Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Love Bloom


__ADS_3

“Hai, apa kabar? Tadi aku tidak sengaja bertemu dengan ibumu. Dia mengatakan bahwa kau sudah pulang, tapi ....” wanita cantik berambut pirang itu tak melanjutkan kata-katanya. Dia justru hanya melirik Olivia dengan aneh.


“Oh, iya. Aku baru datang kemarin,” jawab Arsen, “Ini istriku, Olivia Moras,” sahut Arsen sambil merengkuh pundak Olivia yang terlihat kurang nyaman dengan tatapan wanita di hadapan mereka. “Olive, ini adalah Katia. Dia tetangga sekaligus sahabatku sejak kecil," Arsen memperkenalkan wanita cantik dengan singlet putih polos yang dipadukan dengan hot pants jeans


Wanita bernama Katia itu tersenyum hangat pada Olivia seraya mengulurkan tangannya. “Hai, apa kabar? Semoga kau betah tinggal di sini,” ucapnya dalam bahasa Yunani.


Sementara Olivia hanya mengangguk ragu, karena tidak mengerti atas apa yang Katia ucapkan padanya. Dia hanya balas menjabat tangan Katia tanpa mengucap sepatah kata pun.


“Ah, dia tidak bisa berbahasa kita. Olivia berasal dari Italia,” terang Arsen.


“Oh, apa dia bisa berbahasa Inggris?” tanya Katia seraya menatap Arsen dan Olivia secara bergantian.


Mendengar wanita berambut pirang itu menyebut kata ‘Inggris’, Olivia segera mengangguk. “Aku bisa berbahasa Inggris, meskipun tidak terlalu lancar,” sahutnya.


“Baguslah kalau begitu. Aku juga bisa berbicara dalam bahasa Inggris. Nyonya Eireen yang mengajariku. Kami sangat akrab, seperti sahabat,” ujar Katia dalam bahasa Inggris. Nada bicaranya juga terdengar sangat bangga, membuat Olivia sedikit terganggu. Gadis itu mundur sembari menarik lengan Arsen.


“Ada apa?” bisik Arsen dengan bibir yang sengaja menempel di telinga istrinya.


Melihat hal itu, Katia buru-buru mengalihkan pandangannya. Dia lalu teringat pada keranjang anyaman dengan tutup kain bermotif kotak-kotak merah yang sedari tadi dipegang menggunakan tangan kiri. “Ah, hampir saja aku lupa. Aku membuat ini khusus untukmu,” Katia menyodorkan keranjang itu kepada Arsen.


“Apa ini?” Arsen yang penasaran, segera membuka kain penutupnya. Di dalam keranjang terisi penuh oleh roti khas Yunani berbentuk cincin, mirip dengan donat yang dilapisi oleh wijen. Orang-orang Yunani menyebutnya sebagai Koulouri Thessalonikis.


“Kau masih menyukai makanan itu, kan?” tanya Katia menggebu-gebu.

__ADS_1


Untuk sesaat, Olivia mengamati raut cantik di hadapannya. Mata bulat dengan bulu mata lentik asli yang melengkung sempurna. Alis rapi kecoklatan dengan hidung mancung dan senyum memesona dari bibir berlipstik merah muda. Tanpa sadar, Olivia mengusap bibir dan pipinya. Dia begitu polos tanpa riasan sama sekali, dan hanya bedak tabur tipis yang sempat dia sapukan di wajah. Olivia kembali menarik lengan Arsen yang baru saja mengucapkan terima kasih kepada Katia.


“Oh, kau tak sabar ingin segera pergi ke Acropolis?” kembali Arsen berbisik ke telinga Olivia yang segera dibalas dengan anggukan olehnya.


“Apakah kalian akan pergi keluar?” Katia menyadari gelagat tak biasa dari pasangan pengantin baru di hadapannya itu. Saat itu, dia bahkan tak dapat masuk ke dalam rumah, karena Arsen dan Olivia pun masih berdiri di ambang pintu.


“Sayang sekali, padahal aku ingin memasakkanmu sesuatu,” ucap Katia dengan nada bercanda, membuat Olivia mengernyitkan kening. Gadis itu paham benar atas apa yang diucapkan oleh Katia, karena tetangga Arsen tersebut berbicara dalam bahasa Inggris.


“Aku biasa memasak di sini. Bibi Eireen yang sering mengajakku. Kami mempunyai kegemaran yang sama,” jelas Katia pada Olivia.


Sedangkan wanita muda itu hanya bisa memaksakan senyumnya seraya melirik kepada Arsen. Bahasa tubuh yang dapat pria tampan itu pahami dengan jelas. “Mungkin lain kali saja, Katia. Lagi pula, ibuku sedang tak ada di rumah. Hari ini aku berencana mengajak Olivia jalan-jalan ke Acropolis, berhubung ini adalah kali pertama dia menginjakkan kaki di Yunani," ucap Arsen seraya menoleh kepada sang istri, kemudian tersenyum saat Olivia membalas tatapannya. Arsen juga meraih tangan Olivia, lalu mengecupnya lembut. Tatapan matanya tampak begitu hangat kepada wanita yang kini lebih banyak diam semenjak kedatangan Katia.


