
Adriano, Coco dan Marco melangkah keluar dari terminal kedatangan. Ketiganya berjalan kaki menuju tempat yang sudah ditunjukkan oleh Monique. Suasana saat itu masih teramat pagi dan hampir terlihat seperti malam. Jalanan pun tampak sangat lengang dengan pencahayaan jalan yang temaram. Hal itu, membuat Adriano harus terus bersikap waspada. “Itu restorannya,” tunjuk Coco memecah kebisuan di antara mereka.
Marco mengamati restoran cepat saji yang berada beberapa meter di depan mereka. “Apa benar di sini?” tanyanya tak yakin.
“Itu dia.” Coco bergegas memasuki restoran tanpa memedulikan Marco. Dia segera menghampiri sosok Monique yang duduk di salah satu kursi restoran tersebut.
“Aneh sekali dia, memakai kaca mata hitam di hari gelap seperti ini,” pikir Marco.
“Aku akan menghubungi Valerie,” ucap Adriano yang lebih memilih untuk berhenti di depan pintu restoran. Dia pun segera menghubungi adik angkatnya itu.
Sementara Coco sudah berada di hadapan Monique yang sedikit terkejut akan kehadiran sosok Marco di sana. “Siapa dia?” tanyanya pada Coco. “Kukira kau datang sendiri,” ucapnya terlihat sedikit keberatan.
“Aku tidak gila dengan datang kemari sendirian, Nona Manduzic. Kondisiku masih belum memungkinkan,” jawab Coco.
“Betul juga,” balas Monique seraya tertawa lirih dengan raut wajah kaku dan agak salah tingkah. “Duduklah, Ricci. Anda juga, Tuan .…” Monique mengulurkan tangannya kepada Marco.
“Marco de Luca,” sahutnya sambil membalas jabat tangan wanita itu.
“Ah, Marco de Luca yang terkenal itu?” Monique melepas kaca matanya dan memamerkan iris mata hijau zamrud yang tampak memesona. Belum sempat Monique melanjutkan kalimatnya, dari kejauhan sudah terlihat sosok gagah yang berjalan semakin dekat ke arahnya sambil membawa koper.
“Astaga, kau juga membawa serta Adriano? Berapa orang yang kau ajak, Ricci?” Bahasa tubuh Monique semakin terlihat tak nyaman. Apalagi ditambah hadirnya Valerie dengan gayanya yang sedikit mengintimidasi.
“Awalnya kami hanya berangkat bertiga. Namun, ternyata Adriano mengajak adiknya. Tidak apa-apa, ‘kan? Bukankah lebih banyak pasukan akan jauh lebih baik? Kemungkinan kita menang juga akan semakin besar,” jelas Coco dengan santainya.
“Ya, itu pasti. Aku sangat setuju,” Monique tergelak. “Kalau begitu, kita berangkat sekarang. Setiap detik sangatlah berharga,” ujarnya kemudian. Tangan kanan wanita itu meraba lengan Coco dan mencoba berpegangan di sana. Saat itu, calon suami Francesca tersebut dapat merasakan tangan Monique yang sedikit bergetar.
“Kau tidak apa-apa?” bisik Coco.
“Tidak. Tentu saja tidak. Ayo. Mobilku di sebelah sana,” tunjuk Monique sambil mengembangkan senyumnya. Wanita cantik berambut merah itu lalu berjalan ke luar restoran. Dia melangkah paling depan, menuju sebuah mobil minivan yang terparkir di depan bangunan restoran tadi.
“Masuklah.” Monique menekan kunci mobil otomatis dan membuka salah satu pintunya.
“Moy brat, siapa perempuan itu? Perasaanku sangat tidak enak melihatnya,” bisik Valerie seraya mendekatkan bibir pada telinga Adriano.
__ADS_1
“Aku juga sudah merasa curiga sejak awal, tapi kau tenang saja. Aku sudah mempunyai rencana cadangan,” jawab Adriano dengan berbisik pula. Dia lalu memilih duduk di bangku penumpang paling belakang. Marco duduk di kursi tengah, sedangkan Coco duduk di samping kursi kemudi.
“Menurutmu, Coco tidak sedang berbuat serong ‘kan, Adriano?” tanya Marco yang masih saja mengkhawatirkan masalah tersebut.
“Aku membawa pistol cadangan jika kau sewaktu-waktu membutuhkan,” timpal Adriano yang tak menanggapi pertanyaan Marco.
“Ck,” Marco meraih pistol dari tangan Adriano. Matanya melirik ke arah pria tampan yang tengah sibuk mengeluarkan barang-barang dari dalam koper.
Adriano membawa tiga sabuk senjata dan menyerahkan dua di antaranya kepada Marco. “Satu untuk Ricci,” ujarnya.
Dia juga memberikan beberapa kotak peluru. “Bagi dua dengan Ricci,” ucap Adriano lagi.
“Kau tak perlu memberi tahu hal semacam itu! Aku sudah tahu,” dengus Marco kesal sambil menerima kotak-kotak peluru tadi.
“Rompi anti peluru,” ucap Adriano lagi. Kali ini, dia melemparkan benda itu begitu saja.
