
“Carlo! Carlo! Carlo!”
“Lucas! Lucas! Lucas!”
Suara riuh rendah berbaur dengan tepuk tangan penuh keceriaan dari sekelompok anak muda malam itu. Mereka mengerumuni dua pria yang tengah mengadakan adu panco, untuk membuktikan siapa yang terhebat.
Carlo, otot lengannya yang terlihat sangat kuat dan dipenuhi ukiran tato. Dia berhadapan dengan seorang pria yang juga memiliki tubuh cukup atletis bernama Lucas. Pertarungan adu panco itu sendiri berlangsung di atas meja tepi kolam renang, dalam sebuah pesta yang sengaja diadakan untuk merayakan ulang tahun serta kelulusan Miabella dari univeraitas.
Ya, usia Miabella kini telah genap dua puluh dua tahun. Dia tumbuh menjadi gadis cantik dan terlihat sangat modis. Rambut cokelatnya pun selalu tergerai indah. Begitu tebal dan terawat dengan baik.
“Ayolah, Carlo. Patahkan lengannya!” bisik Miabella gemas. Dia sedikit menurunkan tubuh di dekat Carlo. Pria tiga puluh empat tahun itu menoleh sesaat kepada gadis cantik tadi. Dia lalu tersenyum kalem padanya.
“Ucapanmu adalah perintah bagiku, Nona,” balas Carlo si pria dengan rambut gelap yang tertata rapi ke samping. Dia mengerahkan segenap tenaga, agar dapat menaklukan lawan di hadapannya. Sementara suara riuh rendah terus menyemangati kedua pria yang tengah bertanding itu.
Selang beberapa saat kemudian. Setelah melakukan sedikit perjuangan, akhirnya Carlo dapat menaklukan pria bernama Lucas tadi. Pria tampan bermata biru itu tersenyum puas sambil berdiri di sebelah Miabella yang terlihat jauh lebih puas. Gadis berambut panjang dengan mata abu-abu tersebut berjalan mendekat ke hadapan Lucas yang memasang raut tak suka.
“Bella ....” Ucapan pria yang berusia sekitar tiga tahun lebih tua dari Miabella tadi tertahan, karena dengan segera Miabella menempelkan telunjuk pada permukaan bibirnya sendiri. Lucas pun terdiam sambil terus menatapnya lekat.
“Kau ingat dengan peraturan di awal permainan? Siapa yang kalah, maka dia yang harus dihukum,” ujar Miabella setengah mencibir.
“Bella, kau tidak bisa melakukan ini padaku,” protes Lucas menolak sikap Miabella padanya.
“Apa yang tidak bisa kulakukan? Kau pun bahkan bisa melakukan apapun,” balas Miabella dengan enteng. “Kau mengaku sebagai pria sejati, maka perlihatkan komitmen dan keberanianmu sekarang,” tantang Miabella dengan senyum sinis di wajah cantiknya. Dia terlihat sangat bahagia atas kekalahan yang dialami oleh Lucas.
__ADS_1
Dengan terpaksa, Lucas pun menerima konsekuensi dari kesialannya malam itu. Dia melepas baju yang dikenakan, dan hanya menyisakan pakaian dalam saja. Pria tampan berambut hitam itu kemudian turun ke kolam renang diiringi sorak-sorai yang lainnya. Dengan wajah yang tampak menahan amarah dan juga rasa malu, pria muda tadi berdiri di tengah-tengah kolam, menahan rasa dingin yang menusuk tubuhnya.
“Kerja bagus, Carlo. Kau memang selalu bisa kuandalkan,” ucap Miabella puas.
“Senyumanmu adalah segalanya, Nona,” sahut Carlo yang merasa senang karena telah membuat Miabella merasa bangga padanya. “Aku akan melihat ke dalam dulu,” pamit Carlo seraya berlalu dari dekat Miabella yang masih memperhatikan Lucas yang tengah berendam di dalam kolam.
“Bella, ini luar biasa.” Tiga orang gadis cantik menghampiri Miabella. Di tangan mereka, tergenggam gelas berisi minuman. Ketiga gadis tadi merupakan sahabat dekat putri sambung dari Adriano D’Angelo tersebut.
“Lucas pantas mendapatkan hukuman.” Emma si gadis berambut pirang sebahu menatap ke arah kolam renang.
“Ya, tapi seharusnya dia mendapatkan sesuatu yang lebih buruk dari itu,” timpal Brie. Gadis dengan tampilan yang serba ketat dan terbuka. Dia lalu meneguk minumannya.
“Aku rasa mungkin akan ada babak kedua. Aku suka melihat pengawal pribadimu saat beraksi,” ujar Ancelin, gadis dengan bola mata berwarna hijau yang indah. Dia juga ikut menertawakan kesialan seorang Lucas.
