Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Angin Sore


__ADS_3

Sedih dan kesal menggelayuti perasaan Miabella saat itu. Dia berjalan ke arah tangga yang menghubungkan bangunan utama Casa de Luca dengan lorong menuju perkebunan. Niat gadis cantik tersebut ialah untuk mencari angin segar sore hari, di area terbuka seperti perkebunan. Di antara hijaunya hamparan pohon anggur, gadis itu akan merasa jauh lebih damai.


Miabella menuruni undakan anak tangga dengan langkah yang begitu tenang. Namun, pada anak tangga terakhir dia segera tertegun. Didengarnya suara Romeo yang tengah berbicara di telepon. Miabella pun kini tertular sikap jelek sang adik. Dia menguping dari balik dinding.


Gadis cantik bermata abu-abu itu menajamkan pendengarannya. Sesekali, dia menyunggingkan sebuah senyuman kecil saat mendengar rayuan-rayuan yang dilancarkan Romeo untuk lawan bicaranya di telepon. Ternyata, mendengarkan pembicaraan orang dengan diam-diam itu sangat menyenangkan. Pantaslah jika Adriana kerap melakukan hal tersebut.


"Baiklah, cantik. Akhir pekan ini saja. Apa kau setuju? Kebetulan aku sedang berada di Brescia," ucap Romeo dengan wajah berseri. Setelah mendengar jawaban dari lawan bicaranya yang kemungkinan besar merupakan seorang gadis, pemuda dua puluh tahun itu pun mengakhiri sambungan telepon tadi. Dia lalu berjalan sambil bersiul ke arah tangga di mana Miabella berada dan menguping sebagian dari pembicaraannya.


"Astaga!" Romeo begitu terkejut saat melihat sang sepupu yang sedang berdiri dengan bersandar pada dinding.


Sementara Miabella hanya menatap Romeo sambil melipat kedua tangan di dada. Gadis cantik itu terlihat begitu tenang.


"Kenapa kau sangat terkejut? Aku bukan hantu," celetuk Miabella tak acuh.


"Jangan katakan jika menguping pembicaraanku tadi?" tukas Romeo memasang wajah cukup serius.


"Jangan terlalu merasa penting. Tentu saja tidak. Aku hanya kebetulan lewat," sahut Miabella tak acuh. Dia terlihat sangat malas untuk bicara dengan siapa pun. Gadis cantik berambut panjang itu segera menuruni sisa undakan anak tangga, dan menghampiri Romeo yang masih berdiri di lantai lorong menuju perkebunan.


"Kau mau ke mana, Bella?" tanya Romeo saat melihat Miabella berjalan melewatinya begitu saja.


"Aku ingin mencari udara segar. Di dalam rasanya begitu sesak," sahut Miabella tanpa menoleh.

__ADS_1


"Apa kau ingin kutemani?" tawar putra sulung Marco tersebut dengan setengah berseru, karena Miabella telah cukup jauh dari dirinya. Gadis itu telah tiba di ujung lorong dan akan segera menginjakkan kakinya pada tanah perkebunan.


Miabella tertegun, kemudian menoleh. "Aku ingin menjelajah perkebunan. Sepertinya kau sudah mandi. Jadi, jangan sampai dirimu berkeringat lagi," ujar Miabella kembali membalikkan badan. Dia pun segera melanjutkan langkah. Sedangkan Romeo hanya berdiri memperhatikan, hingga Miabella benar-benar tak terlihat lagi. Gadis itu mengambil arah berbelok ke kanan, di mana terdapat kandang kuda.


Miabella terpaku untuk beberapa saat menatap istal di hadapannya. Satu kenangan yang kembali hadir, ketika Damiano kerap mengajak dia berkeliling perkebunan sambil berkuda. Miabella memang tak bisa mengingat semua dengan jelas, karena usianya yang masih terlalu kecil. Gadis itu hanya dapat menyimpan kenangan saat dirinya sudah berumur cukup besar. Tiap kali datang berkunjung ke Casa de Luca, dia selalu minta diajari berkuda kepada sang kakek tercinta. Miabella tak bisa mengukir kenangan dalam memorinya sebelum itu. Padahal, Damiano kerap membawa dia berkuda dari semenjak usianya di bawah tiga tahun.


"Aku sering menemani ayahmu berkuda untuk memantau kondisi perkebunan," ucap Damiano saat itu. Sementara Miabella kecil yang duduk di depannya tak menyahut. Dia terlalu asyik, ketika kuda yang mereka tunggangi berjalan di antara pohon anggur yang sedang berbuah.


