Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Vortex of Worry


__ADS_3

Adriano terbangun pada dini hari. Tangannya meraba-raba ke tempat di mana biasanya Mia tertidur, tapi dia tak menemukan keberadaan sang istri di sampingnya. Pria itu kebingungan sampai harus bangkit kemudian terduduk. Dia mengedarkan pandangan ke setiap sudut kamar. Akan tetapi, sosok Mia terlihat olehnya. Adriano pun memutuskan untuk turun dari tempat tidur dan mulai mencari wanita itu di setiap sudut ruangan. “Sayangku? Kau di mana?” panggilnya. Namun, yang dia cari tidaklah berada di sana, karena Mia tengah berada di dalam kamar Olivia.


Kamar itu tak begitu luas, dan juga tidak semewah peraduan milik Adriano bersama Mia. Akan tetapi, ruangan yang ditempati oleh Olivia tersebut tampak rapi serta bersih. Dapat dipastikan jika Olivia adalah gadis yang sangat rajin. Sayang sekali, pemiliknya saat itu sedang terlihat sangat kacau. Rambut hitamnya yang panjang begitu kusut, sehingga Mia dengan telaten mengurainya perlahan hingga kembali rapi.


“Rambutmu indah sekali, Olivia. Kau gadis yang sangat cantik,” puji ibu dari Miabella itu seraya terus menyisirnya. Akan tetapi, Olivia tak menjawab. Dia lebih memilih untuk diam terpaku dengan tatapan mata menerawang.


Mia dapat merasakan tubuh gadis itu yang gemetaran. Entah kenapa, sikap gadis itu sedikit banyak mengingatkan Mia akan dirinya sendiri. Mia memegangi kedua lengan Olivia, kemudian mengusap-usapnya perlahan. Dia meletakkan dagu di atas pucuk kepala gadis berusia dua puluh empat tahun tersebut. Setelah itu, Mia lalu berpindah ke hadapan Olivia dan memperhatikannya dengan lekat. “Menangislah jika kau ingin menangis. Jangan ditahan, niscaya kau akan dapat merasa jauh lebih lega,” sarannya pelan dan juga lembut.


Awalnya, Olivia hanya diam tak menanggapi. Namun, lama-kelamaan usapan lembut Mia di sela-sela rambutnya, meruntuhkan pertahanan gadis itu. Dia mulai menangis tersedu-sedu, lalu memeluk Mia dengan erat. Air matanya tumpah dan membasahi kimono ibu dari Miabella tersebut. Cukup lama, Olivia mendekap Mia sampai tangisnya mereda. Gadis itu pun tampak lebih lega dan tenang daripada sebelumnya. Perlahan, Olivia melepaskan pelukannya dan menatap Mia malu-malu. Pipinya masih kemerahan dengan mata yang tampak sembab. Tangannya segera mengusap pipi sendiri sampai beberapa kali. “Ehm, terima kasih banyak, Nyonya. Aku tidak menyangka .…” Olivia tak melanjutkan kalimatnya karena pintu kamarnya tiba-tiba diketuk oleh seseorang. Gadis malang itu kembali ketakutan dan refleks bersembunyi di belakang tubuh Mia.


“Tidak apa-apa. Tenanglah, Olivia. Biar aku yang membuka pintunya,” ucap Mia menenangkan.


Setelah mengusap punggung tangan Olivia yang gemetar dan telah duduk di tepi ranjang, Mia berjalan cepat ke arah pintu dan membukanya. Dalam bayangan wanita itu, Arsen lah yang berada di balik pintu. Akan tetapi, ternyata dugaannya salah besar. Adriano berdiri tegak dengan raut khawatir. “Sedang apa kau di sini, Mia?” tanyanya.


“Ah, aku … aku bertemu Olivia di dapur. Sepertinya dia tidak enak badan, jadi aku mengantarnya ke kamar,” dalih Mia dengan tergagap.


“Kalau hanya mengantar, kenapa lama sekali?” tanya Adriano lagi sembari bersedekap.


“Aku .…” Mia menoleh kepada Olivia yang ternyata juga tengah memandangnya. Untuk sesaat, pandangan Olivia beralih pada Adriano. Gadis itu segera menundukkan wajahnya.


“Aku mencarimu saat terbangun tadi, tapi kau tak ada di sisiku. Aku pun memutuskan keluar dan menanyakanmu pada penjaga. Ada yang mengatakan bahwa kau masuk ke kamar Olivia,” terang Adriano.