“Ya, ampun. Aku datang di saat yang tidak tepat rupanya,” Katia tertawa getir, tetapi dia tetap menunjukkan keramahannya. “Baiklah, kalau begitu. Bersenang-senanglah kalian. Aku pulang dulu,” pungkasnya sembari berbalik dan melambaikan tangan. Dia melangkah tenang sambil memasukkan kedua tangan pada saku hot pants yang dikenakannya. Katia terus berjalan melewati beberapa bangunan, hingga akhirnya dia masuk ke sebuah rumah dengan cat tembok berwarna salem.


“Jadi, bagaimana? Kita berangkat sekarang, atau mengulang kembali permainan tadi?” Arsen segera mengikuti sang istri. Dia meraih tangan wanita muda itu hingga menoleh padanya. "Bagaimana?" tanya Arsen lagi seraya mengangkat satu alisnya. Dia juga mendekatkan wajah kepada istrinya itu.


“Apa dia salah satu pacarmu?” Olivia balik bertanya dengan nada yang terdengar ketus dan dingin.


Bukannya menjawab, Arsen malah terbahak saat mendengarnya. “Astaga, aku ingin sekali merasa percaya diri, tapi sayangnyq aku takut kecewa,” ujarnya.


“Apa maksudmu?” Olivia merengut sambil melipat kedua tangannya di dada.


“Aku takut jika saat ini diriku merasa terlalu percaya diri dengan mengira bahwa kau sedang cemburu,” Arsen terkekeh pelan sembari meletakkan keranjang kue di atas meja ruang tamu.

__ADS_1


“Ti-tidak!" bantah Olivia dengan segera. "Aku hanya tertarik dengan warna lipstiknya. Tidak terlalu mencolok dan tidak juga terlihat pucat,” kilah Olivia seraya membuang muka. "Selain itu, dia memiliki bentuk tubuh yang sangat bagus. Penampilannya juga seksi dan ...."


“Penampilan seperti itu sudah biasa bagiku. Sekarang aku lebih suka yang seperti ini," guraunya sambil menarik bagian bawah dress yang Olivia kenakan.


"Hey, apa yang kau lakukan?" Olivia berusaha menarik kembali bagian bawah dressnya yang masih berada dalam genggaman Arsen.


Akan tetapi pria berparas rupawan itu lagi-lagi hanya tertawa renyah. Dia rupanya senang sekali bermain-main dengan Olivia.


"Katakan padaku, apa kau ingin lipstik seperti yang Katia pakai?” Arsen melepaskan genggamannya dari bagian bawah dress Olivia. Dia lalu meraih dagu wanita berambut hitam itu dan menahannya, sehingga posisi wajah mereka kini saling berhadapan.


“Jika hanya membelikanmu peralatan make up lengkap, tentu saja aku bisa. Kecil sekali itu. Akan tetapi, jangan memintaku untuk membawamu keliling dunia dalam waktu dekat, karena uang tabungan yang kumiliki masih belum mencukupi," celoteh Arsen yang mau tak mau membuat Olivia akhirnya kembali tersenyum seperti tadi sebelum bertemu dengan Katia.


"Aku tidak menyangka karena ternyata kau adalah pria yang baik dan lucu," ujar Olivia pelan. "Terima kasih," ucapnya lagi.


"Terima kasih untuk apa?" tanya Arsen menatap lekat sang istri.


"Terima kasih karena kau telah bersedia untuk bertanggung jawab," sahut Olivia kembali tertunduk.


"Hey, kenapa harus berterima kasih?" Arsen menggunakan ujung telunjuknya untuk mengangkat dagu Olivia. "Apa yang kulakukan memang sudah seharusnya. Sudah kukatakan berkali-kali, aku memang seorang pria brengsek yang gemar bermain dengan banyak wanita. Akan tetapi, diriku bukanlah seorang pemerkosa. Semua yang kulakukan atas dasar suka sama suka, seperti halnya tadi yang telah kita lakoni berdua. Aku merasa puas, dan kau juga bisa menikmatinya," jelas pria berparas rupawan itu.


Arsen kemudian mengusap keningnya perlahan. Sementara Olivia masih terdiam menatapnya. "Lagi pula, apa yang kuberikan padamu saat ini masih sangat kurang, mengingat beban mental yang kau alami akibat perbuatan bejatku,” sesal Arsen seraya kembali mengempaskan napas pelan. Tak lama, pria itu kemudian berkacak pinggang sambil menatap keranjang kue yang ada di atas meja.


“Sudahlah, lupakan yang telah berlalu. Aku juga tak mau mengingatnya lagi,” ucap Olivia seraya tersenyum masam. Dia lalu menyelipkan rambut di telinga sebelah kiri, membuat Arsen begitu gemas melihat tingkah istrinya. Tanpa aba-aba, dia segera merengkuh tubuh ramping itu dan kembali menghujaninya dengan ciuman mesra. Kembali diarahkan wanita muda itu untuk duduk di atas sofa, tempat mereka tadi memulai semuanya.

__ADS_1


__ADS_2