
“Mereka datang.” Oxana beringsut ketakutan. “Mereka pasti akan membunuhku.” Dengan spontan gadis itu menarik lengan kaus Carlo dan mencengkeramnya kuat-kuat.
“Astaga, nona Miabella masih berada di perkebunan!” Kini giliran Carlo yang merasa panik. “Aku akan menelepon Dante.” Pria rupawan itu beringsut menjauh, lalu mengeluarkan ponselnya. Dia menghubungi Dante dan menyuruh pecinta anjing itu untuk membawa Miabella masuk ke dalam bangunan utama.
“Hubungi ponsel Miabella juga,” saran Coco.
“Aku yakin dia tidak membawa ponselnya, Tuan. Itulah kebiasaan nona sejak mengurus perkebunan,” terang Carlo.
“Astaga.” Coco meraup wajahnya kasar sambil berpikir sejenak. “Baiklah. Kalau begitu, setelah dari sini kita bergerak berlainan arah. Aku akan membantu Romeo di gerbang dan kau susul saja Bella,” titah Coco. “Sementara kau, Nona Miroslava. Tenanglah. Kau akan baik-baik saja,” tuturnya pada Oxana seraya memencet salah satu tombol yang terletak di meja panel bawah monitor besar. Tombol tersebut berfungsi untuk mengirimkan sinyal darurat ke setiap anggota klan de Luca yang berada di seluruh daratan Italia.
Setelah itu, Coco memencet tombol lain. Dinding yang berada di sisi Oxana perlahan bergeser ke samping. Gadis itu makin ketakuta, saat melihat berbagai macam jenis senjata berderet rapi pada dinding dan rak-rak besar. “Kau bisa menggunakan senapan?” tanya Coco pada Oxana.
“Ti-tidak.” Oxana menggeleng kuat-kuat. Tampak jelas jika jemarinya gemetaran saat itu.
“Kalau begitu, tetaplah di sini untuk bersembunyi,” sarannya seraya memasuki ruang senjata dan mengambil dua buah pistol. Carlo sendiri memilih satu senapan laras panjang. “Hanya itu?” Coco keheranan melihat anak asuh Adriano tersebut yang hanya mengambil satu unit senjata saja.
“Aku sudah mempunyai senjataku sendiri, Tuan,” sahut Carlo terseyum menawan, lalu mengikuti langkah Coco meninggalkan ruangan rahasia tadi.
“Sampai kapan aku berada di sini?” Oxana berseru ketika Coco sudah hampir menutup pintunya.
“Sampai kami datang menjemputmu,” jawab pria berambut ikal itu, bersamaan dengan pintu yang tertutup rapat dan dikunci dari luar.
Di lorong itu, Carlo dan Coco berjalan berbeda arah. Carlo langsung berlari sekencang mungkin menuju perkebunan. Dia akhirnya dapat bernapas lega ketika melihat Miabella tengah berbincang dengan Dante dan beberapa pekerja perkebunan. “Nona!” panggilnya.
“Carlo? Ada apa?” Miabella keheranan ketika melihat Carlo datang menghampirinya sembari menenteng senjata laras panjang. “Untuk apa kau membawa ini? Kau hanya akan menakuti mereka,” protes gadis cantik itu sambil mengarahkan tangannya ke arah para pekerja.
“Apa ada masalah?” Dante yang sudah terbiasa bekerja dalam bahaya, segera mencium sesuatu yang tak beres di sana.
Carlo tak segera menjawab. Dia malah maju mendekat dan membisikkan sesuatu pada Dante. Pria pecinta anjing itu mengangguk pelan, kemudian berlalu begitu saja dari sana.
“Hei, Dante! Mau ke mana kau?” Miabella semakin keheranan melihat sikap dua pengawalnya. Akan tetapi, Dante seakan tak mendengar pertanyaan Miabella. Dia malah bergerak cepat ke kandang anjing-anjingnya.
__ADS_1
“Carlo! Kau belum menjawab pertanyaanku!” intonasi gadis cantik bermata abu-abu itu kian meninggi.
“Sebentar, Nona. Izinkan aku bertanya. Ada berapa orang pekerja di sini?” tanya Carlo tak menghiraukan kalimat Miabella.
“Aku rasa hanya ada sekitar tiga puluh orang, karena tak banyak pekerjaan untuk hari ini. Memangnya kenapa?” tanya Miabella kebingungan.
“Kalau begitu, tolong kumpulkan mereka semua. Nanti saja kujelaskan,” ucap Carlo.
“Um, baiklah,” balas Miabella meskipun benaknya diliputi tanda tanya. Akan tetapi, gadis cantik bermata abu-abu tersebut tetap melakukan apa yang disuruh oleh Carlo. Tak berselang lama, seluruh pekerja yang bertugas di hari itu, berdiri mengelilingi sang pemilik perkebunan beserta pengawalnya.
“Apakah sudah berkumpul semua?” tanya Carlo pelan.
“Sudah. Lalu, bagaimana?” Miabella balik bertanya.
“Sekarang ikuti langkahku. Kita akan bersama-sama masuk ke dalam rumah utama melalui lorong utara,” ajak carlo setengah berseru agar semua orang dapat mendengarnya dengan jelas. Tanpa ada yang membantah, Miabella bersama seluruh pekerja berjalan di belakang Carlo, lalu memasuki lorong bangunan satu demi satu.
Ketika semua orang sudah masuk, Carlo menutup pintu lorong dan hendak menguncinya dari luar.
“Nona, sekali ini saja. Menurutlah padaku. Kau lebih aman berada di bangunan utama,” jawab Carlo dengan nada yang begitu tenang.
