Arsen merasa begitu jijik. Tak dapat dibayangkan jika pria semacam itu berusaha melecehkan Olivia dulunya. “Ehem,” Arsen berdehem, mencoba menarik perhatian pria yang masih asyik mengunyah itu. Usahanya pun berhasil. Pria bernama Enzio tersebut segera menoleh dan memandang tajam ke arah Arsen.


“Siapa kau?” tanyanya ketus.


“Ah, dia pengusaha dari Yunani, Tuan,” belum sempat Arsen menjawab, Pascal sudah lebih dulu menyelanya. Pria itu meringis pada Arsen, lalu membersihkan meja dari piring-piring kotor yang berserakan. Pascal menaruhnya di atas nampan, lalu membungkuk hormat kepada Enzio. Dia juga mengangguk pada Arsen sebelum berlalu dari sana.


“Pengusaha dari Yunani? Aku merasa tidak pernah mempunyai kolega dari Yunani,” pria tambun itu berdiri dengan susah payah, lalu mengamati Arsen dari ujung kepala hingga ujung kaki. Seorang penjaganya cekatan memindahkan posisi sesuai dengan arah berdiri si tuan tanah. Enzio kemudian duduk kembali. Tatapannya tetap awas tertuju pada raut tampan Arsen.


“Kurasa, kata ‘pengusaha’ itu terlalu berlebihan,” tutur Arsen. “Aku hanyalah pria biasa yang kebetulan mengenal dan berteman dengan banyak pengusaha,” lanjutnya.


“Siapa nama pengusaha yang kau kenal? Sebutkan satu saja,” Enzio mulai menunjukkan ketertarikan pada pembicaraan ini.


“Adriano D’Angelo. Dia adalah pemilik klub malam dan kasino yang tersebar di beberapa kota di Italia, salah satunya Roma,” jelas Arsen.

__ADS_1


“Aku tidak mengenal orang-orang yang berkecimpung di bidang usaha selain perkebunan,” kilah Enzio dengan sombongnya.


“Oh, kalau begitu Anda pasti pernah mendengar perkebunan anggur de Luca,” ucap Arsen yang sukses membuat pria tua di depannya itu terbelalak dan menampakkan raut terkejut.


“Ro-Roberto de Luca pe-pemiliknya, ‘kan?” Enzio tergagap. “Bukankah dia sudah mati beberapa tahun yang lalu? Anaknya juga .…” kalimat Enzio terhenti karena Arsen buru-buru menyelanya.


“Mereka semua memang sudah tak berada di dunia ini lagi, tapi itu bukan berarti jika kekuasaan mereka juga ikut mati,” potong Arsen. “Bisnis keluarga de Luca telah dilanjutkan oleh Marco de Luca dan semakin bertambah maju," lanjutny tenang.


“A-apakah kau kemari karena mereka me-menyuruhmu?” nada bicara Enzio yang terbata telah membuat Arsen curiga. Dia pun memanfaatkan kondisi Enzio yang terlihat ketakutan.


“Kenapa Anda terlihat ketakutan, Tuan Varoni? Apakah Anda pernah memiliki masalah dengan keluarga de Luca?” tanya Arsen sambil mengangkat salah satu alisnya.


“Oh, tentu saja tidak! Aku … aku .…” Enzio seperti kehabisan kata-kata.


“Selama di Italia, aku tinggal di perkebunan de Luca. Seperti itulah kedekatanku dengan setiap orang yang ada di sana,” ujar Arsen sambil mengamati raut Enzio yang sudah dipenuhi oleh butiran keringat.


“Jadi benar kalau mereka yang menyuruhmu kemari?” Enzio mengulangi pertanyaannya dengan wajah pucat pasi.


“A-apa mereka tidak menceritakannya kepadamu? Kurasa tidak mungkin jika kau tidak tahu. Apa ini hanya sekadar pancingan darimu saja?” Enzio semakin terlihat gelisah. Sesekali dia melirik pada pengawal yang berdiri tak jauh dari tempat duduknya.


“Apa saja yang berhasil Anda curi dari sana,” Arsen yang sama sekali tidak tahu permasalahan yang terjadi antara perkebunan de Luca dengan Enzio Varoni, hanya bisa berbicara asal saja.


“Hei, jaga mulutmu! Aku tidak mencuri!” Enzio terpancing. Dia mengarahkan jari telunjuknya kepada Arsen. Salah satu pengawalnya, sigap menghampiri dan awas menatap pria asal Yunani itu. “Roberto hanya menginvestasikan dana untuk memperbesar perkebunanku, agar bisa memanen jauh lebih banyak anggur untuknya,” jelas Enzio.


Senyum Arsen semakin terkembang mendengar Enzio sudah masuk ke dalam perangkapnya. “Ah, jadi Anda tidak memberikan bagi hasil yang semestinya untuk tuan Roberto de Luca, ya?” terkanya.


“Kau tidak berhak menuduhku demikian!” elak Enzio dengan muka merah padam. “Kau tahu sendiri, terkadang hasil panen juga bisa gagal. Jika aku tidak menyetor anggurku, itu berarti panenan sedang gagal," kilahnya.


