
Dengan langkah gagah, Adriano berjalan cepat menuju ruang kerjanya. Dia merogoh ponsel dan segera menghubungi Pierre. Dalam dua kali nada sambung saja, sang ajudan setia langsung menjawab panggilan tersebut.
“Datanglah ke ruanganku sekarang juga, Pierre!' titah sang pemilik mansion itu, sesaat setelah Pierre mengucapkan kata 'hallo'.
Adriano menutup sambungan telepon, ketika sudah tiba di depan pintu ruangan.
Pintu itu terbuat dari besi dan memiliki kunci otomatis menggunakan sidik jari. Hanya Pierre lah yang diberi akses keluar-masuk secara leluasa ke ruangan tersebut. Namun, Adriano sempat berpikir untuk menambahkan sidik jari Mia di sana.
Setelah membuka kunci, pintu itu pun bergeser. Adriano melangkah cepat. Dia meraih berkas-berkas yang didapat dari pengacara Matteo, kemudian membaca ulang.
Sementara, Pierre masuk ketika Adriano meletakkan kertas-kertas itu kembali ke dalam map. “Apa ada tugas untukku, Tuan?” tanya Pierre yang sudah berdiri di depan meja kerja.
“Bersiaplah, Pierre. Kita akan pergi ke Sicilia sebentar lagi,” ucap Adriano tanpa menoleh. Dia sibuk menyelipkan pistol kesayangannya di pinggang, lalu membetulkan letak jam tangan di pergelangan kiri.
“Ke Sicilia? Untuk apa, Tuan?” tanya Pierre seraya mengernyitkan keningnya.
“Aku menemukan petunjuk baru pada kasus Matteo,” jawab Adriano dengan senyum terkembang. Jawaban Adriano, membuat Pierre berdiri mematung. Dia tak juga bergerak meski sang tuan sudah berada di ambang pintu. Adriano terpaksa berbalik sambil berkacak pinggang. “Ayolah, Pierre! Kita tidak memiliki banyak waktu,” ajaknya.
“Sejak kapan Anda begitu peduli pada perkembangan kasus Matteo de Luca? Aku merasa tidak mengenal Anda lagi,” protes Pierre seraya menghela napas panjang.
“Aku masih Adriano yang kau kenal, Pierre. Ayolah!" ajaknya lagi.
“Lalu, rahasia apa yang Anda sembunyikan dariku, Tuan? Ada berapa banyak yang tidak kuketahui? Salah satunya, termasuk pernikahan Anda dengan janda Matteo?” Pierre terdengar kecewa.
“Seharusnya, kau bahagia karena aku sudah menemukan tambatan hati. Bukankah ini yang kau harapkan?" Adriano menoleh sesaat kepada sang ajudan setia.
“Iya, tapi kenapa harus janda Matteo de Luca?” Pierre tetap tak habis pikir.
“Kau tak bisa memaksa harus ke mana hatiku akan berlabuh, Pierre,” tegas Adriano yang mulai kehilangan kesabarannya. “Sekarang, kita sudahi pembicaraan tak penting ini. Sampai kapanpun, kau adalah orang yang paling kupercaya. Akan tetapi, ada hal-hal tertentu yang tak bisa kujelaskan padamu.”
“Termasuk tentang penyebab Anda terluka dua tahun yang lalu?” pancing Pierre yang sepertinya tak mengenal putus asa. Sikapnya membuat Adriano menarik napas panjang.
“Iya. Termasuk hal itu. Aku berjanji akan menceritakan semuanya nanti. Saat ini, aku membutuhkan bantuanmu untuk menemaniku ke Sicilia,” jawab Adriano penuh penekanan.
“Tentu saja, Tuan." Dengan langkah yang tak kalah gagah dari Adriano, Pierre berjalan menyejajari majikannya hingga ke halaman depan, di mana salah satu mobil mewah Adriano sudah menunggu untuk mengantar mereka ke bandara di Nice, Perancis.
Lima jam waktu tempuh yang dibutuhkan oleh jet pribadi Adriano, untuk tiba di Bandara Catania. Berbekal informasi dari Marco tentang organisasi sempalan Klan de Luca, Adriano segera bergerak menuju San Giorgio, yaitu sebuah kawasan padat penduduk di pulau itu.
“Anak buahku juga sudah menyelidikinya ke sana, Tuan D’Angelo. Namun, mereka tak mendapatkan apapun."
Itulah kata-kata Marco yang sempat diingat oleh Adriano.
Mobil sewaan yang dikendarai oleh Pierre, kemudian berhenti di depan kompleks apartemen kumuh. Mereka sempat terdiam beberapa saat, sebelum memutuskan untuk keluar. “Gedung yang mana, Tuan? Ada tiga bangunan apartemen berjajar di sini,” tanya Pierre kebingungan.
“Gedung Barat, Pierre,” tunjuk Adriano. Saat itu dia begitu yakin bahwa anak buah Marco telah melewatkan sesuatu. “Inilah pentingnya atasan terjun langsung ke lokasi,” ujar Adriano sambil berjalan memasuki lift, yang terlihat sangat tidak aman.
