
Seusai mandi bersama pada keesokan paginya, Mia melakukan tes kehamilan dengan ditemani Adriano. Perasaan gugup dan harap-harap cemas, terlihat jelas di paras cantik wanita dengan bathrobes putih itu. Sementara Adriano berdiri di belakang Mia, memperhatikan dengan saksama ketika alat pengetes kehamilan ditangan sang istri mulai bekerja. Akan tetapi, setelah beberapa saat ternyata di sana hanya terdapat satu garis merah saja.
"Tak apa-apa, Sayang. Masih ada banyak waktu. Lagi pula, untuk saat ini aku sangat bahagia meskipun hanya dengan kau dan Miabella," ucap Adriano lembut, ketika menanggapi respon Mia yang terlihat sangat kecewa saat mendapati bahwa dirinya tidak hamil.
"Bukan begitu, Adriano. Aku hanya ...." Mia tak melanjutkan kata-katanya. Wanita cantik berambut cokelat itu kembali mengempaskan napas penuh keluh-kesah.
"Apa yang membuatmu merasa begitu terbebani, Mia?" tanya pria bermata biru itu heran.
"Kau, Sayang," jawab Mia dengan segera. Raut wajahnya terlihat sangat tidak bersahabat.
"Aku?" Adriano tampak menautkan alis karena heran.
"Ya, dirimu," tegas Mia. Dia mendelik kepada sang suami, kemudian kembali menghadapkan wajahnya pada cermin wastafel. Mia menatap parasnya yang masih polos tanpa polesan make up. Sesekali, dia mengalihkan pandangan kepada Adriano lewat pantulan cermin tadi.
"Memangnya ada apa denganku? Aku tidak merasakan ada sesuatu yang aneh," bantah Adriano. Dia menatap lekat wajah Mia yang kini lebih memilih untuk memalingkan muka ke arah lain. "Kau menjadi terlalu sensitif, Sayang. Aku rasa mungkin itu karena kau sedang dalam masa pra menstruasi," ujar Adriano mengira-ngira.
Seketika Mia kembali menoleh padanya. Tatapan wanita itu semakin tak bersahabat saja. "Hey, lihatlah. Betapa tuan D'Angelo sangat mengenal hal-hal pribadi yang biasa terjadi pada diri seorang wanita. Oh, kau sangat luar biasa," ujar Mia dengan senyum penuh sindiran terhadap Adriano. Dia juga bertepuk tangan atas ucapannya sendiri. Hal itu membuat Adriano semakin keheranan.
__ADS_1
"Apa kau baik-baik saja, Sayang?" pertanyaan yang terdengar begitu salah di telinga ibunda dari Miabella tersebut.
"Haruskah kau bertanya seperti itu, setelah aku membaca pesan cinta dari mantan wanita yang dulu sering memuaskanmu di tempat tidur? Keterlaluan! Semua pria sama saja!" umpat Mia kesal. Entah apa masalahnya, sehingga dia kembali mengungkit masalah kemarin yang sebenarnya telah diselesaikan. Jelas sudah jika emosi wanita itu sedang tidak stabil. Mia lalu beranjak keluar dari kamar mandi dan segera diikuti oleh Adriano.
"Astaga, Mia. Aku sudah menjelaskannya padamu kemarin. Harus berapa kali kukatakan bahwa antara aku dan Christiabelle hanya sebatas ... itu sebuah profesionalitas dan telah berakhir jauh sebelum kita menikah," Adriano tetap membela dirinya.
"Persetan dengan sikap profesionalnya sebagai wanita pemuas pria-pria hidung belang sepertimu!" tunjuk Mia dengan penuh amarah. "Lihatlah kenyataannya sekarang! Dia merindukanmu untuk menidurinya lagi! Aku rasa dia tidak menemukan pria yang bisa memberinya kepuasan di ranjang, sehingga wanita itu kembali terbayang akan seorang tuan Adriano D'Angelo yang hebat dalam memuaskan para wanita ...."
"Mia!" sergah Adriano dengan tegas dan cukup keras. Dia jelas tak menyukai celotehan sang istri yang dianggapnya sudah sangat kelewatan. "Kali ini kau sangat keterlaluan, Mia!" Wajah Adriano tampak memerah karena menahan emosi yang tak bisa dia luapkan dengan leluasa. Adriano kemudian mendekat dan berdiri tepat di hadapan sang istri yang kini terdiam, tapi masih dengan sorot mata seakan menantang dirinya.
