Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Intervenire


__ADS_3

Don Vargas duduk tenang sambil menyeruput kopi dari balik jendela kaca kamar suitenya. Sudah lebih dari seminggu dia berada di Beograd. Dirinya menyewa kamar pada salah satu hotel mewah di ibukota Serbia tersebut. Selama itu pula, belasan anak buahnya yang sengaja disebar ke seluruh penjuru Eropa, tak jua dapat menemukan keberadaan Nenad Ljudevit.


Don Vargas memijit pelipisnya. Sudah berhari-hari waktu yang dia habiskan untuk memburu saingan bisnisnya tersebut. Dia bertekad tak ingin mundur sedikit pun. Terlebih, kini dirinya telah mengetahui rupa dari bandar senjata itu. Kembali diseruputnya kopi dari cangkir porselen putih yang dia pegang lalu dicecapnya perlahan. Don Vargas begitu menikmati rasa dan aroma kopi mahal yang telah disediakan oleh pihak hotel.


Angan pria paruh baya itu melayang. Sambil berpikir, dia menyatukan kepingan teka-teki yang sudah berhasil dikumpulkan oleh anak buahnya selama beberapa hari terakhir.


Don Vargas membalikkan badan menuju meja bar untuk mengambil sebuah anggur. “Dia tidak ada di Amerika, Rusia, Inggris ataupun Italia. Ke mana si brengsek itu menghilang? Tempat seperti apa yang menjadi persembunyiannya sekarang?” pria paruh baya yang masih terlihat gagah dan garang tadi menautkan alis, seraya mengunyah anggur yang baru saja dia petik dari tangkainya.


“Dasar belut!" umpat Don Vargas sambil merogoh ponsel dari saku celana, kemudian membuka galeri. Matanya tajam menatap sebentuk wajah di layar yang telah dikirimkan oleh Adriano. Foto pria yang diyakini sebagai Nenad Ljudevit. “Jika kau tak berada di manapun, mungkin saja ....” Don Vargas menghentikan kalimatnya. Sorot mata berwarna cokelat itu kembali terarah ke luar.


Don Vargas lalu mendekat pada jendela dan mengamati jalan raya pusat kota Beograd yang padat. “Menara Hitam?” gumamnya saat teringat pada informasi yang pernah diberikan oleh Adriano. “Kau manusia licik!” umpat Don Vargas lagi masih berbicara sendiri. Namun, kali ini wajahnya tampak jauh lebih ceria. “Kau tidak dapat ditemukan di manapun, karena dirimu memang tak pernah ke mana-mana," ujarnya lagi dengan senyuman lebar di bibir. Setelah itu, terdengar tawa menggelegar seiring langkah kakinya yang bergerak cepat keluar dari dalam kamar hotel.


Setibanya di lorong, Don Vargas mengetuk satu pintu yang berada di samping kamar yang dia tempati. Sesaat kemudian, pintu itu terbuka. Sesosok pria jangkung, kurus dan berkumis tebal muncul dari dalam sana. “Don?” sapanya dengan sopan.


“Bersiaplah. Kita akan pergi ke Menara Hitam sekarang juga!” titah Don Vargas. Tanpa menunggu lama, pria asal Amerika Latin itu bergegas masuk lift dan menekan tombol menuju ke lantai satu.

__ADS_1


Setelah menunggu sesaat sambil bersantai di sofa lobi, beberapa anak buah Don Vargas datang menghampiri sambil mengangguk padanya. “Kami sudah siap, Don,” lapor salah satu dari mereka.


“Bagus,” dengan gagah, Don Vargas berdiri kemudian berjalan ke halaman parkir hotel. Seorang petugas valet menyapanya dalam bahasa Inggris sambil menanyakan nomor kendaraan. Don Vargas pun menyebutkan deretan huruf dan angka yang segera ditanggapi dengan anggukan kepala dari petugas valet tadi sambil terus berlalu. Sementara anak buahnya yang lain berjalan mendahului ke tempat mereka memarkir mobil.


Beberapa saat kemudian, petugas valet itu kembali sambil mengendarai mobil mewah Don Vargas. Dia turun dan membukakan pintu untuk tamunya. “Silakan, Tuan,” ucapnya.


“Terima kasih,” Don Vargas tersenyum samar, lalu memposisikan diri di belakang kemudi. Sembari membetulkan letak spion tengah, dia melihat pantulannya untuk memastikan bahwa semua anak buahnya telah siap dalam mobil masing-masing. Dengan kecepatan sedang, pria itu melajukan kendaraan tersebut keluar dari area parkir dan bergerak memasuki jalan raya antar kota menuju Zlatibor.