“Iya, begitulah .…” Mia bertingkah serba salah. Berkali-kali dia menyelipkan rambut coklatnya yang terurai ke belakang telinga.


“Apa kau akan terus berada di sini sampai pagi?” pelan suara Adriano yang menyiratkan keberatan, membuat Mia sangat mengerti akan hal itu meskipun tanpa sebuah ungkapan yang gamblang dari sang suami.


“Baiklah, aku akan berpamitan dulu kepada Olivia,” ujarnya sambil tersenyum lembut. Dia lalu berbalik dan duduk di sebelah Olivia. Wanita itu sengaja mendekatkan bibirnya ke telinga gadis itu. Mia pun berbisik, “Apa kau akan baik-baik saja jika kutinggal sendiri?”

__ADS_1


“Ya, tidak apa-apa, Nyonya. Terima kasih banyak atas perhatiannya,” jawab Olivia pelan.


“Ingat, jangan pernah berpikir untuk bertindak bodoh. Aku sarankan agar kau mencoba untuk memikirkan tawaran dari Arsen,” bisik Mia lagi.


Dada Olivia tiba-tiba bergemuruh, tatkala mendengar nama ‘Arsen’ disebut. Bayangannya kembali pada malam terkutuk itu. Dia lalu menggeleng pelan. Sesaat kemudian, gadis itu mengangguk.


Mia mengembuskan napas lega. Dia lalu mengusap lembut punggung Olivia, sebelum berlalu dari sana bersama Adriano. Ekor mata gadis itu mengikuti gerak sepasang suami istri tersebut. Adriano memperlakukan Mia sedemikian lembut, meskipun tak terlihat berlebihan. Lengan kekarnya merengkuh pinggang ramping sang istri dengan penuh perasaan.


Sudut hati Olivia berdenyut nyeri melihat hal tersebut. Cinta yang bahkan belum sempat tumbuh mekar untuk Adriano, harus luruh begitu saja. Terlebih saat dia menyadari keadaan dirinya yang sudah tak sempurna.


Olivia kembali terisak. Direbahkannya tubuh rapuh itu di atas ranjang. Tanpa sadar Olivia tertidur hingga suara ketukan kencang membangunkannya dari mimpi.


“Zia … bibi … bibi berambut hitam! Keluarlah, ayo bermain!” suara cadel Miabella berdenging di telinganya. Olivia terduduk tiba-tiba. Dia melihat jam digital di atas laci yang menunjukkan pukul delapan pagi. Dengan agak malas, Olivia turun dari ranjangnya. Dia berjalan lunglai membuka pintu kamar.


Sebenarnya, Olivia juga sangat merindukan sosok Miabella yang menggemaskan. Dia berpikir, mungkin bermain-main sebentar dengan balita cantik itu akan dapat mengurangi beban, sehingga dirinya merasa terhibur dan dapat sedikit menghilangkan perih di hatinya.


Namun, Olivia harus membelalakkan mata, ketika yang berdiri di hadapannya kini bukan hanya Miabella, melainkan juga Mia. Ibu dan anak itu sudah terlihat rapi. Mereka mengenakan dress berwarna putih dengan model serupa. Mia juga tampak membawa sebuah paper bag besar di tangan kanan, sementara tangan kirinya menggandeng Miabella. “Nyonya?” Olivia tampak ragu.


Olivia pun bahkan seperti terpana oleh aura yang dipancarkan ibu satu anak tersebut. Tanpa ragu, gadis bermata gelap itu membuka pintu kamarnya lebar-lebar. “Masuklah,” ucapnya sambil memaksakan senyum.


“Bagaimana keadaan tubuhmu pagi ini?” tanya Mia hati-hati, diiringi tatapan penuh ingin tahu oleh Miabella. Gadis kecil itu melayangkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar Olivia.


“Sudah sedikit lebih baik, Nyonya,” jawab Olivia. Perhatiannya kemudian berpindah pada Miabella yang asyik berputar-putar mengelilingi kamar.


“Syukurlah,” ucap Mia lega. Dia terdiam beberapa saat sambil memperhatikan wajah Olivia. “Dengar, aku ingin menanyakan sesuatu padamu,” ucap Mia lagi.


Olivia segera menoleh kepada Mia seraya menautkan alis, "Menanyakan tentang apa, Nyonya?” dia balik bertanya.

__ADS_1


“Ehm,” Mia berpikir sejenak. “Apa kedua orang tuamu baik-baik saja?” tanyanya kemudian.


