Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Molte Vite


__ADS_3

“Apa yang kalian lakukan di sini? Bukankah seharusnya kalian berdua menjaga pintu masuk?” tegur pria itu dalam bahasa Inggris. Sorot matanya yang terlihat sadis, tak lepas dari gambar sebuah simbol yang tersemat pada seragam yang dipakai oleh Adriano. Di sisi lain, Adriano bernapas lega karena pria tersebut berbicara dalam bahasa yang dapat dia mengerti.


“Aku mendapat pesan dari nyonya Ilena,” ucap Adriano dengan nada yang teramat tenang. Pria bermata biru itu merasa beruntung, karena paras rupawannya tertutup oleh masker berwarna hitam yang dia kenakan. Demikian pula denganCoco yang berkali-kali mengempaskan napas pelan.


“Apa yang Ilena katakan?” tanya pria berwajah menakutkan tadi.


“Dia mengatakan bahwa percobaan tidak berjalan lancar. Morfin yang mereka rekayasa ternyata memiliki efek samping yang buruk dan berakibat fatal,” sahut Coco dengan percaya diri.


Kedua tentara betwajah bengis yang berdiri gagah di hadapan Adriano dan Coco, tampak tengah berpikir kemudian saling pandang. Mereka tak mengucapkan sepatah kata pun, tapi seakan saling mengerti dengan apa yang harus mereka lakukan.


“Sepertinya para tentara di tempat ini tidak saling mengenal,” bisik Coco tiba-tiba. Adriano hanya menanggapinya dengan mengangkat bahu.


“Tunggu di sini!” pesan salah seorang pria berwajah bengis tadi sebelum masuk ke dalam ruangan, yang terletak di belakang tempat mereka berdiri. Beberapa saat kemudian, dia keluar dan mengangkat tangannya sebagai isyarat kepada Adriano dan juga Coco untuk mendekat.


Tegang, Coco memegang senapannya erat-erat sambil melangkah penuh waspada. Dia dan Adriano berjalan melintasi pintu berlapis emas itu dengan was-was. Di belakang mereka, dua tentara tinggi besar tadi terus mengikuti. Namun, gerak mereka harus terhenti ketika seorang wanita muda keluar dari pintu lain yang terletak di sisi samping ruangan. Wanita berambut merah itu memiliki wajah yang teramat cantik. Senyumnya juga terlihat sangat ramah.


“Nona Monique, rekan kami ingin menyampaikan laporan kepada tuan Nenad,” ujar pria berwajah bengis yang berada di belakang Adriano dan Coco.


“Baiklah. Kalian boleh pergi. Biar aku yang menyampaikan pesan kepada Nenad,” sahutnya dengan nada suara yang terdengar begitu lembut. Dua pria garang di belakang Adriano itu langsung menunduk patuh, lalu membalikkan badan dan meninggalkan Adriano serta Coco begitu saja.

__ADS_1


“Sekarang katakan padaku apa pesannya, biar aku yang menyampaikan pesan yang kalian bawa kepada Nenad,” tutur wanita bernama Monique itu.


“Tuan Nenad berada di dalam sana?” tanya Adriano dengan telunjuk lurus mengarah pada pintu, yang terletak di samping ruangan tadi.


“Sejak kapan kalian para tentara bersikap ingin tahu? Kalian tidak dibayar untuk itu,” Monique terkikik pelan, lalu terdiam. Matanya menyorot tajam pada Adriano dan Coco secara bergantian. “Mata biru dan coklat, aku tak pernah melihat warna mata seperti ini sebelumnya,” desis wanita itu sembari mendekat ke arah Adriano dengan langkah gemulai. Gerak tubuhnya terlihat sangat menggoda. Dia sempat berjalan mengitari Adriano beberapa kali, sebelum berpindah pada Coco. Dia sempat membelai rahang Coco yang tertutup masker, sambil berusaha melepasnya. Spontan, Coco mencekal pergelangan tangan Monique kuat-kuat. “Kenapa aku tidak boleh melihat wajahmu? Apakah ada sesuatu yang kau sembunyikan?” tanyanya.


Coco melirik kepada Adriano yang tampak sama tegangnya. Dia seakan meminta saran pada pria itu untuk menjawab pertanyaan Monique. Sejenak, keheningan menguasai ruangan berbentuk aneh tadi sampai Adriano memutuskan untuk meraih pisau yang terselip di pinggang, kemudian mengalungkannya di leher mulus Monique. Akan tetapi, wanita yang memakai rok ketat itu lincah menghindar. Dia berkelit dan menahan serangan Adriano. Wanita itu bahkan hendak memelintir tangannya.


