
"Aku harus menemani ayahmu di cafè. Katakan pada Olivia, dia bebas melakukan apapun di dapurku," pesan Eireen yang telah bersiap untuk menyusul sang suami ke cafè milik mereka. Tempat itu berjarak sekitar lima belas menit saja dari rumah. Akan tetapi, biasanya Tadeus dan Eireen bisa menghabiskan waktu hingga malam di sana.
"Ya, akan kusampaikan nanti. Olivia sedang mandi," sahut Arsen yang baru selesai menyeduh kopi. Hidup melajang, membuat pria tiga puluh dua tahun itu terbiasa melakukan segala sesuatunya sendirian. Namun, biasanya Arsen tak betah berlama-lama di rumah. Dia selalu bepergian dengan leluasa.
"Baiklah. Aku pergi dulu. Minggu-minggu ini kami sangat sibuk," pamit Eireen. Dia meraih tas beserta kunci motor. Setelah mencium pipi putra bungsunya, Eireen pun segera berangkat. Sementara Arsen memilih duduk di sofa ruang tamu dengan ditemani secangkir kopi. Saat itu, Olivia muncul di sana. Wanita muda tersebut tampak sangat segar dengan rambut panjangnya yang hitam nan indah.
"Apa ibu sudah berangkat?" tanya Olivia yang hanya berdiri di dekat sofa.
"Sudah. Dia berangkat baru saja. Ayah dan ibuku akan di cafè sampai malam. Jadi, kau bebas jika ingin memasak apapun," terang Arsen seraya memperhatikan sang istri. Olivia terlihat sangat berbeda dengan pakaian yang dia belikan. "Kau mau ke mana, Olive?" tanya Arsen yang melihat Olivia hendak berlalu dari sana.
"Aku akan melihat ada apa di dapur," sahut Olivia seraya menoleh sesaat.
"Nanti saja," cegah Arsen. "Duduklah dulu. Bukankah hari ini kita akan pergi?"
Olivia menghentikan langkahnya. Dia juga membalikkan badan. Senyuman manis terlukis di wajah cantik wanita muda itu. "Kau serius?" tanyanya meyakinkan. Dia kembali menghampiri Arsen yang masih duduk di sofa.
"Kemarilah," Arsen memberi isyarat agar Olivia duduk di dekatnya. "Aku punya beberapa rekomendasi tempat yang bisa kau pilih terlebih dulu. Semuanya bagus," ucap Arsen kembali memperhatikan Olivia dengan lekat. "Apa kau suka lipstik, Olive?" tanyanya tiba-tiba.
__ADS_1
Olivia tak segera menjawab. Dia membalas tatapan Arsen dengan raut yang sulit untuk diartikan. "Memangnya kenapa?" Olivia balik bertanya.
"Warna apa yang kau sukai?" tanya Arsen lagi.
Olivia tampak berpikir seraya mengalihkan pandangan pada cangkir berisi kopi di atas meja. Sesaat kemudian, wanita muda itu kembali menoleh kepada Arsen. "Entahlah. Menurutmu warna apa yang bagus dan cocok untukku?" tanyanya.
Entah mengapa, Arsen merasa tertantang dengan pertanyaan itu. Bukannya menjawab pertanyaan Olivia, dia malah menyentuh pipi sang istri dengan lembut. Anehnya, saat itu Olivia juga tak menghindar. Wanita muda berambut hitam itu hanya terdiam, meskipun dia terlihat agak gugup. Namun, semua rasa gugup dalam diri Olivia seketika sirna, saat dia merasakan hangatnya bibir Arsen pada permukaan bibirnya. Olivia pun memejamkan mata untuk meresapi adegan manis tersebut.
Makin lama, ciuman yang mereka lakukan semakin panas. Helaan napas berat Arsen terdengar di sela-sela setiap luma•tan menggairahkan. Pria itu meraih tangan Olivia dan meletakkannya pada permukaan celana tidur yang dia kenakan, membuat wanita muda tersebut sedikit terkejut. "Sekali saja, Olive," bisik Arsen dengan napas beratnya.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Olivia pelan. Namun, Arsen tidak menjawab. Dia menurunkan celana tidurnya setengah paha. Tampaklah lambang kejantanan yang selama ini menjadi kebanggaannya. Sesuatu yang telah memuaskan banyak wanita, teman bermainnya. Namun, Olivia masih terlihat ragu. Dia memandang Arsen dengan tatapan yang sedikit takut. "Tidak apa-apa. Cobalah seperti yang kemarin kau tonton," bujuk pria itu. Dia menyentuh dagu Olivia dan kembali melu•mat bibirnya. Setelah puas, Arsen lalu memegangi tengkuk kepala sang istri dan menuntunnya agar menunduk. "Tidak apa-apa, Olive. Kau akan menyukainya," bujuk pria tiga puluh dua tahun itu pelan.
