Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Salvati


__ADS_3

Kendaraan yang ditumpangi Adriano terus merosot, lalu jatuh dan berguling beberapa kali. Sedan hitam itu baru berhenti ketika menabrak sebuah batu besar yang berada beberapa meter dari dasar jurang. Adriano merasakan sakit yang luar biasa di sekujur tubuhnya. Keadaan itu membuat dia jadi mati rasa. Penglihatan pun menjadi gelap seutuhnya. Adriano bahkan merasakan tubuhnya kini begitu ringan. Dia seakan tengah melayang, tak terikat gravitasi. Hal sama yang pernah dirasakan beberapa tahun silam. Sepertinya, pria rupawan itu kini tengah menuju ke ambang kematian.


Akan tetapi, secara perlahan kegelapan yang dirasakan Adriano sirna dan berubah menjadi cahaya terang. Suasana di sekelilingnya begitu hening sekaligus damai. Adriano memberanikan diri untuk membuka mata dan menatap sekitar. Tak terlihat apapun di sana, selain hanya warna putih yang menyelimuti. Pria tersebut tak tahu entah sedang berada di mana dia saat itu.


“Bangun, Bodoh! Belum saatnya kau mati!” sentakan yang Adriano dengar dari seseorang, membuat pria itu seketika terkejut. Suaranya pun begitu familiar di pendengaran Adriano yang seakan tak percaya, ketika wajah galak Matteo tiba-tiba saja sudah berada di hadapannya.


“Ka-kau?” desis Adriano dengan raut tak mengerti. Dia melihat kedua telapak tangannya, kemudian membolak-balikan mereka dengan deru napas yang tak beraturan. Dalam pikiran Adriano, mungkin saat itu dirinya sudah berada di akhirat.


“Kenapa kau ceroboh sekali? Benar-benar bodoh!” umpat Matteo kesal. Pria itu bahkan sampai menyepak kaki Adriano dengan seenaknya.


“Hei!” Adriano yang tak terima, segera bangkit kemudian membalas perlakuan Matteo dengan cara mendorongnya.


Akan tetapi, pria tampan bermata abu-abu di hadapannya itu tak tergoyahkan sama sekali. Matteo tetap tegak berdiri, bahkan menyunggingkan senyum penuh ejekan terhadap ketua Tigre Nero tersebut. “Ternyata, Adriano D’Angelo adalah seorang pecundang! Kau tak pantas mendampingi Miaku!” ledek Matteo lagi.


“Tutup mulutmu! Mia adalah istriku sekarang! Miabella juga anakku!” Adriano mengarahkan jari telunjuknya lurus kepada Matteo.


Bukannya marah, Matteo malah terkekeh geli mendengar jawaban Adriano. “Kalau begitu, kenapa kau masih di sini? Cepat pergi! Jangan sampai membuat Miaku menyesal karena telah memilihmu!” ujarnya seraya balas menunjuk muka Adriano.


“Kutitipkan Mia dan juga Miabella padamu! Ingat, jangan sampai kau membuatku menyesali keputusan itu!” suara Matteo terdengar begitu berat dan dalam. Setelah itu, dia berjalan semakin mendekat pada


Adriano, lalu mendorongnya kuat-kuat hingga Adriano terlempar. Dia merasakan tubuhnya terisap oleh sesuatu yang membuat pria itu jatuh ke dalam lubang putih yang seakan tak berujung. Pada akhirnya, Adriano tiba-tiba tersentak ketika melihat dirinya kembali lagi ke tempat di mana dia terjepit bodi mobil yang sudah ringsek. Badannya terikat oleh seatbelt yang macet.


Sedikit demi sedikit, kesadaran Adriano kembali pulih. Dia melihat kendaraan itu berada pada posisi terbalik, demikian pula dengan dirinya. Adriano pun berusaha membuka seatbelt dengan susah payah.


Rasa nyeri kembali hadir. Akan tetapi, Adriano tak memedulikannya. Saat itu, hanya ada bayangan Mia dan Miabella di benaknya. Adriano tak akan membiarkan para penjahat itu sampai menyentuh kedua orang yang paling berharga dalam hidupnya.