“Sudah berapa lama Anda tidak menyetor pada keluarga de Luca?” selidik Arsen tanpa takut, meskipun para penjaga sudah berdiri waspada dengan tatapan yang menakutkan ke arahnya.

__ADS_1


“Sudah kubilang, panenku gagal! Tidak ada yang bisa kusetorkan beberapa tahun terakhir ini,” Enzio masih tetap berusaha berkilah.


“Ya, ampun, Tuan. Aku bukanlah orang bodoh yang bisa percaya penjelasanmu begitu saja. Aku merasa sangat tersinggung. Entah bagaimana jadinya jika Marco de Luca, penerus bisnis keluarga itu tahu akan hal ini. Dia bukanlah tipe ramah dan baik hati seperti diriku. Dia jauh lebih kuat dan beringas jika dibandingkan dengan Matteo,” Arsen terpaksa menakut-nakuti Enzio dengan bualannya. Padahal dia tak tahu dengan pasti seperti apa sosok Marco. Dia bahkan hanya mendengar nama itu sekali saja dari mulut Adriano.


“Tolong mengertilah, Tuan Moras. Aku sama sekali tak ingin membuat masalah dengan keluarga de Luca,” wajah angkuh Enzio Varoni seketika berubah. Dia mengiba, menangkupkan kedua tangan di dada sambil memandang memelas pada Arsen. Terlihat jelas betapa dia sangat takut akan nama keramat de Luca.


“Kurasa aku bisa membantumu,” ujar Arsen setelah terdiam beberapa lama. “Asalkan ada imbalan yang setimpal,” imbuhnya.


“Apapun itu, Tuan Moras! Apapun itu!” sahut Enzio mantap.


“Benarkah?” Arsen mundur selangkah, menatap ragu pada pria tersebut.


“Ya, ya, tentu saja! Aku sangat yakin. Jika perlu, kau bisa merekam pembicaraan kita untuk menjadi bukti sekaligus pengikat perjanjian. Aku sungguh tidak ingin mati di tangan mereka, Tuan,” pinta Enzio lagi.


“Baiklah, jika itu yang kau mau,” Arsen mengeluarkan ponsel, lalu mengaktifkan aplikasi perekam. “Aku akan membantumu menyelesaikan urusan dengan perkebunan de Luca, asalkan kau mau membebaskan utang keluarga Bellamy dan memperbolehkan mereka pergi dari tempat terkutuk ini!” tegasnya.


Enzio terbelalak mendengar hal itu. “Ka-kau mengenal keluarga Bellamy?” tanyanya.


“Tentu saja! Mereka adalah mertuaku dan aku sudah mendengar banyak cerita tentang dirimu yang seringkali berusaha melecehkan istriku!” raut tampan itu menegang. Tidak ada lagi sosok ramah, yang ada hanyalah sorot mata penuh amarah.


“Astaga, a-aku .…” Enzio semakin ketakutan. Berkali-kali dia menggelengkan kepala sambil mengatur napasnya yang mulai tersengal.


“Jadi, apakah kau setuju? Anggap saja utang-utang keluarga Bellamy lunas, maka aku juga akan menganggap beres permasalahanmu dengan keluarga de Luca. Aku akan menjamin bahwa Marco tidak akan datang kemari dan memenggal kepalamu,” ujar Arsen.


“Iya, Tuan Moras. Iya! Aku sangat setuju! Terima kasih!” Enzio berdiri dan mencoba menyalami, tetapi Arsen lebih dulu menghindar.


“Satu hal lagi! Jangan sampai aku mendengarmu melecehkan gadis-gadis di sekitar sini ... atau perjanjian kita batal!” tegas Arsen lagi.


“I-iya! Baik, Tuan. Maafkan aku,” Enzio hampir berlutut di hadapan Arsen. Anak buahnya sigap mencegah dan memaksanya agar tetap berdiri.

__ADS_1


“Bagus,” Arsen menyeringai kemudian mematikan rekamannya. Tanpa pamit, dia segera berbalik, kemudian berlalu dari sana. “Aku menyimpan rekaman ini sebagai senjata, seandainya suatu saat kau mengkhianati perjanjian kita!” seru Arsen yang kini sudah berada di ambang pintu. Dia berkata tanpa menoleh lagi. Samar-samar dia mendengar Enzio berkata ‘iya’. Akan tetapi, Arsen memilih untuk keluar dari bangunan itu dan kembali ke tempat mertuanya.


Raut Arsen begitu ceria saat membuka pintu kediaman keluarga Bellamy. Dilihatnya saat itu, Xaverio telah pulang. Pria paruh baya yang awalnya duduk di lantai, segera berdiri dan menyambut ramah menantunya. “Tuan dan Nyonya Bellamy, bersiaplah. Kita akan berangkat k Brescia sekarang juga. Tidak akan ada lagi yang berani menghalangi kalian. Tidak juga si tua cabul bernama Varoni itu! Aku sudah membungkamnya dan membayarkan lunas utang kalian,” ujar Arsen antusias.


__ADS_2