Awalnya, Olivia memang terlihat sangat kaku. Lama-kelamaan, dia mulai menikmati apa yang dilakukannya. Sementara Arsen tampak memejamkan mata, meresapi pelayanan pertama dari sang istri setelah beberapa lama dirinya menunggu. Dia mengelus lembut rambut panjang Olivia. Sesaat kemudian, Arsen meminta wanita muda itu untuk berhenti. Dia turun dari sofa dan memposisikan Olivia di hadapannya. Namun, Olivia menolak ketika pria itu menyibakkan bagian bawah dress yang dia kenakan. "Tidak," wanita tersebut menahan tangan Arsen.
"Kenapa? Kau tidak usah merasa malu," ucap Arsen tak memedulikan penolakan dari sang istri. Dia menjalarkan sentuhan bibir pada betis Olivia yang terlihat risih, ketika Arsen semakin merenggangkan pangkal pahanya. Sesaat kemudian, pria tersebut lalu mendekatkan wajah dan mengecup kain berwarna hijau emerald dari bahan katun. Sementara Olivia terus memperhatikan. Dia tak tahu apa yang akan Arsen lakukan selanjutnya. Namun, seketika kedua mata wanita muda berambut hitam itu terpejam dengan tubuh menggelinjang, ketika dia merasakan sapuan lembut lidah sang suami.
Olivia mende•sah pelan. Tangan kanannya mere•mas rambut belakang pria yang kini tengah membuat dirinya benar-benar merasa dewasa. Sedangkan tangan kiri wanita muda itu mencengkeram erat bantal kecil yang ada di dekatnya. Lenguhan pelan pun mulai meluncur dari bibir Olivia. Makin lama, dia ternyata semakin dapat menikmati apa yang Arsen lakukan padanya, karena itu Olivia tak menolak saat Arsen menurunkan pakaian dalam yang dia kenakan. Arsen juga memposisikannya dengan nyaman.
__ADS_1
Misionaris, posisi yang dirasa pas sebagai pembuka bagi mereka. Untuk kedua kalinya, Olivia kembali merasakan kejantanan seorang Arsen, tetapi kini dalam situasi yang sangat berbeda. Pria itu memperlakukannya dengan lembut, hingga Olivia tak merasakan suatu tekanan apapun.
"Lepaskan, Olive. Jangan ditahan," bisik Arsen menghangat di telinga Olivia. Namun, wanita muda itu tak mampu berkata-kata. Dia sibuk dengan perasaan luar biasa yang tengah menderanya. Terlebih ketika Arsen mengubah posisi mereka berdua.
Spooning menjadi gaya favorit Arsen, di mana dirinya dan Olivia berada dalam posisi menyamping dengan arah hadap yang sama ke depan. Kini, pria tersebut melakukan bersama wanita yang telah resmi menjadi pasangannya. Semua terasa nikmat dan tak mengurangi nilai keindahan, meskipun saat itu mereka melakukan dalam keadaan masih berpakaian lengkap.
Sesekali, Arsen menciumi pipi dan daun telinga Olivia yang berada di depannya. Sedangkan tangan kanan menahan sebelah paha sang istri yang terangkat. Arsen terlihat sangat bersemangat. Sementara Olivia sesekali menyunggingkan sebuah senyuman sambil menoleh ke samping, dan segera bersambut sebuah ciuman hangat yang semakin membakar gairah keduanya. Permainan panas tadi terus berlangsung di atas sofa ruang tamu itu. Walaupun mereka tak melakukannya dalam banyak posisi, tetapi Arsen telah berhasil membawa Olivia pada pemikiran yang baru. Wanita muda tersebut tampak begitu lepas dan tak merasa takut lagi.
Beberapa saat kemudian, terdengar helaan napas berat tertahan dari Arsen yang telah tiba pada puncak kenikmatan. Sedangkan Olivia terdiam. Sambil mengatur napas, dia merasakan sesuatu yang mengalirinya. Kembali diterima sebuah ciuman penutup dari sang suami, yang juga dalam keadaan terengah-engah. Setelah itu, mereka tertawa pelan.
Akan tetapi, suara ketukan di pintu telah membuat keduanya segera bangkit dari sofa. Arsen bergegas merapikan celana tidurnya, sedangkan Olivia pun sama. Dia merapikan rambut serta pakaian. "Siapa yang datang?" tanya wanita muda itu penasaran.
"Entahlah. Kau sudah selesai? Aku akan melihat siapa yang bertamu," Arsen memperhatikan istrinya untuk sejenak. Dia baru beranjak ke pintu setelah Olivia mengangguk. Dengan segera, wanita asal Italia itu kembali merapikan bantal-bantal kecil yang ada di sofa, sedangkan Arsen memeriksa tamu yang datang. Namun, seketika pria itu tertegun saat melihat seseorang yang berdiri di depan pintu rumahnya.
Arsen menoleh kepada Olivia yang menghampiri dengan wajah penuh tanda tanya. "Siapa dia?" bisiknya. Sementara wanita cantik di depan pintu hanya terpaku.
🍒🍒🍒
__ADS_1
Hai, reader. Ada satu lagi rekomendasi novel keren untuk dibaca.