“Hei, untukku mana? Kenapa aku tidak mendapatkan apapun?” protes Valerie.
“Karena kau tidak akan ke mana-mana. Kau nyalakan dan awasi saja laptop yang kubawa. Jika muncul tanda merah di sana, itu artinya kami sedang dalam bahaya. Lekaslah hubungi nomor yang kukirim sesaat lagi ke ponselmu,” tegas Adriano. Selesai dia berkata demikian, sebuah pesan muncul di ponsel milik Valerie.
“Val, tolonglah! Posisimu juga sangat penting di sini. Kau bertugas mengamati keadaan di luar markas Nenad dan berjaga-jaga di sana,” bujuk Adriano.
“Sebenarnya, yang akan kita tuju bukanlah markas. Itu hanya sebuah rumah biasa,” sela Monique sambil menyetir kendaraan.
“Apa?” ucap semua orang secara bersamaan.
“Nenad sudah tidak memiliki markas. Dia sekarang tinggal di rumah miliknya,” jelas Monique, membuat Marco dan Adriano saling pandang.
“Ini akan menjadi misi yang teramat mudah,” gumam Coco yang sedari tadi hanya terdiam.
Sementara Valerie awas melihat ke luar jendela, ke arah jalanan yang mulai terang. Semburat sinar matahari yang terbit sebentar lagi, cukup membantu penerangan jalan itu. “Aku tahu tempat ini,” ujarnya. “Ini perumahan khusus untuk veteran perang,” sambung Valerie.
“Oh, ya?” sahut semua orang secara bersamaan pula.
__ADS_1
“Ya, kau benar. Kakek Nenad adalah mantan tentara pejuang,” terang Monique. “Kuharap kalian bisa menghabisinya dengan mudah,” lanjutnya lagi.
Mobil minivan itu pun berhenti di sebuah rumah bercat putih. “Dia di sana,” ujar Monique. Telunjuk lentiknya mengarah pada rumah yang berukuran paling besar yang terletak paling ujung. “Aku turun lebih dulu dan masuk ke rumah, supaya Nenad tidak curiga. Kalian tunggulah kira-kira setengah jam kemudian. Baru kalian susul aku,” ucap wanita cantik itu memberikan intruksi.
"Tunggu sebentar. Kenapa suasananya tidak seperti yang kau katakan kemarin padaku?" protes Coco pelan, membuat Monique tertegun untuk sejenak. Dia menoleh kepada Coco dengan raut wajah yang terlihat sedikit gugup.
"Ya. Awalnya aku mendapat berita bahwa Nenad berada di markas besarnya. Namun, belakangan kudengar dia ada di sini. Lagi pula, menurutku akan lebih mudah bagi kalian untuk menyergapnya saat dia sedang dalam posisi tidak siap," jelas Monique mengemukakan alasannya.
"Maksudmu?" tanya Coco tak mengerti.
"Maksudku ... um ... aku tahu apa saja yang biasa Nenad lakukan ketika sedang berada di rumah itu. Dia hampir tak pernah memegang senjata," jelas Monique lagi meyakinkan.
Tanpa menunggu tanggapan dari Coco dan teman-temannya, Monique turun dan meninggalkan kendaraan begitu saja. Hal itu membuat Marco dan Adriano terheran-heran.
“Perasaanku mengatakan bahwa Coco terjebak asmara dengan wanita aneh itu,” celetuk Marco.
“Jangan bicara sembarangan!” sentak Coco sambil buru-buru turun dari kendaraan dan berpindah ke bangku tengah. Dia mempersiapkan dirinya dengan memakai rompi anti peluru, sabuk senjata yang diletakkan di paha dan mengisi senjatanya dengan peluru.
“Bagaimana rencananya?” Valerie melongok ke bangku di depan.
“Tidak ada. Kita hanya tinggal masuk saja ke sana dan menyergap Nenad,” jawab Coco dengan entengnya.
“Kau gila!” sahut Valerie.
“Apa kau baru tahu bahwa dia gila?” Marco terkekeh. Dia sudah siap dengan peralatan perangnya. Begitu pula dengan Adriano.
“Tugasmu sekarang adalah memeriksa setiap sudut kendaraan ini dan pastikan aman dari alat penyadap ataupun bom, Val,” titah Adriano sambil menyerahkan laptopnya kepada Valerie.
“Ya, aku mengerti.” Tanpa menunggu dua kali perintah, gadis bertato itu segera turun dari kendaraan dan merayap ke bawah mobil. Setelah memastikan aman, dia bangkit dan berpindah ke kolong kendaraan. Tangannya meraba setiap permukaan bagian mobil secara teliti, dari depan ke belakang.
Dirasa tak menemukan apapun, Valerie kembali keluar dari mobil dan membuka bagasinya. Lagi-lagi, dia tak menemukan apapun. “Semuanya aman,” serunya dengan yakin.
“Bagus. Kalau begitu kami pergi dulu. Ingat pesanku tadi, Val,” tegas Adriano.
__ADS_1
“Pasti!” Valerie mengangguk dan mengamati sosok kakak angkat yang teramat dia sayangi. Entah kenapa perasaannya menjadi begitu was-was saat itu.