"Apa kau menyukai ini, Bella?" tanya Damiano lembut. Pria itu tak henti-henti mengajak cucu kesayangannya untuk berbincang. Damiano selalu berusaha agar dapat mengalihkan perhatian Miabella, berhubung gadis kecil tersebut terus saja bertanya tentang sang ibu. Saat itu, Mia tiba-tiba menghilang setelah menjalani masa pengobatan dan terapi, akibat terguncang mentalnya setelah kematian mengenaskan sang suami.


Ya, selama hampir satu tahun Mia menjalani perawatan, Damiano lah orang yang paling direpotkan. Dia harus selalu membawa serta gadis kecil itu ke manapun dirinya pergi, berhubung Miabella tak bisa dekat dengan yang lain selain dirinya. Akan tetapi, Damiano tak pernah mengeluh. Kasih sayangnya begitu tulus dan tak terbatas untuk putri dari Matteo, anak asuh yang teramat dia cintai.


"Pronto," sapanya.


"Nona, bagaimana kabarmu?" Suara berat Carlo terdengar di ujung telepon dan mengurangi sedikit rasa rindu Miabella terhadap sang pengawal pribadi, yang dulu selalu menemani ke manapun dia pergi.


"Sangat buruk Carlo," sahut Miabella pelan. "Kupikir kau akan ikut ke Italia," ucap gadis itu lagi terdengar kecewa.


"Aku tidak bisa. Tuan ...."


"Ya, aku sudah tahu. Daddy zio mengatakan alasannya tak mengajakmu kemari. Padahal, jujur saja bahwa saat ini aku butuh teman untuk bicara." Miabella mengedarkan pandangan ke sekeliling. Dia sedikit menjauh dari kandang kuda tadi, lalu memilih duduk pada sebuah bangku kayu yang berada di bawah pohon. Itu merupakan tempat yang biasa digunakan para pekerja yang bertugas merawat kuda-kuda di sana untuk melepas lelah.

__ADS_1


"Pantas saja aku ingin sekali menghubungimu sejak kemarin. Namun, aku ragu dan takut jika kau sedang sibuk di sana," ujar Carlo menanggapi.


Sementara Miabella tak segera menanggapi. Gadis itu terdiam beberapa saat, tatkala angin di sore datang menyapa serta menerpa paras cantiknya. Sedikit kesejukan pun dia rasakan di antara rasa panas yang terasa begitu membakar, dan membuat dirinya ingin berteriak sekencang mungkin.


"Jasad kakekku akan dikremasi besok. Setelah itu, dia hanya akan menjadi setumpuk abu dalam sebuah guci porselen." Miabella tertunduk. Air mata kembali menggenang dan meleleh dengan segera. Gadis itu pun terisak pelan.


"Apa kau menangis, nona?" tanya Carlo yang terdengar khawatir.


"Bagaimana aku tidak menangis. Dia ... dia adalah segalanya bagiku. Kakek merupakan satu-satunya orang terdekat yang tak pernah memarahiku." Miabella kemudian menyeka air matanya.


"Aku juga tidak pernah memarahimu, nona," ujar Carlo mencoba menghibur gadis itu.


"Apa kau bersedia kupanggil kakek?" celetuk Miabella yang seketika membuat Carlo tertawa renyah.


Terbayang dalam ingatan Miabella seperti apa ekspresi Carlo saat tertawa. Kebersamaan yang intens di antara mereka berdua, telah membuat pengawal dan anak majikan itu saling mengenal, bahkan mengetahui karakter masing-masing dengan begitu baik.


Miabella tahu apa yang disukai dan tidak dari seorang Carlo. Begitu pula sebaliknya. Carlo begitu mengenal watak Miabella yang manja dan tidak dapat menerima sebuah penolakan. Namun, meskipun sikap Miabella sedemikian sulit untuk dikendalikan, tetapi gadis itu tak pernah mengatakan bahwa Carlo adalah pengawalnya kepada siapa pun. Dia selalu menjawab jika pria tampan yang kerap mengikutinya tersebut merupakan seorang teman. Itulah mengapa Carlo merasa begitu dihargai oleh Miabella.


“Nona, apa kau baik-baik saja?” tanya Carlo ketika Miabella terdiam beberapa saat lamanya.


“Tidak. A-aku ... datanglah kemari, Carlo. Aku sangat membutuhkanmu. Kumohon, datanglah.” Miabella terisak dengan semakin kencang.

__ADS_1


__ADS_2