Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Flower Bloom


__ADS_3

Sepeninggal Adriano, Mia lalu menemui kedua saudarinya. Mereka berkumpul sambil berbincang santai di salah satu ruangan yang tak kalah mewah dari ruang tamu mansion itu. Sementara Miabella tengah asyik bermain bersama Romeo dan Tobia. Mereka bertiga dijaga oleh dua orang pengasuh. Sudah lama gadis kecil itu tidak bertemu dengan anak-anak sebayanya.


"Apakah mereka sudah berangkat?" tanya Daniella yang masih terlihat cantik dengan bentuk tubuh indah, meskipun sudah melahirkan dua orang putra. Pantaslah jika selama ini dia selalu menjadi incaran para pria.


"Aku rasa iya. Adriano baru saja berpamitan padaku. Semoga kali ini mereka menemukan petunjuk yang tidak meragukan lagi," jawab Mia seraya duduk pada salah satu sofa. "Oh, hampir lupa. Sewaktu kemarin pergi ke Amerika, aku sempat membelikan kalian sabun kecantikan dari Kentucky. Aku sangat menyukai aromanya yang unik. Semoga kalian juga menyukainya," ucap Mia.


"Kau baik sekali, Mia. Entah kapan aku bisa pergi ke Amerika," sahut Francesca dengan ekspresi penuh harap.


"Kami menghabiskan waktu di Malibu dan tempat-tempat lainnya. Itu sungguh pengalaman yang mengesankan untukku," balas Mia dengan senyuman lebar di wajahnya.


"Adriano memang sangat baik. Kau dimanjakan bagai ratu. Sikapnya terhadap Miabella juga tidak menunjukan bahwa dia hanya seorang ayah sambung bagi putrimu, Mia. Selain itu, dia juga terlihat begitu bersemangat mengungkap kasus kematian Matteo. Adriano benar-benar ingin membuat dirimu bahagia. Aku bisa melihat hal itu dari caranya menatapmu, meskipun menurutku dia tidak seperti Matteo yang senang menunjukan perasaannya secara berlebihan di depan umum," ucap Daniella lagi. Sebagai seseorang yang paling tua di antara kedua saudarinya, dia juga harus memiliki pikiran yang jauh lebih dewasa.


"Ya, Dani benar sekali," Francesca ikut menimpali. "Suamimu yang sekarang merupakan seseorang yang kalem dan merupakan kebalikan dari Matteo. Menurutku itu benar-benar keren. Keduanya sama-sama pria yang luar biasa," Francesca terkikik geli dengan ucapannya sendiri.


Mia tersenyum simpul mendengar ucapan polos sang adik. Hatinya yang tengah dilanda dilema, kini merasa semakin galau. Mia belum dapat menentukan arah perasaannya sendiri. Dia juga masih ragu akan semua getaran-getaran yang pernah muncul, tatkala berdekatan dengan pria itu.


"Entahlah, Francy. Sejujurnya, aku belum bisa melupakan bayangan Matteo sepenuhnya. Kalian berdua tahu seperti apa dulu hubungan kami. Semuanya terlalu indah dan berkesan. Sangat sulit bagiku untuk menepiskan hal itu dan memfokuskan perhatian kepada Adriano," tutur Mia lirih.

__ADS_1


"Oh, Mia ...." Francesca merengkuh pundak sang kakak. Gadis itu meletakan pundaknya di atas pundak Mia. "Aku bisa memahami hal itu dengan baik. Pasti sulit bagimu untuk melupakan segala kenangan indahmu di masa lalu," ujar gadis bermata hazel itu.


"Ya, aku tidak menyalahkanmu jika kau masih teringat kepada Matteo. Terkadang aku juga merasa kesulitan untuk melupakan mantan kekasih, meskipun diriku telah menjalin hubungan cinta yang baru dengan pria lain. Akan tetapi, jika melihat sikap yang Adriano tunjukan padamu selama ini, entahlah ... aku merasa itu seperti sesuatu yang tidak adil baginya," Daniella ikut menimpali. Wanita berambut pirang tersebut mengemukakan pendapatnya yang terdengar cukup bijak.


"Ah, aku juga setuju dengan pendapat Dani. Tidak ada salahnya jika mulai saat ini kau belajar untuk mencintai dan menghadapkan dirimu seutuhnya kepada Adriano," saran Francesca.