__ADS_1


Keringat bercampur darah terus menetes dari kepalanya. Sambil meringis kesakitan, Adriano mengeluarkan segenap kekuatannya untuk memutus seatbelt yang macet, hingga akhirnya dia berhasil melepaskan diri.


Tubuhnya kini sudah terbebas dari lilitan sabuk pengaman berwarna hitam itu. Dia terjatuh ke kaca depan mobil. Sekuat tenaga, dirinya merangkak keluar. Tak dihiraukannya luka sayatan yang kembali terbuka. Darah merembes dari sela pori-pori kain yang melilit di tangannya.


Adriano terus merangkak dan berdiri menjauh dari mobil yang sudah berbau bensin. Tampak pula percikan api yang muncul dari mesin, menambah kemungkinan bahwa mobil itu akan segera meledak.


Pria bermata biru tersebut segera bergerak dan menghindar secepat mungkin. Dia menjauhi kendaraan yang sudah tak berbentuk lagi, dan terdiam di tempat yang menurutnya aman. Tepat ketika dirinya berada di balik semak belukar yang tumbuh di antara bebatuan besar, mobil itu akhirnya meledak.


Adriano segera berlari sembari melindungi kepalanya dari puing-puing yang berterbangan. Dia terus berjalan menyusuri lereng terjal, kemudian memanjatnya. Lagi-lagi tak dipedulikannya semua rasa sakit, ataupun darah yang terus mengalir semakin banyak. Adriano tak ingin berhenti, apalagi menyerah begitu saja. Dalam benaknya saat itu, dia hanya ingin menghubungi Mia untuk mengabarkan pada istri tercintanya tersebut, bahwa dirinya baik-baik saja.


Susah payah, akhirnya Adriano sampai di tepian jalan raya. Dia meraih pagar pembatas dan melompat tepat pada saat sebuah kendaraan melintas. Mobil keluaran Ford yang terlihat sudah tua, sama seperti pengemudinya. Adalah seorang kakek berkacamata. Seluruh rambut dan janggutnya telah memutih. Pria tua itu menepikan kendaraan dan berhenti tepat di depan Adriano yang terdiam di pinggir jalan.


Pria rupawan itu terlihat sangat mengenaskan. Dia bertelanjang dada, karena kemejanya sudah dipakai untuk membebat tangan yang terluka. Adriano juga tak memakai alas kaki. Satu-satunya benda yang dia miliki saat itu, hanya kalung emas berbandul salib pemberian Miranda. Benda tersebut tampak berkilau di leher si pria rupawan yang sedang terluka.


“Oh my God! Are you alright?” tanya pria tua itu setelah turun dari kendaraannya.


“Kau bisa bertelepon setelah aku membawamu ke rumah sakit,” ujar pria itu.


“No, no, no!” Adriano menolak dengan cukup tegas. Untuk saat ini, dia tak ingin musuh-musuhnya mengetahui bahwa dirinya masih hidup. Akan lebih aman bagi Adriano maupun keluarga kecilnya, jika dia berpura-pura telah tewas. “Tolong, jangan bawa aku ke rumah sakit. Aku butuh telepon. Telepon umum,” desaknya di sela ringisan karena menahan sakit akibat luka di sekujur tubuh.


“Why?” pria tua itu tak mengerti.


“Banyak orang yang berusaha untuk memburuku. Lebih baik jika aku tak terlihat di tempat-tempat umum,” jawab Adriano dengan bahasa Inggris yang fasih. Dia berusaha meyakinkan pria tua itu agar membantunya.


Pada akhirnya, pria tersebut mengangguk dan menyetujui permintaan Adriano. “Baiklah, akan kuantar kau ke telepon umum terdekat,” ucapnya. “My name is Edward, by the way,” dia memperkenalkan diri seraya membantu memapah tubuh jangkung Adriano masuk ke dalam mobil tuanya.

__ADS_1


“I’m Adriano,” balas pria bermata biru itu. Selama di perjalanan, tak ada perbincangan lagi di antara mereka sampai mobil itu kembali berhenti di sebuah pom bensin. Di sana terdapat satu telepon umum yang masih terawat dan dapat beroperasi di area pom bensin tersebut. “Bolehkah aku meminjam uang penny-mu? Aku harus menelepon seseorang."