Dinding lift terkelupas di sana-sini. Beberapa tombol angka di samping pintu sudah terlepas dari tempatnya. Lift itu bahkan berdecit, saat bergerak ke atas.
__ADS_1
“Apa Anda yakin benda ini dapat berfungsi dengan baik, Tuan?” Tangan Pierre terulur menyentuh dinding lift dengan raut cemas.
“Tenang saja, Pierre. Kita tidak akan mati karena lift ini,” kelakar Adriano.
Benar saja. Pierre akhirnya dapat bernapas lega, ketika pintu lift terbuka. Mereka telah tiba di lantai yang dimaksud. Adriano melihat telapak tangannya, di mana dia menulis nomor apartemen yang akan mereka tuju tuju.
“Tuan." Pierre meraih dan sedikit menarik lengan Adriano, seakan berusaha mencegah sang tuan untuk melangkah.
“Ada apa?” tanya Adriano keheranan.
“Apa yang akan Anda dapatkan dari semua ini?” Pierre balik bertanya.
“Sedikit kebahagiaan untuk Mia,” jawab Adriano lugas. “Setidaknya, aku dapat mengurangi satu dari sekian banyak bebannya.”
“Aku sungguh tidak mengerti.” Pierre menggeleng pelan. “Dia istri dari musuh Anda.”
“Sudah sejak lama aku tak menganggap Matteo sebagai musuhku lagi,” sahut Adriano.
Pierre kembali menggeleng. “Aku semakin tak mengerti. Namun, aku menyayangi dan akan mendukung apapun keputusan Anda, Tuan." Pierre menepuk pelan punggung Adriano, lalu berjalan mendahului.
Saat itu, Pierre telah berdiri di depan sebuah pintu, dengan nomor sama seperti yang tertera di telapak tangan Adriano. “Apakah ini tempatnya?” Telunjuk Pierre mengarah pada nomor yang menempel di pintu.
“Betul,” desis Adriano. Dia lalu mencoba mengetuknya pelan. Namun, tak ada respon dari dalam. Untuk kedua kalinya, Adriano mengetuk dengan lebih keras. Tetap tak ada tanda-tanda bahwa pintu itu akan dibuka.
Pierre mulai tak sabar. Dia memutar pegangan pintu yang berbentuk bulat dan terlihat kuno. Namun, ternyata pintu itu terkunci. "Bagaimana jika kita dobrak saja, Tuan?” tawarnya.
Adriano segera menggerakkan tangan sebagai tanda penolakan. “Aku mempunyai cara yang lebih tenang,” bisiknya.
Perlahan, Adriano memutar jarum tadi. Dia menariknya hati-hati. Adriano kemudian memasukkannya lagi, hingga terdengar bunyi 'klik'.
Tanpa menimbulkan suara, Adriano berhasil memutar pegangan pintu dan membukanya. Diam-diam, mereka memasuki apartemen yang tampak lengang. Adriano mengedarkan pandangan, hingga ekor matanya menangkap sesosok pria yang tertidur di sofa butut dalam posisi tengkurap
“Apa dia mati?” bisik Pierre.
Adriano tak menjawab. Dia malah mendekati pria itu dan menyentuh lehernya. Tak disangka, pria tadi melonjak kaget, sehingga Adriano dan Pierre refleks menarik pistol mereka dari balik pinggang. Keduanya menodongkan senjata pada pria asing tadi.
“Si-siapa kalian?” tanya si pria, dengan raut wajah pucat. Rasa takut terpancar jelas dari sorot matanya.
“Sebutkan dulu namamu, baru akan kujawab siapa kami." Adriano masih mengarahkan senjata pada pria itu.
“Na-namaku Patrizio,” jawab pria itu terbata.
“Sebutkan mama lengkap!” ujar Pierre dengan cukup keras.
“Patrizio Cerci!” sahut pria itu tak kalah nyaring. “Dengar, Amico. Aku tak mau mencari masalah. Aku sudah lama mengundurkan diri dari dunia hitam,” ujarnya.
“Kami hanya ingin menanyakan tentang sesuatu padamu." Nada bicara Adriano tak sedikit melunak. “Kuharap, kau bersedia menjawab dengan jujur.”
__ADS_1
“Akan kucoba,” sahut Patrizio mengangguk cepat.
“Apa kau tahu siapa yang membunuh Matteo de Luca?” tanya Adriano tanpa basa-basi.
“Sudah berkali-kali mereka menanyakan hal yang sama. Aku tetap tidak tahu jawabannya,” jawab Patrizio dengan begitu yakin.
“Kau pasti mengetahui bahwa salah satu senjata yang digunakan untuk mengeksekusi Matteo de Luca, adalah senjata khusus yang umum dipakai kalangan militer Amerika,” pancing Adriano.
“Ya. Aku tahu itu.” Patrizio mengangguk cepat.