Miabella pun terlihat kecewa. Sebenarnya, dia ingin membiarkan Lucas lebih lama berada di dalam kolam renang. Namun, tak akan baik baginya jika Adriano dan Mia sampai mengetahui hal itu. Miabella pun dengan terpaksa berseru dengan tidak terlalu nyaring. “Hey, Lucas! Beruntung aku sedang berbaik hati. Ayo naiklah!” suruhnya.
Mendengar perintah demikian dari sang pemilik pesta, Lucas pun bergegas ke tepian dan segera naik. Sambil menahan rasa dingin yang menusuk tubuhnya, pria itu meraih pakaian yang tergeletak di atas meja yang tadi menjadi arena adu panco.
“Kau keterlaluan, Bella!” protesnya tak suka. Dia berlalu begitu saja ke bagian lain tempat itu. Lucas harus segera berpakaian, andai dirinya tak ingin masuk angin dan sakit. Sedangkan Miabella tak menanggapi sama sekali. Gadis cantik berambut indah tersebut hanya tersenyum sinis.
Beberapa saat kemudian, apa yang Carlo beritahukan memang benar adanya. Adriano muncul bersama Mia. Dia masih terlihat sangat tampan dan selalu memesona, meskipun usianya sudah hampir setengah abad. Kharisma seorang Adriano D’Angelo memang tak pernah lekang oleh waktu.
Carlo segera mengangguk sopan, saat melihat kedatangan dua orang yang selama ini telah dia anggap seperti orang tuanya sendiri. Begitu juga dengan Miabella yang segera menyambut mereka berdua dengan hangat. Raut wajah serta senyuman sinis yang tadi dia tunjukkan di hadapan Lucas, tak terlihat sama sekali saat berhadapan dengan Adriano dan juga Mia.
__ADS_1
Sementara ketiga sahabat Miabella tadi, hanya berdiri terpaku ketika melihat Adriano secara langsung. Selama ini, mereka hanya mendengar sosok ayah sambung dari Miabella tersebut lewat sebuah cerita dari gadis cantik tersebut. Ketiga gadis itu tak pernah menyangka bahwa ternyata Adriano memang jauh lebih memikat dari apa yang mereka bayangkan.
“Daddy Zio. Mereka adalah sahabat-sahabatku saat kuliah. Selama ini aku memang tak pernah mengajak ketiganya untuk berkunjung kemari, jadi wajar kalau sikap mereka agak norak,” ujar Miabella seenaknya. Namun, ketiga gadis tadi tak peduli dengan ucapan putri dari Matteo de Luca tersebut. Mereka terlalu fokus memperhatikan senyuman menawan dari seorang Adriano D’Angelo.
“Selamat datang. Apa kalian menikmati pestanya?” sapa Adriano.
Ketiga gadis tadi tak segera menjawab. Mereka hanya tersenyum manis dengan tatapan yang terarah langsung kepada Adriano. Semua itu baru berakhir, ketika Miabella menjentikkan jemari lentiknya di hadapan wajah ketiga gadis itu.
“Ah, ya!” seru mereka bertiga dengan serempak.
“Anda sangat luar biasa, Tuan D’Angelo,” celetuk Brie yang masih menunjukkan rasa kagumnya secara terang- terangan.
Miabella yang melihat hal itu tentu saja menjadi kesal. “Hey! Haruskah kusuruh Carlo untuk melempar kalian ke dalam kolam renang?” ujar gadis itu jengkel. Miabella tahu jika teman-temannya sedang berpikir nakal tentang pria yang selama ini dia panggil dengan sebutan ‘Daddy Zio’.
“Sudahlah, Bella. Ini pestamu, Sayang. Jadi, jangan merusaknya dengan sebuah kekacauan yang tak berarti,” tegur Mia lembut. “Gadis-gadis, silakan nikmati kembali pesta ini.” Dengan nada bicara yang disertai senyuman manis, Mia mempersilakan ketiga sahabat Miabella tadi untuk kembali menikmati pesta. Sementara dirinya berdiri anggun di sebelah Adriano yang akan memberikan sedikit sambutan, dari tujuan utama diadakannya pesta tersebut.
“Baiklah. Selamat malam semuanya," sapa Adriano yang terlihat makin berwibawa di usia yang semakin matang. Pria itu tampak begitu kalem lewat bahasa tubuh yang dia tunjukkan.
"Aku dan istriku berterima kasih atas kedatangan kalian semua, dalam pesta perayaan kelulusan putri pertama kami Miabella Conchetta. Selain itu, ini juga merupakan pesta untuk merayakan hari ulang tahunnya yang ke dua puluh dua. Ini sangat luar biasa. Putriku sudah semakin dewasa, sedangkan aku dan si cantik di sebelahku ini semakin tua. Jadi, sebenarnya kami merasa malu jika harus berlama-lama di sini, di antara kalian para anak muda yang ....” Adriano menjeda ucapannya, ketika tiba-tiba seorang pria asing dengan tubuh basah kuyup yang tak lain adalah Lucas datang menghampiri.
__ADS_1