Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Unmatched


__ADS_3

Adriano melajukan mobil masih dengan sikapnya yang membisu. Tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya saat itu. Di telinganya terus terngiang perkataan Gianna tentang sang ayah. Pria itu sama sekali tak menyangka bahwa Emiliano memiliki pemikiran yang begitu dalam tentang dirinya. Selama ini, Adriano hanya merasa sebagai anak haram yang sama sekali tak diharapkan.


Lamunan pria berparas rupawan itu seketika buyar, ketika ponsel yang dia letakkan pada tempat khusus di samping kemudi terdengar berdering. Wajah cantik Mia tampak menghiasi layar. Gianna pun sempat melirik dan mengamati bahasa tubuh kakak tirinya yang seketika terlihat berbeda. Saat itu, Adriano dengan segera menggeser tombol untuk menerima panggilan. “Pronto, sayang,” sapanya. Nada bicara sang ketua Tigre Nero pun terdengardiharapkan


“Kau di mana, Adriano?” tanya Mia. Suaranya terdengar lembut dan manja, membuat pria di balik kemudi itu tersenyum kalem.


“Aku sedang di jalan. Kami hendak menjemput ayahku di pelabuhan Genova. Dia sekarang berada di sana,” jawab Adriano.


“Astaga, apa dia baik-baik saja? Bagaimana bisa dia sampai berada di sana?” suara Mia yang terdengar begitu khawatir dan tidak terkesan dibuat-buat sama sekali.


“Ceritanya panjang, Mia. Nanti malam saja kita bahas,” Adriano tertawa pelan sembari mengusap bibirnya dengan ujung jari tangan.


“Oh, baiklah. Aku harap kau tidak pulang terlambat untuk makan malam di rumah. Sejak tadi Miabella menanyakanmu,” ucap Mia lagi.


“Kau tenang saja. Aku usahakan pulang lebih cepat. Katakan itu kepada tuan putri kecilku,” pesan Adriano dengan senyuman yang terlihat jauh lebih lebar, ketika membahas tentang Miabella.


“Ya, tentu. Sekarang dia sedang tidur siang,” sahut Mia. “ Stai attento. Ti amo (Berhati-hatilah. Aku mencintaimu).”


“Anch’io ti amo (Aku juga mencintaimu),” balas Adriano seraya mengakhiri perbincangannya dengan Mia. Pria itu kembali fokus pada kemudi dan terlihat serius, tak seperti tadi saat sedang berbicara dengan sang istri.


Gianna merasa terkesan dengan pria di sebelahnya. Dia memang tak terlalu mengenal Adriano. Akan tetapi, kini dia tahu bahwa anak yang dulu selalu menjadi bulan-bulanan kemarahan ibunya, bukanlah seseorang yang jahat. Bahasa tubuh yang Adriano tunjukkan, tak sedikit pun lepas dari perhatian gadis berambut pirang tersebut. Dapat terlihat jelas pendaran mata penuh cinta dari Adriano, tatkala bercengkerama dengan Mia.


“Kau sangat tergila-gila kepada janda Matteo de Luca rupanya,” celetuk Gianna beberapa saat setelah mereka sama-sama terdiam.


Adriano sempat melirik adik tirinya itu sebelum kembali fokus pada jalanan di depannya. “Dia istriku. Tidak perlu kau sematkan istilah ‘janda’. Mia sudah menjadi milikku,” tegasnya.


“Baiklah, aku minta maaf. Sepertinya dia wanita yang baik,” ucap Gianna lagi.


“Itu sudah pasti. Dia yang terbaik, karena itulah aku memilihnya,” sahut Adriano penuh rasa bangga. Sedangkan Gianna menanggapi jawaban sang kakak dengan tertawa kecil, lalu memalingkan wajah ke arah jendela.


“Kenapa? Apa ada yang lucu?” Adriano menautkan alisnya tanda tak suka dengan sikap gadis itu yang terkesan mengejeknya.

__ADS_1


“Tidak, tidak ada. Aku hanya teringat kepada Carina,” jawab adik tiri Adriano tersebut. Dia kembali mengalihkan pandangan pada pria di sebelahnya.


“Memamgnya kenapa dengan Carina?” tanya Adriano. Sementara tangannya memutar kemudi ke arah kiri dengan kecepatan sedang menuju pelabuhan Genova, sekitar dua jam perjalanan dari kota Milan.


