Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Stalking


__ADS_3

Adriano menunggu hingga Mia dan juga Miabella tertidur lelap, sebelum akhirnya dia beringsut perlahan dan turun dari ranjang berukuran super besar. Pria itu memang sengaja memesan single bed, dengan maksud agar dirinya dapat tidur bertiga bersama istri dan juga putri sambung kesayangannya. Entah kenapa, semenjak tiba di Inggris, Adriano merasa selalu ingin berada di dekat ibu dan anak tersebut. Ditatapnya untuk sejenak kedua wajah cantik lintas usia yang sudah berada dalam buaian mimpi. Pria itu tersenyum kecil.


Sesaat kemudian, Adriano lalu membuka lemari baju. Dia mengganti kemejanya dengan jaket hoodie berwarna hitam dan sebuah celana jeans. Sesuatu yang amat jarang dipakai olehnya. Terakhir kali Adriano mengenakan busana seperti itu adalah ketika dia remaja. Saat itu dirinya masih tinggal bersama sang paman. Baju-baju kasual yang dia miliki saat ini, lebih banyak mengendap di dalam lemari. Namun, ternyata bisa dia manfaatkan untuk keperluan pengintaian kali ini.


Perlahan, Adriano membuka pintu tanpa suara. Dia lalu menyelinap ke kamar Coco yang bersebelahan dengan kamarnya. “Apa kau sudah siap?” tanya Adriano.


Coco yang saat itu tengah menyelipkan senjata di balik punggung, mengangguk cepat. Dia melemparkan ransel hitam pada Adriano. “Bawalah tas itu. Ada laptop di dalamnya. Dari sana aku bisa mengamati pergerakan pemuda yang akan kita intai,” terangnya.


“Bagaimana? Apa hasil dari pengintaianmu terhadap pemuda itu?” Adriano yang tertarik mendengar perkataan Coco itu akhirnya memilih untuk duduk sejenak pada salah satu kursi yang berada tak jauh dari pria berambut ikal tersebut.


Coco memijit tengkuknya sebelum menjawab. “Kau benar, Amico. Menurutku, dia hanya seorang pemuda biasa. Aku tidak menemukan sesuatu yang menarik, selain dari omelan seorang ibu yang setiap saat diterimanya. Apa menurutmu itu bukan sesuatu yang aneh?” jelasnya.


Adriano yang saat itu duduk sambil menyilangkan kaki dengan ransel di pangkuannya, tampak menautkan alis. “Tangan Setan merupakan perkumpulan berisi para pembunuh bayaran kelas kakap. Sedangkan pemuda yang kemarin hanyalah seorang amatir. Dia bahkan tidak tahu jika pistol yang digunakannya untuk meneror para pengunjung adalah kosong,” pria itu terlihat berpikir.


“Mia mengatakan padaku jika dia mendengar suara letusan senjata api sebelumnya. Itu berarti di antara mereka ada yang memakai senjata berpeluru,” timpal Coco.


“Ya, itu memang benar. Namun, jika memang mereka yang kulihat kemarin adalah benar-benar kelompok Tangan Setan, maka menurutku itu terlalu lucu. Mereka memang berhasil menakut-nakuti dan membuat keonaran. Akan tetapi, cara yang mereka lakukan saat itu terlihat tidak profesional. Mereka hanya mengacungkan senjata dan mengejar orang-orang. Tak sebrutal seperti yang kudengar selama ini,” pikir Adriano lagi masih menunjukan raut aneh.


“Apa kau yakin jika itu memang kelompok Tangan Setan atau ....” Coco tidak melanjutkan kata-katanya. Dia menaikan sebelah alis ketika saling pandang dengan Adriano.


“Kau tahu apa yang harus kita lakukan,” ucap Adriano seraya beranjak dari duduknya. “Ayo bergerak sekarang,” pria rupawan itu menaikkan tudung hoodie hingga menutupi rambut. Dia juga meletakan tali dari ransel hitam itu di pundak sebelah kanan.


“Astaga,” Coco menggeleng takjub seraya berdecak tak percaya.


“Ada apa?” Adriano yang sudah berada di ambang pintu, segera menoleh dengan heran.

__ADS_1


“Menurutku, kau terlihat jauh lebih tampan menggunakan pakaian seperti ini daripada memakai setelan rapi setiap saat,” Coco menyeringai. “Kau memiliki aura pria nakal, Adriano. Seharusnya kau tetap melajang dan menjerat banyak gadis," celetuknya.


“Aku tidak tertarik!” bantahnya. “Ayo, jangan membuang waktu!” tegas Adriano lagi seraya bergegas menuju lift. Di dalam lift, Coco masih terus saja memperhatikan penampilan Adriano dari pucuk kepala hingga ujung kaki.


“Kau juga memakai sepatu kets,” celetuk Coco lagi.


“Memangnya kenapa?” Adriano melirik sekilas, kemudian kembali mengarahkan pandangannya lurus ke depan.


“Apa kau sudah mempersiapkan semua ini sejak dari Monaco?” selidik Coco.


