
Adriano beserta keluarga kecilnya telah bersiap untuk pergi ke Yunani, untuk menghadiri undangan Arsen. Miabella tampak sangat antusias karena akan bertemu dengan Olivia, terlebih karena kali ini mereka juga mengajak serta Damiano. Dengan menggunakan pesawat jet pribadi, keluarga kecil itu menempuh sekitar satu jam lebih perjalanan dari Monaco menuju ke Yunani. Tak pernah Mia bayangkan sebelumnya, jika dia akan kembali ke rumah yang menjadi tempat pertemuan pertama antara dirinya dan Adriano beberapa waktu ke belakang.
Orlin, wanita yang bertugas menjaga serta merawat rumah milik Adriano, segera menyambut kedatangan sang tuan dan yang lainnya. Wanita paruh baya tersebut begitu senang saat melihat Miabella yang cantik dan juga menggemaskan. Sayangnya, dia hanya bisa menyapa gadis kecil itu dengan sebuah isyarat, karena terbentur masalah bahasa.
"Aku sudah menyiapkan kamar tamu sesuai dengan perintah Anda, Tuan," lapor wanita itu dengan sopan, dalam bahasa Yunani.
"Baguslah. Tolong antarkan tuan Baresi ke kamarnya," titah Adriano seraya mengarahkan tangan kepada Damiano yang masih tak percaya, bahwa dirinya tengah berada di negeri para dewa. Ini adalah pertama kalinya dia mengunjungi negara tersebut.
Orlin mengangguk hormat. Dia meminta Damiano agar mengikutinya. Sementara Adriano, Mia, dan juga Miabella beranjak ke kamar yang akan mereka tempati. Kamar di mana dulu Mia bercerita tentang kejadian buruk dan mengerikan yang menimpa Matteo. Dari kamar itu pula, kisahnya bersama Adriano bermula, hingga saat ini di mana perasaan cinta telah tumbuh subur dalam hati keduanya.
"Beristirahatlah," ucap Adriano seraya mengelus lembut pipi Mia, kemudian mengecup bibirnya dengan mesra. Sementara Miabella tengah asyik melihat laut lepas dari jendela kamar berukuran tinggi dan cukup lebar, dengan penutup yang segaja dibuka sehingga sirkulasi udara berjalan lancar dan membuat suasana di dalam ruangan itu terasa nyaman.
"Apa kau akan pergi lagi?" tanya Mia yang melihat gelagat aneh dari sang suami.
"Aku akan melihat keadaan club sebentar," jawab Adriano yang masih berdiri di hadapan istrinya. Sekali lagi dia mengelus pipi Mia.
"Astaga, Sayang. Kita baru saja tiba di sini," Mia terbelalak tak percaya dengan apa yang dikatakan pria itu.
"Selagi sempat, Mia. Lagi pula, jaraknya tidak terlalu jauh dari sini. Aku janji akan pulang cepat," bujuk Adriano meyakinkan sang istri.
__ADS_1
Sementara Mia hanya menanggapinya dengan sebuah keluhan pendek, seraya menghampiri Miabella yang masih asyik berdiri di dekat jendela. "Kau suka di sini, Sayang?" tanyanya.
Miabella menoleh, kemudian tersenyum. "Kapan kita akan bertemu bibi berambut hitam, Ibu?" tanya gadis kecil itu tampak antusias.
"Besok," sela Adriano, membuat Miabella mengalihkan pandangan terhadapnya. "Sekarang istirahat saja dulu. Kau harus tidur siang agar tumbuh tinggi seperti ibumu," rayu Adriano seraya melirik Mia dengan sorot menggoda. Akan tetapi, Mia tak berminat untuk menanggapinya. Dia masih sedikit kesal karena Adriano akan langsung pergi lagi.
Sambil tersenyum kalem, pria bermata biru itu melangkah ke arah Mia berada. Wanita cantik tersebut sedang asyik menatap lautan yang terhampar luas, dengan warna biru nan indah. Adriano memeluk tubuh ramping istrinya dari belakang. "Kau tahu, Mia? Waktu itu, padahal aku tidak berniat untuk mampir kemari setelah kembali dari club. Namun, ada seorang anak buahku yang menyarankan agar aku datang dan beristirahat sejenak di sini," tutur Adriano pelan. Sedangkan Mia hanya mendengarkan.
"Aku ingin memberinya sedikit hadiah. Jika bukan karena dia yang menyarankan seperti itu, mungkin hingga saat ini aku masih menjalani hidup dalam kesendirian," jelas Adriano lagi seraya mengecup pundak Mia.