“Siapa yang bisa menyelundupkan senjata itu ke Italia?” Pierre ikut bertanya.
“Organisasiku jelas bukan salah satunya, karena kami sudah bubar bertahun-tahun yang lalu. Kami sudah tidak melakukan penyelundupan senjata militer lagi. Begitu pula organisasi lainnya. Sejak Matteo de Luca mengundurkan diri dari jabatan sebagai ketua klan, kami tak bisa masuk ke perdagangan senjata militer. Mereka menutup aksesnya,” terang Patrizio.
“Mereka siapa?” desak Adriano.
“Tangan Setan. Itulah julukannya. Tak ada yang tahu seperti apa rupa asli mereka. Tangan Setan benar-benar seperti setan. Tak terlihat dan sangat misterius,” jelas Patrizio.
“Bagaimana cara mereka menutup aksesnya?” tanya Pierre yang ikut penasaran.
“Mereka mengambil alih jalur perdagangan dan penyelundupan dengan begitu saja. Semua memakai topeng bermotif tengkorak. Mereka menyerbu markas secara tiba-tiba dan melumpuhkan semua orang seperti menghancurkan kawanan semut. Sejak saat itu, semua organisasi tak bisa mendistribusikan senjata militer lagi,” terang Patrizio.
“Lalu, bagaimana caranya si pembunuh membawa senapan itu ke Italia? Sangat tidak mungkin jika senjata itu masuk ke negara ini dengan menggunakan sihir,” sindir Pierre.
“Bisa saja itu senjata pribadi si pembunuh. Dia membawa sendiri melalui jalur laut, darat, atau bahkan mungkin udara. Pemilik senjata menyamarkannya, dengan cara membongkar senjata lalub menyimpan di dalam koper khusus yang tidak dapat dideteksi oleh alat detektor logam. Itu menurutku.” Patrizio mengakhiri penjelasannya sambil mengangkat bahu.
“Apakah mungkin jika Tangan Setan turut andil dalam tewasnya Matteo?” tanya Adriano lagi.
“Kalau itu yang terjadi, maka relakan saja. Kalian tidak akan bisa mengungkap Tangan Setan. Mereka bukan organisasi mafia yang nyata seperti kami. Mereka tidak tunduk pada aliansi manapun. Tidak itu Moriarty, ataupun organisasi besar lainnya. Mereka itu seperti asap putih yang bisa kalian lihat, tapi tak bisa kalian sentuh!” tutur Patrizio.
“Sejak kapan mereka hadir di Italia?” cecar Adriano masih merasa penasaran.
“Seperti yang sudah kukatakan tadi, sejak Matteo de Luca mengundurkan diri dari jabatannya sebagai ketua klan,” jawab Patrizio dengan yakin.
Adriano dan Pierre saling pandang. Keduanya merasa tak ada lagi informasi yang bisa didapatkan dari pria itu. Akhirnya, mereka memutuskan untuk pergi. Tujuan Adriano dan Pierre kali ini adalah Istana de Luca di Palermo.
Setelah beberapa jam di perjalanan, mereka akhirnya tiba di sana. Marco menyambut dengan hangat. "Apa kabar, Tuan D'Angelo?" sapa sang ketua Klan de Luca, seraya menyalami Adriano. Dia lalu beralih kepada Pierre. Marco, sempat memperhatikan pria asal Perancis itu.
"Ini adalah Pierre Corbyn. Dia ajudanku." Adriano memperkenalkan Pierre tanpa diminta.
"Oh. Apa kabar Tuan Corbyn? Selamat datang di Istana de Luca," sambut Marco yang kemudian segera mempersilakan mereka agar masuk.
Adriano dan Pierre mengikutinya, hingga mereka tiba di ruang kerja Marco. "Bagaimana Tuan D'Angelo? Apakah Anda mendapatkan sesuatu?" tanyanya tanpa berbasa-basi.
"Apa kau mengetahui informasi tentang Tangan Setan?" tanya Adriano tenang.
"Kami sudah mencoba menyelidiki, tapi hasilnya nihil. Mereka seperti sebuah kelompok fiktif yang hanya dimunculkan sebagai pengalih perhatian. Masalahnya, aku sudah mengerahkan seluruh anak buah terlatih untuk mencari tahu tentang kelompok itu. Namun, tak sedikit pun informasi yang kami dapatkan," jelas Marco.
__ADS_1
"Itu tidak mungkin. Sekawanan semut saja masih memiliki sarang, apalagi organisasi seperti itu. Mereka pasti memiliki latar belakang dan tempat untuk berkumpul," bantah Adriano yakin.
"Aku pun berpikir demikian. Namun, sepertinya kelompok ini tidak berdiam di satu tempat. Entahlah, aku juga merasa bingung bagaimana cara mereka berkoordinasi satu sama lain," timpal Marco. "Mereka bergerak dengan begitu rapi dan tak terdekeksi. Sama seperti prajurit yang sedang mengintai tanpa diketahui lawannya."