“Ya. Terakhir kali aku menengok mereka, keduanya terlihat sangat sehat. Ayahku seorang buruh di perkebunan anggur milik tuan tanah yang terkaya di tempat asalku. Dia terbiasa bekerja keras, sehingga tubuhnya tidak mudah sakit,” terang Olivia sambil tersenyum getir.


"Lalu, ibumu?" tanya Mia.


"Ibuku terkadang membantu ayah jika masa panen tiba. Selebihnya, dia seorang ibu rumah tangga," jelas Olivia lagi. Setelah itu, dia terdiam sejenak, dan hanya suara tawa renyah Miabella yang memenuhi ruangan. Gadis kecil itu asyik mengejar bayangannya sendiri.


“Kenapa Nyonya menanyakan hal itu?” Olivia memberanikan diri untuk bertanya.


“Begini,” tiba-tiba saja Mia menjadi gugup. Dia berusaha menutupinya dengan meraih dan menggenggam tangan Olivia dengan erat. “Pagi tadi, Arsen menemuiku diam-diam saat Adriano tengah berolahraga bersama Miabella. Dia sepertinya serius dengan keinginannya untuk menikahimu,” sambungnya.


Mata Olivia berkaca-kaca. Dia menarik tangannya dari genggaman Mia, kemudian menjauh. Gadis itu berjalan mendekati jendela, lalu menghadapkan wajahnya ke luar. “Kenapa aku harus menikahinya?” pikir Olivia yang seolah keberatan dengan ajakan Arsen.


"Arsen ingin mempertanggungjawabkan perbuatannya. Dia juga mengatakan padaku, bahwa dengan menikahimu, maka Arsen bisa menanggung semua biaya hidup serta dapat menjaga dan memberikan hak-hakmu sepenuhnya sebagai seorang istri,” jelas Mia.


“Akan tetapi … aku membencinya. Setelah apa yang dia lakukan padaku ...." Olivia terdiam.


“Aku sepenuhnya mengerti,” Mia kembali mendekat dan memegangi pundak gadis itu, lalu menghadapkan Olivia pada dirinya. “Apa yang kau alami, pasti meninggalkan luka yang teramat dalam. Arsen telah melukaimu begitu parah, tetapi dia juga menawarkan untuk mengobatinya.” Mia menatap lurus, jauh ke dalam bola mata Olivia. Dua wanita berbeda usia itu saling pandang untuk beberapa saat lamanya.


“Aku … tidak mencintainya, Nyonya,” ucap Olivia pada akhirnya.


Mia tersenyum lembut mendengarkan jawaban gadis lugu itu. “Jangan katakan tidak. Dulu, aku menolak Adriano sekuat tenaga. Aku bahkan menikahinya tanpa cinta, tapi lihatlah diriku kini. Aku seakan tak bisa hidup jauh darinya. Dalam pernikahan, cinta itu dicari, bukan dinanti, Olivia. Sebaiknya bukalah hatimu dan rasakan ketulusannya. Jangan hentikan jika cinta itu mulai berkembang. Kau akan dapat merasakan betapa indahnya perasaan tersebut,” saran Mia panjang lebar.


“Aku dapat melihat dengan jelas, Arsen benar-benar merasa bersalah. Menurutku, itu sudah cukup dijadikan penilaian awal. Untuk selanjutnya, jika ternyata dia macam-macam atau hanya bermain-main denganmu, cepat katakan padaku. Aku akan melaporkan pria itu kepada Adriano, agar dia mendapatkan balasan yang setimpal,” tegas kata-kata Mia.


“Entahlah, Nyonya. Aku sangat bingung,” Olivia terisak dan menunduk, menghindari sorot mata Mia.

__ADS_1


“Tidak apa-apa. Berpikirlah matang-matang. Akan tetapi, sekadar informasi bahwa Arsen akan berangkat ke Inggris besok. Dia berharap, sebelum pergi dirinya sudah menikah denganmu,” ujar Mia. “Paper bag yang kubawa itu berisi baju pengantin untukmu. Arsen yang memberikannya. Jika kau bersedia, datanglah ke taman utara di belakang mansion. Namun, jika tidak ... maka kau tidak perlu muncul sampai jarum jam menunjukkan pukul lima sore,” jelasnya.


Olivia mendongak. Diperhatikannya wajah Mia yang tampak serius. Dirinya kini seolah tengah berada pada pusaran membingungkan dan rasa bimbang yang teramat besar.


__ADS_2