“Kau tahu bukan jika aku sangat dekat dengannya. Sejak bertemu kembali denganmu, Carina seperti remaja yang baru pertama kali mengalami jatuh cinta. Dia selalu bersemangat saat bercerita tentangmu. Sama seperti saat kau berbincang dengan Mia. Sorot matanya penuh dengan binar indah,” tutur Gianna seraya tersenyum geli.


“Katakan padanya bahwa aku sudah menikah. Tolong hargai statusku yang sudah beristri. Terlebih lagi, hargai Mia! Aku tak berniat untuk mengikuti jejak tuan Emiliano Moriarty,” tegas Adriano dengan raut serius, membuat Gianna tak ingin menanggapi dengan lebih jauh lagi.


Pada akhirnya, sisa perjalanan mereka lalui tanpa saling berbincang, hingga mobil yang dikendarai Adriano memasuki gerbang pelabuhan. Tumpukan peti kemas raksasa di sisi kiri dan kanan jalan seakan menyambut kedatangan mereka. Mobil Adriano kemudian berhenti di depan deretan bangunan bertingkat pada sisi dermaga. Adriano segera turun dari sana, diikuti oleh Gianna. “Apakah itu mobilnya?” pria rupawan itu menunjuk sebuah mobil bercat hitam yang terparkir tak jauh dari tempatnya berdiri.


“Kau benar!” Gianna sudah bersiap untuk berlari menghampiri mobil tersebut.


Akan tetapi, dengan segera Adriano lebih dulu mencegahnya. “Jangan gegabah! Kita tidak tahu siapa yang akan kita hadapi di sini,” ujarnya sembari mencengkeram pergelangan tangan Gianna dan memaksa gadis itu untuk berjalan sejajar dengannya, membuat Gianna hanya dapat mengangguk pelan dan menurut saja.


Sesampainya di dekat kendaraan tersebut, Adriano memeriksa keadaan di dalam mobil yang ternyata kosong. Di sekitarnya pun tak terlihat lalu lalang orang. Terlalu sepi untuk seukuran pelabuhan besar seperti itu. “Berhati-hatilah,” desis Adriano. Instingnya mulai berjalan, sehingga dia harus bersikap lebih waspada. Pria bermata biru itu kemudian mengeluarkan pistol kecil kesayangannya, yang selalu terselip di balik pinggang. Setelah mengokang senjatanya, Adriano melangkah pelan sambil mengarahkan pandangan dan senjata ke segala arah. Dia bahkan mengarahkan senjata api itu pada atap-atap bangunan yang juga tak luput dari pengamatannya.


“Tetaplah berjalan di belakangku, Gianna!” ucap Adriano. Gadis berambut pirang itu mengangguk lalu bersembunyi di belakang tubuh tegap sang kakak tiri.


Adriano kemudian berhenti di depan bangunan dengan plang yang bertuliskan ‘La Angela dell’acqua’. Sejenak, dia tertegun di sana dan kembali melihat sekeliling.


“Apa kita akan langsung masuk?” tanya Gianna mulai merasa tegang. Namun, belum sempat Adriano menjawab pertanyaan gadis itu, terdengar desingan peluru dari arah belakang. Dengan sigap dia melindungi kepala Gianna menggunakan tangannya. Adriano memaksa gadis itu untuk merunduk dan bersembunyi di balik pilar bangunan.


Sang ketua Tigre Nero segera menempelkan punggung di pilar, sementara pandangan pria itu lurus tertuju pada jendela hitam di hadapannya. Kaca jendela itu memantulkan sebuah bayangan yang ada di belakang Adriano, sehingga dirinya dapat melihat dengan jelas arah tembakan yang berasal dari balik mobil.


Setelah memastikan titik bidikan, Adriano segera membalas tembakan itu. Pelurunya bergerak lurus menembus kaca mobil dan akhirnya bersarang di dada seseorang yang bersembunyi di balik kendaraan tersebut. Pria misterius itu pun roboh di atas deretan paving block dermaga.