“Pakai saja. Tak perlu meminjam,” Edward segera merogoh saku celananya dan memberi beberapa uang koin kepada Adriano.


“Terima kasih,” Adriano menerimanya dan bergegas keluar dari kendaraan menuju telepon umum, yang berada tak jauh darinya dengan langkah terseok. Sementara Edward terus memperhatikan pria itu dari dalam mobil.


Gemetar, jemari Adriano menekan nomor telepon milik Coco. Akan tetapi, sahabat Matteo itu tak juga mengangkatnya. Berkali-kali Adriano mencoba untuk menghubungi kembali. Namun, Coco tetap tak menjawab panggilan darinya.


Pasrah, Adriano terpaksa mengirim pesan melalui kotak suara yang akan langsung terbaca oleh Coco, ketika pria berambut ikal itu membuka ponselnya. Setelah aba-aba dari operator, Adriano mengirimkan pesan suara dengan intonasi yang pelan, “Katakan pada Mia bahwa aku baik-baik saja. Aku sengaja tidak membunuh Thomas Bolton karena sengaja memasang alat pelacak pada tubuhnya. Kupasang alat kecil tersebut di rambut Thomas. Dia tak akan menyadari itu. Aku hanya ingin mengetahui siapa saja jaringan yang berada di belakangnya," selesai mengirimkan pesan suara, Adriano kemudian meletakkan gagang telepon pada tempatnya dan berbalik. Kehilangan banyak darah membuat pria itu sedikit linglung dan lemah. Dalam langkahnya menuju mobil Edward, Adriano pun akhirnya terjatuh. Beruntung, kakek tua itu segera berlari ke arah Adriano dan membantunya berdiri.


“Jangan bawa aku ke rumah sakit,” pinta Adriano dengan setengah sadar. Pandangannya sudah mulai berkunang-kunang saat itu.


Mata Edward berbinar ketika terlintas ide brilian di benaknya. “Tidak, Nak. Aku tidak akan memaksamu. Namun, luka-lukamu harus diobati. Aku mengenal seseorang yang sama profesionalnya dengan dokter,” ucapnya penuh semangat. Dengan telaten, Edward menuntun Adriano yang hampir pingsan untuk kembali masuk ke dalam mobil. Pria tua itu lalu membawanya ke suatu tempat yang asing bagi pria Italia tersebut.


“Ada seorang putra dari saudaraku. Dia masih muda, tapi sangat berbakat,” ujar Edward bangga.


Namun, Adriano tak menimpali. Sambil terus menguatkan diri, sepasang matanya menatap ke luar jendela mobil dan mengamati papan penunjuk jalan. “Hutan Lindung?” gumamnya.


“Ya, ini adalah kawasan taman nasional, cagar alam terbesar di Inggris. Keponakanku merupakan salah satu penjaga pos sekaligus menjadi dokter hewan di sini,” sahut Edward sembari tersenyum lebar.


“Dokter hewan? Kenapa kau membawaku ke dokter hewan?” tanya Adriano keheranan seraya mengernyitkan kening.


“Bukankah kau tadi mengatakan jika dirimu ingin bersembunyi. Jadi, kubawa saja kau kemari. Kau bisa bersembunyi sekaligus mengobati luka-lukamu di tempat ini," jelas Edward. "Jangan khawatir. Cucuku sangatlah terlatih. Dia sudah biasa mengoperasi kucing hutan maupun hewan-hewan lain dan merawatnya sampai sembuh,” ujar Edward lagi masih terlihat sumringah.


“Aduh, gawat” Adriano meringis ngeri. Entah karena menahan sakit ataukah karena penjelasan pria tua yang baru dikenalnya itu.

__ADS_1


Seketika Edward menoleh padanya. Pria tua itu terlihat penasaran dengan sikap Adriano. Sambil terus mengemudikan mobil antiknya, dia bertanya, "Apa kau ada masalah dengan hal itu? Aku hanya ingin menolongmu, tapi aku merasa bingung harus membawa kau ke mana," ujarnya.


"Ah, tidak. Tak apa-apa. Terima kasih," sahut Adriano tak enak. Dia lalu terdiam, hingga Edward menghentikan laju mobilnya di depan sebuah rumah dari kayu.


__ADS_2