“Aku berencana mempersiapkan pakaian kasual untuk mengajak Mia dan Miabella menjelajah alam terbuka di Birmingham. Namun, siapa sangka jika pakaian ini berguna untuk kukenakan sekarang,” jawab Adriano santai.


“Sebaiknya kau buang saja semua kemeja licinmu itu, Amico. Kau terlihat lebih gagah memakai baju seperti ini.”


sebuah saran konyol dari Coco yang sama sekali tak didengar oleh Adriano. Selain karena dia menganggap hal tersebut tak penting, saat itu mereka juga telah tiba di lantai dasar hotel yang berfungsi sebagai lobby mewah.


“Aku yang menyetir,” ujar Coco cepat. Dia merebut kunci mobil dan menyalip Adriano. Setelah membuka kuncinya, Coco duduk di belakang kemudi sambil tersenyum lebar.


“Tugasmu sekarang adalah menyalakan laptop itu,” tunjuknya pada Adriano yang baru saja duduk di sampingnya.


Adriano hanya mengela napas panjang. Dia tak memiliki pilihan lain lagi selain menuruti sahabat mendiang Matteo tersebut. "Beraninya kau memerintahku," gumam Adriano pelan dan hanya berbalas sebuah tawa renyah dari Coco.


Setelah laptop menyala, Coco mengarahkan Adriano untuk membuka satu aplikasi yang berada pada layar. “Awasi titik merah yang bergerak di atas peta. Titik merah itu adalah si pemuda,” jelasnya sambil terus mengemudi.


“Dia bergerak dan berputar di suatu tempat di ....” Adriano memicingkan mata, lalu mendekatkan layar laptop pada wajahnya, “di London Timur,” lanjutnya.

__ADS_1


“Hmm, sekarang dia sudah berada di London Timur. Tadi kulihat dia masih berada di apartemennya yang berada tak jauh dari sini,” ujar Coco.


“Ah, gawat, Ricci!" Adriano menunjukan raut tegang.


“Ada apa?” Coco menoleh sekilas.


“Titik merahnya menghilang. Apa menurutmu dia menemukan alat pelacak itu, atau sekarang dia sedang berganti baju,” Adriano terdengar ragu.


“Seandainya berganti baju, dia pasti sudah melakukannya sejak di apartemen tadi,” balas Coco. “Di mana lokasi terakhir titik merah itu menghilang?” tanyanya.


Adriano memperbesar peta tersebut dan menemukan lokasi tepatnya. “Di sebuah gudang terbengkalai, dua puluh kilometer dari sini,” tuturnya.


Tak ingin kehilangan jejak, Coco langsung menginjak pedal gas. Jiwa pembalapnya yang sudah terkubur selama belasan tahun, kini muncul kembali. Dengan lihai, dia mengarahkan kemudi sesuai dengan arah jalan dan tiba di tempat tujuan tak lebih dari sepuluh menit. Sementara tangan Adriano kuat mencengkeram pegangan di atas pintu mobil. “Kau membuat kita hampir ditilang,” geramnya.


“Tenang saja, Amico. Batas kecepatan yang diperbolehkan adalah 110 km/ jam. Aku hanya sampai seratus saja,” kilahnya seraya melepas sabuk pengaman. “Ayo! Jangan sampai kita kehilangan jejak!” ajak Coco dengan segera.


Adriano meletakkan laptop di kursi penumpang kemudian turun dari mobil. Mereka berdua mengendap-endap menuju gudang besar di tengah lapangan berdebu. Tampak celah pada pintu gudang tersebut yang agak terbuka. Sedikit cahaya dari lampu menyeruak dari dalam sana. Adriano kemudian membuka pintu yang terbuat dari baja ringan itu dengan waspada. Coco bahkan telah mengokang senjata. Namun, betapa terkejut keduanya, tatkala melihat target yang sudah mereka mata-matai sudah tergeletak begitu saja di lantai gudang.


Mereka berdua segera berlari mendekati pemuda yang perutnya penuh dengan darah. “Anak ini terkena luka tusukan,” Adriano menyingkap hati-hati kaus hitam berlengan panjang yang dikenakan oleh pemuda tersebut. Tampaklah beberapa luka sobek yang cukup parah di perutnya.


“Tolong,” terdengar gumaman lirih dari pemuda itu.


“Dia masih hidup, Amico!” Coco terbelalak.


“Ya, aku tahu,” Adriano kembali menutup kaus pemuda yang ternyata tak berganti pakaian sejak terakhir kali bertemu dengannya tadi siang di cafetaria. Dia lalu mendekatkan wajahnya pada wajah si pemuda. “Siapa yang melakukan ini padamu?” tanyanya.

__ADS_1


Awalnya pemuda itu menggeleng. Namun, pada akhirnya Coco berhasil membujuk dia agar bersedia untuk bicara. “Jangan menutup-nutupi pelaku yang sudah membuatmu terluka parah seperti ini,” ujarnya.


“It’s John,” jawab pemuda itu kemudian. Suaranya terdengar sangat lemah.


__ADS_2