Ketika keadaan dirasa sudah aman, Adriano kemudian mengajak Gianna berjalan memutari bangunan. Di sana, dia melihat banyak orang sedang berkumpul dan tengah membicarakan sesuatu. Orang-orang itu memakai kaus berwarna hitam yang serupa. “Apakah itu ....” keningnya berkerut demi menggali ingatan-ingatan lama yang telah terkubur. “Giuliano!” teriak Adriano yang dengan santainya keluar dari persembunyian. Sontak Gianna panik dan berusaha menarik tubuh Adriano agar kembali bersembunyi. Akan tetapi, Adriano menepiskan tangan Gianna, lalu berjalan mendekat pada sekumpulan pria berbaju hitam tadi. Tak ada rasa takut sedikit pun dalam diri Adriano. Justru orang-orang itulah yang tampak terkejut dan takut melihat kedatangan pria bermata biru tersebut. Sementara Gianna memilih untuk tetap bersembunyi.


“Signor. Apa yang Anda lakukan di sini?” tanya pria bernama Giuliano itu dengan wajah yang tampak memucat. Dia lalu bergerak mundur dengan perlahan.


“Berani-beraninya kau menyuruh orang untuk menembakiku!” tangan kiri Adriano terulur, lalu meraih ujung kaos Giuliano dan menariknya agar mendekat. Setelah itu, Adriano memukul wajah pria tadi sedemikian keras hingga pelipisnya sobek dan berdarah.

__ADS_1


Giuliano limbung dan terjatuh. Sementara rekan-rekannya tak ada yang berani membantu. Mereka hanya mampu terdiam dan mematung. Mereka tahu, siapa yang tengah dihadapi saat itu.


“Signor, kukira Anda berada di Monaco,” ujar salah satu dari sekian pria yang berada di sana.


“Kau lihat aku sekarang berdiri di sini. Sekarang katakan, kenapa kau menembakiku? Kau juga menculik ayahku!” Adriano beralih pada pria tadi. Nasibnya sama dengan Giuliano. Babak belur akibat pukulan keras Adriano.


“Ma-maafkan kami, Signor. Kami hanya memancing Ilario agar keluar dari persembunyiannya. Kami tidak ada masalah dengan tuan Emiliano Moriarty. Ilario lah yang kami cari,” jelas pria yang meringkuk di depan Adriano itu dengan raut ketakutan.


Gerombolan pria berkaus hitam itu kemudian mundur, menyisakan Giuliano dan seorang pria yang baru saja mendapatkan bogem mentah dari Adriano.


“Katakan, kenapa kau ingin mencari Ilario,” kedua tangan Adriano menarik ujung kaos pria tersebut.


“Dia menipu kami, Signor. Ilario mengatakan jika dia akan menjual barang kami. Akan tetapi, setelah Ilario membawa barangnya, dia menghilang. Tak sepeser pun yang kami terima,” jelas pria tersebut.


“Berapa banyak barang yang dia bawa?” tanya Adriano lagi.


“Lima kilogram, Signor,” jawab pria itu.


“Selama ini kalian telah dibodohi olehnya. Ilario bersembunyi di rumah beserta barang milik kalian. Sepertinya barang itu telah berkurang. Beratnya hanya tinggal sekitar tiga kilogram,” Adriano melepaskan cengkeramannya seraya menepuk-nepuk pundak pria itu.


“Kami tak berani menyerbu dan merusak kediaman tuan Emiliano, karena kami mendengar bahwa rumah itu milik Anda,” tutur Giuliano sembari berdiri.


“Tidak. Rumah itu bukan milikku, tapi kuizinkan kalian untuk memasukinya dan mengambil apa yang menjadi hak kalian,” seringai Adriano, “tetapi, sebelumnya tunjukkan padaku di mana Emiliano.”


“Dia ada di dalam, Signor. Kami memperlakukannya dengan baik,” Giuliano lalu mengajak Adriano masuk ke dalam bangunan. “Maafkan rekan kami yang menembak Anda, Signor. Dia orang baru, sehingga masih belum hapal wajah siapa pun. Dia pikir mungkin Anda adalah Ilario,” jelasnya seraya membuka pintu.


Adriano tak menjawab. Ekor matanya lebih dulu menangkap sosok renta Emiliano yang duduk di sebuah bangku dan menghadap ke arah meja kayu. “Padre!” panggilnya.


Emiliano segera menoleh dan tertawa melihat putranya yang tampak begitu tampan dan gagah, telah datang untuk menyelamatkannya.


🍒🍒🍒

__ADS_1


Hai, hai ... ceuceu kembali membawakan rekomendasi novel keren untuk semua.



__ADS_2