Melihat hal itu, Coco sigap memegangi lengan Monique dan menjegal kaki wanita cantik tersebut, hingga dia terhuyung untuk menghalangi geraknya. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Adriano segera menangkap tubuh Monique yang tidak seimbang dan mengunci wanita itu dari belakang, dengan cara melingkarkan tangan ke dadanya lalu merengkuhnya erat-erat sampai Monique tak dapat bergerak. Sementara Coco buru-buru melepas masker dan menyumpal mulut wanita itu dengan menggunakan benda tersebut, saat Monique berusaha untuk berteriak. “Sst, sudah, sudah. Jangan melawan. Kami tak ingin menyakitimu,” ucap Coco dengan setengah berbisik, seraya menempelkan jemarinya di bibir. Logat Italianya begitu kental saat dia berbicara dalam bahasa Inggris, membuat Monique sedikit terpesona. Wanita cantik itu meliriknya dengan mata berbinar yang sedikit nakal.


Namun, pada saat bersamaan, Adriano segera mengalungkan pisaunya di leher mulus Monique. “Aku terpaksa melakukan ini untuk keamanan,” dalihnya. “Sekarang, bawa kami ke ruangan Nenad,” bisiknya tepat di dekat telinga Monique.


“Aku akan membantu kalian, tapi dengan satu syarat,” jawab Monique dengan tatapan mengiba.


“Katakan,” sahut Adriano datar.


“Bawa aku pergi dari sini. Sebenarnya, aku sudah tak tahan bekerja padanya. Selama ini, aku sering menjadi pelampiasan Nenad. Dia berkali-kali melecehkanku, menganggapku sebagai gundiknya. Sementara aku selalu tak bisa lepas karena dia mengancam akan membunuh seluruh anggota keluargaku. Kalian harus tahu, anak buah Nenad sangatlah banyak dan tersebar di mana-mana. Mereka seringkali menyamar menjadi orang biasa,” papar Monique panjang lebar.


Adriano terkekeh pelan. “Kau bodoh jika berpikir bahwa aku akan tertipu dengan ceritamu," ledeknya.

__ADS_1


“Aku tidak memaksamu untuk percaya. Akan tetapi, kau tak punya pilihan lain, karena hanya aku satu-satunya yang sanggup menolongmu di dalam sana. Selama ini, tak ada seorang pun yang cukup kuat untuk menembus pertahanan Nenad,” balas Monique.


“Sekuat apa dia?” tanya Adriano yang masih mengunci tubuh Monique.


“Ada empat orang pengawal pribadi. Mereka bukanlah tentara bayaran, tapi kemampuan mereka jauh lebih tinggi,” jelas Monique. “Dua di antaranya berjaga di sisi kiri dan kanan pintu. Dua lainnya berdiri di belakang kursi kebesaran Nenad.


“Apa tidak ada kamera pengawas di sini?” mata coklat Coco menyapu tiap sudut ruangan.


“Ada, tapi tidak berfungsi. Aku sengaja mematikannya diam-diam saat terdengar kabar bahwa ada seseorang yang telah meledakkan ranjau dengan sengaja. Aku berharap bahwa kejadian itu bisa menjadi kesempatan untuk melarikan diri darinya,” jawab Monique tampak meyakinkan. “Lagi pula, di dalam sana dia tengah sibuk mengamati obyek percobaannya yang menggila, akibat efek samping dari obat-obatan terlarang racikannya,” imbuh wanita itu.


“Lalu, bagaimana?” Adriano mengendurkan tangannya agar Monique terbebas dan mundur beberapa langkah.


“Biarkan aku masuk lebih dulu. Kalian bersiaplah di sisi luar pintu. Jika aku bersiul, itu tandanya kalian boleh langsung masuk,” jelas Monique.


“Aku yang akan masuk lebih dulu, Ricci. Kau tetaplah pada posisimu di sisi luar pintu untuk berjaga-jaga jika wanita ini berkhianat. Seandainya hal itu terjadi, aku akan berusaha menembak semua orang yang ada di sana, termasuk dia,” telunjuk Adriano mengarah pada Monique. “Lalu, kau bisa masuk dan menghabisi Nenad,” titahnya.


“Ta-tapi, itu sama artinya dengan kau mengorbankan dirimu, Amico,” sahut Coco ragu.


“Sepertinya kau lupa bahwa aku memiliki banyak nyawa cadangan,” canda Adriano yang seakan tak takut apapun.

__ADS_1


__ADS_2