"Ya, dan hidupku berakhir di tebing yang curam lalu terkubur di dalam Laut Aegea," timpal Mia dengan tatapan menerawang. Kembali hadir dalam ingatannya, ketika dia mencoba untuk bunuh diri kala itu. Namun, beruntung karena Adriano segera datang dan menghentikan aksi bodohnya tersebut.
......................
Hari yang cerah dan penuh kebahagiaan pada salah satu cafè outdoor, di jalanan berundak daerah Plaka. Meja dan kursi kayu sudah tertata rapi, dengan taplak kotak-kotak berwarna merah berlapis kain putih di atasnya. Pada setiap meja, terdapat sebuah lilin yang diletakkan dalam botol kaca khusus, sehingga membuatnya terlihat sangat artistik.
Tadeus dan Eireen Moras, selaku penyelenggara pesta sudah tampil rapi untuk menyambut para tamu. Satu per satu undangan hadir di sana, dan membuat tempat tersebut kian ramai. Tak terkecuali Adriano yang membawa serta Mia, Miabella, dan juga Damiano. Mereka datang dengan penampilan terbaik masing-masing.
Sesaat setelah kehadiran Adriano dan keluarga, Don Vargas juga mulai terlihat di lokasi pesta. Tentu saja dengan ditemani oleh Juan Pablo. Tatapan pria berusia tiga puluh lima tahun itu langsung tertuju kepada Mia, yang tampil cantik dalam balutan dress model A Line tanpa lengan dari bahan brokat berwarna putih. Dress sama seperti yang dikenakan oleh Miabella.
__ADS_1
"Tuan dan Nyonya D'Angelo," sapa Don Vargas dengan ramah. Dia menyalami Adriano juga Mia.
Sedangkan Juan Pablo mengalihkan perhatiannya kepada Damiano yang tengah bersama Miabella. Dia berlalu dari sana untuk menyapa pria itu. "Tuan Baresi. Anda di sini juga?" sapa pria dengan kemeja dan blazer hitam itu.
"Oh, Juan Pablo. Apa kabar, Nak?" balas Damiano dengan hangat. Tanpa rasa sungkan sama sekali, dia memeluk pria muda tersebut. Juan Pablo kemudian melirik Miabella yang segera bersembunyi di belakang tubuh sang kakek.
"Kapan Anda tiba di sini?" tanya ajudan setia Don Vargas itu lagi. Dia terlihat nyaman berbasa-basi dengan Damiano.
"Kemarin," jawab Damiano sambil memegangi Miabella yang terus memeluk pahanya dari belakang. Sementara Juan Pablo hanya tersenyum kecil melihat tingkah anak itu.
Tak berselang lama, Olivia dan Arsen muncul di sana. Olivia terlihat sangat berbeda setelah dipersunting oleh Arsen. Wanita muda itu semakin cantik dan juga jauh lebih terawat. Kedua orang tuanya yang sengaja didatangkan dari Italia pun tampak sangat bahagia. Keduanya merasa terharu, karena pada akhirnya Olivia mendapatkan seorang pria yang bertanggung jawab atas hidup putri mereka.
"Terima kasih, Nyonya. Ini semua atas bantuan Anda," ucap Olivia sambil merangkul Mia. Tak lupa, dia juga langsung memeluk Miabella dengan erat.
Sementara Arsen hanya senyum-senyum kepada Adriano. "Kau berutang penjelasan padaku," ujar Adriano setengah berbisik.
"Aku hanya ingin mengikuti jejakmu," balas Arsen tak kalah pelan. “Sudahlah, nikmati saja pesta dan suguhan khas Yunani ini. Orang tuaku mempersiapkan semuanya dengan maksimal.” Arsen mengarahkan Adriano ke meja di mana istrinya dan Mia duduk bersebelahan. Sementara Miabella tampak asyik sendiri menyentuh dan memainkan bunga hias berwarna putih, yang berukuran kecil serta dirangkai sebagai hiasan.
Akan tetapi, gerakan tangan mungil Miabella harus terhenti, ketika sebuah tangan kekar mencengkeramnya dengan sedikit erat. Gadis kecil itu pun meringis kesakitan. Dia juga tampak sangat ketakutan. “Halo, Tuan Putri yang cantik. Maukah kau ikut bersamaku?” tanya seseorang dalam bahasa Inggris, yang tentunya tak dimengerti oleh balita itu. Miabella hanya memandangnya dengan tatapan aneh penuh selidik.
__ADS_1