Sekitar dua jam perjalanan dia lalui, hingga sampailah dirinya di pinggiran kota yang dituju. Pepohonan lebat langsung menyambutnya pada sisi kiri dan kanan jalan raya. Roda ban mobil yang dikendarai Don Vargas berdecit kencang, saat seekor rusa tiba-tiba berlari melintas tepat di depan moncong kendaraan itu. “Sial!” gerutu pria paruh baya tersebut sambil memukul kemudi. Setelah hewan tadi lewat, barulah Don Vargas kembali menginjak pedal gas. Namun, kali ini dia melajukan kendaraannya dengan pelan, hingga dirinya mendapati bahwa jalan yang diewati terpotong begitu saja oleh tembok tinggi yang memanjang. Tembok itu terbuat dari batu yang telah berlumut. Beberapa garis polisi berwarna kuning melintang di gerbang masuk tembok tersebut.


“Bagaimana sekarang, Don?” tanya salah seorang dari mereka.


Don Vargas tak segera menjawab. Dia mengusap dagu sambil berpikir. Sesekali matanya kembali menyapu setiap sudut area sekitar di mana dirinya kini berada. “Tak ada siapa pun di sini. Aku juga tak melihat keberadaan polisi,” ujarnya kemudian. “Kita masuk saja,” putus Don Vargas.


“Baik,” anak buah Don Vargas yang bertubuh jangkung berbalik ke dalam mobilnya. Dia kembali lagi beberapa saat kemudian sambil membawa perkakas dalam sebuah tas hitam. Perkakas itu akan dirinya gunakan untuk membuka rantai besi yang melilit gerbang, di mana terdapat gembok besar pada ujung rantai besi tadi. Pria kurus berkumis tebal itu memukul gembok dengan palu, lalu memotong rantainya menggunakan tang berukuran besar. Terdengarlah bunyi besi patah dan jatuh berdebam ke atas tanah. Setelah itu, satu kakinya menendang gerbang raksasa yang sudah tidak terkunci hingga terbuka lebar. "Haruskah kuperiksa dulu keadaan di dalam, Don,” tawarnya.

__ADS_1


“Tidak perlu! Kita masuk bersama-sama saja,” sahut Don Vargas dengan nada bicara yang tegas.


"Baiklah," pria tadi kembali menanggapi. Anak buahnya yang lain juga tak ada yang berani membantah. Mereka mengangguk hormat pada sang tuan sambil mempersiapkan senjata masing-masing, lalu berjalan dengan formasi mengelilingi Don Vargas.


Sejenak, pria dengan rambut yang telah memutih sebagian itu tertegun melihat keadaan di sekitarnya. “Tempat ini lebih mirip seperti kamp konsentrasi,” gumamnya.


Dia melihat ada beberapa bangunan dan rumah-rumah tua yang berdiri tak beraturan dengan tembok yang menghitam. “Apakah ini dulu bekas wilayah perang?” gumamnya lagi seperti pada dirinya sendiri.


Don Vargas lalu berhenti pada satu gedung yang paling tinggi dan juga bagus kondisinya jika dibandingkan gedung dan bangunan-bangunan yang lain. Pada pintu masuknya juga dipasangi garis polisi. Namun, segera saja dia menariknya dengan kencang hingga terputus. Setelah itu, Don Vargas mengamati bentuk pintu tadi.


Dia mendekatkan wajahnya pada kaca pintu, lalu menoleh ke samping. “Ini pintu geser,” ujarnya seraya mencoba menggerakkan benda berkaca tebal tersebut ke samping, “tapi sepertinya macet,” Don Vargas menghentikan usahanya, kemudian berkacak pinggang. Saat itulah, ekor matanya menangkap benda pipih yang menempel pada dinding samping pintu.


Don Vargas menekan beberapa angka yang ada di sana, tetapi tak terjadi apa-apa. Diperhatikannya lagi benda itu dari dekat. Terdapat layar kecil dan gelap di atas deretan angka tersebut. Don Vargas lalu mendengus kesal. Kunci otomatis itu menggunakan barcode. Dia mengambil pistol dari balik pinggang dan menembak benda pipih tersebut. Bunyi letusan senjatanya menggema di tempat yang tak berpenghuni itu. Tiba-tiba, pintu geser terbuka begitu saja. Don Vargas menyeringai dan melemparkan senyumannya pada beberapa anak buah yang selalu waspada berdiri di belakang.


“Masuklah lebih dulu, Pedro!” titah Don Vargas pada salah seorang anak buahnya yang berusia paling muda. Pemuda berkepala plontos itu mengangguk. Dia masuk ke dalam gedung sambil mengokang senjata. Tubuhnya bergerak gesit, mengendap menyusuri lorong sambil mengarahkan senjata ke segala arah. Akan tetapi, langkah kakinya segera terhenti saat ekor matanya menangkap sesuatu yang janggal. “Don, Anda harus melihat ini!” serunya.

__ADS_1


__ADS_2