“Setidaknya jelaskan apa yang terjadi!” desak Miabella.
“Casa de Luca tengah dikepung oleh organisasi misterius yang dulu sempat menculik tuan muda Romeo. Sementara, hanya itu yang bisa kusampaikan, Nona.” Carlo buru-buru mengunci pintunya sebelum Miabella sempat bertanya lagi. Dia lalu berbalik ke pagar pembatas yang mengitari perkebunan. Ada dua pos di tiap-tiap sisi mata angin perbatasan.
Carlo mendatangi pos-pos itu dan memerintahkan pada setiap penjaganya untuk menyalakan listrik bertegangan tinggi. Setelah seluruh pagar besi yang melingkar itu telah aktif dialiri listrik, Carlo pun berlalu dari sana dan turut bergabung dengan Coco di gerbang samping perkebunan.
Saat itu, Coco berada di puncak menara baja yang sengaja dibangun untuk mengawasi. Carlo memanjat tangga besi supaya tiba di pos puncak. Tampak Coco tengah menggunakan teropong dan mengarahkannya ke depan. “Apa yang Anda lihat, Tuan?” tanya Carlo sembari berdiri di samping Coco.
“Hanya beberapa kendaraan yang berisi beberapa orang.” Coco menyerahkan teropong itu pada Carlo. Pria tampan itu pun segera menggunakannya. Seperti yang telah Coco sampaikan, di depan gerbang samping, terdapat beberapa kendaraan SUV hitam yang parkir berjajar di sana. Mobil-mobil itu dalam keadaan pintu yang terbuka, sehingga terlihat beberapa orang yang berada di dalamnya. Mereka hanya diam di tempat, duduk-duduk tanpa melakukan apapun.
“Tidakkah itu aneh, Tuan? Mereka seolah menunggu sesuatu,” gumam Carlo.
__ADS_1
“Padahal di gerbang utama, teman-teman mereka sudah dibabat habis oleh Romeo. Tidak mungkin kalau mereka tidak mengetahuinya,” balas Coco.
“Lalu, bagaimana dengan orang-orang itu? Apakah mereka tak hendak menyerang?” Carlo semakin keheranan.
“Kita tunggu saja. Apalagi sebentar lagi anggota klan akan datang,” jawab Coco dengan santai. Dia malah sempat merogoh sebungkus rokok dari dalam saku celana jeans dan menyodorkannya kepada Carlo.
Pengawal Miabella itu mengambil sebatang, lalu menyulutnya. Dia menjepit rokok yang tengah menyala tersebut menggunakan bibir, sedangkan kedua tangannya sibuk mengoperasikan teropong. “Oh lihat, Tuan. Rombongan klan de Luca sudah tiba,” tunjuknya.
Coco mengambil teropong dari genggaman Carlo, lalu kembali mengawasi. Terlihat iring-iringan puluhan sedan sport berwarna hitam, kemudian bergerak mengitari beberapa mobil SUV tadi. Kendaraan musuh sudah terkepung. Namun, masih juga belum ada tanda-tanda melakukan perlawanan. “Ini aneh sekali. Carlo, cobalah hampiri mereka. Aku akan melindungimu dari atas seandainya mereka berbuat nekat,” titah Coco sambil tetap menggunakan teropongnya.
“Baik, Tuan.” Tanpa membuang waktu, Carlo segera menuruni tangga dan bergegas menuju gerbang samping. Suasana terasa begitu tegang ketika dirinya sampai di sana. Seluruh anggota klan yang berjaga dan membuat barikade melingkar, tampak mengambil sikap waspada. Masing-masing dari mereka juga siap dengan pistol di tangan kanan. Sedangkan pria-pria di dalam mobil SUV itu baru beranjak keluar ketika melihat sosok Carlo berjalan ke tengah-tengah barikade.
“Selamat pagi menjelang siang, Tuan-tuan,” sapa salah satu dari orang-orang misterius itu. Bahasa Italianya terdengar begitu kaku di telinga Carlo.
“Mau apa kalian kemari? Temanmu sudah habis di gerbang depan. Hanya kalian yang tersisa di sini,” seru Carlo.
“Kami sama sekali tak ada hubungannya dengan orang-orang di gerbang depan,” jawab pria tersebut, membuat Carlo mengernyitkan kening.
“Kami datang tanpa sepengetahuan Czar,” lanjut pria yang sepertinya berusia jauh di atas Carlo.
“Czar? Orang yang memerintahkan untuk menculik tuan muda dan hendak mengambil alih klan de Luca?” cecar Carlo.
“Maafkan kebodohan Czar, Tuan. Dia tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa,” tutur pria itu sembari berjalan maju mendekati Carlo.
Sontak, para anggota klan yang mengelilingi mereka langsung mengangkat senjata dan mengarahkannya pada pria tersebut.
“Tunggu!” Carlo mengangkat tangan sebagai isyarat agar anggota klan menahan diri sejenak. “Mari kita dengarkan apa katanya.”
Pria itu tersenyum penuh arti sambil menatap paras tampan Carlo lekat-lekat. “Akhirnya kami menemukan Anda, Tuan,” ucapnya kemudian. Pria itu bersikap setengah membungkuk, seolah memberi hormat pada Carlo.
“Siapa kau? Aku sama sekali tidak mengerti maksudmu!” sentak Carlo.
__ADS_1
“Pisau lipat peninggalan ayah Anda, cukup untuk mengungkap siapa diri Anda sesungguhnya, Tuan Karl Mikhailov,” jawab pria itu dengan tenang dan datar.