"Satu hal yang harus kau ingat Mia," ucap Daniella lagi. "Sulit mencari pria yang benar-benar baik dan sangat mencintai kita tanpa banyak menuntut. Kau pernah merasakan kehilangan, bahkan bukan hanya satu kali. Aku bisa merasakan sakit yang kau alami selama ini karena kepergian Matteo. Namun, jangan sampai kau juga harus kembali merasakan kehilangan. Penyesalanmu akan terasa semakin besar, jika sampai dia pergi sebelum mengetahui perasaanmu yang sebenarnya. Matteo sudah pergi, dan dia tidak akan pernah kembali meskipun kau menunggunya pada seratus kali kehidupan. Saranku, tataplah dia yang saat ini tengah memberikan perhatian padamu," Daniella tersenyum lembut seraya merapikan rambut panjangnya. Sedangkan Mia hanya terdiam mendengarkan, dan mencoba untuk mencerna semua saran dari kedua saudarinya.


Tanpa mereka ketahui, Olivia yang saat itu berniat untuk pamitan dan sudah berdiri dekat ruangan tersebut, mendengarkan semua percakapan mereka. Olivia sudah bersiap untuk pergi ke Piana bersama Arsen. Mendengar itu, senyuman manis terkembang di wajah cantiknya.


"Oh, iya. Aku sudah siap. Aku ingin berpamitan terlebih dulu kepada nyonya," jawab gadis itu seraya berdiri di ambang pintu menuju ruangan di mana ada Mia dan kedua saudarinya. "Nyonya, aku akan berangkat sekarang," ucap Olivia membuat Mia segera menoleh, begitu juga dengan Daniella dan Francesca.


"Hati-hatilah, Olivia. Sampaikan salamku untuk keluargamu," balas Mia dengan senyum lembut khas dirinya.


Olivia mengangguk, kemudian berlalu dari sana. Dia menoleh sesaat kepada Arsen yang sudah menunggunya dengan sebuah senyuman kalem, yang selalu dia gunakan untuk menjerat kaum hawa. Entah berapa banyak yang sudah masuk dan jatuh dalam perangkap cintanya. Satu hal yang pasti, Arsen tak pernah merasa puas hanya dengan satu wanita. "Kita berangkat sekarang?"


Olivia tidak menjawab. Dia hanya menanggapinya dengan sebuah anggukan pelan. Setelah itu, gadis manis tersebut melangkahkan kakinya menuju landasan. Mereka akan berangkat ke Piana dengan menggunakan helikopter milik Adriano.

__ADS_1


"Adriano memintaku untuk menemani dan menjagamu kali ini. Aku harap kau bisa bekerja sama denganku," ucap Arsen sambil membantu Olivia memasangkan sabuk pengaman.


Olivia tidak menjawab. Tiba-tiba ada banyak bunga bermekaran di dalam taman hatinya. Gadis itu tak menyangka bahwa Adriano ternyata memiliki perhatian terhadap dirinya. Sikap pria bermata biru itu selama ini mungkin terkesan dingin dan tak acuh. Akan tetapi, ternyata Adriano masih memiliki rasa peduli yang sangat besar, dengan memfasilitasinya untuk pergi ke Piana dan juga Italia. Pria itu bahkan memerintahkan Arsen untuk mengawal kepergiannya ke dua tempat tersebut. Itu berarti Adriano diam-diam mengkhawatirkan dirinya. Tanpa sadar, Olivia tersenyum sendiri saat memikirkan hal itu.


"Kenapa?" tanya Arsen dengan bahasa Italianya yang terdengar kaku. Pria tampan itu mengernyitkan kening karena merasa heran melihat sikap Olivia.


"Tidak apa-apa," jawab Olivia pelan seraya mengalihkan pandangannya ke luar jendela, ketika helikopter yang mereka tumpangi sudah mulai mengudara. Alat transportasi udara itu terbang tinggi meninggalkan Monaco dan menuju Pulau Corsica, diiringi harapan serta bunga-bunga yang menghiasi angan-angan indah Olivia tentang Adriano.


🍒


🍒


🍒


Hi, readers. Ada satu lagi rekomendasi novel keren yang ceuceu bawa untuk ditambahkan ke rak.


__ADS_1


__ADS_2