"Ada banyak wanita yang datang dan pergi dalam hidupku, tapi itu tak berarti mereka sangat penting dan dapat meninggalkan jejak yang berharga bagi Adriano D'Angelo. Begitu juga dengan Christiabel. Semua yang terjadi antara aku dan dirinya, itu berlangsung jauh sebelum kita bertemu. Kau tidak harus merasa cemburu buta seperti ini, kecuali jika setelah kita menikah kau mendapatiku berselingkuh dengan wanita itu," tutur Adriano dengan dalam dan terdengar begitu tegas.
"Akan tetapi, di saat aku mulai berpikir ke arah sana, ternyata takdir membawaku bertemu lagi denganmu. Kau yang selama ini kucari dan mengisi rasa penasaran dalam hatiku, ternyata masih hidup meskipun telah dimiliki oleh pria lain. Kau tahu? Sejak saat itu, aku tidak berdekatan dengan wanita manapun, bahkan tidak hanya untuk sekadar berciuman!" tegas Adriano seraya mengempaskan napas penuh amarah. Dia lalu memalingkan wajahnya.
"Jika Christiabel menyimpan perasaan lebih terhadapku, maka itu haknya. Aku tak bisa memaksakan perasaan orang lain. Sama halnya seperti saat diriku begitu berharap agar kau bersedia untuk memberikan perasaanmu, sementara kau begitu tergila-gila kepada Matteo de Luca! Aku punya segalanya! Aku bisa mengendalikan perputaran uang dengan mudah dan menguasai bisnis hingga membuat diriku berjaya! Namun, aku tidak bisa mengendalikan perasaan cinta yang tumbuh dalam hati seseorang. Semua itu di luar kuasaku, Mia. Aku harap kau bisa memahami penjelasanku kali ini. Jika kau masih belum bisa menerimanya juga, maka aku tak punya apapun lagi untuk kukatakan padamu," pungkas Adriano.
Pria itu meraih t-shirt putih yang yang tergeletak di ujung tempat tidur. Tanpa mengenakannya terlebih dahulu, dia berlalu dari dalam kamar. Adriano pergi dari hadapan Mia dengan membawa kekesalan dalam hatinya. "Inikah rasanya berumah tangga?" gerutu pria bermata biru tersebut sambil terus berjalan dan mengenakan pakaian. Tujuannya saat itu adalah ruang bermain billiard.
__ADS_1
"Suruh Pierre agar ke ruang billiard," pesan Adriano pada seorang pelayan yang berpapasan dengannya. Dia tak menunjukkan sikap ramah sedikit pun saat itu.
Si pelayan segera mengangguk sopan. Dia bergegas menemui Pierre untuk menyampaikan pesan dari Adriano, yang kini telah berada di tempat yang dimaksud. Dengan langkah gagah dan tatapan dingin, Adriano mengambil sebuah stik. Setelah menyusun bola-bola kecil di atas meja, pria tersebut tertegun sejenak hingga Pierre hadir di sana.
"Tuan?" sapa pria asal Perancis bermata hijau itu. Dia berdiri satu langkah di belakang sang majikan. "Ada yang bisa kubantu?" tanyanya.
"Temani aku bermain," sahut Adriano datar. Dia sudah bersiap untuk mengawali permainan.
Sementara Pierre mengambil stik yang akan dia pergunakan. Pria berambut pirang tersebut memperhatikan sang majikan yang tidak terlihat baik-baik saja. Sekian lama dia mengabdi kepada Adriano, sehingga dirinya begitu mengenal dan tahu akan setiap perubahan emosi dari pria tiga puluh dua tahun itu. "Apakah Anda baik-baik saja, Tuan?" Pierre memberanikan diri untuk bertanya.
"Ya, aku tidak apa-apa," jawab Adriano menoleh sesaat kepada sang ajudan setia.
"Hampir saja aku lupa. Pagi-pagi sekali, ada orang suruhan tuan Herrera yang datang kemari," lapor Pierre. Dia kini mengambil giliran bermain. Sedangkan Adriano balik memperhatikannya.
"Herrera? Untuk apa dia mengirim orang suruhannya datang kemari?" tanya Adriano seraya berpindah posisi dengan memutari meja billiard di hadapannya.
"Tuan Herrera akan mengadakan pesta. Aku rasa mungkin bukan sebuah pesta tepatnya. Dia bermaksud untuk melakukan acara pengesahan dirinya dalam menggantikan posisi Don Vargas. Seperti yang Anda ketahui, tuan Herrera adalah orang kepercayaan mendiang pria itu," jelas Pierre. Dia mempersilakan Adriano untuk kembali bermain.
__ADS_1
"Secepat itu?" pikir Adriano seraya mengarahkan bolanya hingga masuk ke lubang.
"Dia tak ingin menunggu terlalu lama. Kita tidak tahu ada perjanjian apa antara dirinya dengan Don Vargas semasa hidupnya," balas Pierre menanggapi dan membuat Adriano berpikir dalam-dalam.